NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pak Usman Ar-Rais duduk dengan tenang sembari meninjau beberapa dokumen di tabletnya. Pengaruhnya di dunia bisnis internasional membuat setiap gerakannya menjadi pusat perhatian para pengusaha nasional.

Pak Baskoro masuk dengan langkah mantap, namun tetap menunjukkan rasa hormat yang besar. Baginya, bisa menjalin kerja sama dengan keluarga Ar-Rais adalah tiket emas untuk membawa perusahaannya ke kancah global.

"Selamat siang, Pak Usman. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah jadwal Anda yang sangat padat," sapa Pak Baskoro dengan senyum formal.

Pak Usman mendongak, lalu memberikan anggukan bermatabat. "Silakan duduk, Pak Baskoro. Saya sudah membaca ringkasan awal mengenai proyek pelabuhan baru Anda. Konsepnya cukup menarik."

Pak Baskoro merasa di atas angin. Ia segera membuka koper kerjanya dan mengeluarkan detail proposal. "Kami merancang ini untuk menjadi hub utama di wilayah Timur, Pak. Jika Ar-Rais Group bersedia menjadi mitra utama dalam pendanaan dan manajemen logistik, saya yakin valuasi proyek ini akan naik tiga kali lipat dalam setahun."

Pak Usman memperhatikan presentasi itu dengan saksama. Sebagai pengusaha kawakan, ia tidak hanya melihat angka, tapi juga stabilitas. "Saya suka visinya. Namun, Anda tahu prinsip Ar-Rais. Kami hanya berinvestasi pada proyek yang memiliki manajemen risiko yang bersih dan lingkungan yang stabil. Saya tidak ingin ada isu hukum atau skandal yang menghambat pembangunan di tengah jalan."

Pak Baskoro tertawa kecil, berusaha menutupi fakta bahwa saat ini ia sedang terlibat konflik dengan pihak sekolah Vina. "Tentu, Pak Usman. Semuanya sudah terkendali. Perusahaan saya memiliki rekam jejak yang bersih. Masalah-masalah kecil di lapangan selalu bisa diselesaikan dengan cara profesional."

Pak Usman mengangguk perlahan. "Bagus. Saya akan menurunkan tim audit dan tim legal saya untuk meninjau detailnya dalam minggu ini. Jika semua sesuai dengan apa yang Anda sampaikan, kita bisa lanjut ke penandatanganan MOU."

"Luar biasa, Pak Usman. Saya menjamin Anda tidak akan menyesal," ucap Pak Baskoro penuh harap.

Pertemuan itu berakhir dengan jabat tangan formal. Pak Baskoro keluar dari ruangan dengan perasaan lega, merasa bahwa kekuasaannya semakin tak tersentuh.

......................

Malam itu, kediaman keluarga Ar-Rais terasa begitu tenang. Pak Usman sedang duduk bersantai di sofa ruang tengah, menikmati secangkir teh hangat sambil menyimak berita ekonomi di televisi. Gavin, yang baru saja pulang dengan napas yang masih sedikit memburu karena amarah yang ia tahan sejak dari kafe, berjalan mendekat.

Gavin tidak langsung bicara. Ia melempar tas sekolahnya di kursi samping dan duduk di sebelah kakeknya dengan wajah yang ditekuk habis.

Pak Usman melirik cucunya dari balik kacamata bacanya. "Ada apa, Gavin? Wajahmu seperti baru kalah tanding basket."

Gavin menarik napas panjang, lalu menatap kakeknya dengan serius. "Eyang... tadi Gavin lihat Eyang meeting sama Pak Baskoro di kafe."

Pak Usman sedikit terkejut, namun tetap tenang. "Oh, kamu di sana? Iya, Eyang sedang menjajaki kerja sama proyek pelabuhan dengannya. Dia pengusaha yang cukup ambisius."

"Ambisius atau licik, Eyang?" potong Gavin dengan suara rendah namun tajam.

Pak Usman mematikan suara televisi menggunakan remote, memberikan perhatian penuh pada cucunya. "Bicara yang jelas, Gavin. Apa yang kamu ketahui?"

"Eyang selalu bilang, nama Ar-Rais itu dijaga bukan cuma pakai uang, tapi pakai integritas. Tapi orang yang tadi Eyang ajak bicara itu... dia orang yang nggak punya nurani," ujar Gavin mulai menggebu. "Eyang tahu nggak? Anak Pak Baskoro itu yang sudah bikin Vina, teman sekelas Gavin, masuk rumah sakit karena trauma berat. Dan yang lebih parah, Pak Baskoro bukannya minta maaf, malah kirim orang buat neror Bu Raisa!"

Alis Pak Usman bertaut. "Bu Raisa? Guru yang sering kamu ceritakan itu?"

