NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hitungan Mundur Lima Hari

Sore itu juga, ruang kerja utama kembali tertutup rapat. Di meja besar terbentang dokumen hasil rampasan gudang pelabuhan beserta peta lokasi dan daftar nama saksi yang disusun Riccardo. Udara di ruangan itu terasa berat, penuh ketegangan namun juga tekad bulat.

“Lihat baik‑baik ini,” kata Axel sambil menunjuk baris‑baris tulisan di kertas di hadapan mereka. “Lima hari lagi Riccardo bergerak. Rencana intinya, serang keuangan, rusak nama baik, lalu ambil alih aset satu per satu. Dan bagian paling berbahaya, dia menempatkan orang‑orangnya tepat di jalur yang akan kalian lewati kalau kita lengah sedikit saja.”

Angga mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya meneliti peta itu. “Jadi dia berencana menjebak kami saat kami sedang bergerak di luar rumah?”

“Tepat sekali,” jawab Leonardo cepat. “Dia tahu Axel takkan pernah diam saja jika salah satu dari kalian terluka. Itu cara tercepat melumpuhkan kita.”

Mommy Xena mengusap pelan bahu Arshen yang duduk di sebelahnya tampak gelisah. “Lalu bagaimana cara kita menghadapinya? Kita tak bisa mengurung mereka terus‑menerus sampai bahaya lewat.”

Axel bersandar sejenak di kursi kerjanya, lalu menatap mereka satu per satu. “Justru itulah kuncinya. Kita bergerak, tapi dengan rencana yang berkebalikan dari dugaan mereka. Kita tampak lengah, padahal sudah dijaga ketat. Kita biarkan dia masuk ke jebakan yang kita siapkan.”

Daddy Xavier mengangguk pelan. “Maksudmu kita balik menjebaknya?”

“Ya,” sahut Axel mantap. “Leonardo sudah punya kontak tim pengawas rahasia yang bisa disebar diam‑diam ke seluruh jalur yang mereka rencanakan. Kita pasang saksi, rekam setiap gerakan, kumpulkan bukti hukum yang tak terbantahkan.”

Ayranza yang sedari tadi diam mendengarkan, akhirnya bersuara lembut namun tegas. “Lalu peran kami bagaimana? Apakah kami hanya diam di dalam rumah?”

Axel menoleh padanya, sorot matanya melembut sesaat sebelum kembali serius. “Kau dan adik‑adikmu tetap bergerak sesuai jadwal seolah tak ada apa‑apa. Namun takkan pernah sendirian. Di setiap sudut, ada orang kami yang menjaga jarak aman. Kalian jadi umpan aman agar Riccardo benar‑benar keluar dari persembunyiannya.”

Arshen menelan ludah gugup. “Apakah… apakah aman benar‑benar?”

Leonardo tersenyum tipis meyakinkan anak itu. “Sangat aman, Nak. Takkan ada yang berani mendekat sejengkal pun sebelum waktunya kita tentukan sendiri.”

Pembicaraan berlanjut sampai malam tiba, merinci setiap jam, setiap titik pertemuan, hingga cara komunikasi rahasia lewat pesan kode agar tak mudah disadap lawan. Sesekali terjadi perdebatan kecil demi menyempurnakan rencana.

“Menurutku jalur ini terlalu terbuka,” potong Angga sambil menunjuk satu rute di peta. “Kalau mereka bersenjata, kita takkan punya tempat berlindung.”

“Benar,” sahut Axel cepat. “Karena itulah kita ubah sedikit rutenya. Lewat jalan pinggir yang lebih sempit dan banyak persimpangan memudahkan tim pengawas kita mengepung seketika.”

“Bagaimana kalau Elena ikut turun tangan langsung?” tanya Mommy Xena cemas. “Dia gadis lincah dan tak segan bertindak nekat.”

“Kita sudah siapkan orang khusus mengawasi gerak‑geriknya,” jawab Leonardo. “Begitu dia bergerak mencurigakan, langsung diamankan tanpa menunggu perintah tambahan.”

Jam dinding berdentang pukul dua belas tengah malam saat rencana akhirnya tuntas disusun. Semua orang menghela napas panjang seolah beban berat sedikit berkurang. Namun Axel tahu benar: pertarungan sesungguhnya baru dimulai.

Malam itu, saat semua sudah beranjak ke kamar masing‑masing, Axel kembali menemani Ayranza sampai depan pintu sayap timur. Udara dingin malam berhembus pelan menerpa wajah mereka.

“Kau yakin tak ragu lagi?” tanyanya pelan, menatap wajah Ayranza lekat‑lekat. “Kalau ada yang kurang sreg, kita ubah sekarang juga sebelum terlambat.”

Ayranza tersenyum tenang. “Aku yakin. Kita sudah bahas semuanya sampai tuntas. Lagipula, aku percaya padamu dan Leonardo.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, “Dulu aku tak pernah menyangka nasibku akan berliku sejauh ini, dari sekadar lunas utang sampai berjuang bersama menghadapi bahaya sebesar ini.”

Axel ikut tersenyum tipis, mendekatkan diri sedikit sehingga suaranya makin rendah dan hangat. “Aku pun sama. Awalnya cuma urusan bisnis, tapi lama‑kelamaan… kalian jadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupku.”

Wajah Ayranza sedikit memerah di bawah cahaya remang lampu lorong. Jantungnya berdebar halus. Sebelum sempat menjawab, Axel kembali bicara lembut.

“Istirahatlah cukup. Mulai besok sampai lima hari ke depan, tak ada lagi waktu santai. Kita harus tetap waspada setiap detik.”

