cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSPEKSI FIFA DI BAWAH BAYANGAN COBRA
**Bab 29
DENYUT TENANG DI BALIK 10.000 BOLA**
PABRIK PT. KOREAN INDUSTRY — KAWASAN INDUSTRI PESISIR — PAGI
Pagi itu, udara di kawasan industri terasa lebih bersih dari biasanya. Asap tipis dari cerobong pabrik PT. Korean Industry mengepul dengan ritme teratur, seolah mengikuti denyut mesin-mesin raksasa di dalamnya. Tidak ada kepanikan, tidak ada teriakan. Semuanya bergerak seperti orkestra yang telah berlatih bertahun-tahun.
Di lantai atas gedung utama, di balik dinding kaca tebal, Mr. Kim Jong Un berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung. Setelan abu-abu gelap yang ia kenakan tampak rapi tanpa satu pun lipatan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun matanya tajam memperhatikan jalur produksi di bawah sana.
Hari ini berbeda.
Hari ini terlalu tenang.
“Produksi tahap pertama berjalan sesuai jadwal?” tanyanya pelan tanpa menoleh.
Di belakangnya, Park Min Jae, manajer operasional, menunduk sedikit hormat.
“Ya, Sir. Dua ribu unit bola telah lolos uji kualitas FIFA Grade A. Tidak ada penolakan sejauh ini.”
Mr. Kim mengangguk kecil.
“Bagus.”
Pesanan 10.000 bola resmi dari FIFA bukan proyek sembarangan. Ini bukan hanya soal uang, melainkan reputasi. Satu cacat saja, satu jahitan meleset, maka nama PT. Korean Industry bisa tercoreng di pasar global.
Namun justru karena itu, Mr. Kim tampak terlalu tenang.
KUNJUNGAN TAK BIASA
Di halaman depan pabrik, iring-iringan mobil sederhana berhenti rapi. Sebuah mobil dinas kecamatan diikuti dua minibus tua milik koperasi lokal.
Pak Kades Darman turun lebih dulu. Kemeja putihnya disetrika rapi, meski kerut di sudut mata dan telapak tangannya yang kasar menandakan ia bukan pejabat yang hanya duduk di balik meja.
Di belakangnya, beberapa pria dan perempuan paruh baya ikut turun. Mereka adalah perwakilan vendor kecil lokal—pengrajin kulit sintetis, penjahit bola rumahan, hingga pemasok benang dan lem industri skala mikro.
Wajah mereka campuran antara harap dan cemas.
“Bismillah,” gumam Pak Kades sebelum melangkah masuk.
RUANG RAPAT UTAMA
Ruang rapat PT. Korean Industry didesain minimalis. Meja panjang dari kayu solid, layar digital di satu sisi, dan pendingin ruangan yang bekerja nyaris tanpa suara.
Mr. Kim sudah duduk di ujung meja saat rombongan masuk.
“Selamat pagi,” ucapnya dalam Bahasa Indonesia yang kaku namun jelas.
“Saya dengar ada permohonan untuk bergabung dalam proyek ini.”
Pak Kades berdiri, menunduk sopan.
“Terima kasih sudah menerima kami, Pak Kim. Kami datang membawa harapan… dan juga tanggung jawab.”
Ia menoleh sebentar ke arah para vendor kecil di belakangnya.
“Masyarakat kami ingin ikut berkontribusi. Kami tahu standar FIFA tinggi. Tapi kami siap mengikuti aturan, diawasi, dan bekerja siang malam bila perlu.”
Sejenak, ruangan sunyi.
Mr. Kim melipat jemarinya di atas meja.
“PT. Korean Industry biasanya bekerja dengan mitra yang sudah terverifikasi internasional.”
Nada suaranya datar. Tidak menolak, tidak juga menerima.
Salah satu vendor, Bu Ranti, memberanikan diri berbicara.
