Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Diluar Bar, Syerly memuntahkan seluruh isi perutnya.
Awalnya Syerly ingin menghibur Felix, tapi pada akhirnya ia sendiri yang tidak dapat menahan diri untuk mabuk.
Felix dibelakangnya, terus menerus mengelus punggung Syerly dengan lembut.
"Apa kau baik-baik saja, Syer?"
Dengan susah payah Syerly berdiri lalu menatap Felix. Pandangannya sedikit kabur, namun wajah tampan Felix masih terlihat jelas di hadapannya.
"Aku baik-baik saja." Katanya yakin.
"Tidak peduli seberapa banyak aku minum atau mabuk, aku masih bisa pulang sendiri."
Felix mengernyit, melihat Syerly kembali membungkuk.
"Apa kau selalu mabuk seperti ini setiap kali kau tampil?"
Setelah mengeluarkan isi perutnya, Syerly kembali menatap Felix dengan senyum kecil.
"Tergantung." Jawabnya.
"Ketika aku bahagia aku akan mabuk. Tapi ketika aku tidak bahagia..." Syerly tersenyum lebar.
"Aku juga akan mabuk."
Syerly kembali muntah, membuat Felix akhirnya tak mampu menahan tawa kecil.
"Kau hanya mencari alasan untuk mabuk." Kata Felix dengan senyum lembut.
Felix menyerahkan sebotol air. Syerly menerimanya tanpa ragu, membersihkan mulut lalu membasuh wajahnya. Air dingin itu perlahan menjernihkan kesadarannya.
"Hari ini, kau tidak perlu memesan taxi." Kata Felix.
"Tidak." Tolak Syerly. Ia mengeringkan wajahnya yang basah menggunakan sapu tangan milik Felix.
"Aku akan memanggil taxi." Katanya lagi.
"Mengapa repot-repot mencari taxi?"
Mereka duduk di bangku taman. Felix mendekat, berbisik di telinga Syerly dengan suara rendah dan magnetis.
"Kau bisa menginap ditempatku, seperti terakhir kali."
Syerly sama sekali tidak terpengaruh. Ia melemparkan sapu tangan di tangannya hingga mengenai wajah Felix yang sedang menyeringai.
"Tidur ditempatmu? Dikamar mesummu..." kata Syerly sedikit jijik.
Felix mengambil sapu tangan itu, dan mengangguk sambil menatap Syerly.
Syerly mendengus.
"Aku tahu kau pasti mempunyai niatan buruk."
Felix tersenyum tipis.
"Jangan khawatir!" Katanya.
"Aku berjanji, jika kamu tidak mau, aku tidak akan membawamu kesana."
Lalu Felix merangkul Syerly dan membantunya berjalan menuju mobilnya.
Didalam mobil Felix tidak dapat menahan dirinya untuk terus menerus melirik kearah Syerly yang sedang tidur disampingnya.
Saat lampu merah, mobil berhenti. Felix sekali lagi Felix menoleh kearah Syerly.
Perlahan Felix mengikuti kata hatinya. Ia mendekat dan menatap wajah Syerly yang lembut. Lalu turun kebawah kearah bibirnya yang berwarna merah.
Felix mengecup sebentar bibir itu lalu kembali lagi ketempatnya dengan jantung yang berdegup kencang. Seperti pencuri yang berhasil mencuri harta karun dan kini ia sedang mencoba melarikan diri.
Saat ia mencoba menenangkan diri, suara Syerly terdengar tenang.
"Aku tahu, apa yang baru saja kau lakukan."
Felix refleks menoleh. Syerly masih memejamkan mata.
"Aku tidak tidur," lanjutnya. "Aku hanya sedang pusing."
Felix menelan ludahnya, tidak menyangka ia akan ketahuan. Tapi Felix tidak menyesali perbuatannya sama sekali.
"Ya." Kata Felix akhirnya sambil menghelai nafas pelan.
Felix mengambil selimut dari kursi belakang dan menyelimutkan tubuh Syerly agar tetap hangat. Saat lampu hijau menyala, ia kembali melajukan mobil.
Tanpa sepengetahuan Felix, Syerly memalingkan wajah ke arah jendela. Ia menarik ujung selimut itu, lalu menciumnya pelan.
Aroma yang familiar membuat senyum kecil tersungging di bibirnya. Lalu Syerly kembali tidur lagi.
Saat mobil Felix memasuki pintu gerbang sebuah rumah besar, Syerly membuka matanya.
Syerly menatap bingung rumah besar didepannya.
"Rumah siapa ini?" Katanya mengernyitkan dahinya.
"Rumahku." Jawab Felix tenang.
"Mengapa kau membawaku kesini? Aku ingin kembali." Lalu Syerly dengan cepat keluar dari mobil.
Felix yang melihatnya langsung mengejar Syerly dan memegang tangannya.
"Bukankah tadi kamu bilang kamu tidak suka kamar mesumku?" Tanya Felix.
"Tapi, bukan berarti aku ingin pergi ke rumahmu." Kata Syerly sedikit tajam.
Felix masih tetap tenang dan mencoba membujuk Syerly dengan lembut.
"Tidurlah disini! Aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa kepadamu!"
"Aku ada kelas pagi."
"Aku akan mengantarmu tepat waktu."
"Aku tidak mempunyai baju ganti."
"Kau bisa memakai pakaianku."
"Apa kau gila?" Kata Syerly nadanya sedikit meninggi.
Senyum Felix sedikit melebar.
"Kau bisa sebut itu Style masa kini."
"..." Syerly.
Akhirnya Syerly tidak dapat menemukan alasan untuk menolak Felix yang terus-menerus membujuknya untuk menginap.
