Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang Menyakitkan
Tiga hari sudah berlalu.
Tiga hari Raka tidak masuk kantor. Tiga hari ia menghabiskan waktunya di rumah sakit... duduk di lorong ICU, menatap Nadira dari balik kaca, berharap ada perubahan sekecil apapun. Tapi tidak ada. Nadira tetap terbaring di sana, tidak bergerak, tidak sadarkan diri.
Pagi ini, Raka terpaksa harus kembali bekerja. Bukan karena ia ingin, tapi karena ia harus. Biaya rumah sakit terus berjalan, ratusan ribu, bahkan jutaan setiap harinya. Tagihan terus menumpuk. Dan meski Raka punya tabungan, ia tahu itu tidak akan cukup kalau Nadira terus berada di ICU untuk waktu yang lama.
Ia harus bekerja. Untuk Nadira.
Raka berdiri di depan kaca ICU, menatap Nadira yang masih terbaring dengan selang-selang menempel di tubuhnya. Suara monitor jantung berbunyi pelan pip... pip... pip seperti lagu sedih yang tidak pernah berhenti.
Tangannya menempel di kaca dingin itu. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya. Ia sudah terlalu sering menangis tiga hari ini. Tubuhnya lelah. Matanya bengkak. Tapi hatinya... hatinya tidak pernah berhenti sakit.
"Nadira..." bisiknya pelan. "Aku harus pergi sebentar. Aku harus kerja. Tapi aku janji... setelah pulang kantor, aku akan langsung kembali ke sini. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lama-lama."
Nadira tidak menjawab. Tentu saja.
Raka menarik napas dalam, menahan sesak di dadanya. "Kumohon bertahanlah. Aku akan kembali. Tunggu aku, ya?"
Ia mencium ujung jarinya, lalu menempelkannya di kaca, seolah mencium kening Nadira dari kejauhan.
Lalu dengan berat hati, ia berbalik dan berjalan keluar dari rumah sakit.
---
Raka mengendarai mobilnya menuju apartemen dengan pikiran kosong. Jalanan pagi cukup ramai, tapi ia tidak peduli. Ia hanya fokus menyetir atau setidaknya mencoba fokus karena pikirannya terus melayang ke Nadira.
Sampai di gedung apartemen, Raka parkir mobilnya dan keluar dengan langkah gontai. Ia naik lift ke lantai tiga, lalu berjalan menuju pintu apartemennya.
Tangannya berhenti di depan pintu.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia tahu apa yang ada di balik pintu itu... kenangan. Kenangan tentang Nadira. Kenangan yang dulu ia anggap biasa, tapi sekarang terasa sangat berharga.
Raka membuka pintu perlahan. Suara pintu yang terbuka bergema di ruangan yang sunyi.
Dan begitu ia melangkah masuk, sesuatu di dadanya remuk.
Apartemen itu... sepi.
Sangat sepi.
Tidak ada aroma kopi yang biasanya menyambut di pagi hari. Tidak ada suara langkah kaki Nadira yang sibuk di dapur. Tidak ada senyuman hangat. Tidak ada sapaan lembut.
Hanya kesunyian yang dingin dan menyakitkan.
Raka berdiri di tengah ruang tamu, menatap kosong ke arah dapur. Ia bisa membayangkan Nadira di sana... berdiri dengan perut besar, memasak sarapan dengan senyuman di wajahnya, meski lelah.
Air matanya mulai mengalir lagi, tanpa suara, tanpa isakan. Hanya jatuh.
"Dulu apartemen ini hangat..." bisiknya pelan pada dirinya sendiri. "Karena ada kamu."
Ia melangkah perlahan menuju meja makan. Tangannya menyentuh permukaan meja, meja tempat mereka biasa sarapan bersama. Meja tempat Nadira selalu menata piring dengan rapi. Meja tempat Nadira bertanya, "Kapan kita menikah?" dan ia menjawab dengan dingin, "Aku belum siap."
Raka menutup matanya, menahan isak yang hampir keluar.
Ia teringat ocehan panjang Nadira. Nadira sering bercerita tentang hari-harinya... tentang tetangga sebelah yang punya anak lucu, tentang penjual sayur yang baik hati, tentang film yang ia tonton, tentang apapun.
Dulu Raka menganggap itu menyebalkan. Ia hanya merespons dengan "oh", "ya", atau "hmm" tanpa benar-benar mendengarkan. Bahkan beberapa kali ia membentaknya... meminta Nadira diam karena ia terganggu.
Dan sekarang...
Sekarang Raka sangat merindukan ocehan itu.
Ia rindu suara Nadira yang bercerita panjang lebar. Ia rindu tawa kecil Nadira saat menceritakan hal-hal lucu. Ia rindu wajah Nadira yang berbinar saat berbagi cerita.
Semua itu... semua yang dulu ia anggap menyebalkan... sekarang menjadi kenangan yang ia rindukan dengan sangat.
Raka jatuh berlutut di depan meja makan. Tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
"Maafkan aku, Nadira..." isaknya pelan. "Maafkan aku karena tidak pernah benar-benar mendengarkanmu... Maafkan aku karena membentakmu... Maafkan aku karena tidak pernah menghargaimu..."
Ia menangis di sana, menangis sendirian di apartemen yang dulu penuh kehangatan, tapi sekarang terasa seperti kuburan kenangan.
"Kumohon kembalilah..." bisiknya di antara isakan. "Kumohon kembalilah dan ceritalah lagi padaku. Ceritalah sebanyak yang kamu mau. Aku janji akan mendengarkan. Aku janji tidak akan membentakmu lagi. Aku janji..."
Tapi tidak ada yang menjawab.
Hanya kesunyian yang menusuk.
