Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.
Season 2 : 14. Skakmat di Panggung Emas.
Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta. Pukul 19.00 WIB.
Kemewahan tumpah ruah di ruangan itu. Ratusan tamu undangan—para pemegang saham, pejabat, dan selebriti—duduk di meja bundar yang dihiasi bunga besar. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun mahal dan perhiasan berlian.
Kamera televisi menyiarkan acara ini secara langsung: “Gala Dinner & Pengumuman Proyek Megacity Nusantara” milik Pramesti Grup.
Di atas panggung, Dyandra berdiri anggun di atas podium. Ia mengenakan gaun merah darah berbahan sutra yang menyapu lantai, seolah menegaskan statusnya sebagai Ratu malam itu. Wajahnya tersenyum sempurna, menutupi kepanikan karena Arya menghilang dari RS.
“Hadirin sekalian,” suara Dyandra menggema jernih. “Malam ini harusnya tunangan saya, Bapak Arya Baskara, berdiri di sini. Namun, musibah menimpanya. Ia mengalami kecelakaan tragis kemarin.”
Dyandra berhenti sejenak, memasang wajah sedih yang terlatih. Beberapa tamu berbisik simpati.
“Meski beliau sedang berjuang di ruang ICU,” lanjut Dyandra dramatis (berbohong soal kondisi Arya), “Visi beliau akan tetap saya jalankan. Sebagai pemimpin proyek ini, saya akan…”
BRAAK!
Pintu ganda setinggi empat meter di belakang ruangan terbuka lebar dengan hentakan keras, memotong pidato Dyandra.
Seluruh kepala menoleh ke belakang. Kamera TV berputar arah. Hening menyelimuti Ballroom.
Di ambang pintu, tiga sosok muncul membelah cahaya.
Dimas (Dipa) berjalan di sisi kiri, mengenakan setelan jas abu-abu modern dengan earpiece di telinga dan tablet di tangan. Wajahnya dingin dan fokus.
Di tengah, duduk di atas kursi roda canggih, adalah Arya Baskara. Tubuhnya masih dibalut perban di balik jas hitam yang disampirkan di bahunya. Lengan kirinya di gips, wajahnya ditempel plester luka. Namun, aura yang memancar darinya begitu kuat hingga membuat ruangan terasa sesak. Tatapan matanya tajam, menyapu ruangan seperti elang mencari mangsa.
Dan di sisi kanannya, mendorong kursi roda itu…adalah Kirana.
Bukan Kirana dengan kemeja flanel dan celana jeans. Malam ini, Kirana mengenakan kebaya modern berwarna biru laut gelap (navy) dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya. Rambutnya disanggul modern dengan tusuk konde perak sederhana. Di jari telunjuknya, Cincin Merah Delima bersinar mencolok, memantulkan cahaya lampu kristal.
Ia berjalan tegak, dagu terangkat. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Hanya ada ketenangan seorang Ratu yang mendampingi Rajanya.
“Arya?!” Seru ayah Dyandra dari meja VIP, kaget setengah mati.
Trio itu bergerak maju membelah kerumunan. Roda dari kursi roda berdesing halus di atas karpet tebal. Tidak ada yang berani menghalangi jalan mereka.
Dyandra mencengkram podium hingga bukunya memutih. Wajahnya pucat pasi dibalik makeup tebalnya.
“Maaf saya terlambat,” suara bariton Arya terdengar berat tanpa mikrofon, namun cukup keras untuk didengar di barisan depan. “Ada sedikit…kendala teknis di jalan tol.”
Arya memberi isyarat tangan. Kirana mendorongnya naik ke atas panggung lewat jalur landai (ramp) di samping.
Kini, mereka berhadapan. Di kiri panggung, ada Dyandra si Ratu Ular. Di kanan panggung, ada Arya dan Kirana.
“Sayang!” Dyandra langsung mengubah strategi. Ia berlari kecil menghampiri Arya, mencoba memeluknya. “Ya ampun, kamu nekat banget kesini! Kamu harusnya istirahat! Lihat, kamu masih luka-luka!”
“Jangan sentuh aku,” desis Arya pelan namun tajam.
Dyandra membeku.
Arya mengambil mikrofon yang disodorkan Dimas. Ia menatap kamera TV yang sedang menyiarkan wajahnya close-up.
“Selamat malam,” sapa Arya tenang. “Saya Arya Baskara. Dan saya disini untuk mengoreksi pidato Ibu Dyandra.”
