Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Daftar Kematian
"NIU NIU NIU!* Sirine Densus 88 meraung-raung ngepung hutan larangan.
"TARGET MASUK HUTAN! SIAPKAN THERMAL! SIAPKAN SNIPER!" Teriak Komandan Heru dari balik tameng. Matanya masih trauma liat 20 Brimob pingsan dibantai macan.
Di dalem hutan, Raka jalan di depan 20 Macan Rajah. Gendong jasad Ibu Sri yg udah dingin. Golok patah Purwanto dia selipin di pinggang.
"Le... dengerin Bapak..." Suara Purwanto ngos-ngosan dari golok patah. "...sebelum Keris Kyai Setan Kober... lu harus tau 6 nama itu..."
*DUAR!* Tiba tiba pohon depan Raka meledak. Kena RPG. "TEMBAK DI TEMPAT!"
*WUSS!* Raka loncat. *SRT! SRT!* Peluru nyasar. 3 Macan Rajah kena tembak. *AUMMM!* Tapi nggak mati. Badan asap nya bolong terus nutup lagi.
"Kurang ajar!" Raka nggeram. Mata nya merah lagi. "Lu mau perang? GUA KASIH PERANG!"
*AUMMMMM!!!* 20 Macan Rajah nyerbu keluar hutan bareng. Kayak tsunami hitam.
---
*BERSAMAAN DI JAKARTA.*
*KANTOR PENGUSAHA H. DARMO.*
H. Darmo lagi ngitung duit di brankas. 100M. Tiba tiba AC mati. Lampu kedip-kedip.
*KREK... KREK...* Jendela lantai 30 retak dari luar.
H. Darmo nengok. Jantung copot.
Di luar kaca, nempel... kepala macan gede. Mata merah. Ngeliatin dia. Terus... *PRANG!* Kaca pecah.
Di cakar macan, ada kertas. Tulisan darah:
"1. H. DARMO WIJAYA - KETURUNAN PATIH GAGAK. DOSA: KORUPSI TANAH WAKAF. MATI SEBELUM JUMAT KLIWON."
H. Darmo jantungan. *BUGH.* Mati berdiri.
--
*BALIK KE HUTAN LARANGAN.*
Densus 88 koca -kacir. Macan Rajah nggak bisa mati. Di tembak tembus. Digranat mental.
Raka berdiri di atas batu gede. Ngecek golok patah.
"Sebutin 6 nama itu, Pak," Kata Raka dingin. "Gua mulai dari yg paling deket."
Golok Purwanto geter. Keluar asap. Ngebentuk tulisan di udara:
*DAFTAR DENDAM RAJAH - 6 KEPALA PATIH*
*1. H. DARMO WIJAYA - Pengusaha - Jakarta*
*2. BUPATI SUGIONO - Sukamaju*
*3. JENDRAL ADITYA - TNI*
*4. KIAI BAHLUL - Pesantren Al-Hikmah*
*5. ARTIS MONICA - Ibu Kota*
*6. ??? - ADA DI DEKAT LU*
*DEG!* Raka ngebaca nama ke-6. "Di deket gua? Siapa?!
"Lu bakal tau kalo udah tebas 5 kepala pertama, Le,"* Suara Purwanto ilang. Golok mati total.
*DOR!* Peluru sniper nembus bahu Raka. *JLEB!* Darah hitam muncrat.
Tapi Raka ketawa. *HEHEHE...* Peluru nya di dorong keluar sama daging. Luka nutup. *SRRT.*
Dia nengok ke arah sniper. 800 meter. Di atas bukit.
"GILIRAN GUA."
*WUSS!* Raka ngilang. 1 detik kemudian, sniper Densus jatoh dari bukit. Kepala nya... nggak ada.
---
*SUBUH. KUBURAN BELAKANG.*
Raka gali kubur baru pake kuku. Sebelah makam Ibu.
Dia kubur Ibu Sri pelan pelan. Nggak pake nangis. Air mata udah kering.
"Tidur yg tenang, Bu," Raka naroh golok patah Purwanto di atas makam. "Anak mu yg durhaka ini... mau lunasin utang terakhir."
*AUM...* 20 Macan Rajah duduk ngelilingin. Nunduk. Kayak hormat.
