NovelToon NovelToon
Janji CINTA

Janji CINTA

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikah Karena Anak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: syitahfadilah

Memiliki anak tanpa suami membuat nama Cinta tercoret dari hak waris. Saudara tirinya lah yang menggantikan dirinya mengelola perusahaan sang papa. Namun, cinta tidak peduli. Ia beralih menjadi seorang barista demi memenuhi kebutuhan Laura, putri kecilnya.

"Menikahlah denganku. Aku pastikan tidak akan ada lagi yang berani menyebut Laura anak haram." ~ Stev.

Yang tidak diketahui Cinta. Stev adalah seorang Direktur Utama di sebuah perusahaan besar yang menyamar menjadi barista demi mendekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31~ PERASAAN APA INI?

"Bagaimana Laura bisa jatuh?" tanya Cinta cemas sembari menggenggam tangan Jihan yang tampak pucat karena kejadian beberapa saat lalu.

"Anak-anak sudah tidur dan aku rasa aman aku tinggal ke kamar mandi sebentar. Tapi baru beberapa menit, aku mendengar Laura menangis dan saat aku keluar dia sudah jatuh ke lantai dan kepalanya berdarah." Jihan menjelaskan dengan suara terdengar gemetar. Sesekali ia melirik bercak darah yang berasal dari kepala Laura yang masih membekas di lantai kamar. Sementara Laura sudah dibawa ke rumah sakit oleh suaminya.

Cinta melepas genggaman tangannya pada Jihan, ia mundur beberapa langkah. Merasa lemas membuat tubuhnya tak seimbang sehingga hampir terhuyung ke belakang. Beruntung Vano dengan cepat menopang tubuhnya.

"Tenangkan diri kamu. Insya Allah Laura gak akan kenapa-kenapa, dia sudah dibawa ke rumah sakit dan pasti sudah mendapat penanganan sekarang." Vano mengusap punggung istrinya untuk menenangkan, meski sebenarnya ia pun tak tenang memikirkan putrinya.

"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Putriku membutuhkan aku," ujar Cinta.

"Iya, tapi kita ganti pakaian dulu."

Keduanya pun kembali ke kamar pengantin. Setelah berganti pakaian, mereka bergegas menuju rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit. Cinta dan Vano langsung menuju IGD. Di sana sudah ada Sean, mama Kinan dan papa Azka yang menunggu di depan ruangan.

"Ma, gimana keadaan Laura?" tanya Cinta pada mama mertuanya.

"Masih di tangani Dokter. Aidan juga ada di dalam."

Tak berselang lama, Aidan keluar dari ruang IGD bersama seorang dokter lainnya.

"Aidan, gimana keadaan Laura?" tanya Vano.

Aidan melirik dokter yang menangani Laura, tadi ia ikut masuk hanya untuk membantu menenangkan keponakannya itu. Dokter tersebut pun melepas masker lalu menjelaskan kondisi pasiennya.

"Beruntung luka sobeknya tidak begitu dalam dan tidak mengeluarkan banyak darah sehingga hanya mendapat beberapa jahitan saja. Untuk malam ini harus di rawat dulu. Kalau kondisinya sudah membaik, Insha Allah besok sudah boleh pulang."

"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Cinta dan Vano bersamaan. Keduanya tampak bernafas lega, begitupun dengan Sean, papa Azka dan mama Kinan.

Sementara itu di aula hotel. Mama Ratih masih terus mencari keberadaan Indri yang menghilang entah kemana.

Papa Haris pun turut mencari. Sudah berulang kali ia mencoba menghubungi, namun nomor Indri tidak aktif.

"Sudahlah, Ma. Mungkin Indri sudah pulang duluan," ucap papa Haris.

"Gak mungkin, Pa. Dia pasti bilang kalau mau pulang." Mama Ratih meyakini jika putrinya masih berada di sekitar hotel.

"Buktinya dia gak ada di sini. Sudahlah, Papa mau ke rumah sakit sekarang. Terserah Mama mau ikut atau masih mau mencari Indri." Setelah mengatakan itu, papa Haris pun mengayunkan langkahnya meninggalkan aula hotel.