“Kami memang kecil, Pak… tapi selama ini kami memasok ke liga-liga lokal. Jahitan kami rapi. Kami hanya butuh kesempatan.”
Matanya berkaca-kaca, namun suaranya tidak gemetar.
PERTIMBANGAN SEORANG PENGENDALI
Mr. Kim menatap satu per satu wajah di hadapannya. Ia melihat ketulusan, tapi juga melihat risiko. Dalam benaknya, angka-angka berputar: waktu, kualitas, risiko kebocoran desain, kemungkinan sabotase.
Di layar digital, Park Min Jae menampilkan grafik kapasitas produksi.
“Dengan fasilitas internal,” jelas Park,
“kami mampu menyelesaikan 10.000 unit. Namun, jadwal akan sangat ketat.”
Mr. Kim mengetuk meja sekali.
“Jika ada keterlambatan, FIFA tidak akan mendengar alasan.”
Pak Kades mengangguk mantap.
“Kami tidak datang untuk mencari belas kasihan, Pak. Kami datang untuk membuktikan.”
Kalimat itu membuat Mr. Kim menatapnya lebih lama.
KEPUTUSAN SETENGAH LANGKAH
Akhirnya, Mr. Kim berdiri.
“Saya tidak akan langsung menyerahkan produksi utama,” katanya.
“Namun…”
Semua orang menahan napas.
“…kami akan membuka sub-kontrak terbatas.”
Ia menoleh ke Park Min Jae.
“Vendor lokal akan menangani komponen non-inti: lapisan dalam, pengemasan awal, dan sebagian jahitan tahap pertama. Semua di bawah pengawasan ketat.”
Wajah-wajah yang semula tegang berubah sumringah, namun masih tertahan.
“Jika satu saja gagal uji,” lanjut Mr. Kim dingin,
“kerja sama dihentikan. Tanpa kompromi.”
Pak Kades menunduk dalam-dalam.
“Atas nama warga, kami berterima kasih.”
TENANG YANG MENYEMBUNYIKAN GELOMBANG
Saat rapat usai dan rombongan meninggalkan ruangan, Park Min Jae mendekat.
“Sir, apakah ini aman?” tanyanya pelan.
“Vendor kecil sering menjadi titik lemah.”
Mr. Kim memandang keluar jendela, ke arah laut yang berkilau di kejauhan.
“Justru di situlah kita bisa melihat niat sebenarnya,” jawabnya tenang.
“Air yang tenang sering menyembunyikan arus paling berbahaya.”
Ia berbalik, tatapannya tajam.
“Perketat pengawasan. Dan pastikan… tidak ada pihak lain yang memanfaatkan celah ini.”
Park Min Jae mengangguk, meski kegelisahan masih jelas di wajahnya.
DI LUAR PAGAR PABRIK
Pak Kades dan para vendor kecil berhenti sejenak di luar pagar. Beberapa saling menggenggam tangan, sebagian mengusap wajah menahan haru.
“Kita dapat kesempatan,” ucap Pak Kades lirih.
“Sekarang jangan sampai kita jadi titik runtuh.”
Tak jauh dari mereka, seorang pria berjaket hitam berdiri di tepi jalan, pura-pura menelepon. Matanya mengamati pagar pabrik dan rombongan kecil itu dengan saksama.
“Ya,” katanya pelan ke ponsel,
“mereka mulai melibatkan pihak lokal. Ini bisa jadi celah.”
Telepon ditutup.
Di balik ketenangan hari itu, roda besar telah mulai berputar—perlahan, nyaris tak terdengar—menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar 10.000 bola.
Deru mesin kembali mengisi ruang produksi. Gulungan kulit sintetis berwarna putih bergulir di atas rel besi, dipotong presisi oleh mesin otomatis. Beberapa pekerja vendor lokal berdiri di sisi lintasan, mengenakan rompi pengawasan bertuliskan SUB-CONTRACT — LIMITED ACCESS.
