Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Api kesadaran yang membara di dada Darren Wijaya membuatnya tidak bisa lagi berdiam diri hanya memandang dari jauh.
Egonya yang besar dan rasa kepemilikannya yang mendadak muncul mendorongnya untuk bertindak tegas. Dia harus bertemu Selly, dia harus bicara, dan dia harus mengembalikan situasi ke dalam genggamannya seperti dulu.
Malam itu, suasana di dalam ballroom hotel mewah itu sangat ramai dan meriah. Orang-orang berbincang, tertawa, dan bersosialisasi dengan penuh gaya.
Darren berdiri di sudut ruangan, matanya yang tajam terus mengawasi satu sosok yang menjadi pusat dunianya saat ini.
Selly Adhitama.
Gadis itu terlihat sangat berbeda. Tidak hanya dari penampilannya yang makin cantik dan anggun, tapi dari cara dia berdiri, cara dia berbicara, dan cara dia memancarkan aura percaya diri yang luar biasa.
Saat melihat Selly sedang berjalan sendirian menuju area bar untuk mengambil minuman, Darren melihat itu sebagai kesempatan emas.
'Ini waktunya, aku akan menyapanya' batinnya mantap.
Dengan langkah tegap, wibawa, dan penuh gaya khas seorang CEO, Darren berjalan mendekati Selly. Dia menata ekspresi wajahnya menjadi sesopan mungkin, mencoba menghilangkan aura marah dan cemburunya sedikit saja.
Dia yakin... begitu Selly melihatnya, gadis itu pasti akan tersenyum lebar, salah tingkah, pasti akan gugup, dan pasti akan senang seperti dulu. Bagaimanapun juga, Selly adalah orang yang paling mencintainya selama bertahun-tahun ini.
Darren berhenti tepat di samping Selly.
"hallo Sel..." panggilnya dengan suara berat dan rendah yang khas, berusaha terdengar ramah namun tetap berwibawa.
Mendengar suara itu, Selly perlahan menolehkan wajahnya.
Matanya bertemu langsung dengan mata tajam Darren.
Namun... reaksi yang ditunggu-tunggu oleh Darren tidak kunjung muncul. Bahkan tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegembiraan atau kegugupan seperti yang dia bayangkan.
Wajah Selly tetap tenang, datar, dan sangat terkontrol.
Tidak ada kilatan bahagia di matanya.
Tidak ada senyum lebar yang menyambut.
Tidak ada pipi yang memerah karena malu.
Dan yang paling penting... tidak ada tatapan memohon atau penuh cinta seperti dulu.
Yang ada hanyalah sebuah tatapan sopan, tatapan formal, dan tatapan yang menjaga jarak sangat jauh. Seolah-olah Darren ini hanyalah seorang kenalan biasa atau rekan bisnis yang baru saja ditemui.
Selly hanya mengembangkan senyum tipis, sangat singkat, dan sangat dingin.
"Oh... Om Darren. Halo Om,," ucap Selly pelan dengan nada suara yang datar, datar sekali, tanpa ada beban perasaan apapun di dalamnya.
OM DARREN?!
Dua kata itu meledak di telinga Darren seperti bom waktu yang meledak tepat di samping kepalanya.
Darren terpaku sempurna di tempatnya. Tubuhnya kaku, matanya membelalak lebar tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
'Om?! Dia panggil aku Om?!'
Darren merasa dunia seakan berhenti berputar sejenak.
Selama bertahun-tahun mereka dekat, selama bertahun-tahun Selly mengejarnya dan mendekatinya... gadis itu tidak pernah sekalipun memanggilnya dengan sebutan sejauh itu.
Panggilan 'Om' itu adalah panggilan untuk orang yang lebih tua, untuk orang yang dihormati karena jabatan atau usia, atau untuk orang yang sama sekali tidak memiliki ikatan emosional yang dalam dengannya!
Bukan untuk seseorang yang pernah menjadi pusat dunianya!
Bukan untuk seseorang yang dulu dia cintai lebih dari apapun di dunia!
