Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Tanpa Nama
Sisca Angela mengetukkan kuku jari manisnya yang baru di-nail art ke atas meja kaca kantornya. Bunyi tak-tak-tak itu berirama cepat, senada dengan detak jantungnya yang dipacu amarah.
Di hadapannya, Rendy dan Pak Budi duduk dengan wajah lesu.
"Masa nggak ada yang tahu?!" bentak Sisca frustrasi. "Kalian ini laki-laki, punya koneksi, masa cari tahu siapa pemilik warung di seberang jalan saja nggak becus?"
Sisca menunjuk ke arah jendela besar di belakangnya. Dari sana, terlihat antrean makan siang di Dapur Rumah yang semakin menggila. Parkiran mobil di sana penuh sesak, sementara parkiran Royal Spoon hanya terisi tiga mobil—itu pun mobil Sisca, mobil Rendy, dan satu pelanggan yang nyasar.
"Sabar, Sis," Rendy mencoba menenangkan, meski ia sendiri bingung. "Aku sudah suruh orang dapur kita buat pura-pura beli di sana. Mereka tanya-tanya sama kasirnya, sama tukang parkirnya, bahkan sama tukang bersih-bersihnya."
"Terus?"
"Nihil," jawab Rendy sambil menggeleng. "Karyawan di sana tutup mulut semua. Mereka cuma bilang bosnya jarang datang, atau bosnya orang Jakarta yang sibuk. Mereka sangat loyal, Sis. Nggak ada yang mau bocorin nama."
"Orang Jakarta?" Sisca mengerutkan kening. "Franchise baru?"
"Bisa jadi," sahut Pak Budi sambil membolak-balik kertas di tangannya. "Papa juga sudah coba cek lewat kenalan Papa di dinas perizinan kecamatan. Papa minta data siapa yang ngurus izin usaha 'Dapur Rumah' itu."
"Nah! Itu pasti akurat! Siapa namanya, Pa?" tanya Sisca penuh harap.
Pak Budi melempar kertas itu ke meja. Wajahnya masam.
"Nggak berguna. Izin usahanya atas nama PT. Berkah Pangan Semesta. Itu PT baru, alamat kantornya di gedung virtual office di Jakarta Pusat. Direkturnya namanya Asep Saepudin. Papa cek lagi, si Asep ini cuma nama pinjaman, orangnya nggak jelas siapa."
Sisca menggeram kesal. "Asep?! Nggak mungkin pemilik modal sebesar itu namanya Asep yang nggak punya jejak digital! Ini pasti nominee! Pemilik aslinya sembunyi!"
Sisca merasa sedang melawan hantu.
Biasanya, di dunia bisnis Surabaya yang sempit, semua orang saling tahu. Oh, restoran ini punya anaknya Pak Haji A, kafe itu punya istrinya Ko B. Tapi warung di seberang ini benar-benar misterius.
"Kenapa dia sembunyi?" gumam Sisca, berjalan mondar-mandir. "Kalau dia pebisnis sukses, harusnya dia bangga dong pasang namanya? Harusnya dia bikin Grand Opening undang pejabat. Ini nggak. Dia buka diam-diam, tapi langsung meledak."
"Mungkin dia tahu kita siapa, Sis," ucap Rendy hati-hati. "Mungkin dia takut bersaing terbuka sama keluarga Santoso, makanya pakai nama samaran."
"Takut?" Sisca tertawa sinis. "Kalau dia takut, dia nggak bakal buka usaha lima puluh meter di depan hidungku, Rendy! Ini provokasi! Dia sengaja!"
Sisca kembali menatap ke seberang jalan. Ia melihat seorang wanita dengan topi dan masker—yang sebenarnya adalah Alina—sedang mengangkat krat botol minuman di area belakang warung. Namun karena pakaiannya yang sederhana dan tertutup, Sisca mengiranya hanya karyawan biasa.
"Aku nggak suka ini," desis Sisca. "Aku nggak bisa melawan musuh yang nggak punya wajah."
"Terus kita harus gimana?" tanya Pak Budi. "Omzet kita turun 40% minggu ini gara-gara orang-orang penasaran makan di sana."
Sisca memejamkan mata, memutar otaknya yang licik.
"Kalau kita nggak bisa tahu siapa pemiliknya secara legal..." Sisca membuka matanya, kilatan jahat muncul di sana. "Kita paksa dia keluar."
"Maksud kamu?" tanya Rendy waswas.
"Kita bikin masalah," bisik Sisca. "Kirim orang bayaran. Bikin keributan di sana. Komplain makanannya ada kecoa, atau parkirannya bikin macet. Kalau ada masalah hukum atau keributan besar, pemilik aslinya pasti terpaksa muncul buat beresin masalah."
"Sis, itu bahaya..." cegah Rendy. "Jangan main premanisme. Kita baru aja bangkit."
"Diem kamu!" bentak Sisca. "Aku nggak mau kalah sama warung nasi murahan! Pokoknya cari tahu siapa dia. Aku mau tahu siapa orang yang berani-beraninya bikin Royal Spoon kelihatan sepi!"
Sementara itu, di seberang jalan.
Alina baru saja selesai mengecek stok beras di gudang belakang. Ia melepas masker dan topinya, mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan kardus bekas.
Ponsel di saku celana jeans-nya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Wisnu.
Big Boss:
Orang dinas perizinan lapor ke saya. Katanya Pak Budi Santoso baru saja minta data kepemilikan restoranmu. Tenang saja, datanya aman. Mereka cuma dapat nama PT kosong yang saya siapkan.
Alina tersenyum miring membaca pesan itu. Wisnu benar-benar pelindung yang sempurna. Pria itu tahu cara bermain di balik layar. Menggunakan struktur PT cangkang (shell company) untuk menyembunyikan identitas pemilik asli adalah teknik dasar konglomerat yang tidak dipahami oleh pebisnis kelas menengah seperti Pak Budi.
Alina membalas pesan itu.
Alina:
Terima kasih, Pak. Mereka pasti sedang pusing tujuh keliling mencari siapa 'Bapak Asep' itu.
Alina melangkah ke area depan, melihat antrean pelanggan yang masih panjang. Ia melihat ke seberang jalan, ke arah jendela kaca Royal Spoon di lantai dua. Ia bisa membayangkan Sisca sedang mengamuk di sana, melempar barang, atau memarahi Rendy.
"Cari saja terus, Sisca," gumam Alina pelan sambil menyendok nasi ke piring pelanggan.
"Sampai kiamat pun kamu nggak akan nyangka, kalau saingan terberatmu adalah gadis yang dulu kamu tertawakan karena cuma naik motor butut."
Identitas Alina aman. Dan selama Sisca masih buta akan siapa lawannya, Alina leluasa melancarkan serangan-serangan berikutnya yang lebih menyakitkan.
"Bu Alina, meja tujuh minta bon!" panggil salah satu pelayan.
"Ya, sebentar!" sahut Alina, kembali menjadi pelayan warung yang cekatan, menyembunyikan identitasnya sebagai eksekutif muda di balik celemek kumal yang ia kenakan dengan bangga.