Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 29. Undangan
Hari sudah gelap ketika mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi Broto tiba di kediaman Mega. Pria paruh baya itu langsung menuju rumah sang anak setelah kepulangannya dari kampung halaman. Bahkan ia belum sempat singgah di kediamannya sendiri dan memutuskan untuk buru-buru ke rumah sang anak.
"Papa!" pekik Mega saat melihat sang papa sudah berdiri di depan teras. Ia dan Awan sama-sama beranjak dari posisi duduknya dan berjalan ke arah Broto.
"Papa sudah sampai?" sambut Mega sedikit berbasa-basi.
"Kalau belum sampai mana mungkin Papa bisa sampai sini Meg?" Broto melabuhkan pandangannya ke arah Awan yang berdiri di samping sang anak. Yang membuat dahi Broto mengernyit seketika. "Awan? Kok malam-malam seperti ini kamu ada di sini?"
"Eh anu... Itu anu Pak..."
Awan melirik ke arah Mega. Entah apa yang terjadi, melihat kedatangan Broto membuat lelaki itu gugup tiada terkira. Padahal malam ini ia harus tampil berani dan percaya diri untuk mengutarakan keinginannya menikahi Mega.
"Ayo masuk dulu Pa. Kita bicara di dalam," ajak Mega yang seketika menghapus rasa gugup yang dirasakan oleh Awan.
Tiga orang itu berjalan beriringan menuju ruang tengah dan mereka daratkan bokong masing-masing di atas sofa. Suasana sejenak hening hingga keheningan itu mulai pecah setelah Broto berdehem.
"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan sampai kamu meminta Papa untuk cepat-cepat datang kemari Meg?"
"Aku ingin minta restu dari Papa untuk menikah dengan mas Awan."
"Apa? Menikah dengan Awan?"pekik Broto seakan tiada percaya. "Menikah bagaimana? Bukankah Awan sudah memiliki anak dan istri?"
"Saya sudah bercerai dengan istri saya Pak," sela Awan.
"Bercerai?" tanya Broto semakin penasaran. "Mana buktinya jika kamu sudah bercerai? Apakah kamu membawa akta cerainya?" tantang Broto.
Awan terperangah. Lelaki itu seakan mati kutu mendengar pertanyaan dari Broto karena sejatinya akta cerai itu belum sampai ke tangannya. Ia dengar dari orang, jika akta cerai itu baru terbit dua minggu setelah sidang putusan.
"Belum terbit Pak. Karena baru kemarin saya menghadiri sidang cerai."
"Itu artinya kamu bercerai dengan istrimu ketika Mega sudah meng-handle dealer?" tanya Broto penuh selidik. "Apakah itu artinya kamu menjalin hubungan lebih dulu dengan anakku baru kamu bercerai dengan istrimu?"
Mati aku. Jika sudah seperti ini pak Broto pasti tahu jika Mega adalah selingkuhanku. Ya Tuhan, ini aku harus menjawab apa?
"Kenapa diam Wan? Apakah spekulasi dariku itu benar?"
"Benar Pak," jawab Awan dengan tegas. Ia berusaha memutar otak agar jawaban yang akan ia berikan ini terdengar natural.
"Jadi kalian berselingkuh?" geram Broto.
"Bukan berselingkuh Pa, tapi kami sama-sama butuh!" timpal Mega yang mencoba membuka suara untuk membela Awan.
"Sama-sama butuh? Maksudmu, kamu butuh belaian Awan begitu kah?" selidik Broto.
Mega semakin keki. Sungguh di luar dugaan jika respon sang papa seperti ini. Buru-buru ia memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.
"Bukan aku yang butuh tapi Tasya, Pa."
"Tasya? Mengapa Tasya yang kamu bawa-bawa Meg?"
"Tasya tidak mau jauh dari mas Awan, Pa. Bahkan setiap hari dia selalu mencari keberadaan mas Awan. Di samping itu, mantan istri mas Awan saat itu yang ketahuan berselingkuh. Jadi mas Awan memang sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk bercerai dari istrinya."
Akhirnya Mega memilih untuk mengarang cerita palsu. Ia tidak ingin sampai Broto tahu jika caranya bersatu dengan Awan adalah hasil dari merebut suami orang. Ia tetap ingin dipandang sebagai wanita baik-baik yang tidak pernah merebut kebahagiaan wanita lain.
"Apakah benar dengan semua yang kamu ucapkan itu Meg?" tanya Broto masih dengan tatapan penuh keraguan.
"Sumpah Pa, aku tidak bohong. Lagipula mana mungkin aku menjadi perusak rumah tangga orang," ucap Mega dengan gugup sembari meremas jemarinya. Ternyata dusta membuat wanita itu merasa tidak tenang.
Broto menghela napas dalam dan ia hembuskan perlahan. "Baiklah, saat ini aku percaya pada cerita kalian. Lalu apa rencana kalian ke depan?"
Mega dan Awan saling bertatap netra. Mereka sama-sama tersenyum seakan menjadi satu isyarat rasa penuh kelegaan. Lega, karena jalan untuk hidup bersama di bawah payung pernikahan akan semakin mudah mereka wujudkan.
