NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Mobil MPV hitam milik komplotan Topeng Hitam melaju kesetanan menembus jalanan sepi yang membatasi wilayah Depok Utara dan Jagakarsa.

Di kursi kemudi, si pemimpin komplotan menginjak pedal gas dalam-dalam dengan kaki yang gemetar hebat.

Setiap kali dia melirik kaca spion tengah, dia melihat sepasang mata Kevin yang sedingin es, berkilat di tengah kegelapan kabin mobil.

"L-Lima menit lagi kita sampai, Bang..."

"Rumah Pak Haryono ada di balik klaster berpagar tinggi itu,"

lapor si pemimpin dengan suara terbata-bata.

Kevin tidak menyahut.

Pikirannya tertuju pada layar hologram Sistem yang terus berkedip memberikan koordinat Viola.

Mata Pemindai Sinar-X dan Refleks Dewa miliknya sudah berada dalam kondisi siaga penuh.

Ding!

[Peringatan Sistem: Target 'Viola' telah memasuki area pekarangan dalam kediaman Haryono Wijaya. Sistem mendeteksi sepuluh penjaga bersenjata api kaliber ringan di sekitar lokasi.]

[Fasilitas Tambahan Aktif: Jubah Kamuflase Qi (Memungkinkan Pengguna menyamarkan keberadaan fisik dan suara langkah kaki dari radar atau pandangan musuh selama 15 menit).]

"Sepuluh orang membawa senjata api? Di Depok?"

"Haryono bener-bener niat bikin milisi sendiri," batin Kevin menyeringai sinis.

Dia meretakkan buku-buku jarinya, siap meratakan siapa saja yang berani menyentuh seujung rambut muridnya itu.

Mobil akhirnya berhenti sekitar seratus meter dari gerbang besi tinggi sebuah rumah mewah bergaya kolonial yang terisolasi dari perumahan warga sekitar.

Kevin membuka pintu mobil, lalu menatap si pemimpin Topeng Hitam.

"Lu tunggu di sini."

"Kalau lu coba kabur atau nelpon anak buah lu di dalam, Tubuh Baja Dewa gue bakal nyari lu sampai ke lubang cacing."

"N-Gak berani, Bang! Sumpah!"

pria itu langsung mengangkat kedua tangannya, pasrah.

Kevin melompat turun, langsung mengaktifkan Jubah Kamuflase Qi.

Tubuhnya seolah membaur dengan bayangan malam, bergerak seringan angin melewati tembok berduri setinggi tiga meter tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Sementara itu, di dalam ruang kerja megah berlantai marmer di lantai dua rumah tersebut.

Viola berdiri dengan napas terengah-engah, punggungnya menempel di pintu kayu ek yang tebal.

Di tangannya, dia memegang sebuah ponsel yang sedang merekam dokumen-dokumen korupsi dan rencana pembunuhan Jenderal Wijaya yang tercecer di atas meja kerja.

Namun, sebelum dia sempat menekan tombol kirim ke nomor ayahnya, lampu ruangan mendadak menyala terang.

KLIK.

"Wah, wah... keponakanku yang cantik ternyata punya bakat jadi detektif,"

sebuah suara bariton yang sinis menyapa dari arah kursi kerja besar yang berputar.

Seorang pria paruh baya dengan rambut klimis beruban dan setelan jas formal Haryono Wijaya menatap Viola dengan senyuman licik yang memuakkan.

Di sekeliling ruangan, empat orang pengawal berjas hitam dengan senjata laras pendek di tangan mereka langsung menodongkan moncong senjata ke arah Viola.

"Paman Haryono... Tega ya Paman mau ngebunuh Kakek?!

"Papa selalu percaya sama Paman!"

teriak Viola dengan mata berkaca-kaca karena marah dan kecewa.

Haryono tertawa hambar, berdiri dari kursinya.

"Percaya? Kakakku yang tua bangka itu cuma peduli sama saham dan reputasi!

"Dia gak pernah bagi keuntungan ruko Margonda dan proyek GDC ke gue!"

"Sekarang, setelah rencana Lukman di rumah sakit gagal gara-gara dokter sialan itu, kamu malah dateng nganterin nyawa ke sini."

Haryono memberi isyarat mata kepada pengawalnya.

"Ambil ponselnya."

"Ikat anak ini. Kita bakal pakai dia buat maksa kakakkku menandatangani surat penyerahan seluruh aset Wijaya Group malam ini juga."

Seorang pengawal bertubuh kekar melangkah maju, merenggut ponsel dari tangan Viola dengan kasar hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Lepasin!

"Mas Kevin pasti bakal datang hajar kalian semua!"

jerit Viola nekat, menyebut nama yang paling membuatnya merasa aman.

