Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bab 34 Api Iri dan Dendam Menyala
Begitu mendengar langkah kaki ringan menuruni tangga, Drake Leach langsung menegakkan tubuh di kursinya.
“Anita, kemarilah,” serunya lembut, wajahnya tampak lega begitu melihat cucu menantunya itu.
Tok... tok... tok... suara sepatu hak tinggi Anita bergema lembut di anak tangga marmer.
Gaun panjang berwarna krem membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut hitam kecokelatannya yang panjang bergelombang jatuh lembut di bahu. Setiap langkahnya bagaikan melukis aura keanggunan seorang ratu.
Jaccob yang duduk di seberang meja seketika mengangkat wajah. Tatapannya menajam tanpa sadar, seolah tertarik oleh pesona yang tak bisa dijelaskan.
Setiap kali melihat Anita, selalu ada sensasi aneh antara campuran kagum, iri, dan sesuatu yang tak bisa ia akui bahkan pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Selene yang duduk di sampingnya melirik tajam. Bibirnya menegang, jemarinya menggenggam kuat rok di pangkuannya.
Begitu menyadari ke mana arah pandangan Jaccob, rahangnya mengeras. Krek! Suara giginya saling bergesek saat ia menahan emosi.
Dasar jalang! makinya dalam hati. “Sudah punya Dion Leach, masih saja menatap suami orang lain.”
Namun Anita tampak tenang. Ia menuruni tangga spiral dengan anggun, lalu tersenyum lembut pada nenek yang sudah menunggunya.
Irina Bhewen wanita tua dengan sorot mata lembut tapi tajam , langsung berseri-seri. “Begitulah seharusnya cucuku tampil. Anggun dan menawan,” gumamnya bangga.
Anita menghampiri dan duduk di samping sang nenek. “Nenek, apa yang membawamu kemari?” tanyanya lembut.
Sebelum Nenek Irina sempat menjawab, Selene sudah menimpali cepat, pura-pura prihatin, “Kami dengar Dion sakit dua hari lalu, Anita. Kami datang untuk memastikan kamu baik-baik saja. Kami khawatir, tahu?”
Nada suaranya terdengar manis, tapi senyumnya mengandung sesuatu yang lain , seolah sedang menunggu kesempatan untuk melihat penderitaan orang.
Drake Leach yang duduk di kursi utama sempat tersenyum ramah, tapi senyum itu langsung menguap begitu mendengar alasan kedatangan mereka. Matanya menyipit.
“Jadi bukan menjenguk, tapi ingin tahu gosip rumah tangga orang?” pikirnya dingin.
Jaccob yang duduk di samping Selene tampak lebih sopan. “Anita, apa kamu baik-baik saja? Kudengar kondisinya cukup serius...” katanya dengan nada cemas, tapi matanya jelas menyimpan rasa ingin tahu.
Irina Bhewen menggenggam tangan Anita dengan penuh kekhawatiran. “Anita, kalau Dion berbuat kasar padamu, jangan diam saja. Katakan pada Nenek. Aku akan melindungimu.”
Drake Leach memalingkan pandangan, menahan amarah. Ia tahu mereka punya niat baik, tapi tetap saja kata-kata itu menusuk harga diri keluarganya.
Anita tersenyum tipis. “Nenek, aku baik-baik saja, sungguh.”
Namun Selene tak mau kalah. Ia mencondongkan tubuh, matanya menyipit saat melihat sesuatu di leher Anita. “Tapi lehermu memar! Itu... bekas dicekik? Ya Tuhan, dia benar-benar berbahaya!” katanya dengan nada dramatis.
Drake Leach mendengus pelan, lalu menatapnya tajam. “Nona Lewis,” katanya datar namun menusuk, “kalau lidah Anda tak pandai menjaga bicara, sebaiknya pelajari bahasa isyarat saja.”
