Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 15
Pagi itu diselimuti kesejukan yang menenangkan setelah semalam hujan deras mengguyur bumi. Udara yang terhirup terasa bersih, dingin, dan membawa aroma tanah basah yang khas. Kabut tipis masih menggantung rendah di atas pepohonan, seperti selimut lembut yang menutupi desa. Sinar matahari pagi masih malu-malu, tersembunyi di balik awan kelabu.
Di dapur sederhana mereka, Valaria sudah bangun dan bergerak dengan lincah. Dapur itu terasa hangat berkat kayu bakar yang mulai menyala di tungku, aroma asapnya bercampur dengan bau fermentasi singkong yang manis dan asam. Valaria mengenakan kain sederhana yang dililitkan di pinggang dan kemeja usang, namun matanya memancarkan tekad.
Tujuannya hari ini adalah membuat tepung singkong yang sudah dia siapkan, mengolah bahan dasar itu menjadi hidangan untuk dijual. Selama beberapa hari terakhir, Valaria telah bekerja keras mengubah singkong menjadi tepung.
"Akhirnya," gumam Valaria pada dirinya sendiri, jemarinya yang cekatan meraba tekstur tepung singkong yang halus.
Ini adalah hari percobaan. Mereka masih memiliki sisa singkong yang difermentasi, dan Valaria memutuskan untuk mencoba membuat tape goreng, bakwan, dan kue kecil tradisional dari tepung singkong buatannya. Dia merindukan rasa yang berbeda, dan dia tahu penduduk desa juga akan menyukainya, ditambah kalau dijual pasti laku banyak.
Tepung itu sudah dicampur dengan air sedikit demi sedikit, diaduk perlahan hingga membentuk adonan yang terlihat cair dan kental secara bersamaan. Sambil mengaduk, Valaria bergumam, "Sedikit manis, sedikit gurih. Semoga saja berhasil."
Dia memasukkan sedikit gula dari wadah kaleng tua dan sebutir telur yang mereka sisihkan, mengaduknya lagi hingga adonan itu memancarkan kilau halus.
Setelah adonan tepung siap, dia beralih ke singkong fermentasi. Dia membentuk tangkai dari singkong yang masih ada di dalam, memisahkan serat-seratnya dengan hati-hati. Hanya daging singkong yang lembut dan manis yang dimasukkan ke dalam adonan tepung yang kental. Untuk adonan bakwan, dia menambahkan irisan tipis sayuran yang sudah dipotong Retri semalam.
Minyak di wajan sudah mulai mendesis, pertanda siap. Valaria mulai menggoreng dengan minyak panas. Suara 'cess' adonan yang menyentuh minyak adalah melodi pagi yang sempurna.
Di cuaca yang dingin dipagi hari, aroma harum dari gorengan tape dan bakwan yang baru matang menyebar ke seluruh rumah, merangsang nafsu makan
"Sudah siap!" seru Valaria, menata hidangan di atas tampah beralaskan daun pisang. Tape goreng berwarna keemasan, bakwan singkong dengan tekstur renyah, dan kue-kue kecil yang tampak menggugah selera.
Satu dari keluarga segera mencoba untuk dirasa. Itu adalah Retri, ibu Valaria, yang wajahnya tampak letih namun penuh harap.
Retri mengambil sepotong tape goreng yang masih hangat, meniupnya sebentar, lalu menggigitnya. Matanya terpejam sejenak. Ketika dia membuka mata, senyum hangat merekah di wajahnya.
"Nak," kata Retri, suaranya sedikit bergetar karena emosi. "Ini... ini lebih enak dari biasanya. Tepungmu membuat teksturnya begitu lembut, dan rasanya manis yang pas. Kamu benar-benar berbakat."
Air mata Valaria hampir menetes. Pujian dari ibunya adalah segalanya. "Benarkah, Bu?"
"Ya. Jual ini, pasti laris manis," timpal ayahnya yang ikut mencicipi.
