Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibuku Tak Tahu Ini
Malam itu, Luna Amanda sedang masak di dapur.
Ibu Aruna itu... perempuan yang lembut. Ramah. Selalu senyum. Selalu nyoba bikin rumah mereka hangat meskipun Arjuna Pratama, suaminya, sering keluar kota karena kerjaan.
Luna lagi masak makanan favorit Aruna. Ayam goreng bumbu kuning. Sayur asem yang seger. Nasi putih pulen.
Dia sengaja masak ini karena... karena dia ngerasa ada yang aneh sama Aruna akhir-akhir ini.
Luna ngeliatin piring-piring Aruna yang sering nggak habis. Bahkan... hampir nggak disentuh.
Tubuh Aruna yang... makin kurus. Pipi yang mulai kempot. Mata yang cekung.
Dan... senyum yang... palsu.
Luna... khawatir.
Sangat khawatir.
---
"Aruna! Arya! Makan malam!" panggil Luna dari dapur.
Arya turun duluan. Cowok itu langsung duduk di meja makan. "Wah, ayam goreng! Makasih, Bu!"
Luna tersenyum. "Iya, sayang. Ini Bu masakin spesial buat adik kamu. Dia kayaknya lagi nggak napsu makan."
Arya... diam sebentar. Dia juga ngerasa hal yang sama.
Beberapa menit kemudian...
Aruna turun. Pelan. Langkahnya... berat.
Luna ngeliat anaknya itu dengan senyum lebar. "Aruna, ayo duduk! Ibu masakin makanan favorit kamu!"
Aruna... tersenyum. Senyum yang... dipaksa. Senyum yang udah dia latih berkali-kali di depan cermin supaya keliatan natural.
"Makasih, Bu," katanya pelan sambil duduk.
Luna menyendoki nasi. Banyak. Terus taro ayam goreng yang paling besar di piring Aruna. Terus sayur asem.
"Ini Bu masakin spesial buat kamu. Makan yang banyak ya. Kamu kok kurus banget sih? Kamu makan nggak sih di sekolah? Kok kayak sakit?"
Aruna... ngeliat piring di depannya.
Nasi yang numpuk. Ayam goreng yang... harum. Sayur asem yang kuahnya ngepul.
Tapi...
Perutnya... mual.
Tenggorokannya... kayak tertutup.
Nafsu makannya... nggak ada.
Sama sekali.
"Makan, Bu. Aku baik-baik aja kok. Cuma... cuma capek aja," jawab Aruna sambil tersenyum lagi.
Luna... ngeliat anaknya lama. Ada keraguan di matanya. Tapi... dia percaya sama senyum Aruna.
"Ya udah. Makan yang banyak ya. Biar nggak sakit."
Aruna... mengangguk.
Dia ambil sendok. Sendok nasi. Pelan.
Masukkin ke mulut.
Nyoba ngunyah.
Tapi...
Rasanya... hambar. Kayak makan pasir. Tenggorokannya... nolak.
Aruna maksa telan.
Dan... perutnya langsung kejang.
Mual.
Pengen muntah.
Tapi... dia tahan. Dia nggak mau bikin ibunya khawatir.
Dia ambil ayam goreng. Gigit kecil.
Kunyah pelan.
Tapi... mual lagi. Lebih parah.
Aruna... nutup mulutnya cepet. Napasnya pendek-pendek.
"Aruna, kamu kenapa?" tanya Luna khawatir.
"Nggak... nggak apa-apa, Bu. Aku... aku ke kamar mandi dulu," kata Aruna cepet sambil berdiri.
Dia jalan cepet ke kamar mandi.
Kunci pintu.
Langsung berlutut di depan toilet.
Dan...
Muntah.
Semua yang dia makan tadi keluar. Nasi. Ayam. Semuanya.
Aruna... memeluk toilet. Tubuhnya gemetar. Napasnya ngos-ngosan.
Air matanya... jatuh.
"Aku... aku nggak bisa... aku nggak bisa bahkan... bahkan makan..." bisiknya putus asa.
Dia ngelap mulutnya kasar. Bilas mulut. Cuci muka.
Liat cermin.
Wajahnya... pucat. Mata cekung. Bibir kering.
Dia... nggak kenal dirinya sendiri lagi.
*Siapa... siapa ini...*
Aruna keluar dari kamar mandi. Balik ke meja makan dengan senyum... senyum yang dipaksa lagi.
"Maaf, Bu. Tadi... tadi perutku agak mual. Tapi udah enakan sekarang," katanya sambil duduk lagi.
