Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Patah.
Hari Keempat Pencarian
"Ijin Dan, sudah tiga hari... tidak ada satu jejak pun dari Ibu."
Suara anggota tim terdengar lemah di tengah hutan yang sama tempat mereka menemukan sobekan kain Kinan. Bang Rico berdiri dengan wajah pucat, matanya merah karena kurang tidur dan terus menerus menangisi hilangnya sang istri. Ia telah melakukan segala cara, memanggil tim pencari profesional, meminta bantuan masyarakat sekitar, bahkan mengeluarkan banyak uang pribadi untuk memberikan imbalan bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Kinan.
"Saya tidak akan menyerah..!!" teriak Bang Rico dengan suara yang sudah mulai serak. Ia meraih topi kepalanya dan membantingnya kasar ke tanah. Tubuhnya gemetar karena frustasi yang meluap-luap. "Kinan pasti ada di suatu tempat... Saya merasakan dia masih hidup..!!"
Bang Arben mendampinya, ia menepuk pundaknya dengan lembut. "Kita sudah mencari di setiap sudut, Ric. Tapi tetap kita tidak punya kabar perkembangan apapun. Mungkin... mungkin kita harus menerima kenyataan bahwa............"
"Kau ini kawanku atau bukan??????" Bang Rico memotong kalimatnya dengan tajam. "Ini belum satu minggu, Kinan pasti masih hidup. Dan aku akan menemukan dia, bahkan jika harus menyusuri seluruh tanah negeri ini, akan kulakukan sekarag juga..!!!!!"
Namun detik yang berlalu hingga malam dalam pencarian, harapan semakin memudar. Bang Rico terbaring di lantai kamar mereka, merenung dan memandangi foto-foto kenangan bersama Kinan. Terkadang ia berbicara sendiri seperti sedang berbicara dengan istri yang tidak ada di sana, bibirnya selalu mengucap kata maaf karena tidak bisa melindunginya. Kondisinya semakin memburuk, Bang Rico sama sekali tidak mau makan dan beberapa hari ini tidak tidur, membuat para sahabatnya sangat khawatir.
***
"Siap, Pa. Semua sudah siap untuk berangkat."
Bang Ronald berdiri di depan tenda, melihat Nira yang bernama asli Kinan, kini sedang duduk dengan tenang sambil memandang pohon aren di dekat perkemahan. Dalam tiga hari terakhir, mereka telah mencoba mencari identitasnya melalui berbagai cara, namun tidak menemukan informasi apapun. Seperti yang diperintahkan komandan ayahnya, mereka akan membawa bumil pulang ke Kalimantan. Papa memberinya nama Nira sesuai saran Bang Ronald karena saat di temukan, bumil tersangkut di bawah pohon aren.
"Kamu siap untuk pergi, dek?" tanya Bang Ronald dengan suara lembut.
Nira mengangguk perlahan, tangannya masih erat menyentuh perutnya yang kini mulai terlihat membuncit. "Ya. Di sini Nira merasa lebih aman dengan Abang."
...
Perjalanan panjang dengan mobil jelajah melalui jalan yang tidak rata membuat Nira merasa sedikit lesu, namun Bang Ronald selalu siap membantu, memberikan air, mengatur bantal agar Nira merasa nyaman, bahkan berhenti di tengah jalan hanya untuk mencari buah yang Nira inginkan saat tiba-tiba ngidam.
Bang Ronald sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa dia merasa sangat terpikat pada wanita yang tidak bisa mengingat masa lalunya ini. Bahkan lembut sikap dan ayu paras wajahnya mampu membuat seluruh pikirannya teralihkan. Hanya saja, setiap kali melihat wajahnya yang tenang, hatinya merasa gelisah.
...
Dalam pesawat pun Bang Ronald masih terus memberikan seutuhnya perhatian pada 'Nira'.
Hingga sampai pada suatu moment, Nira tertidur dan bersandar pada bahu Bang Ronald.
'Kamu begitu tenang. Lantas pria macam apa yang tega menyia-nyiakanmu sampai seperti ini, dek?? Abang tau hanya singkat saja pertemuan kita di dunia, jika dosa terbesar Abang adalah menatap tidak sopan pada istri orang, biar Abang tanggung sendiri semua rasa ini.'
...
Saat mereka tiba di rumah komandan di Kalimantan, suasana hangat menyambut mereka. Istri komandan sendiri langsung merangkul Nira dengan hangat. "Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Di sini kamu akan seperti keluarga kita."
Istri komandan langsung mengarahkan Nira ke kamarnya, kamar yang dulu biasa di pakai Bang Ronald kini mendadak beralih menjadi kamar Nira. Hiasan metal pun sudah bernuansa wanita.
"Maa.. Kamarku..!!!!"
"Jangan banyak protes, Ronald..!!!! Banyaklah mengalah, sebentar lagi akan ada bayi yang membuat rumah ini ramai." Kata Mama dengan antisias.
Kebahagiaan itu bersambung juga pada hati komandan.
"Besok kita belanja perlengkapanmu ya, sayang. Beli baju, beli barang kebutuhan bayi........" Ujar Mama Bang Ronald.
"Maaa.. Apa tidak terlalu cepat?" Kata Bang Ronald cemas. Ia khawatir Mama akan kecewa jika nanti tiba-tiba saja Nira pergi dari hidup mereka karena sadar akan identitas aslinya.
Papa seakan tau apa yang menjadi permasalahan dalam benak putranya. Beliau menepuk pundak sang putra.
"Tidak apa-apa, Nira akan mengingatnya atau tidak.. Kita akan menyambutnya dan memperlakukannya sebagai anak di rumah ini."
"Iya, Pa." Jawab Bang Ronald.
Hati Bang Ronald masih berantakan tapi Mama sudah ribut menyambut Nira di kamarnya dengan rasa bahagia tak terkira.
//
"Apa??? KasieIntel demam tinggi???" Bang Rama sampai kaget mendapatkan laporan dari salah seorang anggotanya.
"Siap.. Ijin arahan, Danton..!!"
"Waduhhh.. Ngedrop bener ini si Rico." Gumam Bang Rama.
Ia pun sedikit bergeser dan melepas pelukan erat Dinda yang sudah tidur nyenyak usai dirinya 'membujuk' bumilnya yang rewel. "Saya kesana sekarang..!!" Bang Rama segera menyambar pakaiannya yang berantakan lalu segera menuju rumah Bang Rico. "Abang tinggal sebentar, sayang." Satu kecup sayang mendarat di kening Dinda.
Sesampainya di rumah Bang Rico, sudah ada para sahabat disana. Mereka begitu cemas melihat kondisi Bang Rico yang lemah tanpa tenaga.
"Coba kau rayu Kinan dari awal, tidak akan begini jadinya." Celetuk Bang Garin.
Bang Rama segera melangkah maju dan sengaja menginjak kaki Bang Garin agar sahabatnya itu diam.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara