NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman belakang istana

HALAMAN BELAKANG ISTANA JAM 09.00

Angin pagi nyapu halaman, daun maple jatuh pelan, baunya kayu basah campur asap perapian dari dapur, aku digiring Axel ke lapangan panah belakang, dia bilang latihan kemarin pake pisau belum cukup, sekarang giliran busur

Tanganku masih pegang lengan bajuku, gemetar dikit, abis demam badan belum pulih total, Axel jalan di depan, punggungnya lebar, kemeja hitamnya berkibar, jarak kami 2 meter, sama kayak kemarin, dia jaga jarak, tapi auranya ngikutin aku kemana-mana

"Berhenti sini" katanya, suaranya datar tapi ga sedingin biasanya, dia nunjuk lingkaran tanah di depan target kayu jarak 10 meter, "kau berdiri situ, kaki selebar bahu, jangan goyang"

Aku berdiri, kaku, busur kayu di tangan rasanya berat, talinya kenceng, aku pernah liat prajurit latihan, tapi ga pernah megang sendiri, Axel ngambil busur lain, lebih gede, lebih tua, kayunya udah mengkilap karena sering digenggam

Dia berdiri di belakangku, jarak 1 meter, "angkat sikunya, jangan nunduk, liat target, bukan tanah"

Aku nurut, tapi tanganku meleset, anak panah jatuh ke tanah, ting, suaranya kecil tapi aku malu, mukaku panas

Axel diem 2 detik, terus dia maju setengah langkah, sekarang jaraknya 30cm, aku bisa ngerasain anget napasnya di tengkuk, bulu kudukku berdiri

"Begini" bisiknya, tangannya nyamper dari belakang, tangan kanannya nutup tanganku yang megang busur, tangan kirinya nuntun siku aku biar lurus, "jari telunjuk nempel di sini, ibu jari nekan dikit, napas tahan, baru lepas"

Dadanya nempel ke punggungku, tipis, cuma kepisah kain kemeja, jantungnya deg kenceng, sama kayak jantungku, aku mau mundur tapi dia bisik di telingaku "jangan gerak, bidik dulu"

Aku merem, takut, bukan takut anak panah, takut anget tubuh dia, 13 tahun aku benci naga, sekarang naga ngajarin aku panah sambil peluk dari belakang

"Siap" katanya pelan, "lepas"

"Sreng", anak panah melesat, meleset jauh dari target, nyangkut di pohon maple, aku nunduk, gagal lagi

Axel ga lepasin tangannya, dia masih megang busurku dari belakang, dagunya hampir nyentuh bahuku, "gagal itu wajar, Aira, aku aja latihan 3 tahun baru tembus tengah"

"Aku bukan Tuan" jawabku pelan, suaraku getar, "aku ga mau jadi pembunuh seperti Tuan"

Tangannya berhenti, hening, terus dia lepas busurku pelan, mundur 1 langkah, jarak balik jadi 50cm, dingin lagi

"Maaf" katanya, cuma 1 kata, tapi berasa berat, "aku ga maksud ngajarin kau bunuh, aku ngajarin kau bertahan"

Aku noleh dikit, liat mata dia dari samping, mata dia merah, bukan karena marah, karena nahan, dia nelen ludah, "13 tahun lalu aku umur 12, orang pertama yang aku bunuh pake panah ini, dia prajurit Pramesti, dia ketawa pas mati, aku mimpi itu tiap malam"

Aku kaku, busur di tanganku bergetar, "jadi Tuan ngajarin aku biar aku ngerasain kayak Tuan"

Axel geleng, cepet, "bukan, aku ngajarin kau biar kau ga kayak aku, biar tangan kau ga kotor darah, biar kau bisa lari kalo aku ga ada"

Dia ngambil anak panah baru, dipasangin ke busurku, jarinya sengaja nyentuh jari aku, 1 detik, anget, terus dia lepas, "coba lagi, kali ini jangan merem, liat aku"

Aku angkat busur, bidik, tapi mataku malah liat bayangan dia di tanah, tinggi, tegap, tapi bahunya turun kayak capek banget, "Tuan" bisikku tanpa sadar

"Axel" koreksinya pelan, "panggil Axel, pas latihan, jangan Tuan, Tuan itu buat prajurit"

Aku gigit bibir, "Axel" keluar dari mulutku, aneh, canggung, tapi dadanya naik turun kayak nahan napas

"Bagus" katanya, suaranya serak, "sekarang lepas"

"Sreng", anak panah kali ini nyangkut di pinggir target, ga tengah, tapi nyangkut, aku kaget, mata melebar

Axel senyum, tipis banget, hampir ga keliatan, "nah, gitu, kau bisa, Aira, kau lebih kuat dari yang kau kira"

Dia maju lagi, kali ini ga nyentuh, cuma berdiri di sampingku, bahu kami hampir nempel, "tau ga, Elena dulu juga jelek pas pertama latihan panah, dia ketawa terus tiap meleset, terus dia bilang ke aku 'Axel, kalo aku mati, ajarin anak kita panah ya, biar dia ga takut sama dunia'"

Dadaku sesek, "Mama bilang gitu ke Tuan"

"Iya" jawabnya, matanya liat target, tapi pikirannya jauh, "aku janji, tapi aku ingkar, aku malah nyulik anaknya, aku jahat kan"

Aku ga jawab, aku pasang anak panah lagi, kali ini tanganku lebih stabil, aku bidik, napas tahan, "sreng", anak panah tembus lingkaran merah tengah target

Aku noleh ke Axel, kaget sama diriku sendiri, dia juga kaget, terus dia ketawa, kecil, pendek, tapi beneran ketawa, bukan sinis

