NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan begitu juga dengan Kirana.

Di lantai tiga puluh enam sebuah gedung pencakar langit yang merajai kawasan Sudirman, Kirana berdiri mematung di depan jendela kaca yang luas. Di balik kaca itu, lampu-lampu kota yang riuh tampak seperti hamparan berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Namun, bagi Kirana, keindahan itu tidak lebih dari sekadar angka-angka statistik dan target penjualan yang harus dicapai.

Sebagai Manajer Pemasaran di Kencana Jewelry - salah satu imperium perhiasan paling prestisius di Indonesia - hidupnya adalah tentang presisi. Satu milimeter kesalahan dalam pemotongan berlian berarti bencana, dan satu kesalahan kecil dalam strategi pemasaran berarti kehancuran reputasi.

Ia merapikan blazer hitam custom-fit miliknya. Setiap garis jahitannya sempurna, mengikuti lekuk tubuhnya yang tegap namun elegan. Rambutnya disanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang berani keluar dari tempatnya, seolah rambut itu pun takut pada otoritas pemiliknya. Wajahnya yang cantik dipoles dengan riasan minimalis namun tegas, garis eyeliner yang tajam dan bibir berwarna merah marun yang seolah menjadi segel bagi kata-katanya yang dingin.

"Ibu Kirana?" suara ketukan pintu memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan.

Kirana tidak segera menoleh. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, menciptakan ketegangan kecil bagi siapa pun yang masuk ke ruangannya. "Masuk, Maya."

Maya, asisten pribadinya yang sudah bekerja selama dua tahun, melangkah masuk dengan ragu. Tangannya memeluk map kulit berwarna biru tua. "Semua laporan untuk presentasi besok dengan keluarga Mahendra sudah siap di meja Anda, Bu. Saya sudah memeriksa ulang setiap angka di dalamnya."

Kirana berbalik perlahan. Sepatu hak tingginya mengeluarkan bunyi klak yang ritmis di atas lantai marmer. "Terima kasih, Maya. Kau tahu sendiri, keluarga Mahendra bukan tipe orang yang memaafkan kecerobohan. Mereka adalah predator bisnis. Jika mereka mencium sedikit saja bau ketidakpastian, mereka akan merobek kontrak kita tanpa ragu."

"Saya mengerti, Bu. Katalog limited edition untuk koleksi 'Garis Takdir' juga sudah diproses di percetakan khusus," jawab Maya sambil sedikit menundukkan kepala.

Setelah asistennya pergi, Kirana tidak segera menyentuh laporan itu. Pandangannya terjatuh pada sebuah foto kecil dalam bingkai perak yang terselip di balik tumpukan dokumen. Di sana, seorang gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut terurai dan senyum yang lepas menatap kamera dengan binar harapan. Gadis itu adalah Kirana versi beberapa tahun lalu, seorang mahasiswi yang percaya bahwa dunia ini adil dan kejujuran adalah mata uang tertinggi.

Kirana yang sekarang menyunggingkan senyum pahit. Gadis dalam foto itu sudah lama mati, terkubur oleh kenyataan pahit bahwa dunia hanya berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan, uang, dan sedikit rasa tidak tahu malu. Ia menutup bingkai foto itu dengan telapak tangannya, menyembunyikan masa lalu di balik dinginnya logam perak.

~

Malam itu, ballroom Hotel Grand Hyatt berubah menjadi samudra kemewahan. Langit-langitnya dihiasi lampu kristal raksasa yang membiaskan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan. Aroma parfum niche yang mahal bercampur dengan bau sampanye yang menguap di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.

Bagi Kirana, Gala Charity ini bukan sekadar acara penggalangan dana bagi yayasan kanker. Ini adalah medan perang. Di sini, kesepakatan bernilai miliaran rupiah bisa terjadi hanya melalui satu jabat tangan di sela-sela denting gelas.

Saat Kirana melangkah masuk, percakapan di sekitarnya seolah mereda sejenak. Ia mengenakan gaun sutra berwarna navy yang menutup hingga leher namun memeluk siluet tubuhnya dengan sempurna. Ia tidak butuh banyak perhiasan, hanya sepasang anting berlian teardrop dari koleksi pribadinya yang memantulkan cahaya setiap kali ia menggerakkan kepala.

Ia memiliki aura yang sulit diabaikan, dingin namun memikat, seperti mawar hitam yang indah namun dipenuhi duri yang beracun jika disentuh sembarangan.

"Target terdeteksi," bisik seorang pria di sudut ruangan yang remang-remang.

Arka Mahendra menyesap wiskinya perlahan. Cairan amber itu terasa panas di tenggorokannya, namun matanya yang tajam tetap dingin saat mengunci sosok Kirana di tengah kerumunan. Arka adalah definisi dari pria yang memiliki segalanya. Rahangnya yang tegas selalu tampak bersih dari bayangan jenggot, matanya gelap namun menyimpan binar nakal yang berbahaya.