Raka akhirnya bangkit dengan susah payah. Ia mengusap air matanya, lalu berjalan ke kamar untuk bersiap-siap. Ia harus cepat. Ia harus bekerja. Untuk Nadira.
Raka sampai di kantor dengan wajah yang lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus, ia hampir tidak makan selama tiga hari terakhir.
Begitu ia melangkah masuk ke ruang kantornya, beberapa rekan kerjanya langsung mendekat.
"Raka! Akhirnya kamu masuk juga!" sapa salah satu rekannya, Doni. "Kemana aja? Tiga hari nggak masuk. Boss udah nanya-nanya, lho."
Raka hanya tersenyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Maaf. Ada urusan mendadak."
"Urusan apa? Serius banget sampai tiga hari?" tanya Andi, rekan lainnya.
"Urusan pribadi," jawab Raka singkat. Ia tidak ingin menjelaskan. Tidak ingin bercerita. Karena kalau ia mulai bercerita, ia takut ia akan menangis lagi.
Doni dan Andi saling pandang, lalu mengangguk. "Oke deh. Yang penting kamu udah balik. Kerjaan numpuk, bro. Setumpuk dokumen menunggu di meja kamu."
Raka mengangguk. "Terima kasih. Aku akan urus sekarang."
Ia berjalan menuju mejanya... meja manajer di sudut ruangan dengan tumpukan dokumen yang memang sudah menanti. Ia duduk, menyalakan komputer, dan mulai bekerja.
Tapi pikirannya tidak bisa fokus.
Setiap kali ia menatap layar komputer, yang ia lihat adalah wajah Nadira. Setiap kali ia mencoba membaca dokumen, yang ia ingat adalah suara Nadira.
Raka mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia harus fokus. Ia harus bekerja.
"Raka?"
Suara lembut memanggilnya. Raka mengangkat kepalanya.. dan melihat Sinta berdiri di samping mejanya dengan senyuman manis.
Sinta. Rekan kerjanya yang cantik, ceria, dan selalu perhatian padanya. Mereka sangat dekat, bahkan banyak orang di kantor yang mengira mereka pacaran. Padahal tidak. Mereka hanya teman. Teman dekat.
Tapi Raka tahu, ia lebih perhatian pada Sinta daripada pada Nadira. Ia lebih lembut pada Sinta. Ia lebih sering tersenyum saat bersama Sinta.
Dan sekarang, hatinya terasa diremas kuat... rasa bersalah yang menyiksa.
"Hai, Sin," sapa Raka dengan suara pelan.
"Kamu baru masuk ya? Kemana aja tiga hari? Aku khawatir, lho," ucap Sinta dengan nada cemas. "Aku sampai chat berkali-kali tapi kamu nggak bales."
"Maaf. Ada urusan."
"Urusan apa? Kamu kelihatan pucat banget. Kamu sakit?"
Raka menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
Sinta menatap Raka dengan tatapan khawatir. "Kamu bohong. Kamu jelas nggak baik-baik aja. Ayo, ikut aku makan siang. Kamu harus makan. Kamu kurus banget."
Raka terdiam sejenak. Dulu, ia pasti akan langsung setuju. Dulu, ia akan tersenyum dan bilang "oke, ayo". Dulu, ia akan senang diajak makan siang oleh Sinta.
Tapi sekarang...
Sekarang yang ia rasakan hanya rasa bersalah yang meremukkan dadanya.
Ia telah mengkhianati Nadira.
Meski ia dan Sinta tidak punya hubungan apapun... tidak pernah berpacaran, tidak pernah lebih dari teman. Tapi Raka tahu ia jauh lebih perhatian pada Sinta daripada pada Nadira. Ia jauh lebih lembut. Ia jauh lebih peduli.
Sementara Nadira... wanita yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuknya, yang mencintainya dengan sepenuh hati, yang menunggu dengan sabar, ia perlakukan dengan dingin, dengan acuh, dengan penolakan demi penolakan.
Raka merasakan matanya memanas lagi. Ia menundukkan kepalanya, takut Sinta melihat air matanya.
"Maaf, Sin," ucapnya pelan. "Aku tidak bisa. Aku... aku harus segera selesaikan kerjaan ini. Lain kali saja, ya?"
Sinta mengerutkan dahi. "Raka, kamu benar-benar tidak apa-apa? Kamu aneh. Biasanya kamu nggak pernah nolak ajakan makan siang."
"Aku baik-baik saja," jawab Raka, meski suaranya bergetar sedikit. "Aku hanya... aku hanya butuh sendiri sebentar."
Sinta menatap Raka dengan tatapan bingung dan khawatir. Tapi akhirnya ia mengangguk. "Oke. Kalau ada apa-apa, bilang aku ya. Aku di sini kalau kamu butuh teman bicara."
"Terima kasih, Sin."
Sinta menepuk bahu Raka sekali, lalu berjalan kembali ke mejanya.
Raka menatap punggung Sinta yang menjauh. Lalu ia menutup matanya, menarik napas dalam.
"Maafkan aku, Nadira," bisiknya pelan, sangat pelan hingga tidak ada yang mendengar. "Maafkan aku karena mengkhianatimu... Maafkan aku karena tidak pernah memperlakukanmu dengan baik... Maafkan aku..."
Ia membuka matanya, menatap layar komputer dengan tatapan kosong.
Lalu ia mulai bekerja, bekerja dengan air mata yang sesekali jatuh tanpa suara, bekerja dengan hati yang hancur, bekerja dengan harapan bahwa uang yang ia hasilkan bisa membuat Nadira terus bertahan.
Karena itu satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang.
Bekerja. Menunggu. Dan berharap.
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk