Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Ketika Kebenaran Mulai Terlihat
Rumah orang tua Zahra terasa hangat, tapi hatinya tetap dingin.
Sudah tiga hari ia tinggal di sana, tiga hari tanpa suara langkah suaminya di pagi hari, tanpa perintah Bu Ratna yang menusuk harga diri, tanpa tawa sinis Dini yang selalu merasa paling benar...
Seharusnya Zahra merasa lega dan memang ada bagian kecil dari dirinya yang bernapas lebih lapang, namun kenyataannya pikirannya justru semakin jernih, terlalu jernih.
Di tempat yang tenang inilah, Zahra akhirnya benar-benar menyadari satu hal pahit:
selama ini ia tidak kalah karena lemah, melainkan karena terlalu percaya.
Pagi itu Zahra duduk di teras rumah, ditemani secangkir teh hangat buatan ibunya. Udara masih sejuk, burung-burung berkicau ringan, seolah dunia di luar tidak tahu bahwa hatinya sedang merapikan serpihan pengkhianatan.
Ia membuka laptop yang dibawanya, layar menyala, menampilkan file-file yang dikirim Wulan semalam...
Jarinya bergerak perlahan di touchpad, membuka laporan demi laporan..
Angka-angka berbaris rapi, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Transfer rutin, nominal besar, rekening tujuan yang sama, Rena Puspita
Nama itu muncul berulang kali, seolah dengan sengaja ingin memastikan ku benar-benar melihatnya, aku tersenyum pahit.
"Jadi ini caramu membiayai selingkuhan mu itu,” gumamnya pelan.
Bukan hanya transfer bulanan, ada juga pengeluaran atas nama cicilan apartemen, pembayaran furnitur, bahkan tagihan listrik dan air, semuanya tercatat rapi...
Yang membuat dada ku semakin sesak adalah satu fakta sederhana: semua itu berasal dari rekening usaha Mas Genta
Uang yang seharusnya menjadi nafkah keluarga, uang yang selama ini Mas Genta katakan diputar untuk bisnis
Aku menutup laptop sejenak, aku menyandarkan punggung ku ke kursi rotan, menatap langit yang cerah.
Tidak ada amarah yang meledak, yang ada justru rasa dingin yang tenang, tak lama kemudian, ponselnya bergetar..
Nama Mas Genta muncul di layar.
Untuk pertama kalinya sejak Zahra pergi, suaminya itu menelepon..
Aku membiarkan ponsel itu berdering, lima detik, sepuluh, lima belas, baru kemudian aku angkat..
( "Assalamualaikum")
("Kamu di mana? Kenapa gak ngabarin aku sama sekali?") suara mas Genta terdengar tegang, nyaris menuntut..
("Aku sudah bilang aku ke rumah orang tuaku, kamu lupa?”) jawab ku tenang
Di seberang sana, mas Genta terdiam sejenak..
Napasnya terdengar berat.
("Ibu marah besar, kamu bikin suasana rumah jadi gak enak.”)
("Lucu sekali, saat aku dipermalukan di rumah kamu, suasana katanya baik-baik saja dan sekarang malah sebalik nya") aku tersenyum tipis
("Zahra, jangan mulai, kamu itu istri ku, seharusnya patuh.”) suara mas Genta meninggi
Kata itu, kata patuh yang dulu selalu membuat aku menunduk, kini justru terdengar asing...
“Harus patuh kepada siapa dulu Mas? Suami yang menyembunyikan perempuan lain? Atau ibu mertua yang sudah menyiapkan pengganti ku jauh-jauh hari?” tanya ku pelan tapi setiap ucapan ku tajam
("Rena cuma...”)
( "Cukup Mas”) potong ku, suara ku tetap tenang, tapi tidak memberi ruang..
("Kalau kamu menelepon hanya untuk berdebat, aku cuma mau kamu tahu satu hal.”)
Mas Genta terdiam. .
("Apa?”)
("Aku sekarang tahu ke mana uang usahamu mengalir.”)
Hening.
Detik-detik berlalu, dan aku bisa mendengar napas Mas Genta yang tertahan.
("Maksud kamu apa?”) suara Mas Genta berubah, lebih rendah, lebih hati-hati.
("Aku tahu soal rekening Rena, transfer rutin dan jumlahnya bukan sedikit.”) Lanjut ku
Ledakan emosi yang aku duga justru datang dengan cara lain.
("Zahra kamu keterlaluan! Kamu cari-cari kesalahan aku?”) bentak mas Genta
Aku tertawa kecil, bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang akhirnya melihat kebenaran tanpa tirai.
("Kesalahan itu gak perlu dicari, Mas, mereka muncul sendiri.”) ucap nya lirih
Klik.
Sambungan terputus.
Aku menatap layar ponsel ku tanpa emosi, reaksi itu sudah cukup menjadi jawaban..
Tidak ada bantahan, tidak ada klarifikasi, hanya kemarahan, tanda paling jelas dari orang yang terpojok..
