NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang dengan tangan kosong? tentu tidak

Hari keempat belas.

Matahari pagi keempat belas menyinari hutan terdalam dengan cahaya keemasan. Salju tipis yang turun semalam mulai mencair, meninggalkan genangan air di setiap lekukan tanah. Di dalam gua kecilnya, Jinyu membuka mata dengan perasaan berbeda.

Hari terakhir.

Ia bangkit, meregangkan tubuh. Luka-luka di lengannya sudah mengering sempurna. Fisik iblisnya memang mempercepat penyembuhan, meski sistem selalu mengingatkan bahwa ini tidak akan bertahan selamanya. Xiao Hu bayi harimau itu sudah bangun, merangkak di sekitarnya dengan rasa lapar.

"Sebentar, kau kuberi makan."

Jinyu mengeluarkan daging harimau asap dari dimensi, memotong kecil-kecil untuk Xiao Hu. Yoyo ikut mendekat, menagih jatahnya. Ular perak itu sudah terbiasa dengan ritual pagi ini.

["Jinyu, hari terakhir. Kau harus kembali ke kamp."]

Aku tahu.

["Dua tahanan di dimensi... mereka dalam kondisi kritis. Yang satu kehabisan darah parah. Yang lain mulai demam tinggi akibat infeksi luka."]

Jinyu mengerutkan dahi. Ia membuka pintu dimensi, masuk ke dalam. Di ruang kosong yang gelap, dua pria tergeletak tak sadarkan diri. Perban darurat yang ia buat seminggu lalu sudah kotor dan lepas. Bau darah dan nanah memenuhi udara.

Yang satu pemimpin dengan kondisi pucat pasi, napasnya tersengal-sengal. Luka di leher dan perutnya sudah membusuk. Yang lain penjaga yang selamat demam tinggi, tubuhnya menggigil meski di ruang bersuhu stabil.

Jinyu menatap mereka dengan datar. Kalau mereka mati sebelum sampai kamp, percuma.

["Tepat. Kau butuh mereka hidup untuk diinterogasi."]

Bisa kau obati?

["Bisa. Tapi butuh pil penyembuh. Mahal."]

Berapa?

["Dua pil. Total 200 poin. Stok poinmu sekarang 180."]

Jinyu menghela napas. Sistem, aku tahu kau punya stok cadangan.

["......"]

Keluarkan pilnya. Nanti aku ganti dengan herbal. Dua kali lipat.

["......tiga kali lipat."]

Sepakat.

Dua pil merah muncul di telapak tangan Jinyu. Ia membuka mulut kedua pria itu, memasukkan pil satu per satu. Lalu dengan gerakan cepat, ia membalut ulang luka-luka mereka dengan perban bersih dari persediaan medis di dimensi.

Dalam beberapa menit, napas pemimpin itu mulai stabil. Warna pucatnya berangsur membaik. Yang satunya demamnya mulai turun.

["Pil bekerja. Mereka akan bertahan setidaknya 24 jam."]

Cukup. Aku akan sampai kamp sore ini.

Jinyu keluar dari dimensi. Ia memandangi Xiao Hu yang sudah kenyang, lalu menggendongnya dengan kain bersih yang ia siapkan dari dalam dimensi. Bayi harimau itu nyaman, tertidur lagi.

Sekarang, masalah berikutnya: membawa dua pria dewasa seberat 50 kg masing-masing.

["Kau bisa?"]

Tentu.

Jinyu kembali ke dimensi, mengangkat kedua pria itu di satu di bahu kiri, satu di bahu kanan. Tubuh mungilnya yang 1,4 meter tampak tak seimbang, tapi ia berjalan tegap. Kekuatan iblisnya masih cukup untuk ini.

Ia keluar gua, memulai perjalanan pulang.

Perjalanan setengah hari. Jinyu berjalan cepat meski membawa beban berat. Kakinya melangkah mantap di atas tanah beku, salju, dan bebatuan. Sesekali ia berhenti untuk mengatur napas, lalu melanjutkan.

Yoyo melingkar di kepalanya, ikut menjaga keseimbangan. Ular perak itu sudah muak dengan goyangan, tapi tetap bertahan.

Shshsss~ "Jinyu, kau yakin tidak mau istirahat?"

Nanti saja. Aku ingin cepat sampai.

Di tengah perjalanan, Xiao Hu terbangun dan merengek lapar. Jinyu terpaksa berhenti, memberinya makan daging sisa. Sistem mengeluh karena perjalanan molor, tapi Jinyu cuek.

Akhirnya, menjelang sore, ia sampai di tepi sungai yang tidak jauh dari kamp. Ia mengenali tempat ini hanya 2 kilometer lagi.

Tapi ia tidak langsung masuk.

Jinyu meletakkan kedua pria itu di tepi sungai, lalu menatap bayangannya di air. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh coretan darah kering dan lumpur. Baju latihannya sudah robek di sana-sini, penuh noda.

Tidak bisa begini masuk kamp.

Ia melepas baju, masuk ke sungai. Air dingin menusuk tulang, tapi ia tahan. Dengan sabun batang dari dimensi, ia membersihkan tubuh, rambut, dan kukunya. Luka-luka di tubuhnya terlihat jelas, tapi itu bagian dari ujian.

