Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 — Hancur
Hujan turun deras malam itu.
Langkah Alya berjalan cepat meninggalkan rooftop sekolah sambil menahan sesak di dadanya.
Air matanya bercampur dengan air hujan.
Namun rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih menyakitkan daripada dinginnya malam.
“Alya!”
Suara Reno terdengar dari belakang.
Namun Alya tidak berhenti.
Ia tidak sanggup melihat wajah pria itu sekarang.
Karena setiap kali mengingat video tersebut—
dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat.
“Alya, tunggu!”
Reno akhirnya berhasil menyusul dan menarik pelan pergelangan tangan Alya.
Refleks, Alya langsung melepaskannya kasar.
“Jangan sentuh aku!”
Suara itu penuh luka.
Dan Reno langsung membeku.
Tatapan Alya dipenuhi air mata dan kekecewaan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Kamu bohong sama aku.”
“Aku nggak bohong…” suara Reno mulai serak. “Aku cuma takut kehilangan kamu kalau kamu tahu semuanya.”
“Tapi kamu tetap nyembunyiin kenyataan!”
Hujan semakin deras membasahi mereka.
Namun tidak ada yang peduli.
“Kamu tahu nggak seberapa hancurnya aku waktu itu?” suara Alya gemetar hebat. “Aku sampai berharap pindah sekolah!”
Reno menunduk penuh rasa bersalah.
Karena semua rasa sakit itu memang berasal darinya.
“Aku benci masa SMA aku,” lanjut Alya lirih. “Dan sekarang aku baru tahu alasan terbesarnya ternyata kamu.”
Deg.
Kalimat itu menghantam Reno begitu keras.
Pria itu tertawa kecil pahit sambil mengusap wajah basahnya.
“Iya.” Tatapannya merah penuh penyesalan. “Aku memang monster buat kamu waktu itu.”
Air mata Alya kembali jatuh.
Karena bagian paling menyakitkan adalah—
Ia masih mencintai Reno meski mengetahui semua kebenaran ini.
Dan itu membuat dirinya semakin marah pada diri sendiri.
“Alya…”
“Aku capek.”
Tatapan Reno langsung melemah.
“Aku capek terus berusaha percaya sama kamu…” suara Alya pecah. “Tapi tiap aku mulai percaya, selalu ada luka baru.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reno benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Karena tidak ada kata maaf yang cukup untuk memperbaiki semuanya.
“Aku rela dihukum apa pun,” bisiknya lirih. “Asal jangan ninggalin aku.”
Namun Alya hanya menggeleng pelan sambil menangis.
“Aku butuh jauh dari kamu sekarang.”
Deg.
Dunia Reno terasa runtuh seketika.
“Alya, please…”
Namun Alya akhirnya berbalik dan pergi.
Dan kali ini Reno tidak lagi mengejarnya.
Karena ia tahu dirinya sudah menghancurkan hati Alya terlalu dalam.
Malam itu, Alya menangis sendirian di apartemennya.
Lampu kamar dimatikan.
Tubuhnya meringkuk di sofa sambil memeluk dirinya sendiri.
Pikirannya terus dipenuhi kenangan lama.
Suara tawa siswa.
Tatapan merendahkan.
Rasa malu yang menghancurkan kepercayaan dirinya selama bertahun-tahun.
Dan kini ia tahu—
Reno adalah awal semuanya.
Ponselnya terus berdering sejak tadi.
Puluhan panggilan dari Reno.
Namun tidak satu pun Alya jawab.
Ia belum sanggup mendengar suara pria itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
Alya sudah tahu siapa yang datang.
Namun ia memilih diam.
“Alya…”
Suara Reno terdengar dari luar pintu.
Serak.
Lelah.
“Please buka pintunya.”
Air mata Alya kembali jatuh.
“Aku cuma mau jelasin semuanya.”
Namun Alya tetap tidak bergerak.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Lalu suara Reno terdengar lagi.
“Aku tahu aku nggak pantas dimaafin.”
Deg.
“Tapi aku serius waktu bilang aku cinta sama kamu.”
Tangan Alya mengepal kuat.
Karena itu justru yang paling menyakitkan.
