Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Kita Pernah Sejauh Ini, Ya?
Latihan berakhir tanpa satu pun kejadian yang benar-benar menonjol.
Lapangan tetap riuh, tapi ada sesuatu yang tertinggal di udara—seperti sisa panas yang tidak ikut pergi bersama suara dan langkah kaki.
Rakha membereskan barangnya cepat. Terlalu cepat untuk ukuran orang yang biasanya santai. Ia tidak berhenti menoleh. Tidak menunggu siapa pun. Tangannya bergerak seolah sudah hafal urutannya—botol masuk tas, sepatu digenggam, resleting ditarik.
Keenan memperhatikannya dari tengah lapangan. Ia tidak langsung mengejar. Membiarkan Rakha menjauh beberapa langkah. Menunggu sampai jarak itu terasa aneh.
Baru kemudian ia bergerak.
Rakha hampir mencapai pintu ketika pergelangan tangannya tertahan. Bukan tarikan kasar. Lebih seperti keputusan yang sudah diambil.
"Rakha."
Rakha hampir tersandung ketika Keenan menghentikannya. Langkah Keenan terlalu cepat—tidak menyesuaikan. Sensasi itu singkat, tapi cukup membuat dada Rakha mengencang. Terlalu familiar. Seperti pernah terjadi, di waktu lain, dengan alasan yang juga tak pernah benar-benar selesai.
Keenan menuntunnya ke sisi aula, dekat pintu darurat. Suara dari lapangan teredam. Lampu di atas mereka berdengung pelan. Rakha merasakan dingin dinding di punggungnya sebelum benar-benar sadar ia sudah berhenti.
"Apa sih," katanya, berusaha menarik tangannya. Nadanya datar, tapi gerakannya terburu.
Keenan tidak melepas. "Jawab dulu."
Rakha menghembuskan napas pendek. "Jawab apa."
Keenan menatapnya lama. Tatapan orang yang bukan sedang marah, melainkan sudah terlalu lama menunggu satu penjelasan yang tak pernah datang.
"Kenapa kita jadi kayak gini."
Rakha memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.
"Kita baik-baik aja."
Keenan tertawa kecil—tanpa humor.
"Rakha."
Rakha menoleh.
"Bullshit." Kata itu terdengar asing keluar dari mulut Keenan. Tidak dibungkus. Tidak ditarik kembali.
Dan di detik itu, Rakha tahu—ini bukan pertengkaran. Ini sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
"Dari beberapa hari lalu," lanjut Keenan, suaranya lebih rendah, "lu berubah. Di lapangan. Di luar lapangan."
Ia tidak mengalihkan pandangan.
"Cara lu ngeliat gue juga."
Rakha diam.
"Kalau gue salah, bilang." Keenan melangkah setengah jarak. Tidak mendesak—tapi cukup dekat untuk membuat Rakha tak bisa menghindar. "Kalau gue bikin salah, bilang. Jangan dibiarin kayak gini."
"Kayak apa?"suara Rakha hampir tenggelam.
Keenan menghembuskan napas. Tangannya terbuka sebentar, lalu jatuh lagi di sisi tubuhnya.
"Kita satu tim. Buat semua orang." Ia berhenti. "Tapi sama lu… gue kayak jalan sendirian."
Kata-kata itu mendarat pelan. Tapi tepat. Rakha memalingkan wajah. Tangannya mengepal di sisi jaket.
"Lu nggak bakalan ngerti."
Keenan tersenyum tipis—lelah, bukan sinis.
"Nah. Itu masalahnya." Ia menggeleng pelan. "Gue nggak ngerti apa-apa."
Rakha mengangkat pandangannya.
"Gue bangun tiap hari mikir," Keenan melanjutkan, suaranya datar, nyaris tanpa emosi, "pa yang gue lewatin. Apa gue ngomong salah. Apa gue kebablasan.
Atau gue harus minta maaf atas sesuatu yang bahkan gue nggak tau."
Rakha menelan ludah.
Ada banyak yang ingin ia jelaskan. Banyak yang ingin ia luruskan.
Tapi di ruang sempit itu, dengan jarak yang terasa semakin rapuh, Rakha akhirnya sadar—
yang Keenan tunggu bukan jawaban.
Melainkan kepastian.
Dan justru itu, yang belum bisa Rakha beri.
Karena masalahnya bukan sekadar salah paham.
Masalahnya adalah kemungkinan bahwa Keenan—tanpa sadar—sudah ikut berdiri di lingkaran yang sama.
Lingkaran orang dewasa.
Keputusan-keputusan yang diambil tanpa melibatkan dirinya. Percakapan-percakapan yang tak pernah ia dengar, tapi perlahan mulai menentukan jarak di sekelilingnya.
Dan Rakha tahu, sekali Keenan benar-benar menyadari itu, tak ada lagi cara sederhana untuk menariknya kembali.
"Rakha," suara Keenan kini lebih pelan. "Kalau ini terus kayak gini, kita bakal makin rusak. Makin pecah."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Rakha kira.
Ia menarik tangannya lepas. Kali ini, Keenan membiarkan.
"Lu nggak salah," kata Rakha akhirnya—cepat, hampir seperti menutup sesuatu. "Tapi nggak semua hal bisa gue jelasin sekarang."
"Kenapa?"
Rakha menggeleng pelan.
"Karena kalau gue salah ngomong—"
Kalimat itu menggantung. Rakha berhenti di tengahnya, seperti baru sadar ke mana arah ucapannya.
Keenan tidak menyela.
"—gue bisa nyeret lu ke sesuatu," lanjut Rakha, suaranya lebih rendah, "yang seharusnya bukan urusan lu."
Keenan terdiam sejenak.
"Apa maksud lu?" tanyanya akhirnya.
Rakha menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
"Gue nggak mau lu terlibat."
"Terlibat apaan?"
Rakha tidak menjawab.
Keheningan menggantung di antara mereka—berat, kikuk.
Di kejauhan, suara motor menyala. Seseorang tertawa. Dunia tetap bergerak, seolah tidak ada yang retak di balik dinding aula ini.
Keenan menghembuskan napas kasar.
"“Lu tau yang paling nyebelin dari semua ini apa?"
Rakha menatapnya lagi.
"Lu mikir lu lagi ngelindungin gue," lanjut Keenan. "Padahal yang lu lakuin cuma ninggalin gue sendirian di tengah-tengah ini."
Kalimat itu membuat Rakha terpaku.
Keenan melangkah mundur, memberi jarak yang sebelumnya ditutupnya sendiri.
"Kalau lu belum siap ngomong, gue nggak bakalan maksa," katanya, suaranya lebih rendah. "Tapi jangan perlakuin gue kayak orang luar."
Ia berhenti di ambang pintu.
"Karena gue udah di sini, Rakha. Entah lu mau atau nggak."
Lalu Keenan pergi lebih dulu.
Rakha tertinggal di belakang aula. Ia menyandarkan punggung ke dinding, memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa sesak—bukan karena takut ketahuan,
melainkan karena satu hal yang baru ia sadari.
Jarak yang ia ciptakan justru membuat semuanya lebih berbahaya.
Dan untuk pertama kalinya, Rakha bertanya-tanya— bukan bagaimana cara melindungi Keenan, melainkan berapa lama lagi ia bisa melakukannya sendirian.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