Semuanya berjalan sesuai prosedur.
Terlalu sesuai.
Di ruang kontrol kualitas, Yuna Lee, supervisor QA, memeriksa hasil jahitan tahap pertama. Tangannya terampil, matanya teliti. Satu bola diangkat, diputar perlahan, ditekan di beberapa titik.
Ia berhenti.
“Park,” panggilnya pelan.
Park Min Jae mendekat.
“Ada masalah?”
Yuna menggeleng ragu.
“Bukan cacat. Tekanannya normal. Berat sesuai standar.”
Ia menunjuk sambungan kecil di dekat katup udara.
“Namun… jahitan ini tidak seperti pola internal kita.”
Park menyipitkan mata.
“Vendor lokal?”
“Seharusnya,” jawab Yuna. “Tapi benang yang dipakai… ini bukan dari stok yang kita distribusikan pagi tadi.”
Park merasakan tengkuknya dingin.
JEJAK KECIL YANG SALAH
Di ruang logistik, kamera CCTV diputar ulang. Waktu menunjukkan pukul 10.17.
Seorang pekerja vendor terlihat mendorong troli bahan. Sekilas tak ada yang aneh. Namun saat video diperlambat, Park menunjuk layar.
“Zoom.”
Wajah pria itu tertutup masker. Tangannya memasukkan gulungan benang kecil ke dalam saku rompi—lalu menukar dengan gulungan lain dari rak bahan internal.
“Ini tidak tercatat,” gumam Park.
Yuna menelan ludah.
“Jika benang itu bereaksi dengan tekanan tinggi—”
“—jahitan bisa terbuka saat pertandingan,” potong Park.
“Atau lebih buruk.”
RUANG KERJA MR. KIM
Mr. Kim Jong Un mendengarkan laporan tanpa menyela. Wajahnya tetap datar, seolah kabar itu hanyalah perubahan cuaca.
“Berapa unit yang sudah memakai benang itu?” tanyanya akhirnya.
“Belum pasti, Sir,” jawab Park.
“Estimasi awal… dua puluh hingga tiga puluh bola.”
Mr. Kim berdiri, melangkah ke jendela.
“Dan jika itu bukan kesalahan… melainkan pesan?”
Park terdiam.
“Siapa pun yang melakukannya tahu,” lanjut Mr. Kim pelan,
“bahwa proyek FIFA bukan hanya soal produksi. Ini soal kepercayaan global.”
Ia menoleh tajam.
“Kunci lini produksi vendor lokal. Diam-diam. Jangan buat keributan.”
“Siap, Sir.”
DI DESA — SORE HARI
Pak Kades Darman baru saja tiba di rumah ketika ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
“Selamat sore, Pak Kades,” suara di seberang terdengar santai.
“Kami dengar desa Anda mulai naik kelas.”
Pak Kades mengernyit.
“Siapa ini?”
“Anggap saja… pihak yang tidak ingin Anda terlalu dekat dengan PT. Korean Industry.”
Napas Pak Kades tertahan.
“Kalau proyek itu gagal,” lanjut suara itu dingin,
“bukan pabrik yang pertama jatuh. Tapi desa.”
Telepon terputus.
KEMBALI KE PABRIK — MALAM
Satu bola hasil produksi siang itu diletakkan di meja uji tekanan ekstrem. Jarum indikator bergerak naik perlahan.
Yuna dan Park menahan napas.
PSST—!
Suara kecil terdengar.
Jahitan di dekat katup udara menganga tipis.
Hanya sepersekian detik.
Cukup untuk membuat satu pertandingan… dan satu reputasi… runtuh.
Di layar ponsel Mr. Kim, sebuah pesan masuk dari nomor internasional:
“King Cobra selalu menyusup sebelum menggigit.”
Mr. Kim menutup layar.
Matanya tak lagi tenang.
Terlambatkah mereka menyadarinya?
