"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
“Wah, wah, bisa juga ya, kamu Cit, sok-sokan jadi Nyonya rumah.” Suaranya dingin, nyaris menusuk. “Emang kamu centil begini ya, hobi menggoda. Di rumah aja pake make up.”
Citra menoleh perlahan. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. “Perhatikan cara bicaramu, Cantika. Aku Mama mertuamu. Aku memang nyonya di rumah ini, aku hanya bersikap sebagaimana mestinya. Kau juga harusnya bersikap sama. Sadar posisi.”
Cantika menyilangkan tangan di dada. “Aku sangat sadar, Cit.”
"Mama! Atau kau mau memanggil Nyonya? Sudah kubilang jaga sikapmu! Atau kau mau keluar dari sini!?" Suara Citra meninggi.
"Huh!" Cantika membuang muka."Sombong! Apa coba maksudmu mesra-mesraan gitu?"
Citra mendekat dua langkah, senyumnya berubah menjadi dingin. “Oh, jadi kamu risih, ya?” tanyanya lembut tapi tegas. “Padahal ini rumahku. Mau aku mesra sama suamiku tiap hari juga, mau pakai make up, atau baju seksi, nggak ada yang salah, kan?”
Cantika mendengus. “Rumah kamu? Bukannya rumah Papa Rama?”
“Betul,” jawab Citra cepat. “Dan aku istrinya. Artinya, aku nyonya rumah di sini. Kamu cuma numpang karena suamimu anak Papa Rama. Kalau aku nggak setuju, kamu pikir kamu bisa tinggal di rumah ini?”
Nada Citra berubah tajam, tapi tetap elegan. “Jadi, saran aku—jaga sikapmu, Cantika. Ingat, aku bukan cuma istri Rama, tapi sekarang juga mertua kamu.”
Cantika memerah, menahan amarah yang mendidih di dadanya. Tapi ia tak bisa membalas. Kalimat itu benar, dan ia tahu posisinya lemah.
Citra menatapnya sejenak, lalu berbalik tenang. “Sekarang aku mau siap-siap ke kampus. Kalau butuh sesuatu, bilang ke Mbak Narti atau yang lain. Ingat, rumah ini juga punya aturan. Minta tolong lah dengan cara yang baik.”
Langkah kakinya mantap menaiki tangga, meninggalkan Cantika yang tertegun dengan wajah masam.
Di Kamar
Begitu pintu tertutup, Citra duduk di tepi ranjang dan menghela napas panjang. “Astaga, baru pagi udah ribut lagi,” gumamnya. Ia menunduk, menatap tangannya yang sedikit gemetar. “Tinggal serumah begini bikin capek batin.”
Ia berdiam lama, lalu mulai berdandan kembali, merapikan rambut, memoles lipstik tipis, berusaha meneguhkan hati. Ia tahu, menghadapi Rava dan Cantika bukan perkara mudah. Tapi ia tak akan mundur.
******
Saat Citra hendak turun dengan tas selempang, langkahnya terhenti. Rava sudah berdiri di bawah tangga, bertopang pada tongkatnya. Wajahnya tegang, matanya dalam.
“Citra,” panggilnya pelan.
Citra berhenti di anak tangga terakhir, memandangnya datar. Ia lelah—terlalu lelah untuk basa-basi. “Mama! Harus berapa kali saya bilang? Kau harus tau batasan, Rava!”
Rava menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan—tentang rindu, tentang masa lalu yang belum selesai. Tapi bibirnya kelu.
"Maaf, Ma."
"Katakan ada apa? Saya masih ada keperluan di kampus."
Rava masih diam, lidahnya benar-benar kelu sekarang.
Citra memutuskan lebih dulu bicara. “Kamu dan istrimu harus tahu posisi,” ujarnya dingin. “Aku istri sah Papa kamu. Itu artinya aku mama kamu sekarang. Jadi, tolong… hargai aku sebagaimana kamu menghargai orang tua.”
Nada suaranya tajam, tapi juga menyakitkan di telinga Rava.
“Maaf, Mama Citra, sebenarnya aku…” hanya itu yang keluar dari mulutnya, lirih dan serak.
Namun Citra sudah melangkah melewatinya, wangi parfumnya samar tercium. “Waktumu habis, saya harus pergi. Tolong jangan bikin masalah di rumah ini,” ucapnya tanpa menoleh.
Rava terpaku, menatap punggung wanita itu menjauh. Ia tahu, Citra yang berdiri di hadapannya bukan lagi wanita yang dulu ia cintai. Ada dinding tinggi di antara mereka, dibangun dari luka, kekecewaan, dan dendam yang tersisa.
*****
Mobil hitam meluncur keluar dari halaman. Citra duduk di kursi belakang, menatap jalanan yang ramai, tapi pikirannya kosong.
Lalu, tanpa sadar, air matanya menetes.
Pak Saman, sopir keluarga itu, melirik dari kaca spion. “Bu Citra… Ibu nggak apa-apa?”
Citra buru-buru menyeka pipinya. “Aku cuma ingat tontonan drama Cina yang sedih banget, Pak,” ujarnya sambil tertawa kecil, memaksa.
“Oh… saya kira Ibu kenapa,” jawab sang sopir polos. “Saya pikir, mungkin Ibu capek.”
Citra tersenyum, menatap ke luar jendela. “Enggak kok, Pak. Maaf ya, udah bikin pak Saman jadi mikir yang enggak-enggak.”
Ia berbisik pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar. “Capek karena hidupku sendiri udah kayak drama.”
****
Sementara itu, di kantor, Rama tengah sibuk menatap layar laptopnya. Namun senyum kecil tak lepas dari wajahnya. Ia teringat pagi tadi—tatapan Citra, cara istrinya menyuapi, dan godaannya yang manja.
Ia menggeleng pelan, tersenyum. “Citra itu… ada-ada aja,” gumamnya. “Dia agak berbeda pagi ini, tapi... Sikap manjanya malah bikin aku makin sayang.”
Baru saja ia menunduk untuk melanjutkan pekerjaan, suara pintu terbuka tiba-tiba. Rama menoleh cepat. Wajahnya kaget melhat siapa yang datang.
Siapa ya, kira-kira yang datang, tebak, tulis di komentar ya. 😉
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