NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemuinya

Dona menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat, seolah-olah kayu jati tebal itu adalah jeruji penjara yang memisahkan dirinya dengan dunia luar. Otaknya berputar cepat, menyusun kepingan rencana untuk melarikan diri dari pengawasan ketat Papinya.

​Pikirannya melayang jauh ke Jakarta. Ke sosok Frans. Wajah pria itu seolah terpatri di pelupuk matanya, ketampanan yang mengganggu, yang membuatnya terjaga hampir setiap malam. Dona sudah tidak tahan lagi. Ia harus menemui Frans, apa pun risikonya.

​Ia mencoba meraih ponselnya, berharap ada keajaiban dari kakak sepupunya. "Kak Brian, ke mana sih?" gerutunya pelan. Berkali-kali ia menghubungi, namun hanya suara operator yang menyambut. Dona mendengus sinis. 'Mungkin dia sedang asyik bercinta dengan Kak Arumi sampai lupa punya adik sepupu yang sedang sekarat karena terkekang,' batinnya kesal.

​Dengan langkah berjinjit, Dona kembali ke tepi tempat tidur. Ia berlutut, merogoh kolong lemari pakaian yang gelap. Jarinya menyentuh sebuah tas kecil yang ia sembunyikan di sana. Ia membukanya sekali lagi, sekadar memastikan. Dompet, paspor, dan kartu ATM pribadinya masih aman di sana.

​"Aku harus pergi," gumamnya pada kesunyian kamar. "Papi tidak bisa terus-menerus mengurungku seolah aku ini kucing peliharaan."

​Hati Dona berdenyut nyeri setiap kali mengingat perubahan sikap kedua orang tuanya. Seharusnya, rujuknya Mami dan Papi menjadi berita bahagia. Namun nyatanya, penyatuan kembali itu justru menjadi awal dari pengawasan yang semakin mencekik. Mereka seolah ingin menebus waktu yang hilang dengan cara merampas kebebasannya.

​Ia menoleh, menatap jam dinding yang detaknya terasa memekakkan telinga di tengah malam yang sepi.

​"Oh, astaga... lama sekali," keluhnya saat melihat jarum jam baru menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit. Menunggu jam dua belas malam terasa seperti menunggu satu abad. Baginya, setiap detik yang berlalu adalah pertarungan antara rasa takut dan kerinduan yang membara pada Frans.

​Tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas, detak jantung Dona seolah beradu cepat dengan bunyi jam dindingnya. Di luar jendela, langit New York tampak kelabu. Salju tipis mulai turun, membungkus gedung-gedung tinggi Manhattan dengan selimut putih yang dingin.

​Dona menarik napas dalam-dalam, menyampirkan tas kecilnya di balik jaket padding hitam yang tebal agar tidak terlihat mencolok. Ia mengenakan beanie dan syal, memastikan hampir seluruh wajahnya tertutup.

​Ia membuka pintu kamar dengan sangat perlahan. Bunyi engsel yang biasanya tak terdengar, kini terasa seperti ledakan di telinganya. Koridor penthouse itu remang-remang. Dona berjalan berjinjit, melewati deretan lukisan mahal koleksi Papinya yang seolah-olah sedang mengawasinya dengan tatapan menghakimi.

​Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar utama. Ia menahan napas. Sayup-sayup terdengar suara dengkur halus Mami dan Papi sudah terlelap. Ironis memang mereka berpelukan di dalam sana setelah rujuk, sementara di luar sini, Dona merasa seperti buronan di rumahnya sendiri.

'​Maafkan Dona, Pi, Mi. Tapi aku bukan pajangan yang bisa kalian simpan di dalam kotak kaca ini,' batinnya tegas.

​Dona memilih tidak menggunakan lift utama yang langsung menuju lobi, karena ia tahu penjagaan di sana sangat ketat. Ia menyelinap menuju tangga darurat, menuruni anak tangga satu demi satu dengan kaki yang gemetar hingga mencapai pintu keluar samping yang biasa digunakan oleh pelayannya.

​Saat pintu itu terbuka, udara musim dingin New York yang menusuk tulang langsung menyergap wajahnya. Namun, bagi Dona, udara dingin itu terasa seperti aroma kebebasan.

​Ia segera berjalan cepat menuju sudut jalan, menjauh dari jangkauan CCTV penthouse. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mengangkat tangannya. Sebuah taksi kuning yellow cab ikonik New York berhenti di depannya dengan suara rem yang mencit.

