NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahpahaman yang Lucu

Setelah Farzhan pulih sepenuhnya, suasana di kediaman kini terasa berbeda. Sangat berbeda. Udara yang biasanya kaku, dingin, dan penuh tekanan, kini berubah menjadi lebih tenang, hangat, dan sejuk seolah musim semi datang menggantikan musim dingin yang panjang dan beku.

Farzhan benar-benar berubah. Bukan menjadi lemah atau kehilangan wibawa, namun ketegasan dan sikap dinginnya kini dibalut dengan rasa pengertian yang jauh lebih besar.

Pria yang dulu dikenal dengan wajah datar tanpa ekspresi, suara tegas yang menggelegar, dan daftar aturan setebal kamus yang diterapkan mutlak, kini terlihat jauh lebih lunak dalam bertindak. Ia tidak lagi langsung mengeluarkan sanksi atau menegur keras jika melihat Vira melakukan kesalahan kecil. Jika dulu Vira sering mendapat konsekuensi berat sesuai pasal demi pasal Aturan 2.0 mulai dari mencuci piring, membersihkan kaca, hingga denda. Sekarang ketentuan-ketentuan itu seolah menjadi panduan saja, bukan lagi ancaman yang menakutkan.

Pagi itu, misalnya. Vira tidak sengaja membuat pinggiran telur dadarnya agak gosong karena terlalu lama menunggu air mendidih. Ia sudah siap mental, menunduk dan menahan napas, bersiap menerima teguran tajam atau sanksi sesuai aturan "Hasil kerja tidak maksimal".

"Maaf Zhan... telurnya gosong dikit bagian pinggirnya. Aku buang aja ya, terus aku masak yang baru," kata Vira cepat, bersiap berlari kembali ke dapur.

Tapi Farzhan hanya melirik sekilas dengan tatapan tenang, lalu menyendok telur itu ke piringnya. Wajahnya tetap datar, namun nada bicaranya lembut.

"Tidak apa-apa. Yang penting matang sempurna dan aman dikonsumsi kan? Gosong sedikit justru menambah aroma smoke. Enak kok. Duduklah, kamu juga ikut makan."

Vira ternganga diam di tempat.

Hah?! Ini Farzhan yang sama kan?! Orang yang dulu sampai marah besar cuma karena rasa masakan kurang sebutir garam?!

Begitu juga soal kebersihan dan ketertiban yang dulu jadi hal paling krusial. Jika dulu Vira lupa menaruh remot TV tepat di garis tengah meja, pasti langsung kena semprot habis-habisan dan barangnya disita. Sekarang? Farzhan hanya akan mengambil benda itu sendiri, menaruhnya di posisi yang benar dan rapi, lalu berkata pelan tanpa nada menghakimi,

"Lain kali taruh di sini ya, biar tetap rapi dan mudah dicari." Tanpa teriak, tanpa denda, tanpa hukuman yang merugikan dirinya.

Vira jadi bingung sendiri. Awalnya ia was-was, curiga bahwa ini adalah 'masa tenang sebelum badai besar datang'. Ia berpikir mungkin Farzhan sedang menyusun aturan baru yang lebih kejam. Namun hari demi hari berlalu, Farzhan tetap saja berlaku adil, sabar, dan jauh lebih hangat dalam bersikap.

Ternyata, masa sakit itu benar-benar mengubah sesuatu di antara mereka. Rasa terima kasih yang mendalam, kepercayaan yang tumbuh saat saling menjaga, dan rasa nyaman yang muncul saat satu sama lain berada di titik terendah, perlahan meluluhkan tembok tinggi yang selama ini mereka bangun sebagai pembatas. Tanpa sadar, keduanya mulai mengisi ruang kosong di hati masing-masing dengan rasa saling membutuhkan yang tulus, meski belum ada satu pun kata manis yang terucap.

 

Malam itu, suasana sangat tenang dan nyaman. Farzhan duduk di ruang tengah membaca berkas laporan kerja dengan cermat, sementara Vira duduk di sofa lain agak jauh, sesekali melihat layar ponsel atau menonton TV dengan volume sangat rendah agar tidak mengganggu.

Tiba-tiba, Farzhan menutup berkasnya perlahan. Ia meletakkannya rapi di meja, lalu menatap Vira dengan tatapan serius namun lembut.

"Vi," panggilnya rendah dan jelas.

"Iya Zhan?" Vira langsung menoleh, menutup ponselnya.

"Besok kan hari Jumat. Ada pertemuan bisnis penting dengan klien lama. Aku mau pakai baju batik warna biru tua bermotif awan itu ya. Tolong disetrika dengan rapi, kancing lengkap, dan harus wangi. Siapkan juga dasi dengan warna yang senada," instruksi Farzhan. Nada bicaranya tetap seperti memberi perintah, namun kali ini terdengar sopan dan penuh kepercayaan.