Lampu neon memantul dingin di lantai baja. Bola yang barusan gagal uji tekanan masih tergeletak di meja, jahitannya menganga tipis seperti luka yang baru disayat.
Yuna Lee berdiri kaku.
Satu kesalahan kecil.
Satu celah nyaris tak terlihat.
Namun cukup untuk menghancurkan segalanya.
“Tekanan hanya naik setengah standar FIFA,” ucapnya pelan.
“Seharusnya aman.”
Park Min Jae mengepalkan tangan.
“Artinya ini bukan kebetulan.”
Di sudut ruangan, Mr. Kim Jong Un menatap bola itu lama. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras—tanda yang hanya diketahui orang-orang terdekatnya.
“King Cobra tidak membunuh dengan satu gigitan,” katanya dingin.
“Ia melumpuhkan… lalu menunggu.”
KUNCI SENYAP
Instruksi keluar tanpa rapat, tanpa dokumen.
Lini vendor lokal ditutup sementara
Semua bahan produksi disegel ulang
Pekerja tidak boleh pulang sebelum dicek satu per satu
Namun Mr. Kim tahu:
jika ini memang Cobra, maka satu ekor sudah menyusup—dan pasangannya menunggu di luar.
RUMAH PAK KADES — MALAM
Pak Kades Darman duduk di ruang tamu dengan lampu temaram. Istrinya sudah tidur, tapi pikirannya tidak.
Telepon asing sore tadi terus terngiang.
Pintu diketuk.
Tok. Tok.
Pak Kades berdiri perlahan.
“Siapa?”
“Orang yang ingin memastikan desa ini tetap aman,” jawab suara perempuan dari luar. Tenang. Lembut. Terlalu tenang.
Saat pintu dibuka, seorang perempuan berdiri di ambang. Usianya sekitar tiga puluhan. Rambut disanggul rapi. Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Perkenalkan,” katanya sopan.
“Panggil saya Maya.”
Pak Kades mengerutkan kening.
“Ada keperluan apa malam-malam begini?”
Maya melangkah masuk tanpa diminta.
“Vendor-vendor kecil itu… orang baik. Akan sangat disayangkan jika mereka dianggap biang kegagalan proyek besar.”
Nada suaranya ramah, tapi matanya dingin.
“Kami hanya ingin satu hal,” lanjutnya.
“Pastikan mereka tetap bekerja besok.”
Pak Kades menelan ludah.
“Kalau saya menolak?”
Maya tersenyum.
“Kami sudah mempelajari desa ini, Pak. Sumur air, jalur distribusi, bahkan sekolah dasar.”
Ia berhenti sejenak.
“Kecelakaan bisa terjadi kapan saja.”
Itu bukan ancaman.
Itu peringatan.
KEMBALI KE PABRIK — RUANG DATA
Park Min Jae membuka database internal. Jejak bahan produksi dipetakan ulang. Satu kode batch muncul aneh: tidak pernah tercatat di gudang pusat.
“Ini diselundupkan dari luar,” gumamnya.
Yuna menoleh.
“Kalau begitu, pengawasan kita sudah ditembus.”
Park mengangguk.
“Dan orang yang menyusup tahu betul standar FIFA.”
Pintu ruang data terbuka.
Mr. Kim masuk.
“Berapa lama sebelum kita bisa memastikan semua bola aman?”
Park ragu.
“Minimal… 48 jam.”
Mr. Kim menggeleng pelan.
“FIFA mengirim inspeksi awal besok sore.”
Ruangan sunyi.
INSPEKTUR TAMU
Di bandara internasional, seorang pria berjas hitam turun dari pesawat. Di tangannya, koper kecil berstiker FIFA.
Namanya Lucas Verner.
Inspektur kualitas.
Rekam jejaknya bersih—dan tak bisa dibeli.
Di kursi belakang mobil yang menjemputnya, ponselnya bergetar.