"Pa, tunggu!" Mama Ratih pun akhirnya memilih untuk ikut suaminya. Mungkin benar, Indri sudah pulang karena merasa malu. Tadi saja ia sesekali bersembunyi di balik punggung suaminya saat beberapa orang tampak menatapnya sambil berbisik-bisik.

.

.

.

Setelah dibujuk oleh suaminya. Cinta akhirnya menurut untuk kembali ke hotel bersama mama Kinan dan juga Sean. Sementara Vano dan papa Azka yang akan menjaga Laura malam ini.

Vano mengantar mereka sampai ke tempat parkiran. Setelah mobil yang dikemudikan Sean itu tak terlihat lagi, ia pun hendak ke minimarket terdekat untuk membeli air mineral. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah mobil yang ia kenal berhenti di depannya.

"Van, kebetulan ketemu kamu disini. Gimana keadaan Laura?" tanya papa Haris yang baru saja turun dari mobil.

"Keadaannya sudah cukup baik," jawab Vano datar.

"Dia ada di ruangan mana? Saya ingin melihatnya."

Vano menarik sudut bibirnya. "Saya pikir, Anda tidak sudi untuk melihatnya."

Papa Haris terdiam. Ia akui sebelumnya memang tidak sudi bahkan untuk sekedar menatap Laura. Namun, tidak lagi untuk sekarang setelah mengetahui siapa ayah biologis dari cucunya itu.

"Anda pasti tahu sekarang Laura berada di ruangan mana. Karena saya tidak mungkin menempatkannya dia ruang rawat kelas bawah!" Setelah mengatakan itu, Vano pun berlalu meninggalkan papa mertuanya.

Papa Haris menatap kepergian Vano dengan nanar, ia merasa tertampar dengan ucapan menantunya itu. Setelah istrinya turun dari mobil, ia pun segera mengajaknya menuju ruangan VIP.

Sesampainya di sana, ia terpaku menatap cucunya yang telah tertidur. Ia sampai ikut meringis melihat perban yang menutupi kepalanya, tak terbayang anak sekecil Laure harus merasakan sakit seperti itu.

Papa Azka yang duduk di sofa hanya diam memperhatikan besannya. Ia yakin sekarang hati pak Haris sudah terbuka untuk Laura.

Di sisi lain...

Vano pun bergegas kembali ke rumah sakit setelah membeli dua botol air mineral dan beberapa makanan ringan.

Begitu sampai di lobi, seseorang menabraknya hingga bungkusan yang ia bawa terjatuh dan membuat botol air mineralnya bergelinding cukup jauh.

Seseorang yang mengenakan hodie dan masker yang menabraknya Vano itu berjongkok untuk membantu memungut barang belanjaan yang berserak.

Saat Vano sibuk memunguti beberapa bungkus makanan ringannya, orang tersebut mengambilkan botol mineral yang bergelinding lalu memberikan pada Vano. Setelahnya langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Dasar orang aneh!" gumam Vano lalu kembali mengayun langkah menuju ruang rawat putrinya. Mengingat ada pak Haris dan istrinya, ia pun memilih duduk di luar sampai kedua mertuanya itu pergi.

Beberapa menit menunggu, namun tak ada tanda-tanda pak Haris dan istrinya akan keluar. Ia pun membuka botol minum yang sejak tadi dipegangnya, meminum hingga setengah lalu meletakkan di sampingnya. Kemudian membuka salah satu makanan ringan yang dibelinya.

Beberapa menit kemudian, terdengar nada notifikasi di ponselnya. Ia pun merogoh saku celana mengeluarkan ponsel dan mendapati pesan masuk dari istrinya.

"Aku meminta Sean mengantarku ke rumah Papa Haris. Ada sesuatu yang ingin aku ambil." Isi pesan tersebut.

Vano pun menekan simbol memanggil, namun ternyata nomor istrinya sudah tidak aktif.

Ia pun mencari nomor Sean. Baru saja ia akan menghubungi, namun urung saat tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan pandangannya sedikit berkunang.

"Ada apa ini?" desisnya sambil memijat pelipis. Sekarang tak hanya merasa pusing, tapi ia juga merasakan tubuhnya memanas dan membangkitkan sesuatu dalam dirinya.

"Kenapa bisa seperti ini?" Ia menggeleng. Apa yang dirasakannya sekarang sama persis saat diluar kota waktu itu. Bedanya ia masih bisa mengendalikan akal sehatnya sebab tidak sedang mabuk.