"Aku ingin menggelar acara pertunangan dulu Pa."
"Kapan?"
"Lusa."
"Lusa? Apa tidak terlalu cepat? Bukankah acara pertunangan itu harus ada konsep yang matang?" tanya Broto.
"Papa tenang saja. Semua sudah aku atur dengan sempurna."
"Baiklah kalau begitu. Sebagai orang tua, Papa hanya bisa memberikan restu. Tapi ada satu hal yang harus kalian ingat, jika hubungan kalian terjalin di atas air mata orang lain, jangan salahkan takdir jika suatu saat nanti karma itu datang menghampiri kalian."
Jleb...
Ucapan Broto layaknya dua anak panah yang melesat mengenai jantung Mega dan Awan. Ucapan Broto benar-benar menikam jantung keduanya hingga membuat sepasang kekasih itu menundukkan wajah. Tiba-tiba saja memori keduanya tertuju pada ucapan Wulan di saat wanita itu memergoki perselingkuhan mereka. Apa yang diucapkan oleh Wulan sama persis dengan apa yang diucapkan oleh Broto.
Awan dan Mega masih nyaman menundukkan wajah. Mereka seperti tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya di hadapan Broto. Khawatir jika sampai kebohongan yang mereka mainkan terbaca oleh lelaki paruh baya itu.
***
"Mas, sebenarnya kamu itu masih ingat rumah Wulan tidak sih? Dari tadi kok hanya berputar-putar di sini?"
Mega sedikit kesal dengan Awan yang sedari tadi hanya berputar-putar di tempat ini. Sudah empat kali mobil yang dikemudikan oleh Awan memasuki kawasan ini, namun sampai sekarang ia belum juga menemukan rumah Wulan.
"Aku yakin di sini rumahnya Meg, tapi rumah yang hampir ambruk milik mbah Inah itu kok tidak terlihat ya? Malah sekarang jadi rumah joglo-limasan yang nampak estetik itu," ucap Awan sembari menunjuk ke arah rumah yang ditempati oleh Wulan yang sudah direnovasi total.
Mega ikut melihat ke arah rumah yang ditunjuk oleh Awan. "Kalau itu sih rumah orang berada Mas. Coba kamu ingat-ingat lagi lah, barangkali kamu lupa."
"Aku yakin sekali itu rumah Wulan Meg. Aku be...."
Ucapan Awan terpangkas ketika tiba-tiba terlihat dari balik kaca mobil seorang wanita yang keluar dari dalam rumah. Seorang wanita yang sangat ia kenal yang sedang membawa gembor untuk menyiram tanaman.
"Lah, itu Wulan Mas!" pekik Mega.
"Kalau begitu, ayo kita turun!"
Mega dan Awan turun dari mobil. Mereka bersegera menghampiri Wulan yang sedang menyirami bunga-bunga yang ada di dalam pot di teras rumah.
"Kalian?!" pekik Wulan yang sedikit terkejut dengan kedatangan sang mantan suami dengan kekasihnya ini. "Ada keperluan apa kalian datang kemari?"
"Hebat... Hebat... Ternyata selama ini kamu melacurkan diri ya Lan sampai-sampai bisa merenovasi rumah mbah Inah menjadi layak huni seperti ini. Memang kamu pasang tarif berapa?" seloroh Awan tanpa rem.
Kedua bola mata Wulan membulat penuh. Bibirnya menganga lebar mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh mantan suaminya ini. Ingin rasanya ia langsung menghajar wajah Awan namun sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan agar tidak terjadi keributan.
"Jaga mulutmu ya Mas! Aku sama sekali tidak melacurkan diri untuk bisa merenovasi rumah simbah. Jangan asal fitnah kamu!"
"Cih, kalau tidak melacurkan diri lantas bagaimana bisa kamu merenovasi rumah ini? Kamu sama sekali tidak punya uang, jadi bagaimana bisa kamu melakukan ini semua jika tidak dengan menjual diri?" timpal Mega yang turut menyulut api keributan.
Wulan hanya tersenyum santai. Untuk menghadapi orang-orang seperti Mega dan Awan, rasanya ia hanya perlu membuktikan jika ia bisa jauh lebih bersinar dari sebelumnya.
"Aku memang tidak punya uang, tapi aku punya Tuhan yang dengan sangat gampang bisa memberiku uang dari arah yang tidak terduga."
"Cih, bisa-bisanya kamu bawa-bawa nama Tuhan untuk menutupi perilakumu menjual diri," decih Awan sinis.
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Ada urusan apa kalian datang kemari?" ucap Wulan tak ingin berbasa-basi lagi. Ia sungguh jengah melihat kedatangan dua orang ini.
Mega mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas. Kemudian ia ulurkan ke arah Wulan.
"Aku mengundangmu untuk datang ke acara pertunanganku dengan mas Awan!"
Dengan dahi mengernyit, Wulan menerima undangan itu. "Memang aku harus datang ke acara kalian?"
"Tentu kamu harus datang agar kamu bisa nangis di pojokan melihat aku dan mas Awan berbahagia karena sudah bertunangan."
"Oh seperti itu? Oke, aku akan datang."
.
.
.