Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Amarah bergejolak di dalam diri sosok Dirga Re Martadinata kala suara jeritan Hita yang memohon terngiang-ngiang di kepalanya. Ingin ia menepis semua itu, membuang jauh-jauh adegan menjijikan yang tanpa sadar ia lakukan.
Perempuan bodoh. Baru kemarin ia sempat iba dan sekarang dia sudah melakukan kebohongan besar seperti ini? Ini tak akan termaafkan.
Sepertinya perempuan itu memiliki rencana untuk membalikan keadaan dengan peristiwa memalukan itu, mungkin memiliki niat menjadikannya senjata untuk menghancurkan hubungannya dengan Loria saat wanita itu kembali nanti.
Seharusnya Dirga tau. Seharusnya ia tak membiarkan dirinya terpengaruh oleh kata-kata Hita yang terdengar sangat pasrah pada kehidupan. Itu adalah kata-kata penjerat, karena sejatinya di dalam darah perempuan itu ada darah kotor ibunya yang mengalir. Seorang selingkuhan kotor.
Terlalu terburu-buru dan ceroboh Dirga mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, memasukan kunci ke dalam lubang dan memutarnya dalam satu gerakan kasar.
Pintu dibuka dengan kasar, dibanting tertutup di belakangnya saat masuk ke dalam ruangan. Mata itu liar, mencari sosok tak tau diri yang tengah ia cari-cari.
"Kak Dirga?"
Saat suara manis beracun itu terdengar, Dirga ingin meludah begitu mendengarnya. Dirga menoleh tajam, matanya menunjukan kilat amarah nyata di balik lensa.
"Apa sekiranya yang kau rencanakan sekarang?" tuduhan itu ditembakkan langsung, tanpa basa-basi membalas sapaan hangat dari perempuan yang duduk anteng di sofa. Raut wajah kebingungan itu semakin membuat Dirga geram.
"Berdiri." Laki-laki itu mendekat dalam beberapa langkah lebar, mencengkram pergelangan tangan Hita yang memar dengan tekanan yang kuat dan kasar hingga sang empunya memekik kesakitan.
Ditariknya Hita dengan keras, membuat perempuan itu terkejut.
"Kak!" Hita meringis, mencekal tangan Dirga. Tatapan itu memohon, memohon agar Dirga melonggarkan cengkeramannya yang terasa menyakitkan. "K-kak..."
"Aku sedang bertanya padamu." Dirga menggeram penuh kebencian, wajahnya didekatkan dengan maksud mengancam. "Apa yang sedang kau rencanakan sekarang? menjebakku? Menghancurkan kehidupanku?"
Cengkraman itu semakin mengerat, memang berniat untuk menyakiti. Air mata yang mulai menetes di wajah Hita itu bahkan tak membuat Dirga puas. Ia tak akan bisa puas melihat air mata buaya itu.
"JAWAB!"
Hita tersentak saat Dirga berteriak tepat di wajahnya, membuat matanya otomatis terpejam ketakutan. Apa yang membuat Dirga tiba-tiba marah seperti ini?
"R-rencana a-apa?" terbata-bata perempuan itu bertanya, menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. "Aku tidak mengerti—"
"Kau masih ingin berpura-pura sekarang?" Suara Dirga merendah, memotong kasar ucapan Hita dengan wajah muak. "Kau berperangai bahwa tidak ada yang terjadi. Kau sedang merencanakan sesuatu, bukankah begitu?"
"Seharusnya aku tak pernah merasa kasihan padamu, dan sekarang aku mengerti mengapa Wijaya-Wijaya tamak itu memperlakukanmu tak lebih baik dari seekor anjing." Itu adalah cacian. "Kau adalah pembohong. Pembohong besar."
Hita mendongak, menatap Dirga dengan sejuta pertanyaan yang tak berani ia lontarkan. Sudut matanya berair, sedangkan bibirnya bergerak menahan Isak tangis. Apa yang terjadi pada Dirga? Rencana apa yang suaminya itu maksud?
"Bisakah kakak menjelaskan apa yang kakak maksud sebelum menuduhku seperti ini?" Hita menggeleng pelan, dadanya sesak oleh perkataan Dirga. "Bisakah kakak katakan kebohongan besar apa yang aku lakukan hingga kakak menuduhku seperti ini?"
"Menjelaskan?" Dirga tertawa Hambar. "Kau ingin aku menjelaskan tentang kebohongan besar yang kau sembunyikan? Apakah kau tidak bisa mengingatnya karena kau memiliki lebih banyak kebohongan yang lebih besar?"
Cengkraman itu semakin mengerat, memberikan tekanan hingga aliran darah tak mampu mengalir ke telapak tangan. "Baiklah, aku akan menjelaskan dengan cara paling mudah hingga meresap di otak bodoh dan sempitmu itu."
Dirga mengangkat tangan Hita, menunjukan memar di balik cengkraman keras itu tepat di depan wajahnya, tak memberikan ruang untuk Hita berpura-pura tak melihat.
