Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Tikus dan Bayangan Masa Lalu
Mesin mobil Toyota Avanza hitam itu menderu halus, memecah kesunyian jalanan setapak di pinggiran Bogor yang hanya diterangi oleh sorot lampu jauh. Sesuai instruksi Baskara, Reno mengambil jalur Parung, menghindari jalan tol yang kemungkinan besar sudah dipantau oleh jaringan CCTV cerdas kepolisian atau mata-mata bayaran Sarah. Di dalam kabin, ketegangan terasa begitu padat, seolah-olah udara pun enggan untuk mengalir.
Baskara terus menunduk, jemarinya menari di atas layar tablet yang kini menampilkan peta panas aktivitas seluler di sekitar kediaman pribadi Sarah di Jakarta Selatan. "Reno, matikan semua transmisi sinyal dari ponsel pribadimu. Gunakan hanya jalur enkripsi dari alat yang kuberikan. Kita tidak boleh meninggalkan jejak digital di menara pemancar manapun yang kita lalui."
Reno mengangguk mantap, meskipun guratan kelelahan di bawah matanya tak bisa disembunyikan. "Sudah, Bas. Aku juga sudah mengatur agar sinyal GPS mobil ini melompat-lompat secara acak di sistem publik. Jika ada yang melacak, mereka akan mengira kita sedang berada di tengah hutan jati di pinggiran Sukabumi."
Di kursi belakang, Alea mencoba memejamkan mata, namun gagal. Setiap kali matanya tertutup, bayangan wajah ayahnya—atau pria yang ia sebut ayah selama dua puluh tahun ini—yang sedang digiring polisi terus menghantuinya. Ia teringat kembali pada kunci perak yang ia ceritakan pada Baskara. Ingatan itu datang seperti potongan film rusak; samar, menyakitkan, dan penuh rasa takut.
"Baskara," panggil Alea dengan suara serak.
Baskara tidak menoleh, namun gerak jemarinya di layar berhenti. "Ya?"
"Jika kunci itu tidak ada di kalungnya... jika dia sudah memindahkannya, apa yang akan kita lakukan? Kita tidak mungkin membongkar seluruh lantai kamarnya tanpa ketahuan."
Baskara menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sarah adalah makhluk yang terobsesi pada kontrol. Baginya, keamanan bukan hanya soal brankas baja, tapi soal kepemilikan fisik. Dia tidak akan mempercayakan kunci itu pada bank atau orang lain. Kunci itu adalah asuransi nyawanya. Jika dia kehilangan kunci itu, dia kehilangan kendali atas sejarah yang dia kubur."
Baskara menoleh sedikit, menatap Alea lewat spion tengah. "Kita akan masuk lewat pintu belakang. Ada akses servis untuk katering dan staf kebersihan yang kodenya tidak pernah diganti sejak bulan lalu. Aku sudah memastikannya lewat penyadapan rutin terhadap kepala pelayan rumah itu."
Mobil mereka melintasi daerah pasar yang mulai menggeliat di pagi buta. Pedagang sayur mulai menata dagangan, menciptakan kontras yang aneh dengan misi gelap yang sedang mereka jalankan. Bagi orang-orang di pasar itu, dunia berjalan seperti biasa. Namun bagi tiga orang di dalam mobil ini, dunia yang mereka kenal sedang runtuh dan dibangun kembali di atas puing-puing pengkhianatan.
"Ada satu hal yang menggangguku," ujar Reno tiba-tiba sambil memutar kemudi menghindari lubang jalan. "Kenapa Sarah pergi ke rumah Markus Siregar di jam segini? Jika dia ingin kabur ke luar negeri, dia punya jet pribadi yang siap di Halim. Menemui pengacara saat situasi memanas seperti ini justru membuang waktu, kecuali..."
"Kecuali dia butuh sesuatu yang hanya dipegang oleh Markus," sambung Baskara, matanya berkilat. "Markus bukan sekadar pengacara. Dia adalah pemegang akta-akta otentik Mahardika Group. Jika Sarah ingin melenyapkan bukti bahwa aset-aset itu adalah milik orang tua Alea, dia harus memastikan dokumen fisik aslinya musnah. Di dunia hukum, data digital bisa disangkal sebagai manipulasi, tapi dokumen fisik dengan tanda tangan asli dan stempel notaris lama adalah vonis mati baginya."