​"JFK Airport. International Terminal," ucap Dona cepat saat sudah berada di dalam taksi.

​Sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang berembun, Dona menatap gemerlap lampu Times Square yang mulai menjauh. Pikirannya sudah terbang melintasi samudera, menuju Jakarta yang hiruk-pikuk Bertemu Frans.

​Dona menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Suara mesin mobil yang menderu pelan tenggelam oleh gema suara Papinya yang terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Kau akan bertunangan dengan Alex, putra Tuan Brandon. Papi sudah mengatur jadwal pertemuan besok dengan keluarganya. Ingat! Lupakan asisten itu, dia sudah bertunangan!"

​Dona perlahan membuka matanya. Di luar sana, salju turun semakin lebat, menutupi aspal jalanan dengan lapisan putih yang sunyi. Kata-kata sudah bertunangan itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.

​Alex? Dona bahkan tidak peduli siapa pria itu atau seberapa kaya keluarganya. Pikirannya hanya terpaku pada satu nama, Frans.

​Ia menatap butiran salju yang jatuh di balik kaca, mencoba menguatkan hatinya yang mulai goyah. Papi mungkin benar bahwa Frans sudah bertunangan, tapi Dona tidak bisa menerima kebenaran itu jika bukan dari bibir Frans sendiri. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dalam perjodohan hambar dengan Alex hanya karena sebuah asumsi.

​"Aku harus memastikan sendiri," bisik Dona pada bayangannya di kaca jendela yang berembun. Matanya memancarkan tekad yang dingin sekeras musim dingin di New York. "Kalau memang dia benar-benar sudah bertunangan, aku berjanji... aku tidak akan pernah kembali lagi untuknya. Aku akan menghilang dari hidupnya selamanya."

​Dona merapatkan mantelnya. Di dalam tas kecilnya, tiket pesawat menuju Jakarta terasa begitu berat. Itu bukan sekadar tiket perjalanan, itu adalah tiket menuju akhir dari penantiannya, atau mungkin, awal dari kehancuran hatinya.

​"Tunggu aku, Frans," bisiknya lirih. "Kali ini, tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi."

...***...

Suara hantaman keras bergema di ruang fitnes pribadi yang sunyi itu. Buk! Buk! Samsak tinju yang tergantung di tengah ruangan terus berayun liar, menerima pukulan bertubi-tubi dari Frans. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis terekspos. Keringat mengucur deras, membasahi otot-otot punggung dan dadanya yang berkilat di bawah lampu ruangan yang temaram.

​Frans menghembuskan napas dengan kasar. Setiap pukulan yang ia lepaskan adalah bentuk protes yang tak mampu ia suarakan. Amarahnya memuncak saat mengingat keputusan sepihak ayahnya tadi pagi, pernikahan dengan Lena akan dimajukan.

​Dua tahun. Sudah dua tahun ia bertunangan dengan putri kepala polisi itu, sebuah aliansi bisnis dan kekuasaan yang terasa seperti jeratan di lehernya.

​"Brengsek!" teriak Frans, suaranya parau dan memenuhi ruangan.

​Ia menghantamkan pukulan terakhir yang begitu keras hingga samsak itu berderit kencang. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun dengan cepat. Namun, bukan hanya rencana pernikahan itu yang membuatnya sesak. Ada hal lain yang jauh lebih mengganggu. Bayangan Dona.

​Nona muda itu seolah menjadi hantu yang menolak pergi. Semakin keras Frans mencoba menghapus memori tentang Dona, semakin nyata wajah gadis itu muncul di benaknya. Aroma parfum Dona, tawa manja, dan tatapan matanya yang menantang terus-menerus mengusik akal sehatnya. Seharusnya ia fokus pada masa depannya dengan Lena, tapi kenapa justru bayangan Dona yang selalu menemaninya di titik-titik paling frustrasinya.

​Frans menyambar botol air mineral di atas meja kayu. Ia meminumnya dengan rakus, membiarkan air dingin itu membasahi tenggorokan dan tumpah sedikit ke dagu serta dadanya yang panas.

​Ia menyeka bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Pikirannya jauh melayang melintasi samudera, tanpa tahu bahwa wanita yang baru saja ia kutuk dalam pikirannya itu sedang melaju menuju bandara di New York untuk menemuinya.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!