Siang hari, Zahra bertemu dengan Wulan di sebuah perpustakaan kecil yang tenang, tempat itu sengaja dipilih, tidak banyak orang, tidak bising, dan cukup aman untuk membicarakan hal sensitif..
Mereka duduk di sudut ruangan, dikelilingi rak-rak buku yang seolah menjadi saksi bisu rencana yang sedang disusun.
"Aku sudah kumpulkan semuanya,” ucap Wulan pelan sambil menggeser map kearah Zahra
“Bukti transfer, mutasi rekening, bahkan ada pembayaran cicilan apartemen atas nama Rena… tapi ditempati Rena.”
Aku membuka map itu, menelusuri lembar demi lembar dengan wajah tenang.
“Lengkap sekali,” gumamku
"Aku jujur aja, ya Ra, kalau ini sampai dibuka, dampaknya besar, secara hukum… kamu di posisi kuat.” lanjut Wulan hati-hati
Aku menutup map itu perlahan..
“Aku belum mau buka semuanya, belum sekarang.” ucap ku
Wulan menatapnya lekat..
“Kamu yakin kuat Ra?”
Aku tersenyum tipis, senyum perempuan yang sudah melewati fase menangis.
“Aku lebih kuat dari yang mereka kira"
Wulan menarik nafas dan memperhatikan lekat-lekat wajah sahabat nya itu
"Aku tahu itu Ra, kamu memang wanita yang kuat dan penuh kesabaran" ucap Wulan
Zahra tersenyum getir
"Justru itu, mereka mempermainkan aku Lan, tapi sekarang akan ku tunjukkan siapa Aulia Az-Zahra yang sebenarnya"
Wulan langsung mengelus punggung ku untuk memberikan dukungan terhadap ku..
"Oh ya Ra, habis ini kamu mau kemana?" Tanya Wulan
"Aku mau pulang saja" jawab ku yang memang tidak ingin kemana-mana
"Kamu masih dirumah orang tua mu kan?" Tanya Wulan lagi dan aku pun mengangguk pelan
Lalu kami berpisah di parkiran
"Ra hati-hati ya" teriak Wulan saat aku sudah mengendarai sepeda motor ku, aku pun melambaikan tangan
Tidak berapa lama aku pun sampai dirumah dan aku masuk rumah, ibu sedang sibuk di dapur tersenyum kearah ku
"Kamu sudah pulang sayang" ucap ibu ku
"Iya Bu" jawab ku
Aku langsung membantu ibu di dapur
"Kamu istirahat saja dulu nak, gak usah bantu ibu" ucap ibu ku dengan suara lembut
Lalu tiba-tiba ponsel ku bergetar, kali ini pesan masuk dari nomor yang sudah sangat aku hafal betul.
("Kamu pintar juga ya Zahra, tapi jangan merasa menang dulu") pesan Rena
Aku membaca pesan itu tanpa gentar, aku membalas singkat, tanpa emosi berlebihan.
("Aku tidak sedang bertanding! Tapi aku sedang mencatat") balas ku
Dan balasan dari Rena tak kunjung datang.
Namun tak lama kemudian, ibu mendekat dengan wajah khawatir..
"Zahra, barusan ibu mertua mu telpon ibu” ucap nya pelan
Aku menegakkan tubuh ku karena terkejut “Dia bilang apa Bu?"
"Katanya kamu istri durhaka, pergi tanpa izin suami, ibu disuruh menasihati kamu supaya kembali dan minta maaf.” ucap ibu
Aku tertawa lirih..
“Masih dengan cara yang sama.”
Lalu ibu menggenggam tangan ku erat. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?”
Untuk pertama kalinya, aku tidak menyaring ceritanya terlebih dahulu, aku langsung berkata jujur, tentang Rena, tentang tekanan yang aku alami, tentang rencana poligami yang dipaksakan, tentang pengkhianatan yang selama ini aku pendam sendiri..
Ibu terdiam lama, wajahnya tegang, matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih semata, tapi karena marah yang tertahan..
Lalu ibu langsung memeluk ku erat.
“Kalau begitu, kamu jangan kembali sebelum mereka menghormatimu sebagai manusia.” ucap ibu tegas
Air mata ku jatuh, bukan karena sakit, melainkan karena akhirnya aku tidak sendirian..
Malam ini aku shalat lebih lama dari biasanya, sujud ku penuh, dada ku terasa lapang meski jalan ku belum jelas.
“Ya Allah, aku tidak minta mereka hancur, aku hanya minta kebenaran mu berdiri di sisiku.” bisik ku dalam doa
Di rumah lain, suasana jauh dari tenang, Genta mondar-mandir dengan wajah tegang..
Sedangkan Bu Ratna duduk dengan tangan terlipat, matanya menyala penuh amarah.
"Perempuan itu sudah keterlaluan, sekarang malah sok kuat.” geram Bu Ratna
Dini menimpali sambil menyilang kan tangan..
“Kalau dia terus keras kepala, tinggal kita balikkan cerita, biar dia yang kelihatan salah.”
Di tempat yang berbeda, Rena menatap layar ponselnya dengan tangan mengepal.
“Kenapa dia belum menyerah?” gumamnya kesal.