Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Rahasia Pernikahan Ke-2
Di pusat kota Surabaya, sebuah gedung mewah berdiri angkuh. Lampu kristal di lobi menyala terang. Karpet merah terbentang dari pintu masuk sampai ke dalam aula.
Tapi suasananya aneh. Tidak ada awak media. Tidak ada tamu berdesakan. Hanya satpam berseragam hitam yang berjaga ketat di setiap sudut. CCTV menyala di semua arah.
Di dalam aula utama, dekorasi serba putih dan emas. Bunga mawar merah ditata rapi di pelaminan. Musik akustik pelan mengalun.
Hari ini, seorang model terkenal akan melangsungkan ijab kabul. Tertutup. Hanya keluarga inti.
"Ma..." panggil Monik. Ia duduk menyamping di sofa VIP, gaun satin birunya berkilau kena lampu.
"Hemm?" jawab Anggit. Ibu Keenan. Rambutnya disanggul rapi, kalung berlian melingkar di lehernya.
"Menurut Mama, bagaimana kalau seandainya si Netha itu tahu kalau Kak Keenan sekarang lagi melangsungkan pernikahan keduanya?" tanya Monik sambil mengaduk jus jeruknya pelan. Senyumnya setengah mengejek.
Anggit langsung menoleh. Matanya menyipit tajam. "Ya bagus dong. Biar sekalian mampus tuh perempuan. Mama malah pengennya dia cepat-cepat tahu, biar dia sadar diri dan pergi dari kehidupan kakak kamu."
Monik terkekeh kecil. "Hahaha... sebegitu ambisiusnya Mama ya buat misahin Kak Keenan sama perempuan itu."
"Ya jelas dong," sentak Anggit. "Mama udah sebel banget lihat wajah perempuan itu dari dulu. Mama nggak suka dan nggak sudi punya menantu kayak dia. Tapi mau gimana lagi, karena kakakmu maksa, ya akhirnya Mama mau nggak mau nerima."
"Dan mungkin sekarang Kak Keenan baru sadar kalau perempuan itu bukan perempuan baik-baik buat dia," timpal Monik. "Makanya dia milih nikah lagi sama wanita yang lebih tajir. Keluarganya jelas. Bukan kayak Netha itu, keluarganya nggak jelas asal-usulnya."
"Betul sekali," kata Anggit sambil menghela napas panjang. "Kalau bukan karena restu nenek tiri kamu yang peot itu, Keenan nggak bakal nekat nikahin perempuan miskin itu."
Monik menyenggol bahu ibunya pelan. "Udah lah, Ma. Nggak usah ngomongin Omaterus. Oma kan orangnya baik lho... apalagi Om... Arsen..."
Nama terakhir itu ia sebut pelan, sambil senyum-senyum sendiri kayak lagi mikir yang nggak-nggak.
Anggit langsung nyenggol lengan Monik kasar. "Aduh, apa-apaan sih, Ma," protes Monik sambil mengerucutkan bibir.
"Mikir apa kamu barusan, hah?" hardik Anggit pelan tapi penuh tekanan.
"Ih, orang nggak mikir apa-apa kok," jawab Monik sekenanya, matanya masih melirik ke arah pintu.
"Awas aja ya kamu kalau berbuat macam-macam di belakang Mama!" ancam Anggit dengan suara tegas.
"Ishhh... mulai deh nyebelinnya," gumam Monik pelan.
"Monik...!"
"Iya iya, Mam. Bawel amat sih," cetusnya kesal sambil geleng-geleng kepala.
Di kantor PT YD Corp Group, lantai 47
Arsenio duduk di kursi kulitnya. Jas hitam, dasi dilepas dan digantung di sandaran kursi. Matanya menatap layar laptop, tapi pikirannya entah ke mana.
"Jadi dia hari ini minta izin cuti?" tanyanya pada Dimas yang berdiri di depan meja dengan map di tangan.
"Benar, Pak. Tadi managernya langsung yang hubungi saya," jawab Rangga sopan. "Katanya mendadak. Alasannya urusan keluarga."
Arsen menarik sudut bibirnya. Seringai kecil muncul di wajahnya. "Cari tahu kemana dia pergi."
"Baik, Pak," angguk Rangga mantap. Ia langsung berbalik dan keluar ruangan.
Arsen bersandar. Jarinya mengetuk meja pelan. Nama Netha lagi-lagi muncul di kepalanya. Sejak kejadian di tempat lokasi syuting kemarin, ia nggak bisa fokus kerja. Ada rasa aneh yang nggak bisa ia jelaskan. Khawatir? Iya. Tapi lebih dari itu.
Di rumah Netha, pagi itu suasananya buru-buru.
Netha merapikan koper. Baju ganti untuknya dan Queen, susu kotak, tisu basah, mainan kecil Queen, obat-obatan. Semua masuk.
"Ayo, sayang, kita berangkat. Taksinya udah nunggu di depan," ajak Netha sambil menggendong Queen. Tangan satunya narik koper berukuran sedang.