"Iya! Kafe tempat Eyang meeting tadi itu punya Bu Raisa. Dan asal Eyang tahu, Pak Baskoro pilih tempat itu sengaja buat pamer kekuasaan di depan Bu Raisa, seolah-olah dia bisa beli siapa saja, termasuk Eyang," lanjut Gavin. "Om Fatih juga tahu soal ini, Eyang. Om Fatih yang rawat Vina dan dia bahkan sampai harus turun tangan jagain Bu Raisa karena Pak Baskoro mulai main kotor pakai preman buat intimidasi."

Suasana ruang tengah itu mendadak hening. Pak Usman terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan, mencerna setiap informasi yang baru saja ia dengar. Sebagai pemimpin Ar-Rais Group, ia sangat benci dijadikan alat atau tameng oleh orang lain untuk menindas pihak yang lemah.

"Jadi maksudmu, dia menggunakan pertemuan dengan Eyang sebagai ajang unjuk gigi di depan gurumu?" tanya Pak Usman dengan nada yang dingin menandakan bahwa ia sedang sangat marah.

"Benar, Eyang. Dia mau nunjukin kalau dia punya backing kelas kakap kayak Eyang, supaya Bu Raisa takut dan cabut tuntutan kasus anaknya," Gavin menatap kakeknya dengan penuh harap. "Eyang beneran mau bisnis sama orang kayak gitu? Orang yang kalau di depan Eyang manis, tapi di belakang tega nyakitin siswi SMA sama guru yang jujur?"

Pak Usman meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan dentingan pelan namun tegas. Ia menghela napas, lalu menepuk bahu Gavin.

"Terima kasih sudah memberitahu Eyang, Gavin. Eyang memang melihat ada yang tidak beres dengan caranya berbicara tadi, tapi Eyang tidak menyangka serendah itu perilakunya," ucap Pak Usman dengan suara yang berwibawa. "Besok, Eyang sendiri yang akan memastikan bahwa Pak Baskoro tahu... bahwa keluarga Ar-Rais tidak pernah berada di pihak penindas."

Gavin tersenyum lega. Ia tahu, kalau kakeknya sudah bicara seperti itu, maka riwayat bisnis Pak Baskoro berada di ujung tanduk.

......................

malam itu, suasana di kafe milik Raisa cukup ramai. Di salah satu meja sudut yang strategis, Gavin, Aldi, Rian, dan Dafa tampak asyik menikmati minuman mereka. Keempat sahabat itu sedang melepas penat setelah seharian berurusan dengan tugas sekolah dan ketegangan soal kasus Vina.

"Gila ya, makin ke sini makin panas aja situasinya. Tapi gue lega sih, akhirnya kakek gue tahu belangnya si Baskoro itu," celetuk Gavin sambil menyeruput kopi susunya.

"Asli, Vin. Gue nggak nyangka bokap si pelaku setega itu sampai neror Bu Raisa," timpal Rian sambil sibuk mengunyah camilan.

Aldi yang sedari tadi matanya berkeliling memperhatikan pengunjung kafe tiba-tiba menyenggol lengan Dafa. "Eh, eh... coba lihat ke arah jendela pojok sana. Itu bukan si Reina, ya? Temen kelas kita yang tomboy itu?"

Sontak keempatnya menoleh. Benar saja, di sana terlihat seorang gadis berambut pendek dengan jaket oversize hitam sedang duduk sendirian. Reina dikenal sebagai sosok yang pendiam, jarang bergaul dengan geng manapun, dan selalu terlihat tangguh di sekolah.

"Tumben banget dia nongkrong di sini sendirian. Mana ekspresinya kayak lagi gelisah gitu," bisik Dafa.

"Samperin yuk? Siapa tahu dia butuh temen ngobrol atau mau gabung," ajak Aldi yang memang paling ramah di antara mereka.

Baru saja Gavin hendak berdiri dan mengangkat tangannya untuk memanggil, gerakan mereka terhenti. Reina tiba-tiba berdiri dengan terburu-buru hingga kursinya hampir terjatuh. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat pucat, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk kafe seolah melihat sesuatu yang menakutkan.

Tanpa mempedulikan tasnya yang masih terbuka, Reina langsung berlari keluar dari kafe lewat pintu samping dengan kecepatan tinggi.

"Loh? Kok kabur?" tanya Rian heran, masih dengan posisi setengah berdiri.

"Aneh banget. Dia kayak lihat hantu pas mau kita samperin," gumam Gavin. Ia menatap pintu tempat Reina menghilang, lalu beralih menatap pintu utama kafe, mencoba mencari tahu apa atau siapa yang sebenarnya membuat gadis setangguh Reina lari ketakutan.

Dafa menghela napas dan duduk kembali. "Niat baik kita malah bikin dia kabur kali. Sudahlah, mungkin dia emang lagi pengen sendiri atau ada urusan mendesak."

Gavin tidak menjawab, namun firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia teringat kembali posisi Reina yang duduk di pojok, tempat yang paling tersembunyi namun memiliki pandangan jelas ke luar.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!