'Apa dia salah dengar?! Atau dia sengaja melakukan ini?! Dia sengaja menjauhkan aku dengan panggilan itu?!' batin Darren bergejolak, tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya.
Dia ingin marah, dia ingin memprotes, tapi mulutnya seakan terkunci rapat. Dia terlalu kaget untuk mengeluarkan suara.
Belum sempat Darren memproses keterkejutannya itu...
Selly sudah bergerak lagi.
"Eh, maaf ya Om... saya ada perlu dulu," ucap Selly lagi dengan sangat santai, seakan tidak melihat betapa terguncangnya pria di hadapannya ini.
Tanpa menunggu balasan, tanpa menoleh lagi, dan tanpa rasa bersalah sedikitpun...
Selly melangkahkan kakinya melewati sisi tubuh Darren yang tegap kaku itu.
Dia berjalan melewati Darren begitu saja. Seolah-olah pria tampan dan kaya raya di depannya ini hanyalah sebuah tiang penyangga atau patung yang tidak memiliki arti apa pun.
Dan yang paling menyakitkan, paling menyakitkan di dunia ini...
Darren melihat dengan mata kepalanya sendiri ke mana arah langkah kaki Selly.
Gadis itu tidak pergi ke tempat lain. Dia berjalan dengan langkah ringan dan wajah yang perlahan berubah menjadi cerah menuju ke satu arah.
KE ARAH ARON WALKER.
Dari kejauhan, Aron sudah tersenyum lebar menanti kedatangan Selly. Begitu Selly sampai di depannya, Aron langsung menyapa dengan lembut dan natural menggenggam tangan gadis itu.
"Kak Aron..." suara Selly berubah total. Kini terdengar ceria, hangat, dan manis sekali. Berbanding terbalik 180 derajat dengan nada dingin saat bicara pada Darren tadi.
"Maaf lama ya, tadi ketemu kenalan sebentar."
"Iya tidak apa-apa Sayang, ayo kita ke sana yuk," jawab Aron lembut, lalu dia mengajak Selly berjalan beriringan menjauh dari pandangan Darren.
Mereka berjalan bahu membahu, tertawa, dan terlihat begitu bahagia. Meninggalkan Darren yang berdiri mematung seperti orang bodoh di tengah keramaian.
Darren tidak bisa bergerak. Seluruh otot tubuhnya terasa kaku dan dingin.
Dadanya sesak, sangat sesak, dan terasa hampa luar biasa.
Matanya tak lepas memandang punggung Selly yang semakin menjauh dan menghilang di antara orang banyak.
'Dia... dia benar-benar berubah...' batin Darren bergetar hebat, pikirannya kacau balau menyadari kenyataan pahit ini.
'Panggil aku Om... dia sungguh-sungguh memanggil aku Om dengan wajah setenang itu?! Sejak kapan jarak di antara kita menjadi sejauh dan sedingin ini?!'
'Dulu... dulu dia akan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia kalau bisa berdiri sedekat ini sama aku. Dulu matanya tidak pernah lepas dariku. Dulu suaranya bergetar kalau bicara padaku karena terlalu gugup dan terlalu sayang.'
'Tapi sekarang?! Dia cuma menyapa singkat! Dia cuma senyum basa-basi! Dan dia pergi seenaknya?! Dia meninggalkanku cuma untuk lari ke pelukan cowok lain?!'
Darren menelan ludah dengan susah payah, rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya.
Dia sadar sekarang... ini bukan main-main. Ini bukan sekadar Selly marah atau Selly ngambek.
Ini nyata.
Selly sudah benar-benar berubah.
Selly sudah tidak lagi memandangnya sebagai pusat dunianya.
Selly sudah tidak lagi membutuhkannya.
Dan Selly... sudah bahagia dengan hidupnya yang baru tanpa dirinya.
Kenyataan itu menampar wajah Darren dengan sangat keras dan sangat menyakitkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Darren Wijaya merasa tidak berdaya. Dan untuk pertama kalinya... dia merasakan betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang selama ini dia anggap pasti akan selalu ada untuknya.
(Bersambung...)