NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai dari Nol

Nadira akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan biasa, ruangan yang lebih hangat, lebih terang, dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan taman kecil di luar. Tidak ada lagi suara monitor yang berbunyi terus-menerus. Tidak ada lagi bau antiseptik yang menyengat. Hanya ranjang rumah sakit sederhana, meja kecil, dan kursi untuk penunggu.

Raka tidak meninggalkan Nadira sedetik pun sejak wanita itu sadar. Ia tidur di kursi lipat di samping ranjang, meski tubuhnya pegal dan tidak nyaman. Ia mandi di kamar mandi rumah sakit dengan cepat, berganti baju dengan pakaian yang Mama Nita bawakan. Ia makan seadanya, hanya roti dan air mineral, karena ia tidak mau meninggalkan Nadira sendirian.

Mama Nita beberapa kali menawarkan untuk menggantikannya.

"Raka, istirahat dulu di rumah. Biar Mama yang jaga Nadira," ucap Mama dengan nada khawatir melihat wajah anaknya yang semakin pucat dan kurus.

Tapi Raka selalu menggeleng. "Tidak, Ma. Aku harus di sini. Aku tidak mau Nadira bangun dan tidak melihat aku."

"Tapi kamu juga harus jaga kesehatan, Nak."

"Aku baik-baik saja, Ma."

Mama Nita tahu tidak ada gunanya membujuk. Ia hanya bisa mengelus punggung anaknya dengan tatapan penuh simpati, lalu pergi dengan membawakan makanan dan pakaian bersih untuk Raka.

---

Pagi ini, seorang perawat masuk membawa nampan berisi sarapan untuk Nadira, bubur ayam, telur rebus, dan segelas susu putih.

"Selamat pagi, Mbak Nadira. Ini sarapannya," ucap perawat dengan senyuman ramah sambil meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang.

Nadira yang sedang duduk bersandar pada bantal dengan wajah masih mengantuk melirik makanan itu dengan tatapan datar.

Perawat tersenyum sekali lagi, lalu keluar dari ruangan.

Raka, yang duduk di kursi samping ranjang dengan mata sembab karena kurang tidur, langsung bangkit dan mengambil nampan itu. Ia meletakkannya di pangkuan Nadira dengan hati-hati.

"Dira, sarapan dulu ya," ucap Raka dengan suara lembut, suara yang ia coba buat se-hangat mungkin meski hatinya lelah.

Nadira menatap bubur di depannya dengan tatapan tidak tertarik. Ia tidak menyentuh sendok. Ia hanya diam.

Raka mengerutkan dahi. "sayang, kenapa tidak makan? Kamu harus makan biar cepat sehat."

Nadira menggeleng pelan. "Nadira nggak mau makan."

"Kenapa? Kamu nggak suka bubur ayam?"

Nadira mengerucutkan bibirnya, ekspresi yang benar-benar seperti anak kecil yang sedang ngambek. "Makanan rumah sakit nggak enak. Nadira nggak suka."

Raka menarik napas pelan, mencoba bersabar. "Tapi kamu harus makan, Dira. Kalau nggak makan, kamu nggak akan kuat."

"Nadira tetap nggak mau," ucap Nadira keras kepala sambil memalingkan wajahnya.

Raka menatap Nadira dengan tatapan bingung dan sedikit frustasi. Ini seperti membujuk anak kecil dan memang itulah yang sekarang harus ia lakukan.

"Kalau begitu... Nadira mau makan apa?" tanya Raka akhirnya, dengan nada yang lebih lembut.

Nadira langsung menoleh... matanya berbinar, seperti anak yang baru ditanya tentang mainan favoritnya.

"Nadira mau nasi goreng buatan Ibu!" ucapnya dengan semangat. "Nasi goreng Ibu paling enak! Ada telurnya, ada sosis, terus ada tomat juga!"

Raka merasakan dadanya diremas kuat.

Nasi goreng buatan Ibu.

Ibu yang sudah meninggal sejak lama.

Ibu yang tidak mungkin bisa membuat nasi goreng lagi.

Bagaimana ia harus mengatakan ini pada Nadira?

"Dira..." Raka mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Ibu... Ibu sedang tidak bisa masak sekarang. Tapi nanti... nanti Om belikan nasi goreng yang enak, oke?"

Nadira langsung cemberut, bibirnya mengerucut, alisnya berkerut, matanya mulai berkaca-kaca.

"Nadira maunya nasi goreng Ibu! Bukan yang lain!" protesnya dengan nada ngambek.

Lalu tiba-tiba, ia menarik selimut dan menutup tubuhnya sampai kepala, membelakangi Raka.

"Nadira nggak mau ngomong sama Om lagi!" ucapnya dari dalam selimut dengan suara yang teredam.

Raka menatap punggung Nadira yang tertutup selimut dengan tatapan tidak percaya. Ini benar-benar seperti anak kecil yang sedang ngambek.

"Sayang," panggil Raka pelan. "Jangan begitu. Ayo makan dulu."

Tidak ada jawaban.

"Sayang, kumohon. Kamu harus makan."

Tetap tidak ada jawaban. Hanya keheningan.

Raka menghela napas panjang. Ia menatap punggung Nadira dengan tatapan lelah, lelah secara fisik, lelah secara emosional.

Tapi ia tidak boleh menyerah.

"Dira," panggil Raka lagi, kali ini dengan nada yang lebih ceria, nada yang ia paksakan. "Kalau Nadira mau makan, Om belikan permen. Permen yang manis. Nadira suka permen, kan?"

Ada gerakan kecil dari dalam selimut.

