Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa takut
Seperti hari yang sudah-sudah, Dara akan mengurung dirinya di dalam kamar setelah perlakuan kasar yang diterimanya dari Sharga,
Delana melihat wajah nya di cermin. Lebam di bagian bibir, pelipis kanan, dan pipinya yang masih terlihat bengkak, rasanya tidak mungkin jika dia harus ke kampus dalam keadaan seperti itu.
Hanya saja, Sharga akan kembali murka jika dia tidak pergi. Akhirnya Delana memutuskan untuk memakai masker dan kacamata, Juga topi.
Gadis itu pergi tanpa sarapan, bukan tidak mau tapi memang tidak ada. Delana mampir ke mini market untuk membeli susu dan roti. Dia akan duduk di kursi di depan mini market untuk menghabiskan sarapan nya.
Mata Delana melihat sekeliling, melihat aktivitas pagi hari yang pemandangan nya selalu sama.
Ada petugas kebersihan yang setiap pagi menyapu di pinggir jalan di seberang sana. Ada tukang bubur ayam yang sibuk melayani pelanggan, anak-anak sekolah yang terlihat begitu ceria berbincang bersama teman nya sambil menunggu angkot datang.
Delana berdiri sambil bersandar pada tiang halte bis.
Tidak berselang lama bis yang akan ditumpangi Delana, datang. Gadis itu duduk di bangku yang dekat dengan jendela. Dia terus memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh penumpang yang ada di sebelahnya.
Meski jarak dari rumah Delana menuju kampus cukup jauh, untungnya dia hanya perlu naik bis itu satu kali dan sampai di depan gerbang kampusnya.
Rasa ngantuk karena semalam tidak bia tidur, Delana memutuskan untuk tidur sebentar karena jarak untuk sampai ke kampusnya masih cukup lama.
Delana terlelap.
Suara riuh membuat Delana terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara yang begitu ramai, tidak seperti di depan kampusnya yang cukup sepi.
“Ini di mana?” Gumamnya.
“Mba, udah samapai terminal. Mau turun apa mau lanjut?” Ujar kernet bis tersebut.
“Hah, terminal? Bang aku turun depan kampus tri madasri.”
“Udah lewat itu mah, Mba. Ya udah balik lagi aja.”
“Yah, telat dong ini sih.”
Meski begitu, Dalina tidak punya pilihan lain selain ikut bisa ini kembali lagi, meski artinya Dalina akan memutar arah.
“Delana Cecilia Alexina.”
Delana memutar kepalanya agar bisa melihat ke belakang pada sumber suara.
“Hah, bapak itu lagi? Ngapaian dia di sini?” Bisiknya pada diri sendiri.
“Ayo turun.”
“Hah?”
“Kamu mau naik bisa ini keliling kota?”
Jika dipikir-pikir, Delana akan menghabiskan waktu dua jam lebih mengelilingi kota ini untuk sampai ke depan kampus.
Tidak ada pilihan lain, Delana terpaksa ikut bersama Rex.
Delana berjalan mengekori Rex. Mereka berjalan menuju depan terminal, tempat mobil Rex terparkir.
Pria itu membukakan pintu untuk Delana. Dia bahkan menjaga agar kepala Delana tidak mengenai mobil saat masuk.
“Kita sarapan dulu, saya lapar.”
“Hah? Sarapan? Aku pikir mau dianterin ke kampus.”
“Angga sudah mengirimkan surat ijin ke kampus. Hari ini kamu nggak usah masuk kuliah.”
“Gercep sekali bapak yang satu ini.”
“Pak? Apa di mata kamu saya ini memang terlihat seperti bapak-bapak? Setua itukah?”
“Lah, emang. Terus bapak mau saya panggil apa? Kakak? Kan gak mungkin. Eh tapi gak tau sih kalau kumis sama jenggot yang merambat di seluruh wajah bapak di pangkas sih. Aku juga gak tau gimana bentukan muka bapak aslinya.”
“Merambat? Bentukan? Astaga, kosa kata kamu ini.”
“Ngomong-ngomong, kita mau sarapan apa? Kalau bisa di tempat yang sepi aja ya.”
“Sepi? Mau ngapain emang di tempat sepi?”
“Mau ngapain? Ya mau makan lah, gimana sih? Noh lihat, dengan wajah kayak gini, bapak mau bawa saya ke tempat ramai? Apa kata orang nanti.”
“Saya pikir.”
