Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Cahaya Bulan
Setelah ketegangan di ruang kerja dan kekacauan rencana sabotase yang mulai berjalan di balik layar, Elian dan Lyra membutuhkan pelepasan yang lebih dari sekadar kecupan singkat. Villa d'Este memiliki banyak rahasia, dan salah satunya adalah balkon outdoor yang tersembunyi di ujung koridor timur, menghadap langsung ke arah Laut Mediterania yang luas.
Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di langit yang jernih, memantulkan perak di atas permukaan air laut yang tenang. Angin laut yang dingin berhembus pelan, membawa aroma garam dan kebebasan. Lyra sudah berada di sana lebih dulu, berdiri di tepi balkon marmer yang dingin, menatap ke arah horison yang gelap namun berkilau. Gaun merah darahnya tertiup angin, memperlihatkan siluet tubuhnya yang mempesona di bawah cahaya bulan.
Tak butuh waktu lama hingga bayangan maskulin Elian muncul dari kegelapan koridor. Ia menutup pintu kaca besar itu dengan satu hentakan yang membungkam sisa-sisa suara musik dari aula gala. Sekarang, hanya ada mereka berdua, suara deburan ombak di bawah sana, dan luasnya langit malam.
Gairah yang Meluap
Elian tidak membuang waktu untuk basa-basi. Ia mendekati Lyra dari belakang, melingkarkan lengannya yang kuat di pinggang ramping kekasih rahasianya itu. Ia bisa merasakan tubuh Lyra yang sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena antisipasi akan apa yang akan terjadi. Elian merenggut topeng renda hitam Lyra, membuangnya ke lantai balkon seolah-olah benda itu adalah sampah yang menghalangi penglihatannya.
"Lihat pemandangan laut malam ini, Lyra," bisik Elian tepat di dekat telinga Lyra, suaranya serak dan gelap, mengirimkan sensasi listrik ke seluruh syaraf wanita itu. "Sangat cantik, seperti dirimu. Tidak... kamu jauh lebih cantik dan menggoda di bawah cahaya bulan ini."
Elian membalikkan tubuh Lyra dengan gerakan yang cepat namun terkendali. Ia menatap wajah Lyra yang kini terpapar sepenuhnya oleh cahaya bulan—mata yang sayu oleh keinginan dan bibir yang sedikit terbuka. Elian langsung memutus jarak dengan ciuman yang kasar dan penuh kecemburuan, mengingat kembali bagaimana Julian menggandeng tangan Lyra tadi. Tangan Elian dengan cepat membuka kancing dan ritsleting gaun merah Lyra, membiarkan kain mahal itu melorot jatuh ke bawah bahunya, menumpuk di lantai marmer yang dingin.
Elian menunduk, menyesap dan mengulum payudara Lyra dengan intensitas yang hampir menyakitkan, seolah ingin meninggalkan tanda yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun, bahkan oleh waktu. Lyra merintih keras, tangannya meremas rambut hitam Elian, menarik pria itu agar semakin dalam mengklaim tubuhnya. Udara outdoor yang dingin justru semakin menyulut birahi mereka, menciptakan kontras yang luar biasa antara kulit yang merinding dan gairah yang membara.
Permainan di Tepi Balkon
Namun, Elian belum ingin mengakhiri permainan ini dengan cepat. Ia ingin Lyra benar-benar hancur dalam nikmat di bawah saksi bisu alam semesta. Elian kembali membalikkan tubuh Lyra, membuat wanita itu menghadap ke arah laut yang gelap namun berkilau. Punggung Lyra kini menempel erat di dada bidang Elian yang panas tanpa penghalang pakaian.
Salah satu tangan Elian merayap turun, menyusup di antara paha Lyra yang sudah merapat namun bergetar. Ia menelusuri area bawah Lyra yang sensitif, yang kini sudah sangat basah oleh cairan hasrat yang meluap. Elian memasukkan beberapa jarinya sekaligus, bergerak dengan ritme yang lambat namun memberikan tekanan yang sangat presisi pada titik terdalamnya. Lyra menikmati setiap detik permainan jari Elian; satu tangan pria itu terus memilin dan meremas puncak payudaranya sementara jarinya yang lain mengklaim area sensitifnya di bawah sana dengan cara yang sangat mahir.
"Desahkan namaku, Lyra... biarkan laut ini tahu siapa yang memilikimu malam ini," geram Elian di telinga Lyra, gigitannya yang kecil pada cuping telinga Lyra membuat wanita itu hampir terjatuh jika saja ia tidak memegang pegangan balkon marmer itu dengan kuat.
Lyra mendongak, menatap bintang-bintang yang seolah berputar di atas kepalanya. Suara erangannya kini bersahutan dengan suara deburan ombak, menciptakan simfoni liar yang tak tertandingi oleh orkestra mana pun di dalam aula.
Penaklukan di Bawah Bulan
Elian tidak lagi mampu menahan diri. Ia segera membebaskan miliknya yang sudah menegang keras dan berdenyut hebat. Dengan satu hentakan yang kuat, dalam, dan mutlak, Elian membenamkan miliknya ke dalam diri Lyra dari arah belakang. Tubuh polos Lyra terdorong ke depan, dadanya menekan pegangan balkon marmer yang sangat dingin, menciptakan sensasi yang menyiksa sekaligus luar biasa nikmat karena kontras dengan panasnya tubuh Elian yang masuk ke dalam dirinya.
Elian meningkatkan ritmenya dengan cepat. Setiap dorongannya adalah janji, setiap hentakannya adalah pengakuan bahwa tidak akan ada Count Julian, tidak akan ada Isabella, dan tidak akan ada siapa pun yang bisa merebut Lyra darinya. Angin laut yang dingin menerpa punggung mereka yang berkeringat, namun birahi mereka justru semakin membuncah. Balkon outdoor ini bukan lagi sebuah halangan; ini adalah panggung kemenangan mereka atas semua belenggu takdir.
Hentakan Elian semakin brutal dan dalam, membuat seluruh tubuh Lyra bergetar mengikuti ritme pria itu. Di puncak gairah yang tak terbendung, saat pemandangan laut di depan mata Lyra mulai memudar karena kenikmatan yang meluap, mereka berdua mencapai klimaks yang menghancurkan secara bersamaan. Lyra berteriak parau, suaranya dibawa terbang oleh angin laut, sementara Elian mengerang dalam, menanamkan semua benih kemarahannya dan cintanya jauh di dalam diri Lyra.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, mereka telah membuktikan bahwa tidak ada tempat yang terlalu terbuka untuk cinta mereka yang terlarang. Di balkon itu, topeng mereka tidak hanya jatuh; mereka telah membakar topeng itu selamanya.
lanjutkan kak