Haryono kembali tertawa terbahak-bahak.

"Kevin? Si guru honorer merangkap tukang nasi goreng itu?"

"Anak buahku di warkop sudah pasti mencincangnya jadi daging dadu sekarang—"

BRAAAAAKKKK!

Kalimat Haryono terputus selamanya ketika pintu kayu ek setebal sepuluh sentimeter itu hancur berantakan menjadi kepingan kecil, terbang menghantam dua pengawal di dekat pintu hingga mereka terpental ke dinding dan pingsan seketika.

Dari balik debu kehancuran pintu, Kevin Wijaya melangkah masuk dengan santai.

Mantel hitamnya berkibar pelan, dan kacamata tipisnya memantulkan cahaya lampu ruangan, memancarkan aura dominasi mutlak seorang penguasa tertinggi.

"M-Mas Kevin!"

seru Viola, wajahnya yang ketakutan langsung berubah menjadi binar kebahagiaan yang luar biasa.

Haryono Wijaya membelalakkan matanya, mundur dua langkah hingga menabrak meja kerjanya sendiri.

"K-Kenapa lu bisa di sini?! Mana anak buah Topeng Hitam?!"

"Mereka lagi tidur pulas di warkop, Pak Anggota Dewan,"

jawab Kevin dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

"Dan sekarang... giliran lu yang dapet giliran tidur."

Dua pengawal tersisa yang memegang senjata api langsung panik.

Mereka mengarahkan moncong pistol mereka ke arah dada Kevin dan menarik pelatuknya tanpa ragu.

BANG! BANG! BANG!

Tiga suara tembakan menggema nyaring di dalam ruangan tertutup tersebut.

Viola menjerit histeris, memejamkan matanya rapat-rapat.

Namun, beberapa detik berlalu, tidak ada suara tubuh jatuh.

Ketika Viola memberanikan diri membuka mata, dia melihat pemandangan yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.

Kevin masih berdiri di tempat yang sama.

Di depan dadanya, tangan kanannya terbuka, menampakkan tiga proyektil peluru timah panas yang penyok total di dalam genggamannya berkat kekuatan Tubuh Baja Dewa.

Kevin menjatuhkan ketiga peluru itu ke atas lantai marmer, menciptakan bunyi berdenting yang mematikan nyali semua orang di dalam ruangan.

TING. TING. TING.

"Tembakan kalian... kurang presisi," kata Kevin datar, matanya berkilat merah mematikan.

Bagaimana Kevin akan mengeksekusi Haryono Wijaya dan mengakhiri faksi rahasia Depok Utara untuk selamanya? Apakah kamu mau lanjut ke

          *. *. *.

Dua pengawal yang memegang senjata api itu mendadak lemas.

Pistol di tangan mereka terasa seperti mainan plastik yang tidak berguna.

Mereka menatap tiga proyektil peluru yang penyok di lantai marmer, lalu beralih menatap Kevin seolah-olah pemuda di depan mereka adalah jelmaan dewa perang yang turun dari langit.

"M-Monster..." bisik salah satu pengawal dengan bibir memutih.

Sebelum dia sempat berbalik untuk kabur lewat jendela, Kevin melangkah maju dengan Kecepatan Dewa.

BUGH! BUGH!

Dua pukulan ringan berdaya baja bersarang tepat di rahang kedua pengawal tersebut.

Tubuh mereka langsung terangkat beberapa senti ke udara sebelum akhirnya ambruk ke lantai, pingsan seketika dengan mata mendelik.

Kini, di dalam ruang kerja megah itu, hanya tersisa Kevin, Viola yang masih syok, dan Haryono Wijaya yang sudah tersudut di ujung meja kerjanya.

Kevin berjalan mendekat, setiap ketukan pantofelnya terdengar seperti hitungan mundur kematian di telinga Haryono.

Dia mengulurkan tangan kanan, mencengkeram kerah kemeja mahal Haryono, dan mengangkat Anggota Dewan Kota itu hingga kakinya tergantung di udara.

"Permainan lu selesai, Haryono."

"Berkas korupsi lu, faksi Topeng Hitam lu, semuanya udah bersih,"

desis Kevin, tangannya perlahan mengencang, siap memberikan remasan fatal yang bisa mematahkan tulang leher manusia biasa dalam sekejap.

Haryono, yang wajahnya mulai membiru karena kehabisan napas, tiba-tiba memaksakan sebuah tawa parau yang terdengar sangat sinis.

Matanya yang melotot menatap lurus ke dalam manik mata Kevin, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan sebuah kepuasan yang aneh.

"Uhuk... l-lepasin... Lu... lu gak bakal berani bunuh gue, Bocah..."

rintih Haryono, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman licik.