Ia adalah pewaris tunggal Mahendra Group, namun reputasinya di kolom gosip jauh lebih mentereng daripada prestasinya di kolom bisnis. Baginya, hidup adalah sebuah permainan papan panjang di mana ia selalu memegang bidak raja.

"Si Ratu Es itu?" Dion, sahabat Arka sejak masa sekolah, terkekeh sambil mengikuti arah pandang Arka. "Lupakan saja, Ka. Banyak pria dari kalangan konglomerat yang sudah mencoba mendekatinya. Ada yang memberi mobil mewah, ada yang mencoba dengan puisi. Semuanya berakhir di tempat sampah yang sama. Dia lebih mencintai grafik penjualan daripada detak jantung manusia."

Arka menyunggingkan senyum miring. Senyum yang biasanya menjadi lonceng kematian bagi ketenangan mangsanya. "Es sekeras apa pun akan mencair jika diletakkan di bawah panas yang tepat, Dion. Masalahnya, pria-pria itu hanya tahu cara membeli, bukan cara menaklukkan."

"Jangan sombong. Kirana bukan tipe wanita yang bisa kau tiduri lalu kau tinggalkan dengan cek satu miliar di meja riasnya. Dia punya harga diri yang lebih tinggi dari gedung kantornya," Dion memperingatkan, meski ia tahu Arka jarang mendengarkan.

"Harga diri?" Arka memutar-mutar gelas wiskinya. "Semua orang punya harga diri sampai mereka bertemu dengan harga yang tepat. Atau, dalam kasus wanita seperti dia... sampai mereka bertemu dengan 'cinta' yang tepat."

Arka meletakkan gelasnya di atas nampan pelayan yang lewat. "Bagaimana kalau kita bertaruh? Mobil sport merah keluaran terbaru yang baru saja kau beli itu untukku jika aku menang."

Dion menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik. "Dan apa tantangannya?"

"Tiga bulan," ucap Arka mantap. "Beri aku waktu tiga bulan. Aku akan membuatnya jatuh cinta sampai dia berlutut memohon padaku untuk tidak meninggalkannya. Dan saat hatinya sudah terbuka lebar, aku akan mengambil akses vendor berlian Afrika yang selama ini dirahasiakan perusahaannya. Ayahku menginginkan akses itu untuk menghancurkan dominasi Kencana Jewelry."

Dion menggeleng-gelengkan kepala, terkejut sekaligus ngeri dengan rencana itu. "Kau benar-benar iblis, Ka. Jika kau gagal?"

"Aku tidak pernah gagal, Dion. Kau tahu itu."

Kirana merasa tengkuknya meremang. Di tengah percakapannya dengan seorang kolega dari Singapura, ia merasa sepasang mata sedang membedah punggungnya. Ia berbalik perlahan, dan secara tidak sengaja matanya bertemu dengan mata Arka yang sedang menatapnya dari seberang ruangan.

Untuk sesaat, waktu seolah melambat. Ada aliran listrik aneh yang merayap di kulit Kirana. Arka tidak membuang muka seperti kebanyakan pria yang merasa terintimidasi oleh tatapannya. Sebaliknya, pria itu justru mengangkat gelasnya sedikit, memberikan penghormatan kecil yang penuh provokasi.

Kirana segera memalingkan wajah. Ia tahu siapa Arka Mahendra. Seluruh Jakarta tahu. Pria sombong yang mengira dunia berputar di sekitar jempolnya. Penghancur hati profesional yang memandang wanita sebagai koleksi piala.

Namun, Arka tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan langkah yang tenang dan penuh percaya diri, Arka berjalan mendekat. Langkahnya mantap, membelah kerumunan tamu undangan seolah-olah ia adalah pemilik tunggal gedung ini.

"Ibu Kirana, benar?" suara bariton Arka yang berat dan halus terdengar tepat di belakang Kirana.

Kirana menarik napas dalam, mengumpulkan ketenangannya, lalu berbalik. Wajahnya tetap sedingin es. "Pak Arka Mahendra. Suatu kehormatan bisa melihat Anda di acara yang bersifat... filantropi. Saya pikir Anda lebih suka menghabiskan malam di tempat yang lebih bising."

Arka tertawa kecil. Suaranya terdengar hangat dan tulus, jenis tawa yang sengaja ia latih untuk meluluhkan pertahanan wanita. "Manusia bisa berubah, bukan? Apalagi jika ada motivasi yang tepat untuk hadir."

"Dan apa motivasi itu?" tanya Kirana dengan nada datar, matanya menyelidik mencari celah kebohongan.

"Bisnis, tentu saja," Arka melangkah satu langkah lebih dekat, memasuki zona personal Kirana. Ia bisa mencium aroma parfum sandalwood dan mawar yang elegan dari tubuh wanita itu. "Mahendra Group sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan lini perhiasan eksklusif untuk jaringan hotel baru kami di Bali. Dan saya merasa, tidak ada otak yang lebih tajam di industri ini selain milik Anda."