"Kita mulai saja dengan ini." Dirga memberikan sedikit guncangan di sana, membuat Hita mendesis kesakitan. "Bagaimana kau bisa mendapatkan memar ini?"
Deg.
Satu pertanyaan itu telah menunjukan semuanya dengan jelas, tentang kebohongan apa yang Dirga maksud saat ini. Laki-laki itu tau... Dirga sudah tau...
Bayangan malam itu kembali hinggap di kepala Hita, membuatnya termenung dan terdiam di tempat. Apa yang harus ia katakan sekarang? Dirga tak akan mau mendengarkan alasannya, laki-laki itu tidak akan percaya.
Hita tak ingin Dirga tau tentang hal memalukan ini karena ia tau bahwa reaksi Dirga akan seperti ini. Raut jijik sudah menjelaskan segalanya pada Hita, bahwa laki-laki itu malah menuduhnya akan memanfaatkan kejadian yang bahkan tak sanggup untuk ia ingat.
Senyum sinis terukir di wajah Dirga saat tak mendengar jawaban yang keluar dari bibir istri penggantinya. "Lihat? Kau tidak mampu menjawab pertanyaan gampangan seperti itu," desisnya. "Kenapa kau tidak mengatakan bahwa ini karena terbentur seperti saat itu? Nyalimu menciut sekarang?"
Dirga menyentak, melepaskan tangan Hita dengan kasar. Dia semakin mendekat, menghapus jarak bukan untuk keromantisan, tapi ancaman. Ancaman nyata yang dilandasi rasa terhina.
Gemetar, sakit, dan kotor, itu semuanya kini Hita rasakan begitu berada dalam situasi rumit yang tak bisa ia tangani. Situasi yang tak pernah ia inginkan. Kepalanya tertunduk, rendah sekali harga dirinya di bawah kaki Dirga.
"Kau dengarkan ini baik-baik, pasang telingamu karena aku tidak akan mengulanginya dua kali," bisik Dirga tepat di telinga Hita, membuat si gemetar ketakutan itu semakin terpojok. "Apapun yang terjadi pada malam itu, itu hanyalah sebuah kesalahan. Jangan pernah kau mengungkitnya, apalagi mengatakan ini pada siapapun," ancamnya. "Karena tak akan ada seorangpun yang percaya padamu. Kau tau kenapa?"
Hita menggeleng kaku.
"Karena mereka tau aku tidak akan pernah menyentuh perempuan kotor sepertimu." Tanpa belas kasihan Dirga mengucapkan kata-katanya. "Mereka akan menganggapmu berhalusinasi, mengatakan kebohongan besar yang terdengar lebih konyol dari dongeng yang tak masuk akal."
Kata-kata Dirga sekali lagi berhasil menyakiti.
"Jika saja saat itu aku sedang berada dalam kewarasan, aku tidak akan pernah menyentuhmu. Tidak akan pernah," ujar Dirga, menekan kata-katanya di kepala Hita, memastikan bahwa perempuan itu tau akan tempatnya.
"Aku telah bersikap terlalu lunak padamu." Belum selesai laki-laki itu bicara. "Aku terlalu lembut hingga kau melupakan siapa dirimu sendiri, anak haram Arseno dari seorang wanita kotor yang rela menjadi selingkuhan. Aku hampir lupa bahwa darah kotor itu juga mengalir di dalam dirimu."
Hita memejamkan matanya, menahan Isak tangis yang mengancam untuk lolos. Kata-kata Dirga semakin menghukum hatinya, memberikan rasa sakit besar yang tak tau apakah akan bisa disembuhkan.
Tapi itu tak akan membuat Dirga merasa kasihan. Kebenaran ini sudah cukup untuk membuatnya mengubah sudut pandang.
"Sekarang menyingkirlah dari hadapanku," usir Dirga, mengambil satu langkah mundur untuk menciptakan jarak. "Angkat kakimu dari kantorku ini dan jangan berani-beraninya menampakkan wajah polos kotormu itu di hadapanku lagi."
Perintah itu dingin, datar, namun menggambarkan jelas amarah yang meraung-raung di dalamnya. Hita bahkan tak berani menaikan pandangan, menunduk seperti pelayan rendahan.
"Kau ingin pergi sendiri atau perlu aku seret?" Dirga semakin geram saat Hita tak kunjung bergerak, buku-buku jarinya memutih menahan diri.
Sedangkan Hita? perempuan malang itu hanya bisa menahan rasa sakit, menahan kehancuran di dalam dirinya yang tak bisa ia sembuhkan ulang.
Hita ingin menjelaskan semuanya, ia ingin Dirga tau bahwa ia bahkan tak mengharapkan ini terjadi. Tapi apakah Dirga akan percaya? Apakah Dirga tak akan semakin memakinya dan membuatnya mati dalam kesakitan pikiran?
Dengan langkah goyah dan berat Hita menuju pintu, tubuhnya terasa lemas bahkan terlihat akan ambruk di setiap langkah.
Kenapa ini harus terjadi...
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga