NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang yang Terurai

"Takdir ibarat sebuah sungai yang mengalir tenang namun membawa arus yang kuat. Ia sering kali membawa kita berkeliling melewati berbagai pemandangan, menyusuri lembah dan bukit, sebelum akhirnya membawa kita kembali ke muara asal. Kadang, jawaban terbesar tidak datang dalam sekejap mata, melainkan tersusun perlahan lewat tatapan, senyuman, dan perasaan yang perlahan mengarah pada sebuah kebenaran yang telah lama tertidur, seiring dengan perubahan warna langit dan bisikan angin."

...****************...

Beberapa hari kemudian, Tuan Rian mengajak Hariz dan Rosella menghadiri sebuah acara amal gala dinner yang sangat bergengsi. Malam itu, Rosella tampil begitu anggun mengenakan gaun panjang berwarna soft blue, dengan tata rias yang sederhana namun memancarkan kecantikan alami yang luar biasa.

Saat mereka berdiri berdampingan dengan Rian dan Shella untuk berfoto, banyak tamu lain yang berkomentar.

"Wah, Tuan Rian, Nyonya Shella... keluarga Anda terlihat begitu lengkap dan harmonis," puji salah satu tamu.

"Nona Rosella ini sangat cantik, seolah-olah memang satu darah dengan Nyonya Shella."

Ucapan itu hanya dianggap sebagai basa-basi manis, namun bagi Rian dan Shella, kata-kata itu bagaikan panah yang menancap tepat di hati. Mereka melihat profil wajah Rosella di bawah cahaya lampu kristal. Bentuk rahangnya, garis alisnya... semakin lama semakin terlihat jelas kemiripannya dengan mereka berdua.

Di tengah acara, saat para tamu sedang menikmati hidangan, Shella mengajak Rosella berjalan-jalan sebentar di balkon yang menghadap ke taman kota.

"Dingin tidak, Nak?" tanya Shella, lalu dengan gerakan refleks dan sangat alami, ia menyelipkan anak rambut yang tertiup angin ke belakang telinga Rosella.

Gerakan itu... gerakan yang sangat halus dan penuh kasih sayang itu membuat Rosella terpaku. Ada rasa hangat yang menjalar di pipinya, sebuah rasa nyaman yang luar biasa, seolah ia pernah merasakan sentuhan itu jutaan tahun yang lalu.

"Terima kasih, Bu..." bisik Rosella.

Shella tersenyum, namun matanya menatap leher Rosella yang terbuka sedikit. Di sana, ia melihat lagi samar-samar titik kecil cokelat di belakang telinga kiri. Jantung Shella berdegup kencang, namun ia tidak menunjukkannya.

"Kau tahu, Rosella... dulu aku juga punya anak perempuan. Sangat cantik, sama sepertimu. Dan dia juga memiliki titik kecil yang cantik di tempat yang sama persis," ucap Shella pelan, suaranya bergetar.

Rosella tersentak, tangannya refleks memegang telinganya. "Benarkah, Bu?"

"Benar, Sayangku... tapi sayangnya... kami kehilangan dia saat dia masih sangat kecil di tengah keramaian bandara saat hendak terbang ke luar negeri. Sejak saat itu, hidup kami terasa hampa," cerita Shella, air matanya mulai menetes namun ia segera menyekanya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Maafkan Ibu, jadi sedih lagi."

Rosella merasa dadanya sesak. Ia merasakan kesedihan yang mendalam dari wanita di hadapannya, dan anehnya, ia juga ikut merasa sedih, seolah itu adalah ceritanya sendiri.

Keesokan harinya, langit tampak mendung kelabu sejak pagi. Awan-awan tebal bergumpal di angkasa, menandakan hujan lebat akan segera turun. Suasana menjadi hening dan sedikit suram, namun justru suasana inilah yang membawa ke dalam emosi yang hangat.

Rian dan Shella datang lagi. Kali ini mereka ingin mengajak Arhan bermain dan sekadar mengobrol santai, meski hati mereka penuh tanda tanya besar.

Arhan sedang duduk di play mate, bermain dengan mainan berbunyi. Rian menggendongnya, dan lagi-lagi ia takjub melihat betapa miripnya bayi itu dengan Kevin, anak bungsunya.

Namun kali ini, pandangannya beralih ke Rosella yang sedang tertawa melihat mereka bermain, suaranya terdengar jelas di antara suara rintik hujan yang mulai membasahi atap dan jendela.

"Rosella," panggil Tuan Rian, "Bolehkah Bapak tahu, tahun berapa kamu lahir? Dan apakah ada benda atau tanda pengenal apa pun yang ada padamu saat ditemukan dulu? Sesuatu yang mungkin menjadi kunci untuk mengetahui identitasmu?""

Rosella berpikir sejenak. "Kalau tidak salah, tanggal dan tahunnya tercatat di dokumen panti, sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu, Pak. Dan... saat aku ditemukan, katanya aku hanya memakai sebuah kalung perak kecil berbentuk bunga mawar."

