Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prasangka dan Titik Ikhlas Aulia
Kehadiran Meli dan Pamela di tengah gemerlap lampu taman hiburan seketika mematikan sisa-sisa kehangatan yang baru saja mulai tumbuh antara Aulia dan Rizki. Meli memasang wajah polos seolah tidak tahu mengapa Aulia bisa berada di sana, sementara Pamela dengan sigap mengambil alih situasi. Dengan gerakan yang sangat terencana, Pamela mendorong Meli ke arah pelukan Rizki dan segera menyeret Aulia menjauh, memastikan "momen romantis" yang ia bayangkan untuk kakaknya tidak terganggu oleh kehadiran Aulia.
Aulia hanya bisa menatap dalam diam. Ia memperhatikan bagaimana Rizki tidak melakukan pembelaan berarti saat Pamela menyeretnya pergi. Meskipun Aulia adalah orang yang ia undang secara khusus malam itu, kenyamanan dan kehadiran Meli tampaknya tetap menjadi prioritas otomatis bagi Rizki—sebuah insting yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun.
Di luar area wahana, di bawah temaram lampu jalanan yang sepi, Pamela meluapkan amarahnya. Ia memaki Aulia, menuduhnya sebagai perusak suasana dan wanita yang tidak tahu malu karena membuntuti kakaknya. Saat Aulia menjawab dengan tenang bahwa Rizki-lah yang memintanya datang, Pamela justru melontarkan alasan yang lebih menyakitkan.
"Jangan terlalu percaya diri, Aulia! Kak Rizki membawamu ke sini hanya untuk menjadikannya kelinci percobaan," cibir Pamela dengan sorot mata menghina. "Dia ingin memastikan semua wahana ini aman sebelum Kak Meli yang menaikinya. Kamu tahu sendiri kan, Kak Meli itu rapuh, tidak sepertimu yang sekuat badak."
Meskipun Aulia tahu itu mungkin hanya karangan Pamela untuk menyakitinya, kata-kata itu tetap menghujam tepat di ulu hatinya. Ia kembali teringat pada posisinya selama lima tahun ini: ia memang tidak lebih dari sekadar alat atau pelayan cadangan yang tugasnya hanya memastikan jalan bagi Meli selalu mulus.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Aulia tidak lagi menundukkan kepalanya. Ia menatap langsung ke mata Pamela dan mengajukan pertanyaan yang selama ini ia simpan di lubuk hati terdalamnya.
"Pamela, kenapa kamu benci sekali padaku? Apa aku pernah melakukan kesalahan fatal padamu?"
Pamela awalnya tertegun. Ia mencoba beralasan bahwa Aulia adalah perusak hubungan Rizki dan Meli. Namun, saat Aulia mendesaknya kembali tentang apakah ia pernah menyakiti Pamela secara pribadi, Pamela terdiam. Ia tidak punya jawaban konkret. Akhirnya, dengan nada yang angkuh namun jujur secara kejam, ia menjawab:
"Benci saja dari hati. Aku hanya merasa kamu tidak layak ada di keluarga kami, tanpa alasan khusus."
Mendengar jawaban itu, Aulia justru tidak merasa sedih. Sebaliknya, sebuah beban besar seolah terangkat dari bahunya. Selama lima tahun ini, ia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya kurang pintar, kurang cantik, atau kurang berbakti sehingga tidak bisa diterima oleh keluarga suaminya.
Kini ia sadar: kebencian mereka adalah masalah mereka, bukan kesalahannya. Prasangka tidak butuh alasan, dan usaha untuk mengubahnya adalah kesia-siaan yang melelahkan. Dengan hati yang kini terasa jauh lebih ringan, Aulia melangkah pergi meninggalkan taman hiburan itu menggunakan taksi, tanpa menoleh lagi pada Rizki yang masih tertahan di dalam bersama Meli.
Setelah taksi Aulia menghilang dari pandangan, Pamela merasakan sesak yang aneh di dadanya. Ada sesuatu dalam ketenangan dan tatapan Aulia tadi yang membuatnya merasa terusik—sebuah rasa bersalah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, demi mempertahankan "kebahagiaan" kakaknya dan Meli, ia memilih untuk mengubur nurani itu dalam-dalam.
Aulia pulang malam itu bukan sebagai istri yang terhina, melainkan sebagai wanita yang akhirnya paham bahwa ia tidak berutang apa pun lagi pada keluarga Laksmana. Ia telah memberikan segalanya, dan mereka telah membuangnya. Sekarang, giliran Aulia yang membuang mereka dari hatinya.
Sementara Aulia merayakan kebebasan batinnya dalam kesunyian taksi, Rizki terjebak dalam sandiwara yang ia ciptakan sendiri. Ia berdiri bersama Meli, namun matanya terus mencari sosok Aulia yang sudah tidak ada lagi di sana. Akankah Rizki menyadari bahwa malam ini adalah kesempatan terakhir yang benar-benar ia hancurkan?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.