Nada suaranya dingin seperti baja. Selene langsung membeku di tempat, tak berani melanjutkan.
Irina Bhewen yang mendengar itu ikut menatap leher cucunya, lalu mencondongkan badan. “Anita...” suaranya cemas.
Anita spontan mengangkat tangannya, menyentuh kulit leher yang masih ada bekas kemerahan samar. Pipinya memerah, matanya berkilat canggung. “Nenek, bukan... bukan dicekik. Itu... bekas Dion menciumnya.”
Plop! Selene hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
Udara mendadak kaku. Bahkan Jaccob tampak terkejut dan terdiam.
Anita menunduk, wajahnya makin merah. “Dia terlalu... bersemangat malam itu, hehe....”
Nada suaranya lirih, tapi cukup untuk membuat suasana ruang tamu berdenyut aneh.
Irina tersipu, lalu menurunkan sedikit kerah gaun Anita. Ia melihat tanda lain di tulang selangkanya dan spontan menutup mulut dengan kipas tangan.
Sebagai wanita berpengalaman, ia tahu persis apa arti tanda itu.
“Baiklah, cukup,” katanya cepat sambil melotot ke arah Selene. “Lain kali, jaga mulutmu. Jangan bicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Selene menunduk dalam-dalam, rahangnya mengeras, tapi tak berani menjawab. Dalam hatinya ia mendidih, malu sekaligus iri.
Sementara itu, Jaccob hanya bisa memandangi Anita tanpa suara. Tatapannya penuh campuran emosi yang rumit , yaitu rasa cemburu, heran, dan entah apa lagi.
Drake Leach akhirnya menepuk lutut dan berkata tegas, memecah ketegangan, “Anita, ajak tamu-tamu kita berjalan di taman. Pelayan akan membawa teh dan camilan. Aku perlu beristirahat sebentar.”
Ia jelas tak ingin mendengar lagi pembicaraan yang memalukan itu.
“Baik, Kakek,” jawab Anita lembut.
Taman keluarga Leach terbentang luas di luar, dengan kolam jernih, gazebo putih, dan jalan setapak dari batu pualam. Burung-burung kecil beterbangan, dan udara sore berhembus lembut, membawa aroma bunga lavender.
Selene menatap sekeliling, matanya berbinar. Setiap sudut taman itu memancarkan kemewahan.
Glek! ia menelan ludah saat menyadari betapa megahnya kehidupan keluarga Leach. Bahkan taman ini saja lebih luas dari seluruh vila milik keluarganya.
Dalam hati, Selene mendesah kagum sekaligus iri.
“Kalau saja aku yang jadi Nyonya Leach... semua ini akan jadi milikku,” pikirnya dengan mata berbinar rakus.
Ia melirik Anita yang berjalan di depan dengan anggun, tenang, dan berkelas, dan dalam diam menilai. Dia tidak pantas untuk Dion. Tidak sepantas itu.
Sementara itu, Anita hanya tersenyum kecil, seolah bisa membaca isi hati Selene tanpa perlu menatapnya.
Angin berembus pelan, whoosh..., membawa aroma bunga yang manis, tapi di antara mereka, hawa persaingan halus mulai terasa menggantung di udara.
Cahaya sore menyelinap lembut dari jendela kaca besar ruang tamu keluarga Leach. Kilau matahari menari di permukaan meja marmer putih, sementara pelayan melangkah perlahan membawa nampan perak . Clink! suara cangkir porselen beradu lembut.
Anita Lewis duduk dengan sikap anggun, jari-jarinya yang ramping menggenggam cangkir teh dengan santai. Di seberangnya, Selene Lewis menatap meja camilan dengan mata berbinar. Begitu sepotong kue masuk ke mulutnya, ia nyaris berteriak.
“Ini... dari Sweetheart Dessert?!” suaranya nyaris tercekat karena kaget dan kagum bersamaan.