“Arya, jangan macam-macam,” bisik Dyandra panik, matanya melotot mengancam. “Kita lagi live! Jangan bikin malu perusahaan papa!”
Arya menoleh pada Dyandra, tersenyum miring.
“Malu? Bukankah kamu suka perhatian, Dyandara? Mari kita berikan pertunjukan yang sesungguhnya.”
Arya menoleh ke Dimas.
“Putar, Dipa.”
Dimas menekan satu tombol di tabletnya.
Layar raksasa LED di belakang panggung yang tadinya menampilkan logo perusahaan, mendadak berubah.
Sedetik kemudian, video Dashcam berkualitas HD muncul.
Penonton membelalak kaget.
Di layar, terlihat jelas jalan tol yang basah. Sebuah SUV hitam tanpa pelat nomor bermanuver gila, menabrak sisi mobil Arya berkali-kali hingga mobil itu terpelanting dan terbalik. Suara dentuman keras menggema di sound system ballroom, membuat para ibu-ibu menjerit ngeri.
Lalu video berhenti (freeze frame) tepat di wajah pengemudi SUV itu.
Wajah Bimo.
“Itu Bimo!” Seru salah satu staff keamanan hotel yang mengenali wajah itu. “Itu kepala security Ibu Dyandra!”
Suasana ballroom langsung kacau. Bisik-bisik berubah jadi keributan.
“Itu bohong!” Teriak Dyandra histeris, merebut mikrofon. “Itu video editan! Deepfake! Arya sedang sakit jiwa karena kecelakaan! Jangan percaya!”
“Masih mau menyangkal?” Suara Kirana terdengar. Ia mengambil mikrofon lain, melangkah maju berdiri di samping Arya.
Kirana menatap Dyandra dengan tatapan iba.
“Kami punya bukti transfer dari rekening pribadimu ke rekening istri Bimo, satu jam sebelum kecelakaan terjadi. Lima ratus juta rupiah. Dengan keterangan ‘Biaya Operasional Tol’.
Dimas menggeser layarnya. Bukti mutasi rekening itu terpampang jelas di layar raksasa. Lengkap dengan nama pengirim: DYANDRA PRAMESTI.
Skakmat.
Ayah Dyandra berdiri dari kursinya, memegangi dadanya, lalu jatuh pingsan karena syok.
Dyandra mundur terhuyung-huyung. Ia melihat sekeliling. Tatapan memuja yang tadi ia terima, kini berubah menjadi tatapan jijik dan penghakiman.
“Enggak…enggak…” Dyandra menggeleng kacau. “Aku cuma mau ngasih pelajaran…aku nggak nyuruh bunuh…”
“Percobaan pembunuhan berencana tetaplah tindak pidana, Bu Dyandra,” suara tegas terdengar dari pintu samping.
Empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap masuk, didampingi dua anggota Polisi Militer (koneksi Dimas).
Mereka naik ke panggung.
“Ibu Dyandra Pramesti, Anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Saudar Arya Baskara dan pelanggaran UU ITE,” ucap komandan polisi sambil mengeluarkan borgol.
“JANGAN SENTUH SAYA!” Teriak Dyandra histeris, menepis tangan polisi. “SAYA INI DYAH AYU! SAYA SELIR KESAYANGAN RAJA! KALIAN TIDAK BISA MENANGKAP SAYA!”
Dyandra kehilangan akal sehatnya. Trauma masa lalunya bercampur dengan kehancuran masa kini. Ia menatap Kirana dengan mata melotot penuh kebencian.
“KAU!” Tunjuk Dyandra pada Kirana. “GARA-GARA KAU! HARUSNYA KAU MATI DI DAPUR ITU! HARUSNYA RACUN ITU MEMBUNUHMU!”
Kirana tidak mundur. Ia justru maju selangkah, menatap wanita yang sedang hancur itu.
“Sejarah sudah berakhir, Dyandra,” ucap Kirana dingin. “Raja sudah tidak ada. Istana sudah runtuh. Dan di kehidupan ini…Arya bukan milikmu.”
Polisi menyeret paksa Dyandra yang terus meronta dan berteriak-teriak gila. Pemandangan itu disiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Sang Ratu Ular telah jatuh, digigit oleh bisanya sendiri.
Suasan ballroom perlahan mulai tenang setelah Dyandra dibawa pergi. Para tamu masih syok, tapi Arya tidak peduli pada mereka.