Luna... menatap khawatir. "Kamu sakit, Run? Mau Ibu anterin ke dokter?"
"Nggak usah, Bu. Aku baik-baik aja. Beneran." Aruna ambil sendok lagi. Pura-pura makan.
Tapi sebenernya... dia cuma ngaduk-aduk nasi. Nggak beneran makan.
Arya... ngeliat itu semua dari seberang meja. Dia ngeliat Aruna yang cuma ngaduk-aduk. Nggak ada yang masuk ke mulut.
Dadanya... sesak.
*Run... kamu... kenapa...*
---
Setelah makan malam.
Aruna balik ke kamar. Kunci pintu.
Rebahan di kasur.
Ngeliat langit-langit.
*Aku... aku nggak bisa makan...*
*Aku... aku nggak bisa tidur...*
*Aku... aku nggak bisa... hidup normal...*
*Aku... rusak...*
Aruna nangis diam-diam. Air matanya jatuh ke bantal.
---
Jam sepuluh malam.
Arya lewat depan kamar Aruna. Mau ke kamar dia.
Tapi... dia ngeliat cahaya dari bawah pintu kamar Aruna.
*Run belum tidur?*
Arya ngetuk pelan. "Run? Kamu belum tidur?"
Nggak ada jawaban.
Arya buka pintunya pelan. Nggak dikunci ternyata.
Dan dia ngeliat...
Aruna tertidur di meja belajar. Kepala di atas meja. Lampu meja masih nyala.
Jurnalnya... terbuka.
Arya... masuk pelan. Mau membangunkan Aruna buat pindah ke kasur.
Tapi... matanya nggak sengaja liat tulisan di jurnal itu.
Tulisan yang... baru.
Tulisan dengan tinta yang masih agak basah.
Arya... nggak bermaksud baca.
Tapi... matanya nggak bisa lepas.
---
*Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.*
*Aku lelah tersenyum palsu.*
*Aku lelah bilang "aku oke" padahal aku... hancur.*
*Aku nggak bisa makan.*
*Aku nggak bisa tidur.*
*Aku nggak bisa... hidup.*
*Setiap hari... semakin berat.*
*Setiap hari... aku semakin tenggelam.*
*Dan aku... aku nggak tau... sampai kapan aku bisa bertahan.*
*Mungkin... mungkin nggak lama lagi...*
*Aku... akan menyerah.*
---
Arya... berhenti baca.
Tangannya... gemetar.
Matanya... berkaca-kaca.
"Run... kenapa kamu nggak cerita sama Kakak?" bisiknya pelan dengan suara bergetar.
Dia ngeliat Aruna yang tidur dengan wajah... nggak tenang. Bahkan dalam tidur pun... dia keliatan... tersiksa.
Arya... ngelap air matanya yang mulai jatuh.
Dia tutup jurnal itu pelan. Angkat Aruna dengan hati-hati. Pindahin ke kasur. Selimutan.
Terus... dia duduk di tepi kasur. Ngeliat adiknya yang... yang makin kurus. Makin pucat. Makin... rapuh.
"Maafkan Kakak, Run..." bisiknya sambil mengelus kepala Aruna lembut. "Maafkan Kakak... karena Kakak nggak bisa... nggak bisa bikin kamu bahagia..."
"Maafkan Kakak... karena Kakak... terlambat nyadar..."
Arya... keluar dari kamar Aruna dengan langkah berat.
Balik ke kamarnya sendiri.
Duduk di tepi kasur.
Kepala di tangan.
Dan... nangis.
Nangis diam-diam.
Karena dia... dia nggak tau harus gimana lagi.
Dia... merasa nggak berdaya.
---
Di kamar sebelah.
Luna berbaring di kasur. Arjuna belum pulang. Masih di luar kota.
Luna... nggak bisa tidur.
Pikirannya... ke Aruna.
Ke anaknya yang... yang semakin kurus. Semakin pendiam. Semakin... jauh.
*Ada apa sebenernya sama Aruna...*
*Kenapa dia... kayak orang yang... kehilangan semangat hidup...*
Luna... memeluk bantal. Mata terbuka lebar di kegelapan.
Dan... hatinya... nggak tenang.
Sangat nggak tenang.
---
Aruna semakin tenggelam dalam kegelapannya sendiri.
Dan keluarganya mulai menyadari.
Tapi... sudah terlambat untuk menghentikan kejatuhan itu.
Karena Aruna... sudah terlalu dalam.
Terlalu lelah.
Terlalu... patah.
Dan mungkin...
Mungkin nggak ada yang bisa menariknya kembali.
Ke permukaan.
Ke kehidupan.
---