BRAK!

Cangkir yang dipegang Shella hampir saja terlepas dari tangannya, beradu dengan piringan kecil dan mengeluarkan suara nyaring yang memecah suara hujan. Wajahnya pucat pasi, seolah darah berhenti mengalir.

"Bunga mawar?" bisik Shella tak percaya. "Kalung bunga mawar?"

"Ya, Bu. Aku masih menyimpannya sampai sekarang sebagai satu-satunya peninggalan," jawab Rosella polos.

"Ambilkan... tolong ambilkan untuk kami melihatnya, Rosella... kumohon," suara Shella memohon dengan sangat, matanya memancarkan harapan yang begitu besar.

Rosella bingung namun segera menurut. Ia naik ke atas dan mengambil kotak kecil berisi barang-barang berharganya. Saat ia kembali dan menyerahkan kalung itu ke tangan Rian, tangan pria tua itu gemetar hebat.

Itu adalah kalung yang sama. Persis sama. Kalung yang ia belikan khusus untuk putri kecilnya, Aurellia, sebagai hadiah ulang tahun yang pertama.

"Ini... ini kalungnya..." Rian menatap Rosella dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Shella... lihat ini... inilah yang kita cari selama ini..."

Di luar, hujan turun semakin deras, membasahi bumi dengan suara gemuruh yang khidmat, seolah alam pun ikut menangis haru menyaksikan momen bersejarah ini. Shella sudah tidak sanggup lagi menahan isak tangis. Ia menatap Rosella, lalu menatap kalung perak itu, lalu menatap wajah Rosella lagi dengan pandangan yang tak percaya.

Semua potongan puzzle itu kini tersusun sempurna di hadapan mereka. Usia yang cocok, tanda lahir yang unik, kenangan samar tentang keramaian bandara, kemiripan Arhan dengan Kevin, dan kini kalung sakti ini... semuanya menjawab satu pertanyaan besar.

"Jadi selama ini..." kata Shella dengan suara pecah, "Kamu... kamu ada di dekat kami. Kamu adalah anak kami. Putri kecil kami yang hilang..."

Rosella berdiri kaku di tempatnya. Dunia seakan berhenti berputar, hanya terdengar suara hujan yang menderu di luar jendela dan detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang.

"Tunggu... jadi..." Rosella menelan ludah susah, air matanya jatuh tanpa sadar, "Bapak dan Ibu... adalah Ayah dan Ibuku yang sebenarnya?"

Tuan Rian mengangguk kuat, air matanya akhirnya tumpah juga.

"Ya, Sayangku. Ya Allah... akhirnya... akhirnya kami menemukanmu kembali. Kamu adalah Aurellia kami. Kamu adalah putri kami yang hilang di bandara itu..."

Mereka tidak bisa menahan diri lagi. Shella merentangkan kedua tangannya dan menarik Rosella masuk ke dalam pelukan hangat yang begitu rindu. Pelukan yang begitu erat, seolah ingin menebus semua waktu yang hilang selama lebih dari dua puluh tahun.

"Maafkan Ibu... maafkan Ibu dan Ayah pernah kehilanganmu, Nak..." isak Shella di bahu Rosella, tangannya mengelus punggung wanita itu berulang kali, memastikan bahwa ini bukan mimpi. "Kami mencarimu ke mana-mana, kami menangis setiap hari, dan kini Allah mengembalikanmu dalam keadaan yang begitu baik, begitu cantik, dan sudah menjadi ibu yang hebat."

Tangis haru pecah, memecah keheningan. Selama ini mereka berpikir Arhan yang membawa kembali kenangan, namun ternyata Tuhan mengirimkan Rosella kembali ke dalam kehidupan mereka dengan cara yang paling rumit namun paling indah: melalui pernikahan dan cinta.

Arhan di gendongan Rian tertawa kecil, seolah ikut bersorak menyaksikan keluarga besarnya akhirnya bersatu kembali setelah sekian lama berpisah.

Hariz yang sejak tadi menyaksikan dengan mata berkaca-kaca akhirnya maju mendekat. Ia menunduk hormat kepada Rian dan Shella.

"Jadi... selama ini saya menikahi putri Anda, Pak, Bu. Saya tidak tahu menahu, tapi hati saya selalu merasa hormat dengan kalian. Ini adalah kebahagiaan terbesar untuk saya."

Rian menepuk bahu menantunya itu dengan bangga. "Kau telah menjaga harta kami yang paling berharga, Hariz. Kau telah membahagiakan putri kami. Terima kasih telah menjadi pelindung bagi Aurellia kami."

1
Ocan🌼
best
Pich
wah musuh baru
Seai
🤔🤔
Rosella
nama ku rosella juga.
Rocean: Hai Rosella😍
total 1 replies
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!