Baskara mengepalkan tangannya. "Dia ingin membakar jembatan. Dia akan membiarkan ayahku membusuk di penjara, sementara dia membersihkan semua jejak kepemilikan Alea agar dia bisa menjual aset-aset itu ke investor asing dan menghilang dengan uangnya."
Alea merasakan mual di perutnya. "Dia benar-benar tidak pernah mencintaiku, bukan? Semua kasih sayang itu... hanya drama untuk memastikan 'barang bukti' tetap berada di dalam jangkauan matanya."
Baskara terdiam. Ia ingin mengiyakan dengan tegas agar dendam Alea semakin berkobar, namun saat melihat pantulan wajah Alea yang rapuh di kaca jendela, ada sesuatu yang menahan lidahnya. Ia teringat saat Alea secara sukarela memberikan air hangat padanya beberapa minggu lalu ketika ia berpura-pura sakit demi mencuri data. Kebaikan Alea itu tulus, dan itulah yang membuat Baskara merasa seperti seorang monster karena telah memanfaatkan ketulusan itu.
"Cinta dan ambisi seringkali tumpang tindih di kepala orang seperti Sarah, Alea," jawab Baskara akhirnya dengan nada yang lebih lunak. "Mungkin dia mencintaimu dengan caranya yang sakit. Tapi bagi dia, dirinya sendiri selalu menjadi prioritas utama."
Satu jam kemudian, gedung-gedung tinggi Jakarta mulai terlihat di ufuk timur, berselimut kabut tipis dan polusi. Reno memacu mobilnya masuk ke wilayah perumahan elit di Jakarta Selatan. Jalanan di sini sangat sunyi, hanya ada beberapa petugas keamanan yang berpatroli dengan sepeda motor.
"Kita hampir sampai," bisik Reno. "Dua blok lagi dari gerbang belakang."
Baskara mengambil sebuah tas hitam kecil dari bawah kursinya. Ia mengeluarkan dua pucuk pistol jenis glock dan beberapa magasin. Ia memeriksa pelurunya dengan gerakan mekanis yang sangat terlatih.
Alea terbelalak melihat senjata itu. "Apakah kita akan... menembak seseorang?"
Baskara memasukkan pistol itu ke balik jaketnya. "Hanya jika diperlukan. Aku tidak berniat membunuh siapapun hari ini, Alea. Tapi Sarah memiliki pengawal pribadi yang tidak segan-segan menarik pelatuk. Aku harus memastikan kita semua keluar dari rumah itu dalam keadaan hidup."
Baskara menyerahkan sebuah alat komunikasi kecil (earpiece) kepada Alea. "Pakai ini. Jika kita terpisah, ikuti instruksiku lewat suara. Jangan bicara kecuali penting. Dan yang paling penting: jangan pernah lepaskan pandanganmu dari jalurnya. Jika aku bilang lari, kau lari."
Alea menerima alat itu dengan tangan bergetar. Ia merasa seolah-olah ia sedang melangkah masuk ke dalam mulut singa. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ia teringat pada wajah ibunya di foto tua di vila Bogor tadi. Ia teringat pada ayahnya yang sebenarnya, yang hidupnya dirampas demi kemewahan yang selama ini ia nikmati.
"Aku akan melakukannya," ujar Alea tegas, mencoba menstabilkan suaranya sendiri. "Aku akan mengambil kunci itu."
Mobil berhenti di sebuah lorong buntu yang berbatasan langsung dengan tembok tinggi rumah mewah Sarah. Tembok itu ditutupi oleh tanaman rambat dan kawat berduri di puncaknya. Baskara turun lebih dulu, bergerak seperti bayangan di antara keremangan subuh. Ia memeriksa kamera pengawas yang tersembunyi di balik dedaunan dan menyemprotkan cairan khusus yang membuat lensa kamera tersebut membeku dan mengirimkan gambar diam (still image) ke ruang kendali keamanan.
"Ayo," bisik Baskara.
Alea turun dari mobil, merasakan angin pagi yang dingin menusuk tulang. Reno tetap di belakang kemudi, mesin mobil dibiarkan menyala dalam mode senyap. "Aku akan memutar di blok depan. Aku beri kalian waktu dua puluh menit. Jika lebih dari itu, aku akan masuk menjemput kalian dengan risiko apapun," ujar Reno lewat earpiece.
Baskara membantu Alea memanjat pagar kecil di samping pintu servis. Dengan gerakan cepat, Baskara memasukkan kode akses ke panel digital. Bunyi klik pelan terdengar, dan pintu besi berat itu terbuka sedikit.