Kirana terdiam sejenak. Ia tidak bisa memungkiri bahwa informasi itu adalah umpan yang sangat manis. Proyek hotel Mahendra di Bali adalah proyek triliunan rupiah. Jika Kencana Jewelry bisa mengamankan kontrak itu, posisinya sebagai Manajer Pemasaran tidak akan tergoyahkan selama satu dekade.

"Jika itu masalah bisnis, Pak Arka, silakan hubungi asisten saya, Maya. Dia akan mencarikan celah di jadwal saya yang sangat padat."

Arka tersenyum miring, matanya kini menatap bibir Kirana yang berwarna marun sebelum kembali ke matanya. "Saya rasa proyek ini terlalu personal untuk diserahkan kepada asisten. Saya akan menelepon Anda sendiri, Kirana. Bukan sebagai rekan bisnis biasa, tapi sebagai mitra yang ingin memahami visi Anda."

"Saya tidak punya visi yang bisa dibicarakan sambil minum sampanye," jawab Kirana ketus, lalu ia berbalik untuk pergi.

Namun, dengan gerakan yang sangat halus namun dominan, Arka menghalangi jalannya dengan langkah kaki yang lebar. "Tunggu sebentar. Mengapa terburu-buru? Apakah saya semenakutkan itu bagi Anda?"

Kirana menatap Arka tepat di matanya, menantang dominasi pria itu. "Anda tidak menakutkan, Pak Arka. Anda hanya... membuang waktu saya. Dan di dunia saya, waktu adalah aset yang jauh lebih berharga daripada emas."

Arka tertegun sejenak. Ketajaman wanita ini justru membuatnya semakin bersemangat. Ini bukan lagi sekadar taruhan untuk mobil sport, ini adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit. "Sangat jujur. Saya suka itu. Baiklah, saya tidak akan membuang waktu Anda lagi malam ini. Tapi ingat kata-kata saya, Kirana... es yang paling keras sekalipun punya titik lelehnya."

Tanpa menunggu balasan, Arka melangkah pergi dengan aura kemenangan yang aneh, meninggalkan Kirana yang berdiri dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, bukan karena jatuh cinta, tapi karena instingnya berteriak bahwa bahaya baru saja menyentuhnya.

Malam itu, di sebuah klub malam eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh pemegang kartu anggota emas, Arka duduk di sofa kulit yang gelap. Cahaya lampu neon berwarna ungu memantul di wajahnya.

"Langkah pertama selesai," ucap Arka sambil menyalakan cerutu. Asap tebal mengepul di depan wajahnya, mengaburkan ekspresi matanya yang licik.

"Dia tidak terlihat seperti wanita yang mudah jatuh cinta dengan kata-kata manis, Ka," ujar Dion sambil menuangkan minuman baru untuk mereka.

"Cinta itu seperti membangun gedung," Arka menyesap minumannya. "Kau tidak langsung memasang atap. Kau mulai dengan menggali lubang untuk fondasi. Aku akan memberinya perhatian yang tidak pernah ia dapatkan, sedikit 'ketidaksengajaan' yang manis, dan romansa palsu yang paling indah yang pernah ia lihat. Saat dia merasa berada di puncak kebahagiaan, saat itulah aku akan menarik tanah dari bawah kakinya."

Arka menatap ponselnya, melihat foto Kirana yang ia ambil secara diam-diam saat wanita itu sedang berdebat dengannya tadi. Di mata Arka, Kirana bukanlah seorang wanita dengan perasaan, mimpi, atau trauma. Kirana hanyalah sebuah angka, sebuah piala, dan tiket menuju mobil sport baru serta kemenangan bagi ayahnya.

~

Di apartemennya, Kirana duduk di tepi tempat tidur, melepas sepatunya yang melelahkan. Ia menatap kakinya yang sedikit memerah, lalu menatap langit-langit kamarnya yang sunyi. Kata-kata Arka terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak.

"Hanya pria kaya yang manja," gumamnya pada kegelapan. "Jangan biarkan dia mengganggumu."

Namun, di dalam hatinya, sebuah kegelisahan mulai tumbuh. Kirana tidak tahu bahwa di balik senyum menawan Arka Mahendra, terdapat rencana jahat yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya hingga berkeping-keping. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menawarkan kerja sama bisnis itu, sebenarnya sedang menggali lubang kubur bagi harga diri dan masa depannya.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai menurunkan rintik hujan, dua jiwa mulai saling mengincar. Yang satu berjuang untuk kesuksesan profesionalnya, dan yang lainnya bermain dengan api kehancuran yang dibungkus dengan janji-janji manis.

Permainan telah dimulai. Dan di dunia Arka Mahendra, tidak ada tempat bagi mereka yang bermain dengan hati. Kirana akan segera belajar bahwa di medan perang cinta, luka yang paling dalam tidak selalu mengeluarkan darah, tapi selalu meninggalkan bekas yang abadi.

...----------------...

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!