Tatapannya tertuju pada botol air mineral di sampingnya. Seingatnya ia belum meminum atau memakan apapun sejak meninggalkan hotel selain air mineral yang tadi ia beli. Ia pun dengan cepat meraih botol mineral tersebut dan menelitinya.

"Sial, ternyata ada yang ingin bermain-main denganku!" umpatnya saat menemukan lubang kecil mirip bekas tusukan jarum suntik pada botol air mineral tersebut. Sepintas saja ia teringat pada orang yang menabraknya di lobi tadi. Namun, sekarang ada hal yang lebih penting daripada memikirkan orang tersebut.

Tanpa mengulur waktu. Ia pun meninggalkan rumah sakit dan tujuannya sekarang adalah rumah papa Haris mengingat sekarang istrinya ada di sana. Di perjalanan, ia sempat menghubungi sang papa dan memberitahukan ia pulang menyusul Cinta.

Papa Haris pun memutuskan untuk menemani besannya di rumah sakit untuk menjaga Laura. Mama Ratih juga tak ada pilihan lain selain turut menginap di rumah sakit.

Sementara itu Vano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kurang dari lima belas menit ia telah sampai di rumah mertuanya. Namun, ia merasa sedikit aneh sebab pagar tidak tertutup, begitupun dengan pintu rumah. Mobil Sean yang katanya mengantarkan istrinya juga tak terlihat di pelataran. Bahkan satpam yang berjaga pun entah pergi kemana.

Disaat ia tengah kebingungan sekaligus berusaha menahan hasrat yang kian tak terbendung. Notifikasi pesan masuk di ponselnya kembali terdengar. Ia dengan cepat mengeluarkan ponsel dan kembali mendapati pesan dari istrinya. .

"Malam ini aku nginap di rumah Papa Haris. Tadi aku suruh Sean pulang dan memintanya untuk menjemput ku besok pagi." Isi pesan tersebut.

Tanpa berpikir panjang lagi, Vano pun segera masuk rumah dan langsung menuju kamar istrinya.

Sejenak ia berdiri di ambang pintu kamar. Bibirnya mengembangkan senyum melihat sosok yang berbaring miring di tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu, dan menutup tubuhnya dengan selimut sebatas leher.

"Cinta, hanya kamu yang bisa menolongku sekarang. Dan aku janji tidak akan menyakitimu kali ini. Malam ini akan ku buat menjadi malam terindah bagi kita berdua," gumamnya dalam hati.

Setelah menutup pintu sembari mengatur nafasnya yang kian memburu, ia pun melangkah menuju tempat tidur. Perlahan membaringkan tubuhnya dan memeluk sosok yang saat ini sangat ia butuhkan untuk menuntaskan hasratnya.

"Cinta... ."

.

.

.

"Duh, dimana sih? Perasaan tadi aku simpan di sini," gumam Cinta sembari menggeleda meja rias.

Ia tidak bisa tertidur karena terus kepikiran Laura. Alhasil ia bangun untuk menghubungi suaminya. Namun, ia tidak menemukan ponselnya, padahal seingatnya ia menyimpan di meja rias saat tim MUA datang untuk meriasnya.

Ia pun keluar dari kamarnya dan mendatangi kamar mama mertuanya. Beberapa kali mengetuk, mama Kinan pun membukakan pintu.

"Cinta, ada apa? Kenapa belum tidur?" tanya mama Kinan.

"Ma, aku mau telepon ke rumah sakit nanyain Laura. Tapi hape ku gak tahu dimana. Aku boleh pinjam hape Mama, gak?"

"Boleh, dong. Ayo masuk." Mama Kinan pun menutup kembali pintu kamarnya setelah menantunya masuk. Kemudian meminta duduk di sofa sementara ia mengambil ponselnya di atas nakas.

"Terima kasih, Ma," ucap Cinta setelah mama Kinan memberinya ponsel. Ia pun langsung menghubungi namor suaminya, namun tidak terjawab. Ia mencoba beberapa kali namun masih tak ada jawaban.

"Vano udah tidur mungkin. Coba telepon Papa," saran mama Kinan.

Cinta mengangguk, ia pun menghubungi papa mertuanya. Hanya beberapa kali berdering, panggilannya pun terjawab.