Pesan anonim masuk:
“Periksa katup udara. Jangan percaya laporan awal.”
Lucas menatap layar lama.
“Menarik,” gumamnya.
BAYANGAN COBRA JANTAN
Di sebuah gudang tua tak jauh dari pelabuhan, seorang pria bertubuh besar duduk di depan meja lipat. Tangannya kasar, penuh bekas luka.
Di depannya, gulungan benang khusus tergeletak.
Ia menerima pesan singkat:
“Betina sudah bergerak. Tekanan dinaikkan.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Bagus,” gumamnya.
“Sekarang giliranku.”
Ia bangkit, mengenakan jaket hitam, dan melangkah ke kegelapan.
MALAM MENEGANGKAN
Di pabrik, alarm kecil berbunyi.
Salah satu pekerja vendor pingsan di kamar mandi.
Yuna berlutut memeriksa.
“Napasnya cepat… seperti keracunan ringan.”
Mr. Kim menatap cairan bening di lantai dekat wastafel.
“Bukan racun mematikan,” katanya dingin.
“Hanya pengalih.”
Park membelalak.
“Artinya—”
“—serangan utama belum dimulai,” sambung Mr. Kim.
Di luar, hujan turun perlahan, menutupi suara langkah seseorang yang melompati pagar belakang pabrik.
Di meja uji, satu bola lain dipompa ulang untuk pemeriksaan akhir.
Tekanan naik.
Stabil.
Lalu—
BRRAKK!
Bola itu meledak keras, serpihan karet menghantam dinding.
Lampu berkedip.
Di ponsel Mr. Kim, pesan masuk bersamaan dengan mati listrik sepersekian detik:
“Satu gigitan sudah cukup untuk menguji refleksmu.”
Mr. Kim mengepalkan tangan.
“King Cobra…” ucapnya lirih.
“…kali ini kau terlalu dekat.”
Di kejauhan, sirene inspeksi FIFA terdengar mendekat.
PABRIK PT. KOREAN INDUSTRY — SUBUH
Sirene berhenti tepat ketika gerbang utama terbuka. Mobil hitam berlogo FIFA meluncur masuk perlahan, lampunya memantul di genangan hujan semalam.
Lucas Verner turun pertama. Wajahnya datar, matanya tajam. Ia tidak membawa banyak orang—ciri khas inspektur yang percaya pada insting dan bukti, bukan rombongan.
Mr. Kim Jong Un sudah menunggu di depan gedung utama.
“Selamat datang,” ucapnya singkat.
Lucas mengangguk.
“Saya ingin langsung ke lini produksi.”
Tidak ada basa-basi.
JALUR PRODUKSI — PAGI
Mesin kembali hidup. Pekerja berdiri di posisi masing-masing, tegang namun terkendali. Vendor lokal hanya menyisakan beberapa orang yang telah lolos penyaringan cepat semalam.
Lucas berjalan menyusuri lintasan, tangannya sesekali menyentuh bola yang melintas. Ia berhenti di satu titik.
“Katup,” katanya.
Yuna Lee segera mendekat, menyerahkan sarung tangan.
“Silakan.”
Lucas menekan, memutar, lalu mengangguk kecil.
“Uji tekanan acak. Di sini.”
Park Min Jae memberi isyarat. Mesin uji mendesis. Jarum naik.
Stabil.
Beberapa napas lega terdengar—lalu Lucas mengangkat tangan.
“Sekarang yang itu.”
Ia menunjuk bola dari batch berbeda.
Mesin kembali bekerja.
Jarum naik… naik…
PSST—!
Jahitan membuka tipis. Tidak meledak, tapi cukup jelas.
Lucas menatap Mr. Kim.
“Ini bukan cacat produksi massal,” katanya pelan.
“Ini intervensi.”
GERAKAN BALIK
Mr. Kim tidak membantah.
“Kami juga sampai pada kesimpulan itu.”
Lucas menoleh.
“Berapa lama intervensi terjadi?”
“Kurang dari dua puluh empat jam,” jawab Park.
Lucas menghela napas.
“Berarti pelaku masih di dalam… atau baru keluar.”
Seolah menjawab kalimat itu, alarm internal berbunyi singkat—kode senyap.
Akses belakang terbuka.
KEJARAN DI KORIDOR SERVIS
Park dan dua petugas keamanan berlari. Di koridor sempit, bayangan hitam melesat, menjatuhkan troli.
“Berhenti!”
Bayangan itu berbelok ke tangga darurat. Park menyusul, napasnya memburu.
Di puncak tangga, seorang pria bertubuh besar menunggu—Cobra Jantan. Wajahnya kasar, matanya dingin. Di tangannya, sebuah pemantik kecil dan botol cairan bening.
“Jangan mendekat,” katanya santai.
“Satu percikan, satu lantai berhenti produksi.”
Park berhenti.
“Ini sudah berakhir.”
Pria itu tersenyum.
“Belum. Baru mulai.”
Ia melempar botol ke arah panel listrik—
DUARR!
Percikan api menyambar. Asap memenuhi koridor.
Di sisi lain, Yuna Lee melihat api dari layar monitor.
“Panel servis!” teriaknya.
“Kalau menyebar ke gudang bahan—”
Mr. Kim langsung bergerak.
“Kunci jalur utama. Evakuasi zona C.”
Yuna berlari ke arah katup darurat. Api menjilat kabel di atas kepalanya. Tangannya gemetar, tapi ia memutar tuas sekuat tenaga.
Pintu baja turun.
Namun satu percikan melompat—
mengenai lengan Yuna.
Ia terjatuh.
Park tiba tepat waktu, menariknya keluar sebelum api membesar. Lengan Yuna melepuh parah, tapi katup berhasil tertutup.
Api padam perlahan.
Produksi—selamat.
Yuna tersenyum lemah.
“Standar… FIFA… aman?” bisiknya.
Park mengangguk, suaranya serak.
“Aman.”
Ia pingsan.
Cobra Jantan berhasil meloloskan diri melalui lorong servis menuju pelabuhan. Namun di pabrik, sesuatu berubah.
Lucas Verner menatap laporan cepat.
“Saya tidak akan menghentikan inspeksi,” katanya tegas.
“Justru sekarang.”
Mr. Kim menatap lengan Yuna yang dibalut cepat.
“Terima kasih,” katanya singkat—tulus.
Lucas menoleh.
“Siapa pun yang bermain ini profesional. Dan mereka tidak bekerja sendirian.”
Mr. Kim mengeluarkan ponsel, membuka pesan terakhir:
“Jika jantan gagal, betina menutup permainan.”
Ia mengangkat kepala.
“Beri tahu FIFA,” katanya pada Lucas.
“Kami akan kirim ulang semua batch. Transparan. Tanpa kecuali.”
Lucas mengangguk.
“Itu satu-satunya cara bertahan.”
DI DESA — SENJA
Maya berdiri di tepi sawah, ponsel di telinga.
“Jantan gagal,” suara di seberang berkata.
Maya tersenyum tipis.
“Tidak masalah. Tujuan kita bukan menghancurkan pabrik.”
Ia menatap ke arah pabrik di kejauhan.
“Hanya menguji… dan menandai.”
Telepon ditutup.
Di ruang rapat, Mr. Kim berdiri di depan timnya.
“Mulai detik ini,” katanya dingin,
“kita bukan hanya produsen. Kita target.”
Ia menatap layar CCTV yang menampilkan simbol kecil terukir di salah satu meja uji—gambar ular berkepala mahkota.
“Dan siapa pun yang membawa simbol itu,” lanjutnya,
“akan kita kejar sampai sarangnya.”
Di luar, helikopter kecil melintas menuju kota.
Perang senyap baru saja dimulai.