Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah pintu galeri tertutup dengan dentuman pelan, keheningan yang menyergap terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Alana masih terduduk di sofa tua itu, tangannya yang gemetar perlahan menyentuh bibirnya sendiri, tempat di mana napas Andrew tadi terasa begitu nyata.
Aroma kopi yang mulai dingin di atas meja seolah menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh ada. Sesuatu yang salah, namun entah mengapa, terasa sangat "benar".
"Apa yang baru saja aku lakukan?" bisik Alana pada kekosongan ruangan.
Alana menatap kanvas-kanvas di sekelilingnya. Selama dua bulan ini, ia yakin bahwa hatinya adalah milik Ares. Ares yang ceria, Ares yang membawanya keluar dari zona nyaman, Ares yang membutuhkannya untuk menjadi "rumah" bagi karirnya yang terasa hiruk-pikuk.
Tapi sore ini, Andrew menghancurkan semua keyakinan itu tanpa banyak bicara.
Andrew tidak menjanjikan dunia seperti Ares. Andrew tidak memamerkan mimpinya. Andrew justru melihat dirinya, bagian dari dirinya yang paling dalam, yang selama ini ia sembunyikan demi mendukung Ares. Andrew melihat kesepiannya, melihat pengorbanannya, dan melihat wanita di balik apron penuh noda cat ini.
"Kenapa harus dia?" batin Alana frustrasi.
Ia memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan tatapan tajam Andrew. Ia teringat bagaimana tangan pria itu terasa dingin namun stabil di tengkuknya. Ada otoritas di sana, tapi ada juga kerapuhan yang luar biasa. Selama ini Alana mengira Andrew adalah pria tanpa perasaan, manusia robot yang hanya peduli pada angka. Ternyata, di balik setelan jas mahal itu, ada pria yang rela menghancurkan dirinya sendiri demi menjaga kesetiaan pada adiknya.
Ponsel Alana bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Ares.
Ares: Sayang, reading-nya lama banget! Aku kangen. Besok pagi aku jemput ya, kita sarapan bareng sebelum aku ke lokasi syuting. Love you! ❤️
Alana membaca pesan itu dengan perasaan mual yang mendadak menyerang. Kata-kata "Love you" yang biasanya membuatnya tersenyum, kini terasa seperti beban ribuan ton yang menindih pundaknya. Rasa bersalah mulai menggerogoti nuraninya.
Ia merasa seperti pengkhianat. Ia mencintai Ares, ia yakin itu tapi ada bagian dari jiwanya yang kini seolah ditarik paksa menuju Andrew.
Alana bangkit dan berjalan menuju wastafel. Ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, mencoba membuang sisa-sisa perasaan yang tertinggal. Namun, saat ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia melihat seorang wanita yang sedang terjebak di persimpangan paling kejam.
Hatinya mulai terbelah. Di satu sisi ada cinta yang nyaman dan aman bersama Ares, dan di sisi lain ada ketertarikan yang gelap, dalam, dan berbahaya bersama Andrew.
"Andrew benar," gumamnya pelan, suaranya parau. "Logika memang nggak punya tempat di sini."
Malam itu, Alana tidak bisa tidur. Ia terus menatap langit-langit galerinya, menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Pertemuan tak sengaja di tengah hujan itu ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan awal dari kehancuran yang tak terelakkan.
----
Mobil Andrew melaju membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan yang jauh di atas batas wajar. Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Andrew merasa seperti sedang tercekik.
"Sial!" umpatnya, memukul kemudi dengan frustrasi.
Pikiran Andrew kacau. Ia adalah pria yang membangun hidupnya di atas fondasi integritas. Ia adalah pilar bagi keluarga Wijaksana. Namun, beberapa menit yang lalu di galeri itu, ia hampir menghancurkan segalanya hanya demi ego dan hasrat yang tidak seharusnya ada.
Saat memasuki gerbang rumah mewah keluarganya, Andrew tidak langsung turun. Ia duduk di balik kemudi, menatap pilar-pilar rumah yang megah namun terasa seperti penjara. Ia mematikan mesin, membiarkan kegelapan menyelimutinya. Aroma parfum Alana, campuran vanila dan cat minyak, seolah masih menempel di kemejanya, mengejek setiap sel logikanya.
'Dia pacar adikmu, Andrew. Dia masa depan Ares,' batinnya menghujat.
Andrew melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah berat. Di ruang tengah, ia melihat Papi Adrian sedang duduk membaca jurnal bisnis.
"Baru pulang, Ndrew? Tadi Ares mencarimu, dia bilang ingin menunjukkan draf kontrak film barunya," ucap Papi tanpa mendongak.
"Aku capek, Pi. pengin langsung istirahat," jawab Andrew datar. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, terlalu parau dan rapuh.
Ia menaiki tangga dengan terburu-buru, namun saat melewati koridor lantai dua, pintu kamar Ares terbuka. Ares muncul dengan wajah berseri-seri, memegang naskah film di tangannya.
"Kak! Akhirnya balik juga. Lo harus lihat ini—" Ares berhenti bicara saat melihat wajah kakaknya. "Eh, lo nggak apa-apa? Wajah lo kayak abis ngelihat hantu."
Andrew tidak sanggup menatap mata adiknya. Setiap kali ia melihat Ares, ia melihat pengkhianatannya sendiri. Ia melihat pria muda tulus yang sangat mempercayainya sebagai pelindung, sementara ia sendiri baru saja mencoba mencuri cahaya milik adiknya.
"Gue nggak apa-apa, Res. Gue cuma capek, ngantuk," Andrew mencoba melangkah pergi, tapi tangan Ares menahan bahunya.
"Kak, tadi gue telepon Alana, suaranya juga aneh. Kayak abis nangis atau apa gitu. Lo tadi lewat galerinya nggak? Gue titip dia sama lo ya, karena gue nggak bisa sering-sering ke sana sekarang."
Kalimat itu 'Gue titip dia sama lo' terasa seperti belati yang menghujam jantung Andrew.
"Gue nggak lewat sana," kata Andrew berbohong, Ini adalah pertama kalinya ia berbohong secara sadar kepada adiknya. "Udah ya, gue mau mandi."
Andrew masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia menyalakan shower dengan suhu paling dingin dan berdiri di bawah kucuran air tanpa melepas pakaiannya. Ia berharap air dingin itu bisa membekukan perasaan panas yang membakar dadanya.
Ia menyandarkan kepala di dinding keramik kamar mandi yang dingin. Bayangan Alana yang memejamkan mata di galeri tadi terus menghantuinya. Ia membenci dirinya sendiri karena merindukan wanita itu. Ia membenci kenyataan bahwa ia mulai merasa iri pada Ares.
Malam itu, Andrew tidak tidur. Ia duduk di balkon kamarnya, menatap lampu-lampu kota yang redup. Di tangannya, ia memutar-mutar anting mutiara milik Alana yang masih ia simpan.
"Pilihan yang kejam," bisiknya pada kegelapan.
Ia tahu, mulai besok, ia harus menjadi aktor yang lebih hebat dari Ares. Ia harus memakai topeng yang paling keras, bersikap paling dingin, dan membunuh setiap inci perasaannya sebelum perasaan itu menghancurkan keluarga mereka.
Karena bagi Andrew, mencintai Alana adalah sebuah dosa yang tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh siapa pun, terutama oleh dirinya sendiri.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......