Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 4: Perpustakaan Terlupakan
"Kita harus ke perpustakaan tua."
Mahira menatap Raesha dengan kening berkerut. "Perpustakaan tua? Yang di sayap timur?"
"Iya." Raesha melipat surat nenek dengan hati-hati, memasukkannya kembali ke kotak kayu. "Nenek pernah bilang, kalau aku nggak ngerti sesuatu, jawabannya ada di sana. Di tempat yang terlupakan."
"Tapi sayap timur udah ditutup dari kapan tau. Papa bilang bangunannya udah rapuh—"
"Atau Papa nggak mau kita nemuin sesuatu di sana." Raesha berdiri, meraih tas kerjanya. "Ayolah. Kita nggak punya banyak waktu. Lima hari lagi Zarvan datang."
Nama itu membuat Mahira tersentak. Zarvan. Pangeran yang seharusnya menjadi suaminya 300 tahun lalu.
"Kak, aku nggak yakin aku siap ketemu dia." Suaranya nyaris berbisik.
Raesha berjalan ke arah adiknya, meletakkan kedua tangan di pundak Mahira. "Dengar, aku tahu ini berat. Aku tahu ini gila. Tapi kamu nggak sendirian. Aku di sini. Dan kita akan hadapin ini bareng-bareng. Oke?"
Mahira menarik napas dalam. "Oke."
"Bagus." Raesha tersenyum tipis. "Sekarang, ayo kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi 300 tahun lalu. Biar kita siap."
***
Sayap timur mansion nenek memang sudah lama tidak tersentuh.
Pintu besar dari kayu jati itu tertutup rapat dengan gembok berkarat. Debu tebal menyelimuti lantai dan dinding. Jendela-jendela tinggi tertutup tirai lusuh yang dulu mungkin megah.
"Gembok ini..." Mahira menarik-narik gembok itu. "Kunci nya ada di mana?"
Raesha mengeluarkan sebuah kunci tua dari tasnya—kunci yang ia temukan di dalam kotak kayu bersama surat nenek. "Semoga ini pas."
Klik.
Gembok terbuka.
Pintu berderit keras saat mereka mendorongnya. Cahaya sore menerobos masuk, menyinari koridor panjang dengan debu yang beterbangan. Lukisan-lukisan tua tergantung di dinding—beberapa sudah pudar, beberapa lagi tertutup kain putih.
"Perpustakaannya di ujung koridor," kata Raesha, melangkah hati-hati. "Nenek pernah bawa aku ke sini waktu kecil. Cuma sekali. Terus nggak pernah lagi."
Mahira mengikuti kakaknya, matanya menyapu sekeliling. Ada sesuatu yang aneh di tempat ini. Bukan cuma karena terlupakan atau terbengkalai. Tapi ada aura—energi—yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Seperti ada yang mengawasi.
"Kak, lo nggak ngerasa...?"
"Iya." Raesha menelan ludah. "Aku juga ngerasain. Tapi kita harus terus."
Pintu perpustakaan terbuka tanpa suara—berbeda dengan pintu masuk tadi. Seperti menunggu mereka.
Dan yang ada di dalam membuat keduanya terdiam.
Perpustakaan itu jauh lebih besar dari yang Mahira bayangkan. Rak-rak tinggi memenuhi ruangan, penuh dengan buku-buku dan manuskrip-manuskrip kuno. Meja baca besar di tengah dengan tumpukan dokumen yang tertata rapi—terlalu rapi untuk tempat yang sudah puluhan tahun tidak disentuh.
"Ini... nggak masuk akal," gumam Mahira. "Kenapa semuanya masih tertata?"
Raesha melangkah lebih dekat ke meja baca. Di atasnya tergeletak sebuah manuskrip terbuka dengan tulisan Arab Melayu kuno. Dan di sampingnya, sebuah peta yang sudah menguning.
"Mahira, liat ini."
Mahira mendekat. Mata nya membaca tulisan di manuskrip itu—dan entah kenapa, ia bisa mengerti. Padahal ia tidak pernah belajar bahasa Arab Melayu kuno.
*"Di sinilah akhir dari segalanya dimulai. Di istana yang kini tinggal reruntuhan, di tepi sungai yang mengalir ke laut. Di sana, rahasia tertanam. Di sana, kebenaran menunggu."*
"Aku bisa baca ini," bisik Mahira. "Aku... aku nggak tahu gimana, tapi aku bisa."
Raesha menatapnya dengan mata membulat. "Serius?"
"Ini soal istana." Mahira menunjuk baris demi baris. "Soal pengkhianatan. Dan soal sesuatu yang... yang dikubur. Di tempat di mana semuanya berakhir."
"Peta ini..." Raesha membuka peta itu lebih lebar. "Ini peta Jakarta jaman Belanda. Tapi ada tanda di sini—" jarinya menunjuk sebuah tanda X di pinggiran kota. "Di daerah yang sekarang... Condet?"
Mahira menyipitkan mata. Di sekitar tanda X itu, ada tulisan kecil dengan tinta merah pudar: *Istana Terakhir*.
"Istana Terakhir?" Mahira mengulang. "Maksudnya apa?"
"Mungkin tempat di mana Putri Aisyara terbunuh." Raesha melipat peta itu dengan hati-hati. "Kita harus ke sana."
"Sekarang?"
"Kapan lagi? Kak Mahira, kita nggak punya waktu banyak. Kalau kita mau ngerti semuanya sebelum Zarvan datang, kita harus cepat."
Mahira menatap manuskrip di mejanya lagi. Ada sesuatu yang menariknya ke benda itu—seperti magnet yang kuat. Jemarinya menyentuh kertas tua itu—
—dan dunia berubah.
***
Ia berdiri di sebuah taman.
Tidak. Bukan berdiri. Berjalan. Mahira—atau Aisyara—berjalan di antara pohon-pohon rindang dengan bunga-bunga berwarna-warni. Ada air mancur di tengah taman. Burung-burung berkicau. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati.
"Putri, jangan terlalu jauh."
Seorang pelayan wanita berlari kecil mengejarnya.
"Aku cuma mau ke paviliun, Intan," jawab Aisyara dengan suara lembut. Suara Mahira tapi bukan suaranya. "Aku ingin sendiri sebentar."
"Tapi Sultan melarang Putri keluar tanpa pengawal—"
"Khalil ada di sana." Aisyara menunjuk seorang pria tinggi besar dengan pedang di pinggang, berdiri di dekat paviliun. "Dia akan menjagaku."
Pelayan itu mengangguk ragu, mundur pelan.
Aisyara berjalan menuju paviliun—struktur kayu ukir yang indah dengan atap berbentuk limas. Di dalamnya ada meja rendah dengan bantal-bantal sutra. Tempat favoritnya untuk membaca atau sekadar melamun.
Khalil membungkuk saat ia mendekat. "Putri."
"Panglima Khalil." Aisyara tersenyum. "Terima kasih sudah menjagaku."
Tatapan Khalil—atau Khaerul—terasa intens. Terlalu intens. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sesuatu yang gelap di balik matanya yang biasanya tenang.
"Putri," suaranya pelan, nyaris berbisik. "Bolehkah hamba bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Pernikahan Putri dengan Pangeran Zarvan... apakah Putri bahagia?"
Aisyara terdiam. Pertanyaan itu terasa aneh. Tidak pada tempatnya. "Itu keputusan Ayahanda. Aku menghormati—"
"Bukan itu yang hamba tanyakan." Khalil melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. "Hamba bertanya, apakah Putri bahagia?"
"Panglima—"
"Hamba mencintai Putri." Kata-kata itu keluar tiba-tiba, seperti bendungan yang jebol. "Sejak hari pertama hamba ditugaskan menjaga Putri, hamba sudah jatuh cinta. Dan hamba tahu, ini salah. Ini pengkhianatan. Tapi hamba tidak bisa diam lagi."
Aisyara mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena senang, tapi karena takut. "Panglima Khalil, hamba tidak—"
"Putri tidak perlu menjawab sekarang." Khalil tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata. "Tapi hamba harap Putri tahu. Pangeran Zarvan tidak akan bisa menjaga Putri seperti hamba. Dia tidak mencintai Putri seperti hamba mencintai."
"Hentikan." Suara Aisyara bergetar. "Ini tidak pantas. Hamba akan melapor ke Ayahanda—"
"Laporkan saja." Tatapan Khalil berubah dingin. "Tapi ingat, Putri. Jika Putri tidak bisa jadi milik hamba, Putri tidak akan jadi milik siapa pun."
Ancaman itu menggantung di udara.
Aisyara berlari keluar dari paviliun, napasnya memburu, air mata mulai membasahi pipi—
—dan Mahira tersentak kembali ke perpustakaan.
"MAHIRA!" Raesha mengguncang bahunya keras. "Kamu kenapa?! Tadi tiba-tiba merem dan nggak gerak!"
Mahira terengah-engah. Tangannya mencengkeram tepi meja untuk menahan tubuhnya yang gemetar. "Aku... aku lihat lagi. Aku lihat Khalil. Dia... dia ngancam Aisyara."
"Ngancam gimana?"
"Dia bilang, kalau Aisyara nggak bisa jadi miliknya, dia nggak akan biarkan Aisyara jadi milik siapa pun." Air mata mengalir di pipi Mahira tanpa ia sadari. "Dan sekarang... Khaerul. Dia pasti... dia pasti akan lakuin hal yang sama."
Raesha menarik adiknya ke dalam pelukan. "Nggak. Kita nggak akan biarkan itu terjadi. Kamu dengar aku? Kita akan putuskan rantai ini. Kita akan hentikan semuanya."
Tapi Mahira tahu, menghentikan kutukan 300 tahun bukan perkara mudah.
Apalagi kalau pembunuhnya masih hidup di tubuh yang baru—dan masih punya dendam yang sama.
***
Perjalanan pulang dari rumah nenek terasa berat.
Mahira duduk di kursi penumpang mobil Raesha, memeluk peta dan manuskrip yang mereka bawa. Pikirannya kalut. Terlalu banyak informasi. Terlalu banyak pertanyaan.
"Besok kita ke lokasi di peta itu," kata Raesha sambil menyetir. "Pagi-pagi sebelum ke kantor."
"Kenapa nggak sekarang?"
"Karena sekarang udah mau maghrib. Dan tempat itu kayaknya nggak aman kalau didatengin malem-malem." Raesha melirik adiknya. "Kamu butuh istirahat juga. Keliatan lelah."
Mahira tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela—gedung-gedung tinggi Jakarta yang mulai menyalakan lampu. Kota modern ini terasa begitu jauh dari istana megah di visinya. Begitu berbeda.
Tapi takdir tidak peduli waktu atau tempat.
Takdir tetap takdir.
"Kak," Mahira bersuara pelan. "Kalau... kalau ternyata aku nggak bisa putuskan kutukan ini? Kalau semuanya terulang lagi?"
Raesha mengerem di lampu merah. Ia menatap adiknya dengan pandangan tegas. "Maka kali ini, kita akan pastikan endingnya beda. Kamu nggak sendirian, Mahira. Kamu punya aku. Punya Mama, Papa. Punya keluarga. Kita akan lindungi kamu."
"Tapi di masa lalu, Aisyara juga punya keluarga. Punya Sultan yang sayang sama dia. Tapi tetap aja dia mati."
"Karena dia nggak tahu siapa musuhnya." Raesha melajukan mobil lagi saat lampu berubah hijau. "Tapi kamu tahu. Kita tahu itu Khaerul. Kita bisa jaga-jaga."
Mahira ingin percaya kata-kata kakaknya. Tapi rasa takut di dadanya tidak hilang.
Ponselnya berdering. Pesan dari nomor tidak dikenal:
*"Jangan coba-coba cari tahu lebih banyak. Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur. Atau kamu akan menyesal."*
Tangan Mahira gemetar memegang ponsel.
"Siapa?" Raesha melirik.
"Nggak tahu. Nomor asing." Mahira menunjukkan pesan itu ke kakaknya.
Wajah Raesha mengeras. "Khaerul."
"Atau siapa pun yang nggak mau kita ungkap kebenaran." Mahira menghapus pesan itu. "Kak, aku rasa kita harus hati-hati. Ini bukan cuma soal kutukan. Ada orang lain yang terlibat."
"Aku akan minta Papa pasangin bodyguard buat kamu—"
"Jangan." Mahira memotong cepat. "Nanti Papa curiga. Nanya macem-macem. Kita belum siap jelasin semua ini ke dia."
Raesha menghela napas. "Oke. Tapi kamu harus janji, kamu nggak kemana-mana sendirian. Selalu bareng Kiara atau aku. Deal?"
"Deal."
Tapi janji itu, Mahira tahu, mungkin tidak bisa ia tepati.
Karena takdir punya caranya sendiri untuk menarik orang-orang ke dalam pusaran yang sudah ditentukan.
Dan lima hari lagi, pusaran itu akan dimulai lagi.
Dengan kedatangan Zarvan Mikhael Al-Hakim.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 5**