Dari dalem tanah, suara Ibu samar-samar: _"Nak... jangan... cukup..."_
Raka senyum. Pahit. "Telat, Bu. Ajian Rajah udah milih gua. Kalo gua mati, dia pindah ke orang lain. Mending gua yg nanggung."
Raka berdiri. Nengok ke 20 macan.
"Pisah. 4 tim. Tim 1 ke Jakarta. Cari H. Darmo. Tim 2 ke Pendopo. Cari Bupati Sugiono. Tim 3 & 4 jaga Ibu di sini."
"Gua? Gua ke kota. Cari tau siapa KETURUNAN PATIH KE-7 yg ada di deket gua."
*WUSS!* Raka + 16 macan ngilang ke kegelapan. Tinggal 4 macan jaga kuburan.
---
*SIANG. KANTOR POLRES.*
Kapolda + Dukun Agung + 5 orang di foto ngumpul darurat. Pengusaha H. Darmo, Bupati Sugiono, Jendral Aditya, Kiai Bahlul, Artis Monica. Pucet semua.
"Jadi... kita semua... keturunan pengkhianat 1000 tahun lalu?" Bupati Sugiono gemeter.
Dukun Agung ngangguk. "Betul. Dan Raka... Rajah... bakal buru kalian satu satu. Kecuali..."
"Kecuali apa Mbah?!" Teriak Monica.
"Kecuali kita nemuin Keris Kyai Setan Kober duluan. Terus nusuk ke jantung Raka." Dukun Agung ngebanting peta kuno. "Keris nya di sembunyiin Mbah Joyo di 1 dari 7 tempat ini."
7 lokasi: 1. Goa Keramat. 2. Sumur Tua. 3. Pohon Beringin Desa. 4. Di dalem Kepala Mbah Joyo. 5. Kuburan Purwanto. 6. Jantung Ibu Sri. 7. ...
"Yg ke-7 di mana Mbah?" Tanya Jendral Aditya.
Dukun Agung nengok ke 1 orang yg dari tadi diem di pojok. Muka ancur separo. Pake hoodie.
"Yg ke-7... ada di dalem badan KETURUNAN PATIH KE 7."* Dukun Agung nunjuk. *"DIA."
Semua nengok.
Orang hoodie itu pelan-pelan buka tudung.
*Bripka Andi.* Polisi yg ngompol di Bab 13. Muka nya ancur sebelah karena dicakar Raka.
Dia nyengir. Senyum gila.
"Bener Mbah," Kata Andi. Suaranya berat. Bukan suara Andi. "Keris nya ada di dalem gue. Mbah Joyo nitipin ke buyut gue. Keturunan Patih ke 7."
*JLEB!* Andi nusuk dada nya sendiri. Nggak ber darah. Malah keluar gagang keris dari dalem dada.
*Kyai Setan Kober.* Keris item. Lekuk 13. Bau amis + menyan.
"Dan gue..." Mata Andi merah. Kayak Raka. "Gue udah nunggu 1000 tahun... buat bales dendam ke Rajah."
*WUSS!* Andi ngilang dari ruangan. Ninggalin 5 orang + Kapolda + Dukun Agung bengong.
---
*MALEM. JAKARTA.*
H. Darmo lari ke mobil. Dikawal 10 bodyguard. "Cepet! Ke bandara! Gua mau kabur ke Swiss!"
*BRUG!* Mobil ngerem mendadak.
Di tengah jalan tol... berdiri Raka. Sendirian. Kuku keluar. Mata merah.
Di belakang dia... 4 Macan Rajah.
H. Darmo ngompol di mobil. "Dia... dia nyamperin gua duluan..."
Raka jalan pelan ke mobil. Ketok kaca. *TOK... TOK...*
Senyum.
"Pak Darmo... Utang 1000 tahun... lunas nya hari ini."
---
*RAKA IDUP LAGI! JADI WADAG RAJAH ASLI*
*MISI: BUNUH 6 KETURUNAN PATIH + CARI KERIS!*
*PLOT TWIST: BRIPKA ANDI \= KETURUNAN PATIH KE-7 + YG BAWA KERIS!*
*RAKA UDAH NEMU KORBAN PERTAMA: H. DARMO!*
*GIMANA BLAY? PANAS KAN? *
*RAKA VS H. DARMO + 10 BODYGUARD!*
*ANDI VS RAKA REBUTAN KERIS!*
*KETIK "GASS BAB 19" BLAY! *
BRAK! BRAK!