"Oke! Siap! Besok aku siapkan rapi sesuai dengan selera kamu," jawab Vira ceria. Senang rasanya bisa melayani dan bertanggung jawab tanpa rasa takut dihukum jika sedikit saja ada kesalahan.

"Dan..." Farzhan tampak ragu-ragu sejenak. Ia membuang muka sebentar, dan di bawah cahaya lampu kuning itu, terlihat jelas telinganya memerah samar.

"Malam ini aku ingin istirahat total dengan nyenyak agar besok kondisi fisik dan pikiran fit kembali. Jadi, tolong siapkan dirimu, ya."

Vira mengerutkan kening bingung, memiringkan kepalanya. "Siapkan diriku? Siapkan apa? Bantal tambahan? Guling baru? Atau mau aku buatkan susu hangat dulu biar tidurmu nyenyak?"

Farzhan menggeleng pelan. Ia kembali menatap mata Vira lekat-lekat, berusaha mengirimkan sinyal sejelas mungkin menurut pemahamannya sendiri.

"Bukan itu.. Hmmm, datang ke kamar nanti."

JLEB!

Waktu seakan berhenti berputar.

Vira terpaku diam di tempatnya. Matanya membelalak lebar, wajahnya seketika berubah merah matang seperti kepiting rebus. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali.

Hah?! Aku?! Datang ke kamar kamu?!

Maksudnya apa itu?!

Malam ini?!

Masa iya... setelah sekian lama kita pisah kamar, pisah ranjang, ada aturan ketat batasan jarak aman... tiba-tiba dia minta gitu?!

Otak Vira langsung bekerja keras memproses informasi itu dengan versi pemahaman seorang wanita yang mulai merasa nyaman dan dekat dengannya.

Ya ampun... berarti dia mau ngajak... ngajak... melaksanakan hak dan kewajiban suami istri seutuhnya?!

Berarti aturan jaga batas aman dicabut diam-diam?!

Berarti malam ini kita tidur satu ranjang?!

Pikiran-pikiran liar dan bahagia itu memenuhi kepalanya. Ia menatap Farzhan yang terlihat begitu tampan, misterius, dan serius di bawah cahaya lampu.

Farzhan melihat reaksi Vira yang diam terpaku dan wajahnya yang memerah hebat, ia mengira istrinya mengerti sepenuhnya apa yang ia butuhkan. Ia pun jadi ikut merasa canggung, malu, dan gengsi luar biasa.

"Ya udah, aku mandi dulu ya. Kamu siap-siap saja dulu di situ. Nanti masuk kalau aku sudah panggil," kata Farzhan pelan, lalu buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya, menutup pintu dengan cepat namun tidak terlalu keras.

Vira masih terpaku di sofa. Tangannya gemetar memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Ya Tuhan, jantungku rasanya mau terbang!" gumam Vira panik tapi perasaannya melayang senang.

"Jadi malam ini malam yang dia tunggu-tunggu ya?! Jadi aku harus pakai baju tidur yang mana nih?! Yang agak sopan tapi manis, atau yang sedikit anggun?! Aduh maluuuu tapi deg-degan setengah mati!"

Tanpa buang waktu, Vira langsung lari terbirit-birit masuk ke kamarnya sendiri. Ia buru-buru membuka lemari pakaiannya, mencari-cari baju tidur terbaik yang ia miliki.

"Yang ini... ah terlalu biasa. Yang ini... ah terlalu tertutup. Hmm! Yang ini aja! Baju tidur bahan satin warna soft pink, potongannya sederhana tapi anggun, manis dan cantik!"

Ia buru-buru mandi dengan cepat namun teliti, memakai sedikit parfum agar wangi semerbak, merapikan rambutnya sampai terlihat berkilau, dan memoles wajahnya dengan riasan tipis agar terlihat segar.

Selesai bersiap, Vira berdiri di depan cermin, menarik napas panjang berkali-kali untuk menenangkan diri. Wajahnya merah merona, senyumnya tak pernah hilang dari bibir.

"Oke Vira, tenang. Tarik napas. Ini hal wajar. Kamu istrinya sah, dia suamimu sah. Sudah halal dan sah menurut aturan agama dan negara. Jangan gugup, jangan kaku. Lakukan saja dengan ikhlas dan sopan," bisiknya pada diri sendiri.

Dengan langkah gemetar dan jantung yang rasanya mau meledak keluar, Vira berjalan menuju pintu kamar utama Farzhan, kamar yang selama ini menjadi zona merah untuk ia kunjungi.

Ia mengangkat tangannya, mengetuk pintu pelan sekali.

Tok... tok... tok...

Dari dalam terdengar suara Farzhan yang sudah berubah menjadi berat dan santai.