"Permen apa?" tanya Nadira dengan suara pelan, masih dari dalam selimut.

Raka tersenyum tipis, sedikit lega. "Permen apapun yang Nadira mau. Permen coklat, permen rasa buah, permen lollipop. Terserah Nadira."

Selimut perlahan turun dan wajah Nadira muncul dengan ekspresi yang masih cemberut, tapi matanya sedikit berbinar.

"Beneran?" tanyanya dengan nada ragu.

Raka mengangguk tegas. "Beneran. Om janji."

Nadira menatap Raka sebentar, seperti sedang mempertimbangkan. Lalu akhirnya, ia mengangguk pelan.

"Oke. Nadira mau makan. Tapi Om harus belikan permen banyak ya!" ucapnya dengan semangat, ekspresinya langsung berubah ceria, ceria seperti anak kecil yang baru dijanjikan hadiah.

Raka tersenyum lelah tapi tulus. "Iya. Om belikan banyak."

Nadira langsung mengambil sendok dan mulai makan bubur ayamnya dengan lahap, seperti tidak ada masalah tadi.

Raka menatapnya dengan tatapan campur aduk... lega, sedih, perih.

Ini istrinya. Wanita yang ia cintai. Tapi sekarang, ia harus memperlakukannya seperti anak kecil... membujuk, menjanjikan hadiah, bersabar dengan tingkah lakunya.

Tapi tidak apa. Raka akan melakukannya. Apapun yang harus ia lakukan, ia akan lakukan.

Saat Nadira sedang makan, ia tiba-tiba berhenti dan menatap Raka dengan tatapan penasaran.

"Om," panggilnya dengan mulut masih penuh bubur.

"Ya?" jawab Raka sambil tersenyum.

"Kenapa Om dari semalam nggak pulang-pulang? Om nggak punya rumah ya?" tanya Nadira dengan nada polos, nada yang benar-benar tanpa beban, tanpa mengerti betapa menyakitkan pertanyaan itu bagi Raka.

Raka terdiam sejenak. Ia menatap mata Nadira yang penuh kepolosan, mata yang tidak ingat bahwa ia adalah suaminya, bahwa mereka pernah tinggal bersama di apartemen kecil, bahwa mereka pernah berbagi kehidupan selama tiga tahun.

"Om... Om tinggal di sini sekarang," jawab Raka akhirnya dengan suara pelan. "Om mau jagain Nadira."

Nadira mengerutkan dahi. "Jagain? Kenapa Om mau jagain Nadira? Nadira kan nggak kenal Om."

Raka tersenyum yang penuh kesedihan tersembunyi. "Karena Om sayang sama Nadira."

Nadira menatap Raka dengan tatapan bingung, seperti tidak mengerti apa maksud kata "sayang" itu.

Lalu tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

"Om! Kapan Bapak sama Ibu pulang?" tanyanya dengan nada antusias. "Nadira kangen sama mereka. Nadira mau pulang!"

Raka merasakan dadanya sesak lagi.

Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dengan jujur.

Tapi sebelum ia sempat menjawab, Nadira sudah melompat ke topik lain, seperti anak kecil yang pikirannya cepat beralih.

"Om! Nyalain TV dong! Nadira mau nonton kartun!" pinta Nadira sambil menunjuk televisi kecil yang terpasang di dinding.

Raka mengangguk. Ia bangkit, mengambil remote, dan menyalakan televisi. Ia mencari channel kartun, lalu menemukan Spongebob Squarepants yang sedang tayang.

"Ini ya, Dira?"

Nadira langsung bertepuk tangan dengan girang. "Iya! Spongebob! Nadira suka Spongebob!"

Ia fokus pada layar televisi, matanya berbinar, mulutnya sesekali tertawa polos saat melihat adegan lucu.

Raka duduk kembali di kursinya, menatap Nadira yang tertawa lepas... tertawa dengan tawa yang murni, tawa tanpa beban, tawa seorang anak kecil.

Dan hatinya... hatinya sangat perih.

Nadira sudah sadar. Nadira sudah bangun. Nadira ada di sana, di depan matanya.

Tapi Nadira yang ia kenal... Nadira yang tersenyum hangat setiap pagi, Nadira yang memasak sarapan dengan penuh kasih sayang, Nadira yang mencintainya meski ia memperlakukannya dengan buruk... Nadira itu tidak ada lagi.

Yang ada sekarang hanyalah Nadira kecil... Nadira yang tidak tahu siapa dia, tidak ingat cinta mereka, tidak ingat pernikahan mereka.

Raka mengusap wajahnya dengan lelah. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya.

Tidak. Ia tidak boleh menangis di depan Nadira. Ia harus kuat.

Ia harus berjuang, berjuang untuk membuat Nadira ingat lagi, berjuang untuk mendapatkan istrinya kembali.

Meski harus dimulai dari nol.

Meski harus melalui hari-hari yang menyakitkan seperti ini.

Raka akan tetap di sini.

Karena cinta yang sejati tidak pernah menyerah bahkan saat orang yang dicintai tidak ingat siapa kamu.

---

Nadira terus tertawa melihat televisi, sementara Raka duduk di sampingnya, menatap wanita itu dengan tatapan penuh cinta yang tak pernah padam, meski hatinya hancur berkeping-keping.

Dan di ruangan rumah sakit yang hangat itu, mereka berdua berada dalam dunia yang berbeda... Nadira di dunia anak-anak yang polos, dan Raka di dunia orang dewasa yang penuh luka.

Tapi setidaknya, mereka bersama.

Dan itu sudah cukup untuk Raka, setidaknya untuk saat ini.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!