"Iya, Ma, kenapa?" tanya papa Azka.

"Em, Pa ini aku, Cinta. Pa gimana keadaan Laura sekarang? Apa dia rewel?"

"Oh, Cinta. Kirain tadi Mama. Laura gak rewel kok, dia tidurnya nyenyak banget."

Cinta menghela nafas lega mendengarnya.

"Oh ya, disini ada Papa dan Mama kamu yang nemenin Papa menjaga Laura. Soalnya tadi Vano pulang mau nyusul kamu katanya, dia sudah sampai, kan?"

Raut wajah Cinta seketika berubah. Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak memikirkan suaminya. Seperti ada perasaan menyesak yang tiba-tiba menyusup ke hati.

"Perasaan apa ini?" gumamnya dalam hati.

1
Eva Nietha✌🏻
Merapat thor
Nurlinda: 😍🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Manggar Manggar
👍👍
Omah Tien
lm2 jd bosen syg cm anak yg lain
Omah Tien
g tegas ko jd suami.pingplang
Lina Herlina
kalo cinta bukan korban tapi kenapa dia trauma ya?
Qaisaa Nazarudin
ALASAN konyol,Bilang aja hanya demi Nafsu mu,kebanyakan Drama...Udah tentu2 ada bibik dirumah yg bisa jagain Cinta.. Alasan..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
ANAK TIRI OK..BUKAN ANAK SENDIRI,ANAK SENDIRI AJA DIA RELA MENGUSIR DAN MEMBUANGNYA TANPA USUL PERIKSA..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya RATIH juga dilaporkan karena sudah berkerjasama dengan INDRI..
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk YAKIN KAMU YANG PERTAMA BAGI VANO?? YANG BENAR NYA VANO YG PERTAMA BAGI KAMU.. KASIAN DEH LHO,DAPAT BARANG BEKAS..KAN BEKASNYA LAURA TUH,UDAH PASTI JUGA YG LAINNYA,KAN SEBELUM SAMA LAURA DIA JUGA HAMPIR NYURUH MAURA UNTUK MENCARIKANNYA WANITA PANGGILAN...CKCK...
Qaisaa Nazarudin
Coba aja kalo dari dulu kamu Tegas dan gak jadi LELAKI PENCUNDANG,semua ini gak akan berlaku.. Sekarang Sadarkan kamu..???
Qaisaa Nazarudin
Noh Anak yg kamu bela-belain mati matian,Gimana Haris ?? 😏😏
Qaisaa Nazarudin
Pulang sana ntar gak dapat JATAH kamu..kan itu yg kamu TAKUTKAN selama ini,makanya kamu selalu BELAIN DIA DAN ANAKNYA, Tampa kamu mau mendengar Alasan anak kandung mu sendiri,kenapa dia bisa pulang membawa anak kecil bersamanya..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Kalo aku jadi Cinta Tinggal aku usir dia,gimana dia dulu yg mengusir kamu,Jangan bilang SEJAHAT2 NYA DIA TETAP AYAH KANDUNG KAMU,CKKK ALASAN YANG BASIII...🙄🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
BODOH gak tuh, nyamar kerja Housekeeping tapi pake Heels...🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Laura meninggal saat melahirkan..
Qaisaa Nazarudin
Nah disaat ini KTP nya Cinta tercecer dan ditemukan oleh Vano..
Qaisaa Nazarudin
Aku pasti ini juga kerjaannya Indri kan,Kan dia bilang tadi udah berapa kali MENJEBAK Vano tapi selalu aja berhasil lepas dari JEBAKAN nya..
Qaisaa Nazarudin
Kamar Vano,Saat ini Vano pasti dlm keadaan Mabok..dan memperkokos Laura..
Qaisaa Nazarudin
Nah ini dia KTP Cinta masih ditangan Laura dan terjatuh saat Laura keluar dari kamar Vano, Jadi Vano yg menemukan KTP itu, Terjadi lah salah paham..
Qaisaa Nazarudin
LAURA?? ini pasti mama kandungnya LAURA,Jadi nama LAURA diambil sempena nama SAHABATnya/ Mama kandung LAURA,Terus dimana LAURA sekarang?? MENINGGAL saat lahiran ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!