Setelah bersih, ia mengganti baju dengan pakaian cadangan, baju merah terang kesukaannya, yang ia bawa dari rumah. Baju itu sudah terlalu kecil? Ternyata masih muat, karena ia sengaja memilih yang agak longgar. Rambutnya ia sisir rapi dengan jari, membiarkannya tergerai sebahu.

Xiao Hu ia bersihkan juga dengan kain basah, lalu digendong lagi dengan kain bersih yang baru. Bayi harimau itu tampak lucu dengan bulu oranye yang mulai mengembang.

Yoyo? Jinyu menyuruhnya masuk dimensi. Ular perak itu tidak perlu dilihat orang banyak.

Selesai, ia menatap dua pria itu. Mereka masih pingsan, tapi napas stabil. Jinyu mengangkat mereka lagi, satu di bahu kiri, satu di bahu kanan. Xiao Hu di dada, terbungkus kain.

Lalu ia melangkah menuju kamp.

Gerbang kamp terlihat dari kejauhan. Bendera merah berkibar di tiang. Para penjaga berjaga seperti biasa. Tapi saat sosok kecil muncul dari balik pepohonan, mereka terbelalak.

"ITU... SU JINYU!"

"CEPAT LAPORKAN PADA KOMANDAN!"

Jinyu berjalan mendekat. Ia melihat para penjaga membuka gerbang lebar-lebar. Di belakang mereka, orang-orang mulai berkumpul dari peserta latihan, instruktur, semua tertarik.

Xia Feng dan Lin Yue yang sedang latihan di lapangan langsung berlari. Wajah mereka berubah saat melihat Jinyu.

"JINYU!" teriak Xia Feng.

Mereka berlari, tapi tiba-tiba berhenti. Mata mereka terbelalak melihat apa yang Jinyu bawa.

Dua pria dewasa terluka parah, terbungkus perban, tergantung di bahu kiri dan kanan. Dan di dada Jinyu, seekor bayi harimau tidur nyenyak.

"ITU... APA?!" Lin Yue menjerit.

Xia Feng mundur selangkah. "Jinyu, kau... bawa apa?"

Jinyu menatap mereka datar. "Tahanan. Dan anak harimau."

Ia berjalan melewati mereka, menuju gerbang. Semua orang membuka jalan, mulut mereka kompak terbuka.

Di gerbang, dua penjaga berdiri kaku. Jinyu menyerahkan kedua pria itu pada mereka. "Bawa ke ruang medis. Mereka mata-mata asing. Sisanya sudah mati."

Penjaga itu hampir jatuh menerima beban. "M-mata-mata?!"

"Iya. Cepat."

Jinyu lalu berjalan lurus menuju ruang instruktur. Ia tidak peduli dengan kerumunan yang mulai mengelilinginya.

Xia Feng dan Lin Yue mengejar. "JINYU! TUNGGU! KAU BAIK-BAIK SAJA?!"

Jinyu menoleh sebentar. "Baik. Nanti ngobrol."

Di ruang instruktur, Komandan Lei sedang membaca laporan. Pelatih Wu dan beberapa instruktur lain duduk di samping. Pintu terbuka tanpa ketukan.

Jinyu masuk. Xiao Hu masih di dadanya.

Komandan Lei mengangkat kepala. Matanya melebar hampir tidak percaya. Jinyu bersih, rapi, membawa bayi harimau. Tidak seperti orang yang baru dua minggu di hutan.

"Jinyu... kau—"

Jinyu meletakkan Xiao Hu di kursi kosong, lalu berdiri tegak di hadapan Komandan Lei. Ia memberi hormat.

"Laporan, Komandan. Ujian dua minggu selesai. Saya bertahan sesuai instruksi."

Komandan Lei mengangguk perlahan. "Kau... bersih."

"Saya membersihkan diri di sungai sebelum masuk, Komandan. Tidak pantas kembali dengan keadaan kotor."

Pelatih Wu nyaris tersedak. Instruktur lain saling pandang. Anak ini... pikirannya luar biasa.

Jinyu melanjutkan, "Selama dua minggu, saya berhasil bertahan. Membangun tempat tinggal, berburu, mengatasi cuaca ekstrem. Juga bertarung dengan harimau."

Ia menunjuk Xiao Hu. "Ini anak harimau itu. Induknya saya bunuh, tapi anaknya selamat. Saya memeliharanya."

Komandan Lei mengangkat alis. "Kau pelihara anak harimau?"

"Iya, Komandan. Dia tidak punya induk."

Pelatih Wu menggeleng-geleng tak percaya. Tapi Jinyu belum selesai.

"Selain itu, Komandan, saya menemukan sesuatu di hutan."

Ia mengeluarkan tumpukan dokumen dari balik bajunya sebenarnya dari dimensi, tapi ia pura-pura mengambil dari saku dalam. Dokumen-dokumen itu ia letakkan di meja Komandan Lei.

Peta militer China dengan tanda-tanda rahasia. Foto-foto instalasi militer. Surat-surat berbahasa Jepang. Dan daftar nama.