Mereka masuk ke area dapur yang sangat luas dan modern, namun terasa dingin seperti kamar mayat. Tidak ada pelayan yang terlihat; sepertinya Sarah telah memulangkan sebagian besar stafnya untuk menjaga kerahasiaan kepulangannya yang terburu-buru.
"Ruang kerja Sarah ada di lantai dua, sayap kanan," bisik Alea, memimpin jalan.
Mereka menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet tebal, sehingga langkah kaki mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun, tepat saat mereka mencapai bordes lantai dua, suara langkah sepatu yang keras terdengar dari arah koridor utama.
Baskara dengan cepat menarik Alea ke balik sebuah pilar marmer besar. Ia menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat agar Alea tidak bernapas terlalu keras.
Dari balik pilar, mereka melihat Sarah.
Wanita itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang terlihat di berita TV, namun penampilannya kini berantakan. Ia tidak lagi memakai kacamata hitam. Matanya tampak merah dan penuh amarah. Di sampingnya, berdiri dua pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam—pengawal pribadinya.
"Bakar semua dokumen di ruang kerja Hendra. Jangan sisakan satu lembar pun yang berisi nama asliku atau referensi ke Proyek 'Erase'," perintah Sarah dengan suara dingin yang menusuk.
"Bagaimana dengan Nona Alea, Bu? Dia belum kembali sejak tadi sore," tanya salah satu pengawal.
Sarah berhenti melangkah. Ia terdiam sejenak, menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke taman. "Alea adalah pion yang sudah hilang. Jika dia bersama Baskara, maka dia sudah menjadi musuh. Jika kalian menemukannya, bawa dia padaku. Tapi jika dia melawan... lakukan apa yang harus dilakukan untuk memastikan dia tidak bicara pada pers."
Alea menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang hampir pecah. Mendengar ibu angkatnya memberikan perintah yang begitu kejam adalah pukulan terakhir bagi hatinya yang sudah hancur.
Baskara merangkul bahu Alea, memberikan kekuatan yang tidak terucap. Ia menunggu hingga Sarah dan pengawalnya masuk ke ruang kerja Hendra di ujung koridor yang berlawanan.
"Sekarang," bisik Baskara. "Ke kamar Sarah. Kita punya waktu sebelum mereka menyadari kehadiran kita."
Mereka bergerak cepat menuju kamar utama. Pintu besar itu terbuka dengan sekali dorongan. Kamar itu sangat luas, dengan aroma parfum mahal yang menyesakkan. Tanpa membuang waktu, Alea langsung menuju meja rias besar milik Sarah. Ia berlutut di lantai, meraba-raba sela-sela kayu parket yang tampak sempurna.
"Di sini... seharusnya di sini," gumam Alea panik.
Baskara membantu memeriksa, menggunakan pisau lipat kecil untuk mencongkel tepian kayu. Tiba-tiba, ia merasakan ada bagian yang sedikit goyang. Dengan satu hentakan kuat, sebilah papan kayu terangkat, menyingkap sebuah kotak baja kecil yang tertanam di dalam lantai.
"Ini dia," ujar Baskara.
Namun, kotak itu tidak memiliki lubang kunci biasa. Di atasnya terdapat sebuah sensor biometrik dan satu lubang kecil berbentuk silinder yang sangat spesifik.
"Kunci perak itu, Alea," bisik Baskara. "Itu bukan sekadar kunci fisik. Itu adalah kunci enkripsi mekanis yang berfungsi sebagai 'master key' untuk sistem ini."
Tiba-tiba, lampu kamar menyala terang.
"Mencari ini?"
Baskara dan Alea tersentak dan berbalik. Di ambang pintu, Sarah berdiri dengan tenang. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah kalung dengan kunci perak kecil yang berkilauan di bawah cahaya lampu kristal. Di belakangnya, kedua pengawalnya sudah menodongkan senjata ke arah Baskara.
"Aku tahu kau akan datang ke sini, Baskara," ujar Sarah dengan senyum kemenangan yang mengerikan. "Kau terlalu bisa ditebak. Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan drama pelarian ini? Kau hanyalah anak kecil yang marah karena kehilangan mainannya."
Baskara berdiri perlahan, tangannya tetap berada di dekat pinggangnya, namun ia tahu ia kalah posisi. Alea masih bersimpuh di lantai, menatap Sarah dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara benci, takut, dan duka yang mendalam.
"Selamat datang di rumah, Alea," ujar Sarah sinis. "Sayang sekali, ini akan menjadi kunjungan terakhirmu."