NovelToon NovelToon
Mahkota Berlumur Anggur Merah

Mahkota Berlumur Anggur Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: Iseeyou911

Pangeran Gautier de Valois.

Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.

"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."

"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"

"Ini bukan permintaan, Countess,"

"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 (Beban Semua Mata)

Upacara pernikahan telah selesai. Amélie LeBlanc kini resmi menjadi Duchess Amélie de Valois. Namun, bagi Amélie, ini adalah awal dari eksekusi yang diperlambat. Setelah sumpah dan ciuman yang dingin di Kapel Kerajaan, pasangan itu harus melalui ritual terpanjang dan paling melelahkan. Resepsi Agung di Aula Cermin Versailles.

Ribuan lentera kristal menyala, memantulkan cahaya gemerlap pada ukiran emas, cermin dan lantai marmer yang mengkilap. Aula itu dipenuhi oleh aristokrat Prancis terkemuka—para Duke, Countess, Marquis dan Jenderal, semuanya mengenakan perhiasan yang memusingkan dan jubah sutra mahal. Semua mata tertuju pada Gautier dan Amélie.

Amélie merasakan beban kolektif dari penghakiman itu. Semua orang tahu pernikahan ini terjadi secara tergesa-gesa, tercium aroma paksaan dan intrik politik.

Ia berdiri di samping Gautier di platform kehormatan, menerima gelombang ucapan selamat yang sinis dan senyum yang penuh pertanyaan. Gautier, seperti biasa, adalah perwujudan kesempurnaan militer, tenang, tegap dan acuh tak acuh. Tangannya yang besar sesekali menyentuh punggung Amélie, sentuhan formal yang hanya berfungsi sebagai tanda kepemilikan.

"Istri Anda sangat cantik, Yang Mulia," bisik salah satu Countess tua yang terkenal sebagai pembuat onar. "Sungguh terkejut kami melihat pertunangan yang begitu cepat. Kami yakin Anda menyembunyikannya dari Versailles agar tidak ada yang bisa mencuri calon Ratu Anda."

Gautier tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Keindahan tidak perlu disembunyikan, Countess. Hanya dipercepat. Perbatasan membutuhkan perhatian saya dan saya tidak bisa menunda kewajiban rumah tangga lebih lama lagi."

Gautier menggunakan pekerjaannya sebagai tameng, menegaskan bahwa Amélie hanyalah tugas lain yang harus diselesaikan dengan cepat. Penghinaan itu terasa perih, menusuk ke dalam hati Amélie. Namun, Amélie harus tersenyum.

"Kami sangat beruntung, Countess," balas Amélie dengan nada yang manis, sebelum Countess tua itu bisa pergi. "Seorang pria yang begitu setia pada Kerajaan pantas mendapatkan istri yang sabar. Pengorbanan adalah kehormatan saya."

Amélie membalikkan penghakiman itu menjadi pujian publik untuk Gautier, yang membuat Countess tua itu terdiam. Gautier melirik Amélie, ada kilatan terkejut dan penghargaan singkat di mata abu-abunya, sebelum kembali menjadi dingin.

...*****...

Di tengah keramaian, Éloi de Beaumont datang, didampingi oleh seorang wanita muda cantik yang berpakaian elegan, tetapi matanya memancarkan rasa benci.

Éloi membungkuk. "Selamat sekali lagi, Amélie. Dan ini adalah sepupu jauh kita, Marchioness Isabelle de Sévigny. Ia adalah teman lama Gautier."

Isabelle tidak berusaha menyembunyikan kebenciannya. Ia adalah tipe wanita yang seharusnya dinikahi Gautier, berdarah murni, kaya dan memiliki jaringan politik yang mapan.

"Duchess," sapa Isabelle, suaranya seperti es yang beradu. "Saya dengar Anda telah membuat Pangeran Gautier membatalkan banyak janji di perbatasan. Sangat tidak biasa bagi Valois untuk mendahulukan urusan domestik."

Amélie menyadari, Isabelle tidak hanya cemburu pada posisi Amélie, tetapi ia juga bersekutu dengan kubu yang menentang Gautier atau Éloi. Intrik di Versailles seperti sarang ular.

"Tentu saja, Marchioness," jawab Amélie, suaranya tenang dan percaya diri. "Pangeran Gautier telah menjelaskan bahwa hanya urusan kematian yang boleh menunda kewajiban pada tahta. Dan pernikahan, setahu saya, adalah tentang kehidupan. Sebuah permulaan, bukan akhir."

Gautier menahan senyum tipis. Ia menikmati tontonan pertarungan sengit antara dua wanita bangsawan yang memperebutkannya (meskipun ia mencintai wanita lain).

Isabelle mendengus dan berbalik, meninggalkan Éloi.