Setelah semua merasa enak, mereka segera bersiap untuk menjual sisanya. Ratri dan Raka adik laki-laki Valaria yang bertanggung jawab untuk berjualan di tepi jalan utama pasar. Mereka mengisi keranjang dengan gorengan yang masih hangat.
Valaria menatap mereka dengan tatapan meminta maaf. "Aku tidak bisa ikut, Bu. Tapi uangnya pasti akan membantu kita."
Valaria tidak bisa ikut karena dia memiliki misi yang lebih penting. Dia menyerahkan tanggung jawab penjualan hari ini kepada Retri, karena Valaria ingin pergi ke gedung radio dan surat kabar di pusat kota.
Di tangannya, Valaria membawa sebuah tas kain lusuh yang berisi harta karunnya: lembaran kertas yang penuh dengan tulisan tangan. Itu adalah syair dan puisi yang dia ciptakan selama larut malam.
"Jika bisa dijual," bisiknya pada dirinya sendiri, menguatkan hati. "Ini adalah kesempatan kita untuk bernapas."
Perjalanan ke kota terasa panjang, tetapi semangatnya membakar. Sampai di lokasi, Valaria melihat gedung yang tampak megah meskipun bangunannya sudah tua. Itu adalah Gedung Persatuan Surat Kabar dan Radio lokal. Dia melihat beberapa orang masuk dan keluar, sebagian membawa berkas, sebagian lagi terlihat tergesa-gesa. Ini adalah tempat di mana kata-kata memiliki kekuatan.
Valaria mengatur napasnya yang tercekat. Dia mendekati pintu masuk Surat Kabar. Dia bertanya lebih dulu ke salah satu karyawan surat kabar yang tampak ramah, seorang wanita paruh baya yang sibuk membawa tumpukan koran.
"Permisi, Nyonya," kata Valaria, suaranya sedikit canggung. "Apakah saya bisa menjual tulisan, puisi, atau sajak di sini?"
Karyawan itu mengerutkan dahi sejenak, menatap pakaian sederhana Valaria. "Kami jarang menerima kontribusi dari luar, Nona, kecuali memang sangat bagus. Tapi silakan saja coba di meja redaksi di dalam."
Valaria memberanikan diri masuk. Setelah lama menunggu, dia bertemu dengan seorang asisten redaksi. Setelah lama berdiskusi, menjelaskan keinginannya dan mengapa dia membutuhkan uang ini, asisten itu menghela napas.
Valaria kemudian memberikan puisi yang dia anggap paling emosional dan puitis. Puisi itu berjudul "Bisikan di Tengah Kabut Pagi," yang melukiskan keindahan dan kepahitan hidup di desa.
Melihat isinya, asisten itu tiba-tiba mengubah raut wajahnya. Dia terdiam sejenak, membaca setiap baris dengan cermat. Matanya yang tajam tampak terpukau. Puisi itu sederhana, jujur, namun memiliki diksi yang kuat dan menyentuh. Karyawan itu segera mencari atasannya untuk dinilai.
Seorang pria tua berkacamata tebal, Tuan Baskara, Pemimpin Redaksi, keluar. Dia membaca puisi itu. Ekspresinya yang awalnya datar berubah menjadi senyum lebar yang mengejutkan.
"Hebat! Ini... ini adalah suara baru. Puitis, namun mudah dicerna," seru Tuan Baskara, suaranya lantang. "Siapa namamu, Nak?"
"Valaria, Tuan."
Melihat puisi yang dibuat, Tuan Baskara segera membayar dan menjalin kerja sama dengannya.
"Kami butuh ini, Valaria. Kami ingin mengisi surat kabar kami dengan konten lokal yang menyentuh. Puisi-mu akan menjadi daya tarik baru," jelas Tuan Baskara.
