Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After I Met Him
Hujan masih turun ketika Serena keluar dari kafe. Udara terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya, atau mungkin karena percakapannya dengan Julian masih tertinggal terlalu jelas di kepala. Senyum laki laki itu, cara Julian berbicara tentang masa lalu mereka tanpa kebencian sedikit pun, dan bagaimana pria itu tetap terdengar hangat bahkan setelah Serena menghancurkan hidupnya bertahun-tahun lalu.
Mobil hitam Damien masih terparkir di seberang jalan. Lampu depannya menyala samar di tengah hujan, sementara sosok Damien terlihat tenang di balik kemudi. Menunggu. Seolah ia sudah tahu Serena akan keluar dengan wajah seperti itu.
Damien langsung menoleh begitu Serena masuk ke kursi penumpang. Tatapannya bergerak perlahan memperhatikan mata Serena yang sedikit sembab.
“Kau menangis.”
Bukan pertanyaan.
Serena buru buru memalingkan wajah sambil mengusap sudut matanya cepat. “Tidak.”
Damien terkekeh kecil. “Kau selalu berbohong seperti itu.”
Pria itu mengulurkan tangan lalu membelai pipi Serena perlahan dengan punggung jemarinya. Sentuhannya hangat sekali dibanding udara dingin di luar. Dan Serena membenci fakta bahwa tubuhnya masih otomatis tenang setiap kali Damien menyentuhnya.
“Bagaimana pertemuannya?” tanya Damien sambil mulai menjalankan mobil.
Sunyi beberapa detik memenuhi interior mobil yang remang. “Julian terlihat baik,” jawab Serena pelan.
“Aku tahu dia akan baik baik saja.”
“Dia tidak membenciku.”
Damien melirik Serena sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan basah di depan mereka.
“Tentu saja tidak.” Jemarinya bergerak pelan di paha Serena seperti kebiasaan lama yang tidak pernah hilang. “Julian terlalu mencintaimu untuk membencimu.”
Kalimat itu langsung membuat dada Serena terasa sesak lagi.
Hujan semakin deras di luar sana. Lampu kota memantul samar di kaca mobil, membuat kota ini terlihat seperti lukisan basah yang buram.
“Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa bersikap setenang itu,” gumam Serena lirih. “Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan membenciku seumur hidup.”
Damien tersenyum tipis. “Itu bedanya Julian dengan laki laki lain,” balas pria itu tenang.
“Dan denganmu?”
Tatapan Damien berubah samar sesaat. Ia akhirnya mengembuskan napas kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kalau aku jadi Julian waktu itu,” gumamnya rendah, “aku mungkin akan menghancurkan laki laki yang mengambilmu.”
Napas Serena langsung tertahan kecil. Damien mengatakannya dengan sangat tenang. Terlalu tenang.
“Namun kau tidak melakukannya.”
“Aku tidak perlu melakukan itu.” Sudut bibir Damien naik tipis. “Karena kau datang sendiri kepadaku.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dilempar Damien untuk mengingatkan Serena bahwa pada akhirnya, perempuan itu memang memilih dirinya. Dan Serena membenci fakta bahwa itu benar.
Mobil berhenti di lampu merah. Hujan memukul kaca depan lebih keras sekarang, membuat jalanan terlihat semakin buram.
“Apa dia terlihat bahagia?” tanya Damien tiba-tiba.
“Siapa?”
“Julian.”
Serena diam beberapa detik karena pertanyaan itu justru mengingatkannya pada sesuatu yang mengganggu sejak tadi. Julian memang terlihat tenang, namun tidak benar-benar bahagia.
“Aku tidak tahu,” jawab Serena pelan akhirnya. “Dia justru terlihat lelah.”
Damien tersenyum kecil seolah jawaban itu memang sudah diperkirakannya.
“Dan Claire?” lanjut Serena pelan. “Apa kau benar benar akan membiarkannya menikah dengan Julian?”
Tatapan Damien tetap lurus ke depan.
Namun Serena melihat jemari pria itu mengetuk setir perlahan. Kebiasaan kecil Damien setiap kali sedang berpikir keras.
“Aku ingin dia bahagia,” jawabnya tenang.
“Namun kau mencintainya.”
“Aku sudah mencintainya terlalu lama.” Kalimat itu terdengar sangat jujur dan lelah.
Anehnya, justru itu yang membuat Serena semakin tidak nyaman.
“Apa kau pernah berpikir untuk merebutnya?” tanya Serena tanpa sadar.
Damien tertawa kecil. “Kau membuatku terdengar seperti penjahat.”
“Kadang kau memang terdengar seperti itu.”
Pria itu akhirnya menoleh menatap Serena. Tatapannya gelap dalam cahaya samar dashboard mobil. “Aku tidak perlu merebut perempuan yang memang tidak pernah benar benar dimiliki laki laki lain.”
Jantung Serena langsung berdetak lebih keras.
Karena untuk pertama kalinya, ada sesuatu dalam nada suara Damien yang terasa berbahaya. Seolah pria itu mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Dan sebelum Serena sempat bertanya lebih jauh, ponselnya tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Serena mengernyit kecil sebelum mengangkatnya perlahan.
“Halo?”
Suara perempuan di seberang sana terdengar cepat dan panik.
“Apakah ini Nona Serena Roe?”
