Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Lambung Besi
Dinginnya air laut utara Jakarta yang memercik ke wajah Alea tak sebanding dengan debaran jantungnya yang terasa ingin melompat keluar dari rongga dada. Setiap tetes air yang mengenai kulitnya terasa seperti jarum es, namun rasa takut yang menjalar di nadinya jauh lebih membekukan. Di hadapan mereka, Brankas 00 berdiri angkuh—sebuah struktur besi raksasa yang tampak seperti monster purba yang sedang tertidur di tengah kegelapan samudera.
Perahu karet itu kini bersandar pada pilar beton raksasa yang licin akibat lumut, tiram, dan kerak garam selama puluhan tahun. Suara deru mesin perahu yang dimatikan menyisakan sunyi yang mencekam, hanya menyisakan suara deburan ombak yang menghantam kaki-kaki anjungan dengan irama yang mengancam.
Baskara mengangkat tangannya, memberikan isyarat diam yang mutlak. Matanya yang tajam seperti elang menatap ke arah puncak anjungan. Di atas sana, cahaya lampu sorot helikopter menyapu permukaan laut, dan suara baling-baling yang mulai melambat menandakan sang ratu Mahardika, Sarah, sudah menginjakkan kaki di lantai atas.
"Reno, pasang pemancar gangguan di sini," perintah Baskara dengan suara rendah yang nyaris tenggelam oleh suara angin.
Reno tidak membuang waktu. Dengan gerakan terlatih, ia mengeluarkan sebuah perangkat elektronik kecil dengan lampu indikator merah yang berkedip pelan. Ia menempelkan alat itu ke bagian terdalam pilar besi, tempat yang tidak akan terlihat oleh patroli keamanan dari atas.
"Selesai, Bas," bisik Reno. Tangannya sedikit gemetar saat ia memeriksa koneksi pada tablet di pergelangan tangannya. "Jika dalam tiga puluh menit aku tidak menerima sinyal aman darimu, aku akan meledakkan frekuensi alat ini. Seluruh sistem kelistrikan anjungan ini akan mati total, termasuk sensor keamanan dan lift. Tapi ingat, itu juga berarti kalian akan terjebak dalam gelap."
Baskara mengangguk singkat. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia berbalik ke arah Alea, yang masih memegang pinggiran perahu karet dengan buku-buku jari yang memutih. Baskara bisa melihat napas Alea yang pendek dan tidak beraturan.
"Alea, lihat aku," ujar Baskara, suaranya melembut namun tetap penuh otoritas.
Alea mendongak. Di bawah cahaya rembulan yang redup, ia melihat ketenangan yang luar biasa di mata Baskara. Ketenangan yang anehnya menular, seolah pria di depannya ini adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai ketakutan.
"Jangan pernah lepaskan tanganku. Apapun yang kau dengar, apapun yang kau lihat di dalam sana, jangan berhenti bergerak sebelum aku menyuruhmu. Paham?"
Alea hanya mampu mengangguk pelan, tenggorokannya terasa terlalu kering untuk mengeluarkan suara.
Baskara kemudian membantu Alea berdiri. Ia memegang pinggang Alea dengan kuat saat mereka berpindah dari perahu karet yang bergoyang ke tangga besi darurat yang menempel pada pilar beton. Tangga itu sudah berkarat, saksi bisu dari tahun-tahun pengabaian, namun masih cukup kokoh untuk menopang beban manusia.
Setiap anak tangga yang mereka injak mengeluarkan derit pelan yang memekakkan telinga bagi mereka yang sedang bersembunyi. Bagi Alea, bunyi krieeet itu terdengar seperti alarm yang berteriak memanggil penjaga. Ia memejamkan mata setiap kali kakinya berpijak, berdoa agar besi tua itu tidak patah dan melemparkannya kembali ke laut yang gelap.
Saat mereka akhirnya mencapai dek paling bawah—sebuah area teknis yang penuh dengan pipa-pipa uap dan tangki penyimpanan bahan bakar—mereka disambut oleh lorong sempit yang remang-remang. Cahaya di sana hanya berasal dari lampu darurat berwarna kuning yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding besi.
Baskara menarik Alea ke dalam bayangan saat terdengar langkah kaki berat di atas mereka. Suara sepatu bot yang menghantam lantai besi di dek utama menandakan bahwa pengawal Sarah mulai menyebar untuk mengamankan area.
Baskara merapatkan tubuhnya ke dinding, menarik Alea agar berdiri tepat di depannya. Dalam jarak sedekat itu, Alea bisa merasakan panas tubuh Baskara dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau karat dan garam. Baskara mendekatkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alea saat ia berbisik.