Rumah itu sangat besar dan luas. Bangunannya modern dan minimalis, dengan dinding kaca tinggi dan lampu hangat yang menerangi halaman. Sebuah kolam renang besar terbentang di samping rumah, airnya memantulkan cahaya malam dengan tenang.
Ruang tamunya lebar dan rapi. Sofa gelap dan meja marmer terlihat mahal, bersih, dan tertata sempurna.
Namun, meski mewah, rumah itu terasa sunyi. Hanya terdengar langkah kaki mereka dan detak jam, membuat rumah Felix terasa kosong.
Syerly terus menatap sekeliling sementara Felix menuntunnya berjalan di sampingnya. Tiba-tiba pandangan Syerly berhenti pada deretan kaset lama yang tertata rapi di sebuah rak.
Syerly mendekat.
"Aku suka ini." Ia mengambil salah satu kaset dengan sampul band favoritnya.
Felix ikut mendekat, menatap kaset itu sejenak.
"Ohh..." gumamnya pelan.
"Itu bukan milikku, tapi milik ayahku." Katanya dengan tenang, namun suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
"Dia tidak lagi disini." Felix tersenyum kecil.
"Jadi, aku menggunakannya sebagai pajangan rumah."
Syerly menatap Felix, raut wajahnya berubah.
"Aku meminta maaf." Kata Syerly pelan.
"Aku membuatmu sedih. Seharusnya aku tidak menyinggung tentang Ayahmu."
Felix menatap wajah Syerly yang terlihat benar-benar menyesal. Awalnya ia bingung, lalu beberapa detik kemudian ia menyadari kesalahpahaman itu. Tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Ayahku belum meninggal." Katanya sambil tertawa .
Syerly terdiam sebentar, menatap Felix dengan datar.
"Sialan!" Teriaknya lalu memukul pundak Felix dengan kesal.
"Kau berbicara seakan-akan ayahmu sudah meninggal dan meninggalkanmu hidup sendirian. Kau membuat orang lain salah paham."
"Aku memang hidup sendirian." Jawab Felix.
"Tapi orangtuaku pindah ke Amerika."
Syerly menatap foto keluarga Felix yang terpajang di dinding.
"Apakah orangtuamu tidak baik kepadamu." Tanya Syerly dengan hati-hati.
"Sampai kamu tidak mau tinggal bersama mereka?"
Felix menghelai nafas panjang. Ada jeda sebelum ia menjawab.
"Orangtuaku sangat baik kepadaku. Jawabnya lirih.
"Mereka menjagaku, mendukungku, bahkan memanjakanku." Ia tersenyum kecil, namun ada sesuatu yang kosong didalam matanya.
"Tapi, aku memilih tinggal disini, karena aku bisa merasakan kebebasan."
"Apa kamu tidak merasa kesepian?"
Pandangan Syerly menyapu seluruh rumah besar Felix yang tampak megah tapi sunyi.
"Tidak." Jawab Felix tenang.
"Aku sudah terbiasa."
Lalu Felix menatap Syerly.
"Mengapa kau begitu penasaran dengan keluargaku?"
Felix menoleh menatap foto keluarganya, ia sedikit menyipitkan matanya, ada senyum kecil tersungging pada bibirnya sebelum ia menoleh kearah Syerly .
"Mungkinkah kau tertarik dengan Ayahku?" Katanya sambil menyeringai.
Syerly menatapnya tajam.
"Sini.. biar aku bantu kau bersihkan otak kotormu!"
Ia memukul Felix tanpa ampun.
Untuk sesaat, mereka saling bercanda, tertawa, dan saling membalas godaan.
---
Di dalam kamar mandi, Syerly berdiri di depan cermin hanya mengenakan pakaian dalam. Pandangannya tertuju pada sebotol parfum di depannya.
Saat ia menyemprotkan parfum ke udara, aroma yang familiar langsung memenuhi ruangan. Syerly tersenyum kecil sambil menghirupnya perlahan, seakan aroma itu membawa kenangan yang sulit dijelaskan.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Dari pantulan cermin, Syerly melihat Felix masuk.
"Kau tidak mengunci pintu." Kata Felix. "Apa kau ingin menggodaku?"
Felix melangkah mendekat, lalu memeluk Syerly dari belakang. Tubuh mereka bersentuhan. Felix menunduk, menghirup aroma parfumnya sebelum bibirnya menyentuh leher Syerly perlahan, hampir menggoda kesabarannya.
"Apakah dikepalamu hanya ada seks saja?" Tanya Syerly dengan jijik.
"Pergi!" Syerly mendorong Felix dengan sikunya.
"Aku mau mandi."
Namun Felix tidak bergerak sedikitpun. Ia justru mempererat pelukannya dan menyandarkan dagunya di bahu Syerly.
"Aku tidak mau pergi." Katanya memohon.
"Ayo kita mandi bersama! Bukankah itu akan menghemat waktu?" Bujuknya.
"Aku berjanji, tidak akan melakukan apapun!"
Syerly tiba-tiba berbalik. Jarak mereka begitu dekat, napas mereka saling bersentuhan.
"Baiklah." Jawab Syerly lembut.
Felix tersenyum lebar dan mulai melepaskan kain di antara mereka.
Di bawah pancuran air, mereka berdiri saling berhadapan. Air hangat mengalir di antara mereka, membungkus tubuh dan emosi yang sulit dikendalikan. Felix menepati janjinya, meski matanya tak bisa berhenti menjelajah, dan tangannya sesekali menyentuh.
Sentuhan dan ciuman lembut itu membuat jantung mereka sama-sama berdegup dengan kencang.
30 menit kemudian.
Syerly tersenyum kecil dengan penuh arti, sebelum melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan Felix dibawah pancuran, dengan napas berat dan kendali diri yang nyaris runtuh.