NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Makan Malam

BAB 4: RUTINITAS MAKAN MALAM DINGIN

Rumah dinas itu punya dua jenis keheningan. Keheningan yang pertama adalah duka, berat, dan menyesakkan. Keheningan yang kedua adalah rutinitas, sunyi, dan dingin.

Setelah hampir dua bulan Shifa tiada, rumah mereka sudah masuk ke jenis keheningan kedua.

Cakra masih sibuk, bahkan semakin sibuk. Pangkatnya naik, tanggung jawabnya bertambah. Alisa sering mendengar Cakra berbicara dengan nada tegas di telepon, membahas logistik dan strategi. Setiap hari terasa seperti pengulangan: Cakra pergi saat subuh, dan janji untuk pulang cepat hampir selalu batal di menit-menit terakhir.

"Maaf, Nak. Ayah harus ke Markas Besar. Ada rapat mendadak," Cakra akan menelepon tepat pukul enam sore, saat Alisa sudah selesai mandi dan menyiapkan buku pelajaran.

Alisa selalu menjawab dengan suara yang dibuat ceria, meniru ketegaran Ayahnya. "Tidak apa-apa, Yah. Aku sudah makan. Ayah jangan lupa makan juga, ya."

Kalimat 'Aku sudah makan' itu sering kali bohong.

Awalnya, Bu Suti—tetangga sebelah yang ditugaskan Cakra untuk mengawasi—akan datang membawa lauk. Tetapi Bu Suti punya tiga anak kecil yang riuh, dan Alisa terlalu lelah berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Alisa mulai menolak dengan halus, bilang ia sudah punya makanan.

Alisa beralih pada makanan instan.

Malam itu, menu Alisa adalah mi instan rasa soto. Ia tahu Ibunya tidak suka ia makan mi instan. Dulu, jika ia merengek meminta, Shifa akan memarahinya sambil tertawa, lalu berakhir dengan memasakkan sup ayam yang jauh lebih bergizi.

Kini, tidak ada yang memarahi. Tidak ada yang memasakkan sup ayam.

Alisa duduk di meja makan yang dulunya selalu ramai. Ia makan sendiri, ditemani suara sendoknya yang beradu dengan mangkuk keramik. Sunyi sekali. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka buku harian birunya, tapi ia tidak bisa fokus menulis.

Setelah selesai, Alisa mencuci piringnya, membersihkan sisa remah-remah di meja—semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan Ibunya atau pembantu. Ia melakukannya dengan cekatan. Alisa tahu, ia harus mandiri. Ia harus menghilangkan satu beban dari pundak Ayahnya.

"Kalau kamu tidak merepotkan, Ayah akan lebih santai. Kalau Ayah santai, Ayah tidak akan sakit. Kalau Ayah tidak sakit, Ayah tidak akan pergi," itu mantra sederhana yang selalu ia ulang di kepalanya.

Pukul delapan malam. Alisa sudah selesai belajar. Ia berbaring di sofa ruang tamu sambil menonton tayangan ulang kartun. Matanya berat. Ia tahu Cakra akan pulang paling cepat pukul sepuluh.

Ia ingin menunggu Ayahnya, ingin memastikan bahwa Cakra melihat ia baik-baik saja, bahwa rumah itu tidak kosong sepenuhnya.

Alisa memejamkan mata sebentar.

Ia bermimpi Ibunya kembali. Shifa memeluknya, tubuhnya hangat, dan mereka tertawa tentang lelucon lama. Rasanya begitu nyata, begitu damai.

Alisa terkejut ketika ia merasakan sensasi hangat menyelimuti tubuhnya. Ia membuka mata.

Ia tidak berada di sofa. Ia berada di kamarnya sendiri, di tempat tidurnya yang empuk. Dan di atas tubuhnya, terbentang selimut tebal milik Cakra, yang selalu berbau keras seperti deterjen markas, oli, dan sedikit mint.

Alisa menyentuh selimut itu. Hangat.

Ia tahu apa yang terjadi. Ia ketiduran di sofa, dan Cakra pasti baru pulang.

Alisa melompat dari tempat tidur, mengintip ke luar kamar. Jam dinding menunjukkan pukul 00:30.

Lampu ruang tamu sudah mati. Di dapur, hanya ada satu gelas kotor di wastafel. Cakra pasti minum air putih dan langsung masuk ke kamar.