Ia memutar kursi rodanya menghadap Kirana.
Di tengah panggung yang kini sunyi, di bawah sorot lampu sorot (Spotlight) tunggal, Arya meraih tangan Kirana.
“Sudah selesai,” bisik Arya.
Kirana mengangguk, air mata lega menetes di pipinya. “Sudah selesai, Mas.”
Arya menatap cincin merah delima di jari Kirana, lalu menatap wajah gadis itu.
“Kirana,” ucap Arya, suaranya terdengar jelas melalui mikrofon yang lupa ia matikan, membuat seluruh tamu menahan napas mendengarkan.
“Lima ratus tahun yang lalu, aku melepaskanmu pergi karena tugasku sebagai Panglima belum selesai. Hari ini…musuhku sudah kalah. Tugasku sudah selesai.”
Arya merogoh saku jasnya (dengan tangan yang sehat), mengeluarkan sebuah kotak cincin beludru biru (cincin pertunangan modern yang baru ia beli lewat Dimas tadi siang).
“Maukah kamu menemani sisa hidupku? Bukan sebagai tawanan, bukan sebagai pelayan, tapi sebagai satu-satunya Ratu di hatiku?”
Kirana tertawa sambil menangis. “Kamu ngelamar aku di depan orang se-Indonesia, Mas? Nggak ada romantis-romantisnya, malah tegang.”
“Jawab saja, Na. Tanganku pegal nih,” canda Arya, matanya berbinar jenaka.
“Iya,” jawab Kirana mantap. “Iya, aku mau, Panglima Galak.”
Arya menyematkan cincin berlian modern itu di jari manis Kirana, bersanding dengan Cincin Merah Delima di jari telunjuk. Perpaduan masa lalu dan masa depan yang sempurna.
Tepuk tangan gemuruh meledak di seluruh Ballroom.
Dimas, yang berdiri di pinggir panggung sambil melipat tabletnya, tersenyum lebar. Ia menatap langit-langit ballroom, seolah berbicara pada seseorang di atas sana.
“Tugas kita selesai, Gusti Prabu. Adikmu sudah bahagia.”
Dimas membetulkan kacamatanya, lalu berjalan pergi meninggalkan panggung, membiarkan sepasang kekasih itu menikmati kemenangan cinta mereka yang telah melintasi samudra waktu.
Epilog : Dapur Kenangan. Satu Tahun Kemudian.
Sebuah restoran baru dibuka di kawasan Kota Tua. Namanya unik: “Dapur Sang Waktu”
Restoran itu selalu antre. Menu andalannya adalah Nasi Goreng Majapahit dan Bubur Tidak Diaduk.
Di dapur yang terbuka (open kitchen), Kirana—yang kini perutnya sedikit membuncit hamil 4 bulan—sedang sibuk mengatur pesanan.
“Sayang, jangan capek-capek. Duduk,” Arya muncul dari belakang, langsung mengambil alih piring dari tangan istrinya.
Arya kini sudah pensiun dari dunia kontraktor yang penuh drama. Ia memilih fokus mengelola restoran ini bersama Kirana dan mendesain proyek-proyek sosial. Bekas luka di pelipisnya masih ada, menjadi tanda mata dari pertempuran terakhirnya.
“Aku nggak capek kok, Mas. Cuma si Junior lagi nendang-nendang,” Kirana mengelus perutnya.
Arya berlutut, menempelkan telinganya ke perut Kirana. Wajah garangnya yang dulu ditakuti musuh, kini melembut penuh cinta.
“Hei, Jagoan. Jangan nakal sama Bunda ya. Nanti Ayah ajak main pedang-pedangan kalau udah keluar,” bisik Arya.
“Main pedang terooos,” Dimas muncul sambil membawa buku catatan. “Ajarin baca buku dong, biar pinter kayak Om Dimas.”
Mereka bertiga tertawa.
Di dinding restoran itu, tergantung sebuah lukisan besar. Lukisan seorang wanita di dapur kuno, dan seorang pria berbaju zirah yang menatapnya dari kejauhan.
Di bawahnya tertulis:
“Untuk setiap jiwa yang menunggu, percaya saja. Takdir tidak pernah salah alamat.”
Kirana menatap Arya, Dimas, dan restorannya yang ramai. Ia tersenyum.
Waktu telah membayar lunas hutangnya. Dan kali ini, tidak akan lagi ada perpisahan.