"Kau harus lebih berhati-hati, Amélie," bisik Éloi, wajahnya muram. "Isabelle adalah teman dekat Raja. Jangan mencari masalah dengan aliansi yang tidak stabil ini."

"Saya hanya membela suami saya, Paman," balas Amélie sinis. "Bukankah itu yang harus dilakukan Duchess yang baik?"

Éloi berjalan pergi, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan.

Amélie merasakan lengannya dicengkeram Gautier, cengkeraman yang lebih kuat dari sekadar formalitas.

"Jangan libatkan dirimu dalam pertarungan konyol," bisik Gautier, suaranya mengancam. "Isabelle adalah pembuat onar. Fokuslah pada peranmu."

"Saya hanya memastikan saya tidak dipermalukan oleh wanita yang mungkin dulunya adalah kekasih Anda," balas Amélie. "Saya adalah Duchess Anda. Saya akan bertindak sesuai gelar saya sekarang. Kecuali Anda ingin gosip tentang kegagalan Anda mengendalikan istri baru anda menyebar lebih cepat daripada berita pernikahan kita."

Gautier menatapnya, sepasang mata abu-abu itu kini penuh penghargaan yang tersembunyi. "Kau benar-benar tidak menyerah, bukan?"

"Itu adalah cara saya bertahan hidup, Pangeran. Sesuatu yang pasti Anda hargai," jawab Amélie.

...*****...

Pesta berlanjut hingga tengah malam. Lelah dan kelelahan, Amélie meminta Gautier untuk beristirahat.

Saat mereka berjalan menyusuri koridor samping, Amélie melihat pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Di sudut yang gelap, seorang wanita muda berdiri. Dia cantik, dengan rambut pirang yang dikepang dan mata yang lembut, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, jelas bukan dari kalangan bangsawan tinggi.

Amélie tidak perlu bertanya. Itu pasti Seraphine.

Gautier melihat Amélie melihatnya. Wajahnya seketika menjadi gelap.

"Jalan terus, Amélie," desis Gautier.

Namun, Seraphine melangkah maju, air mata menggenang di matanya yang indah.

"Gautier," bisiknya, suaranya terdengar lembut dan putus asa.

Gautier menghentikan Amélie dengan cengkeraman keras di lengannya, tetapi ia tidak melihat Amélie. Seluruh fokusnya tertuju pada Seraphine. Semua kekerasan dan kekejaman yang ia tunjukkan pada Amélie menghilang, digantikan oleh penderitaan dan cinta yang murni.

"Seraphine, pergilah," perintah Gautier, suaranya bergetar. "Sekarang. Itu berbahaya."

"Mereka bilang... mereka bilang kau menikahinya hari ini," isak Seraphine, menunjuk ke arah Amélie. "Kau bilang kau akan melindungiku dan sekarang kau—"

"Aku melindungimu dengan melakukan ini!" potong Gautier, ia maju selangkah, meninggalkan Amélie sendirian. Ia merengkuh Seraphine, pelukan yang penuh hasrat dan janji. Amélie melihatnya, merasakan darahnya mengalir dingin. Ini adalah pemandangan paling menyakitkan yang pernah ia saksikan, suaminya, yang baru saja bersumpah setia padanya, memeluk dan menghibur wanita lain, di malam pernikahan mereka sendiri, di lorong Versailles.

Gautier mencium kening Seraphine dengan lembut, lalu berbisik cepat ke telinganya. Seraphine tampak tidak mau pergi, tetapi akhirnya mengangguk.

"Aku mencintaimu, Seraphine. Jangan pernah meragukan itu," kata Gautier keras, memastikan Amélie mendengarnya.

Seraphine menatap Amélie, matanya dipenuhi kesedihan, bukan kebencian. Dia tahu Amélie juga korban.

Setelah Seraphine melarikan diri ke dalam bayangan, Gautier kembali kepada Amélie. Ia tampak kelelahan, matanya kosong.

"Kau melihatnya," katanya datar.

"Saya melihat janji yang Anda buat untuk saya, Pangeran dan janji yang Anda buat untuknya," balas Amélie, suaranya rendah dan penuh penghinaan. "Saya mengerti. Saya hanyalah alat. Jangan khawatir, saya tidak akan memberi tahu siapa pun tentang pemandangan yang menyentuh ini. Saya ingin privasi saya dihargai."

Gautier mengangguk, tanpa penyesalan, hanya kelelahan. "Ayo, Duchess. Malam sudah berakhir."

Meskipun kelelahan fisik dan emosional, Amélie merasakan dorongan baru. Pemandangan itu, pelukan itu, bisikan cinta itu, semuanya adalah bensin yang membakar tekadnya untuk menghancurkan pernikahan ini.

...*****...

1
Iseeyou911
Jangan lupa Like dan Komennya yaa 🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!