Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: CEO Misterius
Sisa aroma aspal basah Muara Tenang semalam masih terasa mengendap di ujung kemeja Fais. Tapi ia mengabaikannya. Ia tidak peduli.
Distrik pusat sedang tidak baik-baik saja. Nama Grup Cakrawala menjalar. Menjalar cepat. Seperti wabah lintah di selokan kotor.
Grup itu menelan wilayah. Menggilas kompetitor dari pinggiran hingga masuk ke jantung kota. Laporannya selalu sama. Cakrawala menang tender. Cakrawala akuisisi lahan. Cakrawala menghancurkan kartel lokal.
Tapi bukan dominasi pasar itu yang bikin petinggi distrik pusat mual.
Mereka mual karena tidak tahu wajah siapa yang harus mereka ludahi.
CEO Cakrawala itu absen. Kosong. Tidak ada di radar.
Di ruangan-ruangan berpoles pernis mahal, para elit menghisap cerutu dengan gelisah. Asap menebal meracuni plafon. Obrolan mereka berputar di satu lubang keparat yang sama.
Siapa bajingan yang mengendalikan monster baru ini?
Jawabannya sudah dikubur dalam-dalam. Dibakar habis hingga menjadi abu oleh Wawan.
Mantan tentara bayaran itu tidak cuma pintar mematahkan leher atau memotong jari. Wawan paham cara mencekik leher birokrasi. Ia punya kunci ke laci-laci kotor pemerintahan.
Wawan memakai jalur militer usangnya. Menekan tombol-tombol politik di balai kota. Menggeser pelumas uang tunai di jaringan birokrat tamak.
Tujuannya cuma satu. Menghapus Fais dari eksistensi publik. Menjadikannya hantu bernapas.
Catatan lahir luntur. Dokumen sekolah lama menguap. Riwayat mutasi bank terhapus dari server pusat. Luntur. Semuanya luntur.
Bahkan lokasi rumah orang tua Fais dilindungi lapis demi lapis enkripsi dan alamat palsu. Menyesatkan siapa pun yang mencoba melacak darah pemuda itu.
Fais yang memintanya langsung. Fais yang memberi perintah penutupan itu.
Bukan karena ia takut peluru nyasar nyangkut di kepalanya sendiri. Ia hanya muak membayangkan keluarganya terseret masuk ke kolam bangkai yang sedang ia bangun. Ibunya tidak perlu tahu dari mana ratusan juta rupiah itu berasal.
Bagi para elit distrik pusat, itu adalah anomali berengsek. Investigasi mereka selalu menabrak tembok beton.
Orang bayaran profesional dikerahkan. Detektif swasta disewa mahal. Peretas kelas kakap ditarik dari sarang mereka. Semua pulang dengan tangan kosong. Atau tidak pulang sama sekali. Menghilang di selokan distrik Barat.
Di dunia tempat informasi adalah oksigen, orang yang tidak punya jejak jauh lebih menakutkan dari pembunuh bayaran.
Orang-orang berdasi itu mulai dihantui paranoid. Mereka merasa diawasi oleh entitas tanpa wajah. Entitas yang memegang kendali ekonomi tapi tidak punya bayangan.
Di saat distrik pusat sibuk berhalusinasi ketakutan, sang CEO tanpa wajah justru sedang duduk bosan.
Ruangan kerja Fais terasa hampa. Sangat hampa. Pendingin udara mendengung pelan di sudut. Terlalu pelan sampai rasanya memekakkan telinga.
Fais membalik halaman buku tebal di pangkuannya. Halaman demi halaman. Suara kertas bergesekan itu repetitif. Sangat repetitif.
Ia membaca barisan teks itu, tapi otaknya tidak benar-benar di sana.
Sebuah tablet menyala di atas meja kayu solidnya. Laporan masuk. Grafik ekspansi berkedip-kedip minta diperhatikan.
Fais meletakkan bukunya pelan. Ia menatap layar itu dengan mata setengah mati. Apatis. Dingin.