“Siapa ini?”
“Kami dari Rumah Sakit St. Mary. Nomor Anda adalah kontak terakhir yang dihubungi korban sebelum kecelakaan terjadi.”
Jantung Serena langsung berhenti sesaat.
“Kecelakaan?”
Damien langsung menoleh cepat.
“Korban atas nama Julian Hayes mengalami kecelakaan kendaraan sekitar dua puluh menit lalu.”
Dunia Serena langsung terasa sunyi.
“Apa...?”
“Kondisinya kritis. Kendaraannya terbakar cukup parah dan pasien sedang dalam penanganan darurat sekarang. Untungnya, korban berhasil ke luar dari dalam mobil sebelum ledakan itu.”
Suara perempuan itu mendadak terdengar jauh.
Serena tidak bisa bernapas.
Julian. Mobil terbakar. Kritis.
Kata kata itu seperti menghantam kepalanya berkali kali sekaligus.
“Serena.” Damien langsung mengambil alih ponsel dari tangan perempuan itu sebelum memutus sambungan.
Pria itu menepikan mobil dengan cepat. “Hey. Lihat aku.”
Namun Serena justru mulai gemetar.
“Serena, tolong tenang.”
“Aku baru saja bicara dengannya...” napas Serena mulai kacau. “Aku baru saja meninggalkannya...”
Damien langsung menarik Serena mendekat begitu perempuan itu mulai menangis. Tubuh Serena gemetar hebat di dalam pelukannya sementara hujan terus menghantam atap mobil di atas mereka.
Dan Damien memeluknya erat sekali. “Aku di sini,” bisiknya rendah di rambut Serena. “Tarik napas.”
Namun Serena tetap menangis. Karena beberapa menit lalu Julian masih duduk di hadapannya sambil tersenyum hangat. Dan sekarang laki-laki itu mungkin sedang sekarat.
Begitu mereka tiba, rumah sakit dipenuhi cahaya putih yang menusuk mata dan suara langkah tergesa di sepanjang lorong. Serena nyaris tidak bisa berjalan lurus. Damien terus menggenggam tangannya sepanjang jalan menuju ruang tunggu darurat, seolah takut perempuan itu akan runtuh kapan saja.
Seorang dokter menghampiri mereka beberapa menit kemudian dengan wajah tegang.
“Anda keluarga pasien?”
Damien lebih dulu menjawab. “Kami orang terdekatnya. Bagaimana kondisinya?”
Dokter itu tampak ragu sesaat.
“Kecelakaannya cukup parah.” Pria itu mengembuskan napas kecil. “Mobil korban terbakar setelah menabrak pembatas jalan, lalu meledak beberapa saat kemudian.”
Serena langsung menutup mulutnya perlahan.
“Kami masih melakukan penanganan, tetapi...” dokter itu berhenti sebentar. “Kondisinya sangat kritis.”
Dunia Serena langsung terasa limbung. Damien segera menahan tubuh perempuan itu sebelum jatuh. “Duduk,” gumamnya rendah.
Serena duduk perlahan di kursi lorong rumah sakit dengan wajah pucat. Tangannya dingin sekali. Pikirannya kacau. Julian baru saja tersenyum padanya satu jam lalu. Julian baru saja mengatakan tidak membencinya.
Dan sekarang...
“Apa keluarganya sudah datang?” tanya Damien tenang.
“Masih dalam perjalanan.”
Dokter itu pergi beberapa saat kemudian, meninggalkan Serena dalam keheningan lorong yang dingin. Damien duduk di samping perempuan itu tanpa bicara. Tangannya terus menggenggam jemari Serena pelan, seolah pria itu satu satunya hal yang masih bisa menjaga Serena tetap utuh malam ini.
“Aku takut dia mati,” bisik Serena dengan suara pecah.
Damien menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan mengusap rambut perempuan itu ke belakang telinga.
“Julian tidak akan mati.” Nada suaranya terdengar sangat yakin. Terlalu yakin.
Serena mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Tatapan Damien bertahan di wajah Serena cukup lama sebelum akhirnya pria itu mengembuskan napas kecil.
“Ada kalanya,” gumamnya pelan, “hidup memberi seseorang kesempatan untuk menghilang dari kehidupan yang salah.”
Jantung Serena langsung berdetak aneh.
Damien melanjutkan dengan nada tenang yang nyaris terdengar masuk akal. “Kalau Julian selamat setelah ini, apa yang menunggunya?” tanya pria itu rendah. “Pernikahan dengan perempuan yang belum tentu mencintainya?”
“Damien...”
“Aku sedang serius.”
Tatapan pria itu tetap tenang. Tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mengatakan hal mengerikan. Justru itu yang membuatnya semakin sulit dibaca.
“Kau melihat sendiri tadi.” Damien membelai jemari Serena pelan. “Ia masih belum benar-benar bahagia.”
Serena menatap Damien tanpa benar benar mengerti arah pembicaraan pria itu. Sementara Damien terlalu cerdas untuk terdengar seperti sedang menggiringnya. Pria itu justru terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba memahami tragedi.
“Kadang aku berpikir,” gumam Damien pelan sambil menatap lorong rumah sakit yang kosong, “mungkin hidup seseorang benar-benar bisa berubah hanya karena satu malam.”
...----------------...
...To be continue...