"Ingat, Kevin Wijaya... marga di belakang namamu itu... sama dengan Kakek Wijaya, dan aku... Haryono Wijaya..."

"Aku paman mu sendiri"

DEG.

Jantung Kevin mendadak berdegup kencang, seolah dihantam palu godam tak kasat mata. Cengkeraman tangannya di leher Haryono seketika melonggar, membuat pria paruh baya itu merosot jatuh ke lantai sambil terbatuk-batuk hebat memegangi lehernya.

"M-Mas Kevin...?"

Viola di sudut ruangan ikut tersentak, menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya.

Selama ini dia mengira nama 'Wijaya' pada Kevin hanyalah sebuah kebetulan yang sangat umum di Indonesia.

Kevin berdiri mematung, matanya melebar menatap Haryono yang sedang menghirup oksigen dengan serakah di lantai.

Otaknya yang diperkuat Otak Ensiklopedia Dewa mendadak memutar kembali seluruh memori masa kecilnya yang selama ini terasa buram dan dikunci rapat.

Memori tentang ibunya yang selalu menangis setiap kali melihat berita bisnis Wijaya Group di televisi.

Memori tentang sebuah kalung perak berlogo burung foniks yang disimpan ibunya di dasar lemari logo yang sama persis dengan pin keluarga yang kini tersemat di jas Haryono dan kemeja Jenderal Wijaya Senior.

"Lu... ngomong apa?"

suara Kevin bergetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah amarah dan kebingungan yang bergejolak hebat di dadanya.

Haryono bangkit perlahan, bersandar pada kaki meja kerja dengan senyuman kemenangan yang kian melebar melihat reaksi Kevin.

"Hahaha! Jadi ibumu... perempuan miskin dari pinggiran Depok itu... gak pernah cerita sama lu?!"

ejek Haryono, menyeka sisa darah di bibirnya.

"Dua puluh lima tahun lalu, anak sulung Jenderal Wijaya kakak pertama gue, ayah kandung lu menikahi seorang wanita kampung."

",Tapi sungguh kasihan Ayahmu Mahes Wijaya terlalu bodoh hingga dia mati dan ntah dimna mayatnya"

"HAHAHAHAH!

Haryono menunjuk wajah Kevin dengan telunjuknya yang gemetar.

"Perempuan itu... ibu lu, Kevin!

"Gua yang mengusir ibu lu keluar dari keluarga Wijaya"

"Dan lu itu Anak dari kakak pertama gue! Lu itu... sepupu Viola sendiri!

"Di dalam tubuh lu... mengalir darah keluarga Wijaya yang sah!"

Ding!

[Pemberitahuan Sistem: Mengonfirmasi Kebenaran Data Sejarah Silsilah Pengguna.]

[Fakta Terbuka: Pengguna adalah pewaris sah garis darah utama keluarga Wijaya yang sengaja disembunyikan oleh takdir. Ini adalah alasan tersembunyi kenapa Sistem memilih Pengguna dan memberikan aset Ruko Margonda 88 yang awalnya merupakan tanah sengketa keluarga.]

Kevin mengepalkan kedua tinjunya begitu erat hingga udara di sekitarnya seolah mendesing.

Kenyataan ini menghantamnya terlalu keras.

Jadi, selama ini dia dihina sebagai beban keluarga, sementara keluarganya yang sebenarnya adalah salah satu penguasa kota terkaya yang telah membuang ibunya?

Viola di belakang Kevin langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya menetes deras karena syok yang teramat sangat.

"G-Gak mungkin... Mas Kevin... Kakakku...?"

Haryono menyeringai, mengira dia telah berhasil mengunci mental Kevin.

Dia meraba sakunya, bersiap mengambil keuntungan dari kelengahan keponakan rahasianya itu.

"Jadi, Kevin... sebagai pamanmu, gue saranin—"

Namun, sebelum Haryono menyelesaikan kalimatnya, mata Kevin kembali menggelap, memancarkan aura dingin yang jauh lebih pekat dan mengerikan dari sebelumnya.

"Marga kita mungkin sama," kata Kevin, suaranya terdengar sangat rendah dan mutlak.

"Tapi lu... udah nyoba ngebunuh kakek gue, nyoba nyulik sepupu gue, dan yang paling haram... orang-orang lu hampir nyakitin Nabila."

Kevin melangkah maju satu kali.

"Garis darah gak bakal bisa nyelametin lu dari apa yang udah lu perbuat malam ini."

Apakah Kevin akan tetap mengeksekusi Paman kandungnya sendiri demi membalaskan rasa sakit hati ibunya selama puluhan tahun?

Bagaimana nasib hubungan 'Harem' antara Kevin dan Viola setelah status sepupu kandung ini terungkap? Yuk, lanjut ke

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!