NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Bram

Malam turun seperti tirai berat ketika Dara dan Danu keluar dari gedung.

Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca mobil. Jalanan bergerak, tapi pikiran Dara tetap tertahan di ruang rapat, di layar yang menampilkan namanya, di suara Bram yang terasa masih bergema di telinga.

Danu menyetir tanpa radio, tanpa obrolan basa-basi. Hanya mesin yang berdengung dan napas mereka berdua.

“Kamu belum bernapas dari tadi,” ucap Danu pelan tanpa mengalihkan pandangan.

Dara tersenyum tipis. “Aku masih hidup, kok.”

“Beda,” balas Danu. “Hidup itu otomatis. Tenang itu perlu diusahakan.”

Mobil berhenti di depan rumah Dara. Ia tidak langsung turun. Tangan masih menggenggam tas kerja seolah kalau dilepas, semuanya akan ikut jatuh.

Dara memejamkan mata sejenak. “Dia balikin semuanya ke aku.”

Danu mengangguk. “Karena dia tidak bisa lagi tarik kamu ke bawah, jadi dia tarik tanahnya.”

Hening sejenak.

Angin malam menyelinap lewat kaca yang sedikit terbuka. Dinginnya menempel di kulit, tapi kepala Dara justru panas oleh ribuan kemungkinan, nama, akses, celah.

“Besok kita lanjut,” kata Danu akhirnya.

Dara menoleh cepat. “Tidak. Waktunya sempit. Kalau kita tidak bergerak malam ini—”

“Dara.” Suaranya lembut, tapi tak bisa dibantah. “Kalau kamu maksa dalam keadaan begini, kamu bukan cari solusi. Kamu cuma balapan sama panik.”

Dara terdiam.

Kalimat itu tepat sasaran.

“Kamu sudah berdiri cukup jauh hari ini,” lanjut Danu. “Tubuh kamu juga perlu ikut berdiri. Istirahat. Makan yang benar. Tidur. Besok kita kejar semua jejak akses, satu per satu. Dengan kepala dingin.”

Bahu Dara turun perlahan, seperti seseorang yang baru sadar betapa berat beban yang ia pikul seharian.

“Kalau aku jatuh besok?” tanyanya lirih.

“Kalau kamu jatuh,” jawab Danu tanpa jeda, “aku pastikan kamu jatuh di tempat yang aman. Bukan di tangan mereka.”

Senyum kecil muncul di sudut bibir Dara.

Bukan karena lucu.

Karena kalimat itu membuatnya merasa… manusia.

Ia mengangguk pelan.

“Baik. Besok.”

Danu keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobilnya—bukan karena formalitas, tapi karena sejak tadi Dara seperti berjalan di dalam pikirannya sendiri.

Sebelum masuk ke rumah, Dara menoleh.

“Danu.”

“Ya?”

“Terima kasih.”

Danu tidak menanyakan untuk bagian mana. Ia hanya menjawab sederhana, “Sama-sama,” lalu menunggu sampai Dara benar-benar masuk dan pintu kaca tertutup.

Di dalam kaca jendela rumah, Dara menatap bayangannya sendiri.

Perempuan di depannya tampak lelah, tapi matanya tidak padam. “Besok,” gumamnya pada pantulan itu.

“Besok kita balikkan lagi papan caturnya.”

Dan untuk pertama kalinya sejak serangan balik Bram, ia mengizinkan kepalanya berhenti bekerja.

Hanya malam.

Dan detak jantungnya sendiri.

.

Di kediaman Bram.

Pintu rumah tertutup pelan.

Tidak ada suara sambutan. Tidak ada tanya “sudah makan?” seperti dulu. Hanya denging pendingin ruangan dan langkah Bram sendiri yang menggema di lorong panjang.

Jasnya ia lepaskan tanpa tergesa, diletakkan begitu saja di sandaran kursi. Ruang keluarga luas, rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang hidupnya baru saja berantakan.

Ia berjalan menuju rak minuman, menuang air—bukan wiski seperti kebiasaannya.

Tenggorokannya kering, tapi bukan karena haus.

Karena hari ini… dia untuk pertama kalinya sejak lama benar-benar merasa diserang balik.

Ia duduk. Tidak menyalakan televisi. Tidak menghidupkan lampu lain selain satu lampu warm-white di sudut ruangan.

Cahaya kuning itu memantul di meja kaca, menyorot wajahnya yang tampak lebih tua dari biasanya.

Bram menyandarkan tubuh.

Lalu tertawa pelan.

“Bagus,” gumamnya. “Kamu tidak mundur.”

Serangan baliknya di ruang rapat berjalan mulus—setidaknya di permukaan. Ia berhasil menggeser keraguan, menyuntikkan racun ketidakpastian ke kepala mereka, terutama ke kepala Dara. Itu cukup untuk mengacaukan langkah banyak orang.

Tapi bukan itu yang mengganggunya.

Yang mengganggunya adalah tatapan terakhir Dara.

Bukan panik.

Bukan hancur.

Bukan pecah.

Tatapan itu tenang… terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dijebak.

Tatapan orang yang… belajar dari rasa sakit.

Bram memejamkan mata sejenak.

Jika perempuan itu sampai menemukan lubang terakhir dalam sistemnya—lapisan yang bahkan timnya sendiri tidak tahu keberadaannya—kalau Dara benar-benar menelusuri jejak itu sampai inti…

Ia menarik napas panjang.

“Aku kalah,” katanya pelan, seolah berlatih menyebutkan kalimat itu untuk pertama kalinya.