Dari langit, 3 helikopter Densus 88 muncul. Lampu sorotnya nembak-nembak ke hutan larangan. TATATATATAT! Moncong Gatling gun muter, peluru kaliber 50 mberondong ke arah Raka kayak hujan besi.
Raka gak ngindar. Dia malah ketawa. _HAHAHAHA!_ Suara ketawanya bikin kaca helikopter retak. Dengan satu kibasan tangan, angin hitam keluar dari telapak Raka. _WUUUSH!_ Angin itu nabrak 3 helikopter. Baling-balingnya langsung bengkok, mesinnya meledak di udara. _DUAR! DUAR! DUAR!_
Tiga bola api jatuh ke sawah. Mayat-mayat pilot gosong berceceran. Bau daging bakar kecampur bau solar nyengat sampe ke kampung. Warga Sukamaju yang ngintip dari jendela langsung pingsan, ada yang kencing di celana.
Komandan Heru udah gemeteran hebat. Pistol di tangannya jatoh. "Setan... ini beneran setan..." Dia mundur pelan-pelan, nginjek pecahan tengkorak anak buahnya sendiri. _KRETEK!_
Bripka Andi malah maju selangkah. Keris Kala Nadah di tangannya makin terang. Bilahnya netesin darah kental yang jatuh ke tanah langsung jadi kalajengking api. "Takut, Komandan? Kita ini penegak hukum! Hukum dunia gak berlaku buat dia! Tapi hukum akhirat... hukum tumbal... berlaku!"
Andi nunjuk ke Raka pake ujung keris. "Raden Kala Rahu! Denger! Dulu 7 Patih memang berkhianat! Tapi kenapa? Karena kau mau numbalin 1.000 perawan buat buka Gerbang Gaib! Kau mau jadi dewa dengan darah rakyat kecil! Leluhurku, Ki Demang Surontanu, nusuk kau buat nyelametin desa ini dari kiamat!"
Raka diem. Matanya yang merah nyala meredup sedetik. Ingatan 1000 tahun lalu nyerbu kepalanya. Bau dupa, darah perawan di altar batu, jerit-jerit gadis yang dirantai. Dan... wajah Ibu Sri. Waktu itu Ibu Sri namanya Dewi Sekartaji. Selirnya. Yang dia tumbalkan pertama kali.
"DIAM KAU, PENGKHIANAT!" Raka meraung. Raungannya bikin 20 Macan Rajah ikut meraung. _AUUUUM!_ Suaranya mecahin gendang telinga 5 Densus sisa. Mereka langsung mati, darah ngucur dari kuping, mata, hidung.
Ibu Sri di gendongan Raka tiba-tiba ngomong lagi. Suaranya Nyi Roro Blorong 100%. "Anakku... ingat... kau dulu dibunuh karena kau jahat... bukan karena kau dizalimi... 7 Patih itu pahlawan..."
JLEB!
Raka nusuk dadanya sendiri pake kuku. Darah hitam muncrat. "DIAM! AKU GAK PEDULI MASA LALU! SEKARANG YANG ADA CUMA DENDAM! H. DARMO HARUS MATI! ENAM LAGI HARUS MATI! TERMASUK KAU, ANDI!"
Langit terbelah lagi. Kali ini bukan petir. Tapi tangan raksasa hitam keluar dari belahan langit. Jari-jarinya sebesar pohon kelapa. Baunya busuk kayak bangkai 1 juta manusia. Itu Gerbang Gaib. Udah mulai kebuka gara-gara darah H. Darmo sebentar lagi tumpah.
Komandan Heru akhirnya lari. "AMPUN! AMPUN! SAYA MUNDUR DARI DENSUS! SAYA MAU TOBAT!" Tapi baru 3 langkah, bayangannya sendiri nyekek lehernya dari belakang. _KREK!_ Lehernya patah. Matanya melotot.
Bripka Andi senyum. "Satu... dua... tiga... semua penghalang mati. Tinggal kita berdua, Raden. Rebutan tahta. Yang menang jadi Raja Iblis. Yang kalah jadi tumbal."
Raka nurunin jasad Ibu Sri pelan-pelan ke tanah. Dia natap Andi. "Gak. Yang menang jadi Raja. Yang kalah... kuburannya gak bakal ketemu."