NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arman Mulai Mendekati

Koridor kaca itu panjang dan sunyi.

Langkah para eksekutif sudah menjauh satu per satu, meninggalkan hanya gema hak sepatu Dara yang mantap dan ritmis.

Arman mempercepat jalan.

“CEO Dara,” panggilnya akhirnya.

Dara berhenti.

Tidak terkejut. Tidak tersentak.

Ia hanya menoleh sedikit, cukup sopan — tidak lebih.

Arman berdiri satu langkah di sampingnya.

“Hari ini,” katanya, suara dibuat tenang, “presentasi Anda… luar biasa.”

Ia menambahkan setelah jeda pendek, “Jarang ada yang bisa membuat pemilik perusahaan asing itu benar-benar diam mendengarkan.”

Itu pujian.

Serius.

Dan jujur.

Dara memandangnya sekilas. Tatapannya dingin, profesional, tanpa niat memberi ruang lebih dari yang diperlukan.

“Terima kasih,” jawabnya singkat. “Itu sudah seharusnya.”

Tidak ada tanya balik.

Tidak ada usaha mencairkan suasana.

Tidak ada sedikit pun kebutuhan untuk disukai.

Arman mengerutkan dahi.

Ia terbiasa pujiannya berarti sesuatu.

Pintu lift terbuka. Mereka masuk. Hening mengisi ruang kecil itu.

Arman mencoba lagi.

“Banyak orang gugup di depan mereka,” katanya pelan. “Tapi Anda… terlihat sangat yakin.”

Dara menoleh kali ini — bukan karena tersanjung, tapi karena muak pada basa-basi.

“Saya tidak dibayar untuk gugup,” ucapnya datar. “Saya dibayar untuk memutuskan.”

Lift terus turun.

Kalimat itu menampar pelan, tanpa kekerasan, justru karena terlalu tenang.

Arman terdiam sepersekian detik. Ia menelan ludah. “Anda berbeda dari kebanyakan orang yang saya...”

“Kenal?” potong Dara, nada suaranya tetap halus namun tajam. “Mungkin karena saya tidak perlu dikenal.”

Lift berbunyi.

Pintu terbuka.

Dara melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Tidak memperpanjang.

Tidak memberi kesempatan.

Tidak tertarik.

Arman tertinggal di dalam lift, memandang punggungnya menjauh.

Pujian yang biasanya membuat orang melunak, hancur tanpa bekas.

Tidak ada efek.

Tidak ada gelombang.

Tidak ada kemenangan.

Yang tersisa hanyalah kenyataan yang menekan dadanya:

Perempuan itu tidak butuh pengakuannya.

.

Sepulang dari rapat dengan perusahaan asing itu, Arman menyetir sendiri.

Radio dimatikan. Ponsel diletakkan terbalik di kursi penumpang.

Kepalanya masih penuh oleh satu suara.

Bukan isi rapat. Bukan angka. Bukan kontrak.

...Melainkan cara Dara berbicara....

Nada tenang. Pilihan kata presisi. Bahasa asing yang mengalir tanpa jeda, tanpa ragu, seolah bukan sekadar dipelajari—melainkan sudah menjadi bagian dari dirinya.

Ia tidak berusaha memikat siapa pun. Ia hanya menyampaikan. Dan justru di situlah daya tariknya.

Arman menghela napas panjang.

Di ruang rapat, ia sempat lupa mengalihkan pandangan. Bukan karena kagum semata, tapi karena ada sesuatu yang terasa… familiar dan sekaligus asing.

Perempuan itu tidak membutuhkan persetujuan. Tidak menunggu validasi. Tidak memeriksa ekspresi orang lain untuk memastikan dirinya diterima.

Ia berdiri di sana seperti seseorang yang sudah berdamai dengan siapa dirinya.

Dan itu—entah bagaimana—membuat Arman merasa kecil.

Lampu merah membuat mobilnya berhenti. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca depan.

“Aku kenal perempuan seperti itu,” gumamnya pelan.

Tapi ingatan itu tidak cocok. Yang dulu lembut. Yang dulu terlalu sabar. Yang dulu selalu mengalah.

Yang ini… tidak mengalah pada siapa pun.

Arman menepuk setir sekali, seperti ingin mengusir pikiran yang tak diundang.

Namun dadanya tetap terasa berat.

Bukan karena ia jatuh cinta seperti dulu.

Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ia merasa ingin mengejar— bukan untuk memiliki, tapi untuk membuktikan bahwa ia masih layak diperhatikan oleh perempuan sekelas Dara Valencia.