Alisa berjalan perlahan ke kamar Ayahnya. Pintu itu tertutup rapat. Alisa menempelkan telinganya ke kayu pintu, hanya mendengar dengkuran halus.

Ia kembali ke kamarnya, memeluk selimut Cakra erat-erat. Ia tidak pernah tahu kapan Ayahnya pulang, atau bagaimana Cakra menggendongnya dari sofa. Cakra tidak pernah membicarakannya. Itu adalah tindakan kasih sayang yang sunyi, yang hanya bisa Alisa rasakan dari kehangatan selimut itu.

Sejak itu, rutinitas Alisa berubah. Ia tetap memasak mi instan atau memanaskan nasi, tetapi ia sengaja menyisakan sedikit jejak di ruang tamu: buku yang terbuka, atau bantal yang tidak terlalu rapi. Sebuah penanda.

Ia tahu Cakra akan pulang, melihat jejak itu, dan menyimpulkan: Anakku ada di sini. Anakku baik-baik saja.

Suatu hari, Alisa lupa membersihkan remah-remah mi instan di meja dapur.

Keesokan paginya, saat Cakra sedang menyeduh kopi sebelum berangkat, ia memanggil Alisa.

"Alisa," panggil Cakra dengan nada formal yang selalu membuat Alisa gentar.

Alisa berjalan cepat ke dapur. "Iya, Yah?"

Cakra menunjuk ke meja. Ada mangkuk sisa mi instan yang Alisa lupa cuci.

Alisa langsung merasa bersalah. Ia melanggar janji untuk tidak merepotkan.

"Maaf, Yah. Aku lupa. Aku akan cuci sekarang," ucap Alisa cepat.

Cakra tidak marah. Ia hanya menatap Alisa dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Sejak kapan kamu makan mi instan setiap malam?" tanya Cakra, suaranya tenang, tetapi membuat Alisa gugup.

"Tidak... tidak setiap malam, Yah. Hanya kemarin," Alisa berbohong.

Cakra menghela napas. "Jangan bohong, Nak. Sampah di tempat sampah sudah memberitahu Ayah."

Alisa menunduk. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena ketahuan. Ia pikir ia sudah cukup pintar menyembunyikan kemandiriannya yang menyedihkan itu.

Cakra berjalan mendekat, memegang bahu Alisa. Tangannya terasa berat, tetapi lembut.

"Ayah tahu kamu mau bantu Ayah. Ayah tahu kamu mau mandiri," kata Cakra. "Tapi, Ayah juga Ayahmu. Kalau kamu sakit karena cuma makan mi instan, itu justru merepotkan Ayah."

Cakra meletakkan kunci mobilnya di meja. "Hari ini, pulang sekolah kamu ke koperasi. Beli sayuran, dan beli ikan. Setelah ini, Ayah akan minta Bu Suti datang tiga kali seminggu. Kamu tidak perlu menolak lagi."

"Tapi Ayah kan sibuk," kata Alisa pelan.

"Ayah sibuk. Tapi kamu, kamu jauh lebih penting dari urusan di kantor," Cakra menekankan kata 'jauh lebih penting'. "Tugas Ayah adalah melindungi kamu. Tugas kamu adalah menjadi anak yang sehat dan pintar. Mengerti?"

Alisa mengangguk, matanya berkaca-kaca. Itu bukan pelukan hangat, itu bukan kalimat romantis. Itu adalah pengakuan Cakra, disampaikan dengan bahasa militer yang tegas, bahwa ia tetap melihat putrinya di balik tumpukan dokumen dinasnya.

Makan malam Alisa mungkin tetap dingin, ia tetap sering tidur tanpa mengucapkan selamat malam. Tapi ia tahu, Cakra memperhatikan. Dan bagi Alisa, momen-momen sunyi dan tersembunyi itu adalah penguat bahwa ikatan mereka, meskipun diwarnai kesibukan dan kesedihan, tidak akan pernah terputus.

Ia adalah seorang anak yang dipaksa tumbuh cepat, tapi ia tidak pernah benar-benar sendiri. Ksatria pelindungnya, meskipun sering absen, selalu ada di dekatnya, terbukti dari selimut hangat yang memeluknya di tengah malam.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!