Tidak ada gairah menaklukkan dunia. Tidak ada euforia kekuasaan.
Layar neon biru meledak pelan di sudut matanya. Sistem menganalisis tumpukan data dalam hitungan detik. Angka probabilitas berdansa di retinanya. Tanpa disuruh. Tanpa gagal.
Ia mengetik satu baris balasan singkat untuk Sri Arsila. Lalu ia memberi satu anggukan lambat saat ajudan Wawan masuk membawa berkas eksekusi gudang ilegal.
Hanya itu. Cuma itu.
Tapi arah angin seluruh ibu kota berubah seketika.
Mesin Cakrawala menderu ganas. Ribuan orang bergerak di bawah sana. Mematahkan tulang, menyogok pejabat, memindahkan peti kemas, mencetak uang.
Semuanya bermuara pada gerak malas telunjuk Fais. Seluruh ekosistem perusahaan raksasa itu bergerak absolut mengikuti arah pikirannya yang apatis.
Rutinitas stagnan ini mulai menumpuk di pundak Fais. Semuanya terlalu mudah. Terlalu gampang ditebak. Matanya menatap lurus ke arah dinding kaca yang menampilkan langit sore Muara Tenang.
Langit itu abu-abu lebam. Persis seperti isi kepalanya.
Lalu suara itu merobek keheningan.
Ponsel pribadinya bergetar kasar di atas meja. Bukan saluran khusus perusahaan yang dienkripsi. Tapi ponsel hitam usang yang nyaris tidak pernah bersuara selama berbulan-bulan.
Fais menunduk. Ia menatap layar kecil yang retak di bagian ujungnya itu. Ada nama yang asing tapi familiar muncul di sana.
Bagas.
Fais menghembuskan napas panjang. Udara dingin keluar dari hidungnya perlahan. Ia menatap nama itu cukup lama. Berapa lama sejak terakhir kali orang ini menghubunginya?
Layar terus berkedip. Bergetar. Bergetar memanggil.
Ia membiarkannya sebentar. Membiarkan suara getaran itu beradu dengan meja kayunya. Lalu tangannya bergerak. Ia menggeser ikon hijau ke kanan.
Terdengar suara bising musik kafe dari seberang sana.
Lalu Bagas tertawa keras. Tawa yang terlalu dipaksakan. Tawa orang yang mencoba terdengar akrab setelah sekian lama putus kontak.
"Fais. Astaga. Masih hidup juga kau." Suara Bagas mengudara dari speaker kecil itu.
Fais hanya diam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Telinganya kebas mendengar cecaran basa-basi yang hambar.
Bagas terus bicara. Mengoceh tentang cuaca. Tentang pekerjaan bengkelnya yang mandek. Fais mendengarkan tanpa minat. Menunggu inti dari buang-buang waktu ini keluar.
Lalu intinya keluar.
"Gini, akhir bulan ini ada acara. Reuni alumni kita. Anak-anak pada kumpul semua di kafe pusat. Kau harus datang, is. Jangan menyendiri terus di kosan."
Reuni alumni.
Kata itu terasa sangat alien meluncur di telinga Fais. Sesuatu yang terasa berasal dari dimensi kehidupan yang sudah ia tinggalkan jauh di belakang.
Bagas terus bicara tentang siapa saja yang akan datang. Tentang uang iuran patungan. Tentang nostalgia busuk yang sama sekali tidak ada nilainya di bursa saham atau di meja potong Wawan.
Fais menatap luar jendela kaca kerjanya. Kota Muara Tenang mulai menggelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu menelan bayangan sore.
Suara Bagas masih mengoceh di telepon. Meminta kepastian. Menuntut jawaban.
Fais tidak langsung bersuara. Ia membiarkan napas Bagas di seberang sana menggantung canggung.
Karena bersamaan, sebuah Misi Dasar muncul.
[Ding Misi Baru!]
[Misi: Melangkah lebih jauh]