Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Digta
Tap... tap... tap...
Langkah kaki Digta menggema di koridor kosan yang remang-remang. Seulas senyum tak bisa ia tahan, mengembang di bibirnya.
Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu, saat Raisa datang menemuinya, air mata berlinang di pipi, dan akhirnya... ah, sudahlah. Biar itu menjadi rahasia mereka berdua.
"Sekarang gw punya cewek," ucap Digta pelan, nyaris berbisik pada dirinya sendiri.
"Digta, lu emang keren!"
Di dalam kamar Bambang, Yanto dan Wawan tenggelam dalam dunia game Jemari mereka menari-nari di atas stik PS mengatur strategi.
Membeli pemain, dan berteriak kegirangan saat tim kesayangan mereka mencetak gol. Aroma rokok bercampur dengan bau keringat memenuhi ruangan yang pengap itu.
"Hmm..."
Tanpa mengetuk pintu, Digta langsung menerobos masuk ke dalam kamar Bambang. Ia sudah terlalu akrab dengan mereka, formalitas seperti mengetuk pintu terasa konyol.
"Thanks ya bro," kata Digta seraya memberikan kunci mobil milik Bambang. Ia melemparkan kunci itu ke arah Bambang yang sedang fokus menatap layar ponselnya.
Bambang hanya mengangguk singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan. Ia sudah terbiasa dengan tingkah laku Digta yang seenaknya sendiri.
"Muka lu cerah amat," celetuk Bambang, akhirnya melirik ke arah Digta. Ia menyipitkan matanya, mencoba menebak apa yang membuat Digta tampak begitu bahagia.
"Kenapa Ta?"
Digta hanya tersenyum misterius mendengar ucapan Bambang. Ia tidak ingin menceritakan detail kejadian tadi biarlah itu menjadi kenangan pribadinya.
"Ayo abis ngapain?" celetuk Yanto, otaknya mulai traveling kemana-mana. Ia membayangkan Digta dan Raisa melakukan hal-hal yang tidak-tidak.
"Jangan-jangan abis..."
Lagi-lagi Digta hanya tersenyum menanggapi celetukan teman-temannya. Ia merasa geli dengan imajinasi mereka yang liar.
"Lagi main apa to?" tanya Digta, mengalihkan perhatian dari topik yang mulai panas. Wajahnya tampak sumringah, seolah tidak ada beban di dunia ini.
"Biasalah, Manager Football," jawab Yanto santai. Ia kembali fokus pada permainannya, mengatur formasi timnya agar lebih solid.
"Tim lu apa?" tanya Digta lagi, penasaran dengan pilihan tim Yanto.
"Arsenal!"
"Timnya jadi butut, gara-gara lu," celetuk Digta dengan nada bercanda. Ia tahu betul, Yanto sangat fanatik dengan Arsenal, meskipun tim itu seringkali tampil mengecewakan.
"Sialan, Gua masuk semi final ini," balas Yanto, tidak terima dengan ejekan Digta. Ia merasa bangga dengan pencapaian timnya di kompetisi virtual itu.
Awalnya Digta asik memperhatikan Yanto yang sedang asik meramu timnya. Ia sesekali memberikan komentar, mencoba memberikan saran strategi.
"Ouwh..."
Namun tiba-tiba saja mata Digta sedikit berbayang, lama lama semakin buram, dan gelap. Ia merasa seperti ada tirai yang menutupi penglihatannya.
Kepalanya mulai terasa berputar-putar, seperti sedang menaiki wahana ekstrem di taman hiburan. Semakin lama semakin terasa menyakitkan, dan sekarang Digta mulai meremas-remas kepalanya saking sakitnya. Ia mencoba menahan rasa sakit itu, tapi tidak berhasil.
"Aarggggh," Digta tampak merintih kesakitan. Ia memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
"Lu kenapa ta?" tanya Bambang agak heran melihat gelagat Digta yang tampak kesakitan. Ia mendekati Digta, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Bruk...
Gedebuk...
Tak lama kemudian Digta ambruk ke lantai, awalnya Yanto dan Wawan hanya saling pandang. Mereka bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada Digta.
"Heeeh"
kemudian mereka di kejutkan dengan suara Bambang.
"Ta lu kenapa ta?" Kata Bambang seraya menggoyang goyangkan tubuh Digta, Ia panik melihat Digta tidak sadarkan diri.
Wawan dan Yanto mulai memeriksa jantung dan denyut nadi Digta. Mereka mencoba mencari tahu, apakah Digta masih bernapas.
"Kayanya dia pingsan," ungkap Yanto sedikit syok. Ia tidak menyangka, Digta akan pingsan tiba-tiba.
"Cepet bawa ke mobil," sahut Bambang panik. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Digta.
"Gimana," Wawan tampak tak bisa berfikir saking panik. Ia tidak tahu, apa yang harus dilakukan.
"Wan, bawa Digta ke mobil," kata Bambang lagi sedikit meninggikan nada suaranya. Ia mencoba menyadarkan Wawan dari kepanikannya.
"Iya, Iya," ungkap Wawan gelagapan sambil menatap Yanto yang tampaknya sudah mengerti harus berbuat apa. Mereka berdua mengangkat tubuh Digta dengan hati-hati.
"Huff.."
Wawan dan Yanto kemudian menggotong Tubuh Digta ke Mobil. Mereka berjalan tergesa-gesa, berusaha secepat mungkin membawa Digta ke rumah sakit.
"Cepet, cepet..."
Kemudian mereka segera membawa Digta kerumah sakit terdekat yaitu Rumah Sakit St. Borromeus. Mereka berharap, Digta akan segera mendapatkan pertolongan medis.
"Duh doi kenapa lagi..."
Setibanya di Rumah Sakit Bambang, Yanto, dan Wawan, langsung membawa Digta ke UGD. Mereka berteriak-teriak memanggil petugas medis.
"Tolong pak..."
Petugas mulai sigap membantu memindahkan Digta ke emergensi bad. Mereka memasangkan alat-alat medis ke tubuh Digta.
Dokter jaga mulai memeriksa kondisi Digta. Ia memeriksa tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan Digta.
"Gimana Bang...:"
Bambang mulai menelepon orang tua Digta namun nomernya tidak bisa di hubungi. Ia merasa frustrasi, tidak bisa menghubungi keluarga Digta.
"Nggak nyambung..."
"Bang nyokap bokapnya kan lagi di luar negri," celetuk Wawan mengingatkan. Digta ingat, orang tua Digta sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Ooh iya gimana cara menghubungi mereka ya," Bambang mulai kebingungan. Ia tidak tahu, bagaimana cara menghubungi orang tua Digta di luar negeri.
"Tenang bang yang penting Digta aman dulu," kata Yanto berusaha membuat suasan lebih tenang. Ia mencoba menenangkan Bambang yang tampak panik.
Tak lama kemudian dokter jaga memanggil mereka bertiga. Merekapun segera menghampiri dokter jaga itu. Mereka penasaran dengan kondisi Digta.