“Kau juga,” jawab Ayranza pelan sebelum melangkah masuk dan menutup pintu rapat.

Paginya, hitungan mundur resmi dimulai. Suasana kediaman berubah namun tetap tampak tenang dari luar. Angga dan Arshen mulai belajar dengan pengajar pribadi di ruang tamu belakang, sementara Ayranza sesekali ikut membantu mengurus keperluan rumah seolah tak ada bahaya. Di balik itu, petugas keamanan bergerak diam‑diam di setiap sudut, Leonardo sibuk berkoordinasi lewat pesan tersandi, dan Axel pergi‑pulang ke kantor seperti biasa agar Riccardo tak curiga ada persiapan besar.

Hari pertama dan kedua berlalu tanpa insiden berarti. Namun ketegangan makin terasa menusuk saat hari ketiga pagi, Leonardo datang melapor dengan wajah serius saat sarapan.

“Ada kabar baru. Tadi dini hari Elena terlihat bertemu dua orang tak dikenal tak jauh dari sini. Mereka membawa kotak tertutup yang dicurigai berisi alat penyerang.”

Axel berhenti mengunyah, meletakkan sendoknya pelan. “Ke mana mereka pergi setelah itu?”

“Pisah arah. Elena pulang ke rumahnya sendiri, sementara dua orang itu menuju kawasan pasar tua. Lokasi yang kita tetapkan untuk hari keempat.”

“Jadi benar dugaanku,” gumam Axel dingin. “Mereka makin bergerak berani.” Ia menoleh ke Ayranza dan adik‑adiknya. “Ingat pesan kita, tetap tenang, ikuti jadwal, jangan tunjukkan rasa curiga sedikit pun.”

Angga mengangguk mantap. “Siap. Kami sudah hafal kode sinyalnya.”

Siang itu, saat Ayranza berjalan sebentar ke toko bunga seperti biasa, didampingi dua pengawal yang berjalan agak jauh. Ia tak sengaja berpapasan dengan Elena di persimpangan jalan. Elena berhenti sejenak, menatap Ayranza tajam lalu tersenyum sinis.

“Masih berani berjalan‑jalan ya?” ucap Elena pelan saat jarak mereka tinggal beberapa langkah. “Tak lama lagi kebahagiaan palsu itu bakal runtuh sempurna.”

Ayranza tak mundur selangkah pun. Ia balas menatap tenang dan menjawab datar, “Kebahagiaan kami tak dibangun atas dendam maupun kebohongan. Kalau ada yang runtuh nanti, pastilah rencana jahat orang yang tak tahu diri.”

Wajah Elena memerah menahan marah, namun sebelum sempat menyahut, mobil yang menjemputnya sudah tiba. Ia melompat masuk sambil berbisik dingin, “Lihat saja nanti.”

Setelah mobil itu berlalu, Ayranza baru melanjutkan langkahnya dengan napas lega namun tetap waspada. Di kejauhan, di balik jendela lantai dua gedung seberang, Axel diam‑diam melihat semuanya lewat kacamata teropong kecil, puas melihat Ayranza mampu menjaga ketenangan diri.

Malam hari keempat, suasana makin tegang luar biasa. Besok adalah hari puncak rencana Riccardo. Semua pihak berkumpul kembali di ruang kerja untuk memeriksa ulang segalanya.

“Semua posisi sudah terisi rapi,” lapor Leonardo. “Tim pengawas tersebar di lima titik utama. Alat perekam tersembunyi sudah terpasang. Begitu mereka mulai bertindak, kita punya bukti lengkap.”

“Bagaimana dengan Giancarlo?” tanya Daddy Xavier. “Apakah dia tetap setia pada Riccardo atau mulai ragu?”

“Belakangan ini dia terlihat sering sendirian dan gelisah,” jawab Axel. “Ada peluang besar dia bisa berbalik arah kalau kita tawarkan perlindungan hukum yang cukup.”

“Itu ide bagus,” potong Mommy Xena. “Kalau Giancarlo mau bersaksi, kasus Riccardo makin kuat dan tak mudah dibantah.”

Ayranza menambahkan, “Kalau boleh aku usul, besok pagi sebelum aksi dimulai, aku boleh bicara sebentar dengannya? Mungkin kata‑kata yang tenang bisa lebih menyentuh daripada ancaman.”

Axel berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. “Boleh. Tapi kau tak boleh sendirian sedikit pun. Aku akan menunggumu tak jauh dari sana, siap turun tangan kapan saja.”

Pembicaraan berakhir larut malam itu dengan persiapan final. Di dalam hati mereka masing‑masing bercampur rasa cemas namun juga semangat juang yang tinggi. Lima hari yang terasa begitu singkat itu kini tinggal hitungan jam saja lagi.

Di kamar tidurnya nanti malam, Ayranza berdoa dalam hati agar semuanya berjalan selamat. Ia teringat pesan ibunya, kekuatan persatuan hati, dan janji setia mereka menghadapi bahaya bersama‑sama.

Di ruang kerjanya, Axel masih duduk sendirian menatap peta yang sudah penuh tanda. Ia berjanji dalam hati, besok Riccardo dan sekutunya akan tahu siapa keluarga Alexander sesungguhnya. Bukan sekadar penguasa kaya raya, melainkan kelompok yang bersatu hati dan takkan pernah membiarkan kejahatan menang.

Dan di tempat tersembunyi lain di kota itu, Riccardo juga bersiap dengan keyakinan dirinya hampir menang. Tak ada yang menyadari sepenuhnya. Matahari esok hari akan terbit membawa pertarungan besar yang menentukan segalanya.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!