“Pikir apa? Hayooo, bapak biasanya ngapain hayo di tempat sepi sama cewek lain? Nah, loh. Ketahuan kan.”
“YTTA aja lah.”
“Waduuh, berat, berat, kelakuan orang dewasa emang berat.”
“Memangnya kamu belum pernah?”
“Pernah apa?”
“Ke tempat yang sepi.”
“Udah waktu ospek. Kita malem-malem jelajah malam ke kuburan, uji nyali katanya.”
“Kuburan?”
“Iya, kenapa memangnya?”
“Maksud saya ke tempat sepi yang—“
“Duh, Pak. Apapun yang Bapak maksud, jangan diucapkan. Jangan nodai otak saya yang masih suci ini, oke. Lagian ada orang tua ngajarin anak kecil yang aneh kayak gini.”
Rex menghela nafas berat mendengar perkataan Delana yang selalu mengucapkan kata ‘tua’ padanya.
***
“Wuidiihhh, kenapa tuh ngaca terus? Nyari kutu?”
Rex melirik sinis.
“Kalau dipangkas, apa emang iya akan terlihat lebih muda?”
“Kata siapa? Mau berjenggot, mau nggak, usia tidak bisa dipalsukan.”
“Apa kau sudah tertular oleh gadis kecil itu? Kenapa ucapanmu selalu tidak enak di dengar, Anggayuda.”
“Sebentar, apa lo kepikiran memangkas jenggot dan kumis atas saran dari Delana?”
Rex tidak menjawab, tapi bukan Angga namanya jika tidak peka tentang apa yang terjadi pada Rex.
“Oh, begitu rupanya. Hahahah.”
“Shut up!”
Angga menutup mulutnya dengan tangan.
“Tapi layak di coba sih, siapa tau wajah lo agak rapi dikit. Kabooooorrrr.”
“Sialan! Emang muka gue berantakan? Angga, 50%. Titik!”
Angga yang sedang berlari menjauh. Memutar balik dan kembali berlari menghampiri Rex.
“Ayo kita pergi.”
“Ke?”
“Mencukur semua akar kepala di wajah lo, Rex.”
“Akar? 70%.”
“Jenggot, iya itu. Kumis juga.” Angga memperjelas semuanya dengan gelagapan.
Mereka pun pergi ke barber Shop untuk merapikan rambut dan akar kepala kata Angga.
“Gimana sarapan kemarin? Berjalan dengan lancar?”
“Dia malah main menjauh dan makin menolak tawaranku untuk pergi dari rumah itu?”
“Alasan nya?’’
“Dia takut.”
“Takut karena lo berakar.”
“What the ….”
Angga melakukan gerakan menrisleting mulutnya.
“Lo juga kenaoa coba tiba-tiba membooking satu restoran untuk kami berdua.”
“Loh, katanya mau sarapan tanpa ada orang lain. Lagian korelasinya apaan?”
“Dia berpikir jika kekuasaanku begitu tinggi sampai bisa melakukan segala hal.”
“Lah, emang iya. Belum tahu aja lo mode kerja ganas nya macam apa. Lagian di kalangan kalian, masa dia gak diceritain sama orang tuanya sai apa Rex itu.”
Rex memijat pangkal hidungnya. Melihat hal itu Angga merasa takut. Dia takut telah menyinggung Rex hingga membuatnya marah besar.
“Sorry, eh, maaf Pak.”
“Kenapa lo tiba-tiba formal saat berdua gini?”
“Ya lo megang pangkal hidung, gue pikir lo marah.”
“Gue emang puyeng, Anggayudaaa.” Rex mengeraskan rahangnya. “Udah, fokus aja nyetir.”
“Baik, Pak.”
“Angga, 85%.”
“Ah, elaaah. Lama-lama gak digaji juga ini sih sebulan.”
Rex mengusap kepalanya denga kedua tangan. Dia masih teringat pada ucapan Delana saat mereka sarapan kemarin.
“Aku tidak mau ikut Bapak Karena aku takut, bisakah membiarkan aku tetap di rumah papa dan mama.”
“Takut? Takut kenapa?”
“Sepertinya bapak bukan orang sembarangan. Aku merasa tidak layak dan tidak pantas jika bersama bapak, itu kalau bapak orang baik. Kalau sebaliknya? Maka aku akan terseret dalam masalah bapak, bukan?”
Rex memejamkan matanya dalam-dalam.