"Masuk."

Vira memutar gagang pintu perlahan. Pintu terbuka lebar.

Di dalam kamar yang suasananya hangat dan remang itu, Farzhan sudah berganti baju tidur santai berwarna gelap. Ia duduk di tepi kasur yang besar dan empuk, sedang memijat-mijat betis dan kakinya yang terlihat sedikit bengkak, sementara di tangan satunya ia memegang sebuah botol berisi minyak urut wangi zaitun.

Melihat Vira masuk dengan penampilan yang rapi, cantik, wangi semerbak, dan wajahnya yang merah padam menunduk malu-malu, Farzhan tersenyum lebar, senyum paling lebar yang pernah Vira lihat darinya.

"Wah, cepat banget siapnya. Bagus, sangat rapi dan wangi. Sini, sini, dekat sini," panggilnya ramah.

Vira melangkah masuk perlahan, hati-hati sekali. Ya Allah... ini benar-benar terjadi. batinnya melayang penuh harap.

"Ehm... aku sudah siap, Zhan..." bisik Vira sehalus mungkin, suaranya bergetar menahan rasa gugup yang luar biasa.

Farzhan mengangguk puas, lalu menyodorkan botol minyak urut itu ke arah Vira, sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya di atas kasur empuk itu.

"Bagus. Sini duduk dekat aku. Tangan kamu kan kemarin waktu aku sakit katanya kuat dan enak kalau dipakai memijat. Sekarang kakiku pegal dan kaku seharian kerja duduk dan jalan. Tolong bantu urut sampai hilang pegalnya, ya."

......................................

DEG!

Vira tertegun. Kaku. Seolah tersambar petir di siang bolong.

Mata mereka bertemu.

Farzhan menatapnya antusias, menunggu-nunggu tangan istrinya menyentuh kakinya.

Vira menatapnya dengan wajah shock setengah mati, mulutnya sedikit terbuka tak percaya.

Hah?! Urut kaki? Sampai hilang pegalnya?

Jadi yang dia maksud 'siapkan diri kamu' itu cuma buat jadi tukang pijit saja?!

Wajah Vira yang tadi merah padam karena malu dan harapan, sekarang berubah menjadi pucat pasi, lalu kembali merah padam kali ini karena Sangat Malu dan Kesal Setengah Mati!

Jadi... selama ini aku salah paham besar?! seru Vira dalam hati, rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya dan langsung mengubur dirinya ke dalam tanah sekarang juga.

Farzhan mengernyitkan dahi melihat ekspresi Vira yang berubah drastis dan aneh.

"Kenapa kaget gitu? Kan kamu sendiri yang bilang siap melayani dan bertanggung jawab. Yuk yuk, langsung mulai. Ini sih sebagai lanjutan waktu aku sakit kamu rawat dan pijat aku terus, sekarang kamu layani aku lagi. Lagipula ini masuk kewajiban saling membantu dalam Aturan 2.0 kan? Ayo cepat." Farzhan menarik tangan Vira pelan dan menyodorkan kakinya yang kaku.

Vira menatap botol minyak urut itu, lalu menatap wajah suaminya yang terlihat begitu polos, santai, dan tidak tahu apa-apa soal pemahaman Vira tadi.

Ya ampun Farzhan Ibrahim! Kamu ini ya! Bikin orang salah sangka besar-besaran! Bikin orang deg-degan, berdandan cantik, dan berharap macam-macam! Ternyata hanya untuk mengurut kakinya aja!

Tapi mau bagaimana lagi? Statusnya memang istri yang harus patuh dan saling melayani. Aturan pun memang mengutamakan kerja sama. Dan dia memang sudah 'siap' akan hal itu.

Dengan wajah manyun, bibir yang cemberut, dan hati yang dongkol campur malu setengah mati, Vira akhirnya duduk di sisi kasur itu, menuangkan minyak ke tangannya.

"Huft! Iya-iya! Tukang pijit pribadi datang melayani!" gerutu Vira pelan sambil mulai mengusap kaki suaminya.

"Tapi ingat ya, Pak Tuan Muda, biayanya mahal lho! Nanti aku tagih utang jasanya!"

Farzhan tersenyum puas, memejamkan mata menikmati pijatan halus dari tangan istrinya. Rasa lelahnya perlahan hilang terganti rasa nyaman dan tenang.

"Iya... terima kasih, ya. Enak sekali rasanya," jawabnya pelan, tanpa sadar matanya terpejam.

Dan begitulah kesalahpahaman paling lucu dan memalukan dalam sejarah pernikahan mereka. Malam yang seharusnya penuh tafsir romantis, berubah menjadi sesi pijat refleksi yang hangat, akrab, dan penuh tawa yang hanya tersimpan di dalam hati Vira saja.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!