Ya Netha memutuskan balik pulang kerumah setelah tahu kalau suaminya lagi di bandara sama perempuan selingkuhannya yang tak lain mantan sahabatnya sendiri.
Di halaman, terparkir SUV Range Rover Velar warna silver. Mengkilap kena matahari pagi.
Netha berhenti sebentar. Ia menatap mobil itu, lalu buka aplikasi taksi online di ponselnya. Plat nomornya sama persis: Plat U 1847 RF.
Ia mengabaikan kejanggalan itu. Mungkin kebetulan. Mungkin lagi hoki dapet mobil bagus. Ia buru-buru buka bagasi, masukkan koper, lalu duduk di kursi belakang bersama Queen.
Queen melongo. Matanya menatap kaca spion depan. Ada sosok pria bertubuh tegap di balik kemudi.
Pria itu menaruh jari di bibir. Isyarat diam.
Queen langsung nutup mulutnya pakai dua tangan. Matanya berbinar-binar. Ia kenal pria itu.
"Jalan, Pak," seru Netha yang belum sadar siapa sopirnya. Ia sibuk ngecek tiket pesawat di ponsel.
Pria itu cuma mengangguk. Mesin dinyalakan. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah.
Surabaya
Di gedung pernikahan, suasana hening. Semua mata tertuju ke depan. Keluarga inti duduk rapi.
Penghulu membuka kitab. Suaranya lantang. "Saudara Keenan Jeremi bin Fery Sanjaya, saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan Saudari Clara Adellia binti Martin Harsono dengan seperangkat uang tunai dua juta tiga ratus ribu rupiah dan sepuluh gram emas dibayar tunai."
Keenan menarik napas panjang. Tangannya sedikit gemetar. "Saya terima nikah dan kawinnya Clara Adellia binti Martin Harsono dengan emas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sahhhh..." jawab dua orang saksi serempak.
Tepuk tangan kecil terdengar dari keluarga. Clara tersenyum lebar. Gaun putihnya ketat di badan. Makeup-nya tebal, tapi cantik.
Tangan Keenan terulur. Ini kedua kalinya ia mengucapkan ijab kabul untuk wanita selain Netha. Resmi, ia punya dua istri.
"Silakan Mbak Clara cium tangan suami. Dan Mas Keenan boleh cium kening Mbak Clara," ujar penghulu dengan senyum.
Keenan tersenyum hangat. Tatapannya penuh cinta ke Clara. Untuk beberapa detik, ia melupakan Netha. Melupakan Queen. Melupakan rumahnya.
Cup.
Ia mencium kening Clara. Lembut. Penuh kepemilikan.
Clara memejamkan mata. Dalam hati ia berteriak kemenangan. Rencananya berhasil.
Anggit langsung menangis haru. "Alhamdulillah... akhirnya anak Mama nikah lagi sama wanita yang sepadan."
Monik ikut senyum sinis. "Selamat ya, Kak. Akhirnya lepas dari beban."
Keenan melirik ibunya dan adiknya. Dadanya sesak. Tapi ia paksa tersenyum.
Di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 2.
Netha turun dari SUV. Ia buka tas selempang, keluarin dua lembar seratus ribu.
"Ini, Pak. Uangnya," ucapnya. Sopir menerima tanpa menoleh sama sekali.
"Kembalinya buat Bapak aja, Pak. Tapi boleh tolong angkatin koper saya nggak?" pintanya ragu-ragu.
Sopir mengangguk. Ia turun, buka pintu belakang, ambil koper Netha.
Netha tersenyum lega. "Makasih ya, Pak."
Sopir itu tetap nggak menoleh. Ia cuma buka masker dan kacamata hitamnya sebentar, lalu langsung pakai lagi. Nggak ngomong sepatah kata pun.
Netha nggak curiga. Ia langsung masuk ke dalam bandara bersama Queen, narik kopernya sendiri.
Si sopir berdiri di tempat. Begitu Netha hilang dari pandangan, ia langsung angkat ponsel.
"Batalkan semua jadwal penerbangan seluruh pesawat yang menuju Surabaya," perintahnya singkat. Nadanya dingin, tegas.
"Baik, Tuan," jawab suara dari seberang.
Ia nutup telepon. Matanya menatap ke arah Netha yang udah masuk ke dalam terminal.
Tanpa menunggu, ia masuk lagi ke mobil dan melaju pergi.
Di gedung pernikahan, acara sudah selesai. Keenan dan Clara berfoto dengan keluarga. Senyum mereka dipaksa.
Keenan menatap ponselnya. Tidak ada panggilan dari Netha. Tidak ada pesan.
"Keen, senyum dong," tegur Clara sambil merangkul lengannya.
Keenan tersenyum. Tapi senyum itu nggak sampai ke mata.
Di luar sana, Netha baru saja tiba di bandara. Dan ia tidak tahu, apa yang menantinya di Surabaya.
To be continued...
Jangan lupa kasih dukungannya ya kalau suka