"Ingat, jangan lepaskan tanganku. Di tempat ini, bayangan pun bisa menjadi musuh. Kita sedang berjalan di dalam perut ular, Alea. Sedikit saja kita membuat kesalahan, dia akan menelan kita bulat-bulat."
Alea merasakan jemari Baskara yang kasar namun hangat menyelinap di antara jemarinya, menggenggamnya dengan erat. Genggaman itu bukan sekadar perlindungan, melainkan sebuah janji yang tak terucapkan.
"Bas..." bisik Alea pelan, suaranya bergetar. "Jika Sarah menemukan kita... dia tidak akan segan-segan menembak, kan?"
Baskara menatap ke ujung lorong yang gelap, tempat sebuah pintu baja berat menunggu mereka. "Dia akan mencoba. Tapi sebelum pelurunya sampai padamu, dia harus melewati mayatku dulu."
Jawaban itu seharusnya menakutkan, namun bagi Alea, itu adalah hal paling jujur yang pernah ia dengar dari mulut Baskara sejak mereka bertemu. Baskara tidak menjanjikan keselamatan yang mudah; ia menjanjikan pengorbanan.
Mereka mulai bergerak menyusuri lorong dengan langkah tanpa suara. Baskara bergerak seperti hantu, setiap gerakannya efisien dan penuh perhitungan. Ia selalu berhenti di setiap persimpangan, memeriksa sudut-sudut kamera pengawas yang seharusnya sudah "dibutakan" oleh virus kiriman Reno.
Di dinding lorong, Alea melihat noda-noda kecokelatan yang aneh. Ia tidak tahu apakah itu karat atau darah kering dari masa lalu. Ia teringat kembali pada cerita ibunya tentang Mahardika Group—tentang bagaimana perusahaan itu dibangun dengan ambisi yang tidak kenal belas kasihan. Sekarang ia sadar, ambisi itu bukan hanya kiasan. Brankas 00 ini adalah bukti fisik bahwa ada hal-hal yang memang sengaja disembunyikan dari peradaban manusia.
"Berhenti," bisik Baskara tiba-tiba.
Ia menarik Alea ke balik sebuah tangki besar. Dari arah depan, dua orang pria berseragam hitam dengan senjata laras pendek di pinggang berjalan melintas. Mereka sedang berbincang dengan suara rendah tentang "penghancuran dokumen" dan "instruksi Nyonya besar".
Alea menahan napas, menekan wajahnya ke punggung Baskara. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu, stabil dan kuat, kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar. Setelah suara langkah kaki itu menjauh, Baskara kembali menariknya maju.
"Pintu di depan adalah akses menuju sistem ventilasi utama," Baskara menunjuk sebuah jeruji besi di dinding atas. "Itu satu-satunya jalan masuk ke area Brankas tanpa melewati sensor biometrik pintu depan yang masih aktif."
"Aku harus memanjat ke sana?" tanya Alea sangsi melihat ketinggian lubang itu.
"Aku akan mengangkatmu. Setelah kau masuk, tarik kabel berwarna merah di dalam sana. Itu akan mematikan alarm tekanan udara selama enam puluh detik. Cukup waktu bagiku untuk menyusulmu masuk."
Alea menatap lubang gelap itu, lalu menatap Baskara. Kepercayaan yang ia miliki terhadap pria ini sedang diuji di titik tertinggi. Pria yang awalnya ia anggap sebagai musuh, kini menjadi satu-satunya orang yang ia percayai untuk menjaga nyawanya.
"Baskara," panggil Alea sebelum mereka melakukan aksi itu. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kau bisa saja mengambil dokumen itu sendiri dan meninggalkanku di daratan."
Baskara terdiam sejenak. Ia menatap tangan mereka yang masih bertautan. "Awalnya, kau memang hanya alat, Alea. Tapi setelah melihat apa yang dilakukan orang tuaku terhadap keluargamu... aku menyadari bahwa menghancurkan Sarah tidak akan cukup untuk menebus dosa-dosaku. Aku harus memastikan kau mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu. Meskipun itu berarti aku harus menghancurkan namaku sendiri."
Tanpa menunggu balasan Alea, Baskara membuat tumpuan dengan kedua tangannya, siap untuk mengangkat Alea menuju kegelapan ventilasi yang akan membawa mereka lebih dalam ke jantung dosa Mahardika Group. Di luar, badai benar-benar pecah. Petir menyambar, menerangi langit laut utara, seolah alam pun sedang bersiap menyaksikan keruntuhan sebuah dinasti yang dibangun di atas kebohongan.