Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DISANGKA HANTU PADAHAL BUKAN
Malam itu udara terasa sejuk dan tenang. Suasana bulan puasa bikin lingkungan jadi lebih sunyi, cuma sesekali terdengar suara jangkrik dan lampu-lampu jalan yang redup menyala terang.
Setelah selesai makan malam dan istirahat sebentar, Bima dan Ojak berjalan kaki menuju masjid kecil yang jaraknya cuma lima menit dari rumah. Di sana sudah menunggu Sari dan Rara, yang juga mau ikut tadarus bersama biar lebih semangat.
“Wah, kalian berdua datang juga. Ayo cepat, sebentar lagi mulai,” sapa Sari begitu melihat mereka tiba.
Mereka masuk ke dalam masjid, duduk di sudut yang agak kosong, lalu mulai membaca Al-Qur’an dengan suara pelan dan tertib. Hampir satu jam berlalu, sampai imam selesai memberikan ceramah singkat dan mengajak berdoa bersama.
“Sudah selesai ya malam ini. Besok ketemu lagi di waktu yang sama,” kata Pak Kiai sambil tersenyum.
Mereka berempat keluar dari masjid sambil mengucap salam. Jalan pulang ke rumah harus lewat gang yang agak sepi, cuma diterangi cahaya bulan dan beberapa lampu rumah yang jarang jarangnya. Di bagian tengah gang, ada titik yang agak gelap karena pohon besar di pinggirnya menutupi cahaya lampu jalan.
“Jalan hati-hati ya, jalannya agak gelap di depan,” pesan Ojak sambil melangkah pelan.
Belum sampai sepuluh langkah, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara mesin sekuter yang mendekat perlahan. Karena gelap, yang kelihatan cuma siluet sosok tinggi yang seluruh badannya tertutup kain putih lebar, sampai menutupi kepala dan seluruh tubuhnya.
“Lho… itu apa?” bisik Rara sambil menarik lengan Sari, suaranya sudah mulai gemetar.
Bima dan Ojak langsung berhenti melangkah, matanya melotot memandang benda yang bergerak itu. Di pikiran mereka yang sedang kosong karena baru tadarus, apalagi melihat sosok serba putih di tempat yang gelap, langsung terlintas satu pikiran: hantu!
“Ha… hantu?” bisik Ojak terbata-bata.
“Diam! Jangan berisik, nanti dia dengar,” jawab Bima, tapi suaranya sendiri juga sudah bergetar.
Mereka mau lari, tapi anehnya kaki terasa lemas beratnya kayak terikat di tanah. Mau teriak, tenggorokan terasa kering seketika. Jadinya mereka cuma bisa berdiri terpaku, mulut terbuka lebar siap berteriak, tapi suaranya cuma keluar setengah-setengah.
“Tolong… ada… ada hantu…” teriak Rara pelan sambil memejamkan mata setengah.
Sosok itu makin lama makin mendekat, sampai jaraknya tinggal beberapa meter saja. Tepat saat mereka mau berteriak sekuat tenaga, sosok itu berhenti, lalu terdengar suara perempuan yang agak kesal tapi tegas:
“Heh! Sembarangan aja bilang hantu! Saya ini manusia lho! Mana ada hantu bisa naik sekuter?”
Mereka berempat langsung membuka mata lebar-lebar. Ternyata benar! Yang terlihat itu cuma seorang mbak-mbak biasa. Dia memakai mukenah putih yang menutupi kepala sampai ke pinggang, cuma mukanya saja yang terlihat sedikit.
“Maaf ya, soalnya saya malas banget ganti kerudung habis tarawih. Mau ke warung sebentar beli gula dan kopi, jadi pakai mukenah ini saja biar cepat,” kata mbak itu sambil memperbaiki posisi mukenahnya yang tertiup angin.
Belum sempat mereka menjawab atau minta maaf, mbak itu langsung menghidupkan lagi sekuternya dan melaju pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang masih berdiri melongo di tempat.
Selama beberapa detik tidak ada suara. Kemudian…
“Hahahahahaha!”
Suara tawa pecah bersamaan. Rara sampai menepuk-nepuk pahanya sendiri, Sari menutup mulut sambil ketawa terbahak, sedangkan Bima dan Ojak saling pandang lalu tertawa keras sampai perut terasa sakit.
“Ya ampun… tadi aku kira jantung aku bakal copot karena takut banget, ternyata cuma mbak-mbak mau ke warung,” kata Ojak sambil mengusap keringat dingin di dahinya.
“Gimana enggak dikira hantu? Gelap gini, pakaiannya serba putih, tertutup rapat lagi,” tambah Bima sambil masih terengah-engah menahan tawa.
Rara masih tergelak-gelak: “Dan omongan mbak tadi yang paling lucu! Mana ada hantu bisa naik sekuter! Bener juga sih, pikiran kita tadi kemana ya?”
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang lebih ringan, tapi obrolannya penuh tawa sepanjang jalan. Sepanjang perjalanan mereka saling mengejek satu sama lain, mana yang paling kaget, mana yang suaranya paling pelan pas berteriak tadi.
Sampai di depan rumah masing-masing, mereka masih mengingat-ingat kejadian itu.
Dalam hati Bima cuma bisa tersenyum sendiri.
Malam yang tadinya tenang dan khusyuk, berubah jadi malam yang paling konyol dan gak terlupakan. Ternyata yang kita takutkan itu seringkali cuma bayangan pikiran sendiri. Dan benar juga kata mbak itu, mana ada hantu yang punya SIM dan bisa bawa sekuter? Lucu sekali rasanya kalau dipikir-pikir lagi.
*Aduh mbak lain kali kalo pake mukenah jangan warna putih y 😅