NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Sidomukti

Wanita itu berhenti tepat di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan yang kosong dan dingin, seolah menusuk langsung ke dalam jiwanya.

"Siapa kamu?" tanya Puri dengan suara bergetar, namun wanita itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Puri dengan tatapan yang sama, membuat Puri semakin ketakutan.

Tiba-tiba, wanita itu mengangkat tangannya yang pucat dan kurus, lalu mengulurkannya ke arah Puri. Jari-jarinya yang panjang dan lentik tampak seperti cakar yang siap mencengkeram.

Puri tersentak kaget dan mencoba mundur, namun kakinya terasa terpaku di lantai. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berteriak, tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Semakin lama, wanita itu semakin mendekat, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa

inci dari wajah Puri. Ia bisa merasakan napas dingin wanita itu menerpa wajahnya, membuat bulu kuduknya meremang.

Kemudian, wanita itu membuka mulutnya dan berbisik dengan suara yang serak dan mengerikan, "Jangan... cari... aku..."

Tepat saat itu, Puri terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang. Ia duduk tegak di dekat api unggun yang hampir padam, tubuhnya bermandikan keringat dingin.

Ia melihat sekeliling, memastikan bahwa ia benar-benar sudah bangun dan tidak lagi berada dalam mimpi buruknya. Ia melihat teman-temannya masih terlelap dalam tidur mereka, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Puri menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat kembali mimpi yang baru saja dialaminya.

Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu jelas, seolah-olah ia benar-benar berada di dalam ruangan yang suram dan bertemu dengan wanita bergaun putih itu. Ia tidak bisa melupakan tatapan kosong dan dingin wanita itu, atau bisikan mengerikannya yang terus terngiang di telinganya.

"Jangan... cari... aku..."

Puri membuka matanya kembali dan menatap langit malam yang bertaburan bintang. Ia merasa seolah bintang-bintang itu sedang mengawasinya, memberikan petunjuk dan harapan di tengah kegelapan.

Namun, kali ini, ia tidak merasakan ketenangan dan kedamaian seperti sebelumnya. Ia justru merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang semakin

"...Namun, kali ini, ia tidak merasakan ketenangan dan kedamaian seperti sebelumnya. Ia justru merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang semakin mendalam. Ia tahu, mimpinya itu bukanlah sekadar bunga tidur biasa. Itu adalah sebuah pesan, sebuah peringatan, atau mungkin... sebuah kutukan.

Puri meraih buku catatannya dan mulai menuliskan semua detail mimpinya. Ia mencatat tentang ruangan yang suram, lentera yang redup, wanita bergaun putih, tatapan kosong, bisikan mengerikan, dan semua perasaan yang ia rasakan selama mimpi itu.

Ia menuliskan semua itu dengan harapan, suatu saat nanti, ia bisa menemukan arti dari mimpinya dan mengungkap misteri yang tersembunyi di balik pesan "Jangan cari aku." Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa bahwa pencarian ini akan membawanya ke dalam bahaya yang lebih besar, dan mungkin... menghancurkan dirinya sendiri."

yang lebih besar, dan mungkin... menghancurkan dirinya sendiri.

Puri menutup buku catatannya dengan tangan gemetar. Udara dingin malam itu seolah menusuk tulang-tulangnya, menambah rasa takut yang mencengkeram hatinya. Ia tahu, mimpinya adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang bisa ia bayangkan.

Keesokan harinya, Puri bangun dengan mata sembab dan tubuh lesu. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya di depan teman-temannya, namun ia tahu mereka pasti menyadari ada sesuatu yang berbeda dengannya.

"Kamu kenapa, Puri? Kok pucat banget?" tanya Ayu dengan nada khawatir.

"Nggak apa-apa, cuma kurang tidur aja," jawab Puri berusaha meyakinkan.

Setelah sarapan, Puri memutuskan untuk menjelajahi bale pasanggrahan sendirian. Ia ingin mencari ruangan yang sesuai dengan yang ia lihat dalam mimpinya, berharap dapat menemukan petunjuk tentang identitas wanita bergaun putih dan pesan "Jangan cari aku."

Dengan langkah hati-hati, Puri mulai menyusuri setiap sudut dan ruangan di bale pasanggrahan. Ia memperhatikan setiap detail, mencoba mengingat kembali gambaran yang ada dalam mimpinya.

Semakin lama, Puri semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya dari balik dinding dan kegelapan. Ia juga sering mendengar suara-suara aneh yang tidak bisa dijelaskan, seperti bisikan-bisikan lirih yang memanggil namanya.

Saat sedang menjelajahi sebuah ruangan yang gelap dan berdebu di lantai dua, Puri menemukan sebuah pintu tersembunyi yang tertutup rapat. Pintu itu tampak seperti sudah lama tidak dibuka, karena tertutup oleh debu tebal dan sarang laba-laba.

Puri mencoba membuka pintu itu, namun ternyata terkunci. Ia menghela napas panjang dan mencoba mencari cara lain untuk membukanya. Ia meraba-raba dinding di sekitar pintu, berharap dapat menemukan kunci atau mekanisme tersembunyi.

Tiba-tiba, saat sedang meraba dinding, Puri merasakan sesuatu yang dingin dan keras menyentuh tangannya. Ia terkejut dan menarik tangannya dengan cepat. Ia melihat ke arah dinding dan menemukan sebuah lubang kecil yang tersembunyi di balik debu.

Dengan rasa penasaran yang semakin membuncah, Puri mencoba mengintip ke dalam lubang tersebut. Ia tidak bisa melihat apa pun karena lubang itu terlalu gelap. Ia mengambil senter dari tasnya dan menyinari lubang tersebut.

Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di dalam lubang itu, terdapat sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan tengkorak dan tulang-belulang manusia. Ruangan itu tampak seperti ruang penyiksaan atau penjara bawah tanah.

Puri terhuyung mundur dan memegangi dadanya. Ia merasa mual dan pusing melihat pemandangan mengerikan itu. Ia tidak menyangka bahwa bale pasanggrahan ini menyimpan rahasia yang begitu kelam dan mengerikan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu berderit terbuka di belakangnya.

Ia menoleh dengan cepat dan melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Pria itu adalah Rendra.

"Puri, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rendra dengan nada curiga.

Puri terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menceritakan tentang mimpinya atau tentang ruangan yang penuh dengan tengkorak itu. Rendra pasti tidak akan percaya padanya.

"Aku cuma lagi lihat-lihat aja," jawab Puri dengan nada gugup.

Rendra menatap Puri dengan tatapan menyelidik. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Puri.

"Kamu yakin?" tanya Rendra dengan nada yang semakin curiga.

Puri mengangguk dengan cepat. "Iya, aku yakin," jawabnya.

Rendra menghela napas panjang dan berjalan mendekat ke arah Puri. Ia berhenti tepat di hadapan Puri dan menatapnya dengan tatapan yang intens.

"Puri, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, kan?" tanya Rendra dengan nada yang lembut namun menusuk.

Puri terdiam sejenak, lalu akhirnya mengakui, "Iya, ada. Tapi aku nggak bisa cerita sekarang."

"Kenapa?" tanya Rendra dengan nada penasaran.

"Karena ini terlalu berbahaya," jawab Puri dengan nada lirih. "Aku takut kalau kamu akan celaka kalau tahu yang sebenarnya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!