Kata-kata itu tidak keluar sebagai bentuk menyerah—melainkan sebagai pengakuan pada dirinya sendiri. Ia selalu realistis. Ia tahu kapan papan catur sudah tidak bisa diselamatkan tanpa membakar meja sekaligus.

Tangannya menggenggam sandaran sofa.

Jika saat itu tiba—jika Dara berhasil sampai ke pintu yang selama ini ia tutup rapat—maka ia tidak akan berlari. Tidak akan memohon. Tidak akan menjatuhkan orang lain bersamanya hanya untuk selamat.

“Aku akan mengaku,” gumamnya. “Karena orang yang bisa mengalahkanku… berhak mendapatkan itu.”

Sunyi kembali.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kemarahan di wajahnya.

Bukan juga penyesalan.

Yang ada hanya rasa letih dari seseorang yang terlalu lama berdiri di sisi gelap—dan kini melihat seseorang menantangnya bukan dengan kelicikan yang sama, tapi dengan keteguhan yang menyakitkan.

Seseorang yang dulu ia remehkan.

Dara.

Bram membuka mata, menatap langit-langit.

“Kalau kamu benar-benar menemukan titik lemahnya,” ucapnya pelan, hampir seperti doa, “aku akan berhenti melawan.”

Bibirnya melengkung tipis.

“Karena berarti… kamu pantas duduk di sana.”

Di luar, angin malam menggerakkan tirai perlahan.

Di dalam, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bram bersiap pada dua kemungkinan yang sama beratnya:

Menang dengan cara yang ia kenal. Atau kalah… dan menerima bahwa badai yang menuju hidupnya bukan kesalahan alam,

tetapi konsekuensi.

.

Pintu rumah dibuka pelan.

Dara masuk dengan langkah yang tidak sepelan pikirannya. Kepalanya masih penuh gema rapat, kalimat Bram, tatapan dewan, angka-angka di layar. Semua berputar seperti film yang tidak mau berhenti.

Aroma jahe hangat menyambutnya.

Shinta sudah duduk di ruang keluarga. Tidak berdandan rapi, tidak memakai perhiasan — hanya daster sederhana dan cardigan tipis. Namun tatapannya tajam, lalu melunak hanya untuk satu orang: putrinya.

“Kamu pulang,” katanya pelan.

Bukan tanya.

Bukan teguran.

Hanya kepastian yang menenangkan.

Dara mencoba tersenyum. Gagal setengah jalan.

Shinta tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya berdiri, berjalan perlahan, lalu merapikan rambut Dara yang sedikit kusut, gerakan yang sama seperti ketika Dara masih kecil sepulang sekolah dengan nilai jelek.

“Minum ini dulu.” Secangkir wedang jahe diletakkan di tangan Dara. “Jangan bilang kamu belum makan.”

Dara diam.

Itu sudah jawaban.

Shinta hanya mengangguk kecil, seolah berkata: ya, Ibu sudah duga.

Mereka duduk berdua. Televisi menyala tanpa suara. Udara malam terasa lebih lembut di sekitar mereka.

“Kamu gelisah,” ucap Shinta tiba-tiba.

Dara tersenyum miris. “Kelihatan, ya?”

“Dari caramu memegang cangkir,” jawab Shinta tenang. “Kamu pegang terlalu kencang, seperti takut jatuh.”

Dara menunduk.

“Aku tidak takut kalah, Ma,” suaranya rendah. “Aku cuma… takut dijebak sampai aku terlihat seperti penjahat di perusahaan sendiri.”

Shinta tidak buru-buru menjawab.

Tangannya terulur, memeluk bahu Dara.

Pelukan seorang ibu — tidak ribut, tidak dramatis — hanya memberi tahu bahwa dunia masih punya tempat aman.

“Kamu boleh takut,” kata Shinta lembut. “Boleh marah. Boleh gemetar. Kamu manusia, Nak. Bukan patung yang harus selalu tegar.”

Dara menarik napas panjang, sedikit bergetar. “Kalau… kalau nanti aku benar-benar jatuh, Ma?”

Shinta tersenyum, menatapnya dalam-dalam.

“Kalau kamu jatuh,” katanya pelan, “Ibu orang pertama yang berdiri di bawah untuk menangkapmu. Dan orang terakhir yang akan membiarkanmu tinggal di bawah.”

Air mata Dara akhirnya jatuh — pelan, tidak pecah, hanya mengalir seperti sesuatu yang selama ini ditahan terlalu lama.

Shinta mengusap pipinya seperti dulu menghapus belepotan cokelat ketika Dara kecil.

“Dara…”

“Ya, Ma?”

“Kamu tidak sendirian lagi.”

Dara terdiam.

Kalimat itu masuk perlahan… lalu menetap.

Shinta bangkit, mengiring Dara ke kamarnya, merapikan selimut di kasur. “Sekarang tugasmu hanya satu.”

“Besok cari solusi?” tebak Dara.

Shinta menggeleng.

“Tidak,” jawabnya lembut.

“Tidur.”

Dara terkekeh di sela isaknya.

Shinta menambahkan, setengah bercanda setengah serius, “Besok kamu boleh menantang dunia lagi. Malam ini, biarkan dunia menunggu.”

Lampu diredupkan.

Dara berbaring.

Shinta duduk sebentar di tepi kasur, mengelus kepala anaknya—kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meski Dara sekarang CEO.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, pikiran Dara tidak berhenti… tetapi tidak lagi menyakitkan.

Karena ia tahu satu hal yang pasti:

Bahkan jika satu dunia melawannya,

ibunya tetap berpihak.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!