Valaria setuju dengan mata berkaca-kaca. Dia segera menerima tawaran itu, untuk membuatkan puisi, cerita, atau artikel untuk seminggu dua kali untuk mengisi surat kabarnya.
Tuan Baskara menjelaskan honornya. Harga yang diberikan sekitar Rp3.000 untuk dua puisi, kalau cerita Rp3.500, sedangkan artikel dihargai Rp5.000. Harga yang sangat besar untuk ukuran mereka saat itu.
"Bagaimana?" tanya Tuan Baskara.
"Saya setuju, Tuan! Terima kasih banyak!" jawab Valaria dengan suara tercekat, air mata kebahagiaan nyaris tumpah.
Valaria segera menerima uang sebesar Rp1.500 untuk satu puisi yang dia berikan kepada surat kabar sebagai pembayaran di muka dan bukti kerja sama.
Dengan hati yang berdebar dan tangan yang gemetar, Valaria segera pergi ke radio yang letaknya bersebelahan. Dia ingin memanfaatkan momentum ini.
Di gedung radio, dia bertemu dengan seorang penyiar yang sedang mencari materi siaran. Valaria menyerahkan sebuah syair tentang harapan di tengah kesulitan.
Karena syairnya yang muda dan penuh semangat, pihak radio sangat tertarik. Mereka ingin membelinya. "Kami akan membelinya untuk bahan siaran kami. Kami bayar Rp3.000 untuk syair ini. Bagaimana?"
Valaria setuju tanpa ragu. Hatinya meluap-luap. Setelah itu, Valaria kembali dengan membawa uang Rp4.500 di tangannya. Uang tunai yang besar, hasil dari kata-katanya. Ini adalah sebuah kemenangan kecil yang sangat berarti.
Dia tidak langsung pulang. Uang itu harus segera digunakan untuk kebutuhan mendesak. Dengan daftar belanja yang sudah dia hafal di luar kepala, dia pergi ke pasar kecil di dekat sana.
Dia membeli beberapa barang, Buku tulis baru dengan harga Rp1.000, Pensil seharga Rp200, Penghapus seharga Rp100, Kentang untuk tambahan makanan seharga Rp1.000, Telur seharga Rp750, Minyak goreng seharga Rp1.300. Total belanjanya adalah Rp4.350.
Sisa uang di tangan Valaria masih Rp150 yang ia simpan dengan erat sebelum dibawa pulang. Itu adalah sisa yang berharga, bisa untuk membeli kerupuk atau gula.
Saat Valaria berjalan pulang, membawa tas belanjaan yang terasa berat namun menyenangkan, dia melihat kedai milik orang tuanya dari kejauhan. Kedai itu sudah sepi. Dia tahu alasannya.
Dia melihat kalau jualan sudah habis. Hanya ada keranjang-keranjang kosong. Tape goreng dan bakwan singkongnya laris manis. Jantungnya menghangat.
Raka melihat Valaria yang datang dari kejauhan. Wajah lelah adiknya itu segera cerah. Raka segera memanggilnya dengan lambaian tangan yang antusias.
"Kak Valaria! Habis! Ludes! Gorenganmu luar biasa!" seru Raka, berlari kecil menyambutnya.
Valaria tersenyum, senyum tulus yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia memeluk Raka sebentar, bau minyak dan singkong masih menempel di baju adiknya.
Mereka pulang bersama, berjalan berdampingan di jalanan desa yang basah. Di satu tangan, Valaria membawa bahan makanan; di tangan yang lain, sisa uang dan janji kerja sama di hatinya. Di punggungnya, beban penderitaan seolah sedikit terangkat.
Valaria menatap langit, kabut mulai menghilang, dan matahari akhirnya bersinar penuh. Pagi yang dingin telah berganti menjadi siang yang penuh harapan. Dia tahu, ini baru permulaan, dan kata-kata yang dia ciptakan akan menjadi jembatan bagi keluarganya menuju kehidupan yang lebih baik.