Dan di situlah ia sadar, dengan getir:

Ia tidak jatuh cinta pada masa lalu.

Ia jatuh cinta pada versi perempuan yang tidak pernah ia izinkan untuk tumbuh saat dulu masih berada di sisinya.

.

Beberapa hari setelah rapat pertemuan bisnis asing, Arman menatap layar laptopnya dengan ekspresi tegang tapi terkontrol. Ia sudah meminta stafnya untuk menelusuri identitas CEO baru Valencia Group. Beberapa jam kemudian, sebuah pesan masuk:

“Ada urusan administratif lama. Kirimkan salinan dokumen pernikahan dan perceraian Zizi.”

Arman menahan napas. Ia membuka lampiran—dokumen pernikahan dan perceraian resmi. Semua tanggal, tanda tangan, dan catatan pengadilan tertata rapi. Mata Arman menelusuri setiap detail.

Nama lengkap Zizi, status pernikahan sebelumnya, tanggal perceraian… semua sah secara hukum. Tidak ada yang disembunyikan.

Ia menutup dokumen perlahan, menatap kosong ke luar jendela. Perempuan yang ia lihat di gala dan lift—yang memancarkan aura percaya diri, tajam, dan dingin—bukanlah Zizi yang ia kenal dari rumah tangga mereka dulu.

Tetapi… ada satu hal yang tetap menghantui pikirannya: cara Dara Valencia menatap, langkahnya, dan caranya mengendalikan setiap situasi… sesuatu yang begitu akrab dan menggetarkan.

Arman menyadari: bukan lagi soal masa lalu yang sudah ia tinggalkan, tapi tentang rasa penasaran dan… kekaguman yang tak bisa ia kendalikan.

Keberadaan Zizi saat ini juga lenyap bak ditelan bumi.

.

Dua hari setelah rapat itu, ia mengirim email singkat ke sekretariat Valencia Group. Formal. Netral. Atas nama kerja sama lanjutan.

Subjek: Follow-up Meeting – Strategic Alignment

Tidak ada pujian. Tidak ada basa-basi.

Namun ia membaca ulang email itu tiga kali sebelum menekan kirim.

Balasan datang cepat.

Ditandatangani langsung oleh Dara. Singkat. Padat. Profesional.

Dan justru itu yang membuat Arman tersenyum tipis—untuk pertama kalinya sejak lama.

Di pertemuan berikutnya, Arman datang lebih awal. Bukan kebiasaan. Ia memilih duduk di sisi meja yang berhadapan langsung dengan Dara.

Ia memperhatikan hal-hal kecil: cara Dara meletakkan ponsel terbalik saat rapat dimulai, cara ia tidak menyela, tapi mencatat, cara ia hanya berbicara ketika memang perlu.

Saat diskusi memanas, Arman sengaja melemparkan pertanyaan yang seharusnya memancing perdebatan.

Dara menjawabnya tanpa defensif. Tanpa menjilat. Tanpa ingin menang.

Ia menutup jawabannya dengan kalimat sederhana: “Kita bisa uji itu dengan pilot project. Kalau gagal, kita evaluasi bersama.”

Arman mengangguk pelan. Bukan karena setuju sepenuhnya.

Tapi karena ia jarang melihat pemimpin yang tidak takut salah di depan orang lain.

Seusai rapat, ia menyusul langkah Dara di lorong.

“Presentasimu solid,” katanya akhirnya. Tidak berlebihan. Tidak tersenyum terlalu lama.

“Terima kasih,” jawab Dara singkat. Langkahnya tidak melambat.

Arman mengikuti setengah langkah di belakang. “Jarang ada CEO yang bisa bicara setenang itu di hadapan investor asing.”

Dara berhenti. Menoleh.

Tatapan mereka bertemu—dingin, tapi jujur. “Karena saya tidak datang untuk mengesankan,” katanya datar. “Saya datang untuk menyelesaikan.”

Kalimat itu menutup percakapan.

Namun justru di situlah Arman merasa tertantang.

Malamnya, Arman tidak langsung pulang. Ia duduk lama di mobil, menatap gedung yang lampunya mulai padam satu per satu.

Bukan keinginan memiliki yang muncul. Melainkan dorongan aneh: ingin diakui oleh perempuan yang bahkan tidak terlihat berusaha mengakui siapa pun.

Dan tanpa menyadarinya, Arman sudah melangkah ke fase berikutnya, bukan lagi sekadar tertarik, melainkan ingin menembus dinding yang Dara bangun dengan rapi.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!