Jika Reno masih seperti dulu, mungkin Alya akan lebih mudah membencinya.
Namun sekarang…
Pria itu benar-benar berubah.
Dan hati Alya terlalu lelah untuk terus membenci sekaligus mencintai orang yang sama.
“Aku bakal nunggu sampai kamu siap dengerin aku,” lanjut Reno lirih dari balik pintu.
Setelah itu, suara langkah kaki perlahan menjauh.
Dan Alya kembali menangis sendirian sepanjang malam.
Sementara itu, Reno duduk di dalam mobilnya di parkiran apartemen Alya dengan wajah kosong.
Hujan masih turun deras di luar.
Namun pria itu bahkan tidak peduli tubuhnya masih basah kuyup.
Ponselnya bergetar.
Vanessa.
“Apa?” jawab Reno lelah.
“Kamu di mana?”
“Depan apartemen Alya.”
Vanessa langsung menghela napas panjang.
“Dimas keterlaluan.”
Tatapan Reno perlahan berubah dingin.
“Ini salah gue.”
“Nggak sepenuhnya.”
“Tapi gue yang mulai semuanya.”
Suara Reno terdengar hancur.
Dan itu membuat Vanessa diam sesaat.
Karena selama mengenal Reno bertahun-tahun, ia belum pernah mendengar pria itu selemah ini.
“Sekarang gimana?”
Reno tertawa kecil pahit.
“Gue takut kehilangan dia.”
Keesokan paginya, Alya tidak masuk kerja.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bersama.Reno juga tidak datang ke kantor.
Siska mulai panik karena tidak bisa menghubungi keduanya.
Sementara di tempat lain, Dimas duduk santai di sebuah kafe sambil melihat berita bisnis di ponselnya.
Namun senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang saat seseorang tiba-tiba duduk di depannya.
Reno.
Tatapan pria itu sangat dingin.
Berbahaya.
“Lo puas sekarang?” tanyanya rendah.
Dimas menyandarkan tubuh santai.
“Bukannya itu memang kenyataannya?”
Brak!
Reno langsung menghantam meja keras hingga gelas kopi bergetar.
Beberapa pengunjung langsung menoleh panik.
“Gue udah bilang jangan ganggu Alya.”
Tatapan Dimas ikut berubah tajam.
“Dan gue udah bilang lo nggak pantas buat dia.”
Rahang Reno mengeras.
“Lo pikir gue nggak tahu itu?”
Suasana langsung dipenuhi ketegangan.
Namun Dimas justru tertawa kecil hambar.
“Kalau lo benar sayang sama dia…” tatapannya menusuk Reno dalam, “harusnya lo ngerti kapan waktunya mundur.”
Deg.
Kalimat itu membuat Reno terdiam.
Karena untuk pertama kalinya ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah mencintai Alya berarti harus melepaskannya?
Malam harinya, Reno akhirnya pulang ke apartemennya sendiri setelah seharian berkeliling tanpa tujuan.
Ruangan itu terasa sangat sepi.
Tidak ada pesan dari Alya.
Tidak ada suara wanita itu yang biasanya mengomel karena Reno lupa makan.
Dan baru sekarang Reno sadar Alya sudah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil menatap langit-langit kosong.
Pikirannya terus mengulang ucapan Dimas.
Kalau lo benar sayang sama dia… harusnya lo ngerti kapan waktunya mundur.
Reno memejamkan mata kuat-kuat.
Namun bayangan Alya yang menangis di rooftop terus muncul tanpa ampun.
Brak.Reno memukul meja pelan frustrasi.
Ia membenci dirinya sendiri.
Membenci masa lalunya.
Dan membenci kenyataan bahwa luka terbesar Alya berasal dari dirinya.
Sementara itu, di apartemen lain, Alya duduk diam memandangi layar ponselnya.
Foto dirinya dan Reno masih terpajang di wallpaper.
Senyum mereka terlihat begitu bahagia.
Air mata Alya perlahan jatuh lagi.
Karena meski hatinya terluka begitu dalam…
ia tetap merindukan Reno.
Dan itu membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.
Tanpa mereka sadari, cinta yang mulai retak itu perlahan diuji oleh takdir dan rasa bersalah mendalam masing-masing.