Komandan Lei mengambil satu dokumen, membacanya. Wajahnya berubah. Pelatih Wu ikut melihat, ikut pucat.

"Ini... ini dokumen rahasia. Markas kami. Jalur logistik. Semua ada di sini." Komandan Lei menatap Jinyu tajam. "Di mana kau dapat ini?"

Jinyu menjawab tenang. "Di gua tersembunyi, Komandan. Ada mata-mata asing di sana. Lima orang. Saya membunuh tiga, membawa dua yang masih hidup. Mereka sudah saya serahkan ke penjaga gerbang."

Hening.

Pelatih Wu berdiri, suaranya bergetar. "Kau... kau membunuh tiga mata-mata?"

"Iya, Pelatih."

"Mereka dewasa? Bersenjata?"

"Iya."

"Dan kau... anak 5 tahun... membunuh mereka?"

Jinyu menatapnya datar. "Mereka lemah. Lambat. Tidak siap."

Komandan Lei menghela napas panjang. Ia menatap Jinyu dengan tatapan baru antara campuran kagum, heran, dan... takjub.

"Jinyu, kau tahu apa arti penemuan ini?"

Jinyu menggeleng. "Tidak, Komandan."

"Dokumen ini mengungkap jaringan mata-mata asing yang sudah lama kami cari. Nama-nama ini... lokasi-lokasi ini... semua akan kami tindak." Komandan Lei berdiri, berjalan mendekat. "Kau, seorang anak 5 tahun, dalam ujian survival, tanpa sengaja membongkar konspirasi besar."

Jinyu diam. Dalam hati, ia tersenyum. Bukan tanpa sengaja. Tapi biarlah.

Komandan Lei meletakkan tangan di bahu Jinyu. "Kau hebat, Jinyu. Lebih dari hebat."

Dari luar, terdengar keributan. Xia Feng dan Lin Yue berhasil masuk, diikuti beberapa peserta lain. Mereka semua menatap Jinyu dengan takjub.

"JINYU! KAU SELAMAT!" Lin Yue langsung memeluknya, menangis. Xia Feng ikut memeluk dari samping.

Jinyu kaku. Pelukan lagi. Tapi kali ini... hangat.

"Aku kira kau mati!" isak Lin Yue.

"Aku juga!" timpal Xia Feng.

Jinyu tersenyum tipis. "Masih hidup."

Xiao Hu yang terbangun merengek, membuat semua terkejut.

"ITU APA?!" teriak Xia Feng mundur.

"Ini Xiao Hu. Anak harimau."

"ANAK HARIMAU?!"

Lin Yue malah mendekat, matanya berbinar. "Imut... boleh kutimang?"

Jinyu mengangguk. Lin Yue menggendong Xiao Hu dengan hati-hati. Bayi harimau itu menjilat tangannya, membuat Lin Yue menjerit bahagia.

Suasana ruangan yang tadinya tegang, kini hangat.

Satu jam kemudian, Jinyu dipanggil lagi ke ruang Komandan Lei. Kali ini lebih resmi. Di dalam, Komandan Lei duduk di kursi utama, dikelilingi para perwira tinggi yang tiba-tiba datang. Pelatih Wu dan instruktur lain juga ada.

"Su Jinyu," Komandan Lei memulai. "Atas jasamu menemukan jaringan mata-mata asing dan membawanya hidup-hidup, militer memutuskan untuk memberimu penghargaan."

Jinyu diam, menunggu.

"Kau akan diangkat sebagai prajurit kehormatan. Pangkat... Letnan Muda."

Jinyu mengerjapkan mata. Letnan? Umur 5 tahun?

Pelatih Wu menjelaskan, "Ini pangkat kehormatan, Jinyu. Tidak ada tugas wajib. Tapi kau resmi menjadi bagian dari militer China. Hak dan fasilitas prajurit resmi."

Komandan Lei menyerahkan sebuah kotak kecil. Jinyu membukanya. Di dalam, seragam militer mini pas untuk ukurannya dengan tanda pangkat sersan muda. Juga sebuah lencana kehormatan.

"Terima kasih, Komandan."

"Ini belum sebanding dengan jasamu," Komandan Lei tersenyum. "Tapi ini awal."

Jinyu memberi hormat. Para perwira bertepuk tangan.

Malam harinya, di kamar, Jinyu berbaring. Xiao Hu tidur di sampingnya, Yoyo melingkar di perutnya. Ia menatap seragam militer yang tergantung di dinding.

["Letnan Muda. Umur 5 tahun. Rekor baru."]

Bukan rekor yang kuinginkan.

["Tapi lumayan, kan?"]

Iya.

Shshsss~ "Jinyu, kau senang?"

Jinyu diam. Lalu ia tersenyum kecil.

Aku senang bisa pulang.

Di luar, angin malam berdesir. Besok, ia akan mulai latihan biasa lagi. Tapi sekarang, ia hanya ingin menikmati malam ini dengan Xiao Hu, Yoyo, dan sistem yang terus mengoceh.

Hidup di era 60-an memang aneh.

Tapi ia menyukainya.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!