"Kau denger itu" katanya, matanya berbinar dikit, "itu suara anak panah tembus, suara yang aku tunggu 13 tahun dari anak Pramesti, tapi pas denger sekarang, aku ga seneng, aku takut"

"Takut apa" tanyaku pelan

"Takut kau ga butuh aku lagi" jawabnya jujur, brutal, "takut pas kau udah bisa bela diri, kau lari dari aku, dan aku ga bisa nyalahin kau"

Angin lewat, rambutku kena muka, Axel reflek angkat tangan mau nyingirin, tapi dia berhenti di tengah jalan, tangannya ngepal, dia turunin lagi

"Rambutmu nutupin mata" katanya, suaranya pelan, "bahaya, kalo pas perang, mati kau"

Aku diem, terus aku sendiri yang nyingirin rambut ke belakang telinga, jari kami hampir bersentuhan, 1cm doang, tapi ga ada yang maju

"Axel" panggilku pelan

"Hmm" dia noleh, jarak muka kami 20cm

"Kenapa Tuan ga bunuh aku aja pas aku demam kemarin" tanyaku, ini yang ganggu otakku dari semalem, "Tuan bilang Tuan mau bunuh aku pas 18, kemarin aku 18, Tuan ada kesempatan"

Axel merem, lama, terus dia buka mata, tatapanku ditahan, "karena pas kau demam, kau manggil aku Axeliano lengkap, terus kau genggam kemejaku, kau bisik 'Ma jangan pergi', Aira, aku umur 12 pas Mama aku mati, dia manggil namaku juga terakhir kali, Axeliano, pulang nak, dia bilang gitu, dan kau manggil sama, lengkap, seperti doa terakhir"

Suara dia pecah di akhir kalimat, dia noleh ke pohon maple, nutupin muka, bahunya naik turun

Aku jalan pelan ke samping dia, sekarang bahu kami nempel beneran, anget, "jadi aku mirip Mama Tuan"

"Kau bukan mirip" jawabnya, suaranya serak, "kau itu dia, versi yang ga kebakar, versi yang masih bisa ketawa, versi yang masih mau hidup, dan aku... aku ga bisa bunuh versi itu"

Aku ambil anak panah terakhir, dipasang ke busur, kali ini aku yang maju selangkah, deketin Axel, busur aku arahin ke dada dia, ujungnya 10cm dari jantung

"Kalau gitu tusuk aku sekarang" kataku, mataku lurus, "Tuan bilang Tuan capek jadi naga, kalau gitu akhiri, tusuk aku pake panah ini, kayak Tuan tusuk Papa aku 13 tahun lalu"

Axel liat ujung panah di dadanya, terus liat mataku, lama, tangannya naik, megang gagang panah, bukan buat ngerebut, buat nekan pelan ke dadanya sendiri

"Tusuk" bisiknya, "kalo dengan itu kau bisa maafin aku, tusuk, Aira, aku rela"

Tanganku gemetar, air mata jatuh ke gagang panah, "aku ga bisa" bisikku, "aku ga bisa jadi pembunuh kayak Tuan"

Axel narik tanganku pelan, arahin ujung panah jauh dari dadanya, terus dia buang panah itu ke tanah, "ting", jatuh

Dia peluk aku, cepet, kenceng, dagunya di atas kepalaku, napasnya berat di rambutku, "makasih" bisiknya di telingaku, "makasih udah ga jadi aku"

Aku kaku di pelukannya, 3 detik, 5 detik, terus tanganku pelan naik, megang punggung kemejanya, balas peluk, pelan, ragu, tapi beneran

Di belakang kami, prajurit lewat, liat, langsung noleh, pura-pura sibuk, Axel ga peduli, dia makin ngencengin pelukan

"Aira" bisiknya, "dari sekarang latihan panah tiap pagi, tapi ada syaratnya"

"Syarat apa" tanyaku, masih di pelukannya

"Kau harus janji ga lari, janji tetep di sini, janji manggil aku Axel, bukan Tuan, bukan naga"

Aku diem, terus aku angguk di dadanya, "janji"

Dia lepas pelukan pelan, jarak balik jadi 10cm, jempolnya ngusap air mataku, "pintar, anak panah pertama yang tembus target, sama anak Pramesti pertama yang mau percaya naga"

Matahari makin tinggi, sinarnya ngenain kami berdua, bayangan kami di tanah jadi satu, aku liat, jarak kami sekarang ga 2 meter lagi, cuma 10cm, dan jarak itu tiap hari makin tipis

Axel ambil busur dari tanganku, disandarin ke pohon, "cukup, kau capek, muka masih pucat, istirahat"

Dia jalan duluan, tapi kali ini dia nunggu aku 2 langkah di depan, ga 2 meter, aku ngikut dari belakang, ngeliatin punggungnya, punggung naga yang 13 tahun mau bunuh aku, sekarang punggung yang jagain aku

Di tengah jalan, dia berhenti, noleh dikit, ga full, "Aira"

"Iya"

"Malam ini aku ga jagain dari luar pintu, aku jagain dari dalam, di kursi, kau boleh kunci pintu dari dalam, aku ga masuk kalo kau ga izinin"

Aku diem, terus angguk pelan, "oke Axel"

Dia senyum, kali ini keliatan, taringnya dikit, tapi ga serem, anget, terus dia jalan lagi

Aku ngikut, di kepalaku muter terus kata dia "kau itu dia, versi yang ga kebakar", 13 tahun dendam, retak gara-gara demam, gara-gara panah, gara-gara pelukan 5 detik

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!