Rasa manis lembut itu meleleh di lidahnya yang lembut, harum, dan sempurna. Sweetheart Dessert hanya menjual seratus porsi per hari, dan bahkan yang termurah pun seharga sepuluh ribu dolar. Ia baru sempat mencicipinya sekali waktu Suzanne, ibunya, membelikannya di hari ulang tahunnya.
Sekarang keluarga Leach menyajikannya begitu saja, untuk menjamu tamu. Duh! rasanya seperti menampar gengsinya sendiri.
Selene menjilati remah kue di bibirnya dengan pelan. “Hmm... luar biasa,” gumamnya penuh iri. Tatapannya kemudian bergeser ke arah Anita. “Tapi... kenapa aku tidak melihat Dion?”
Pertanyaan itu terdengar polos, tapi tatapan matanya terlalu tajam untuk disebut kebetulan.
Anita mengangkat alisnya sedikit, senyum dingin melintas di wajahnya. “Kau datang untuk menjengukku atau mencari suamiku, Selene? Kau terlihat begitu khawatir. Kalau tidak ada orang lain di ruangan ini, mungkin kau sudah naik ke tempat tidurnya, ya?”
Brak!
Tiba-tiba terdengar suara dari arah lain.
Suasana langsung menegang.
Joshua, tunangan Selene, langsung menoleh, alisnya terangkat tinggi menatap kekasihnya.
Selene mendadak pucat. “Aku cuma... merasa kurang sopan saja kalau Dion tidak keluar menyapa, apalagi ini kunjungan pertama Nenek Irina.”
Anita menjawab dengan tenang, tapi suaranya setajam silet. “Nenek tidak bilang sebelumnya akan datang, jadi Dion tak tahu. Lagipula, Nenek datang untukku, bukan untuknya.”
Irina Bhewen nenek dari Anita tersenyum hangat, keriput halus di wajahnya menambah kesan bijak dan lembut. “Benar itu, sayang. Aku datang untuk menjengukmu. Syukurlah kau tampak sehat.”
Beberapa hari terakhir, rumor tentang Dion Leach yang dikabarkan sakit berat membuat Irina sangat khawatir. Hari ini, begitu mendapat kabar Anita aman, ia langsung datang sendiri tanpa banyak pikir.
Kini, melihat cucunya duduk tenang dengan wajah berseri, ia akhirnya bisa bernapas lega.
Namun rasa penasaran tetap menghantui pikirannya. “Tapi, Anita, apakah benar Dion sempat terserang dua hari lalu?” tanyanya lembut.
Joshua menatap ke arah Irina, lalu ke Anita, seolah ingin mendengar kebenaran dari sumber utama.
Anita meletakkan cangkirnya pelan.
Clink! dan menjawab datar, “Dia hanya kelelahan, Nek. Sedikit stres saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Joshua mendengus kecil. “Beberapa pengawalnya sampai dirawat di rumah sakit. Kau masih bilang cuma stres?”
Tatapan Anita berubah dingin. “Kenapa kau tiba-tiba muncul? Kau merasa lebih hebat dengan menjelek-jelekkan tuan rumah di rumahnya sendiri, Joshua?”
Huft...! Udara terasa menegang kembali.
Joshua membuka mulut hendak membantah, tapi tak sempat. Suara lembut tapi tajam memotongnya suara Suzanne Lewis, ibu tiri Anita yang tiba-tiba juga ikut duduk di sisi Selene.
“Joshua hanya khawatir, Anita,” ujar Suzanne dengan nada manis, tapi senyumnya menyimpan sesuatu. “Dia bahkan tak bisa tidur dua malam sejak mendengar Dion sakit.”
Anita menatap wanita itu tanpa ekspresi. Ada kedalaman di matanya, dingin seperti kaca beku. “Lucu juga. Kalian tiba-tiba datang kesini, lalu membahas tunangan orang lain, tapi lebih peduli pada suami orang.”
Joshua langsung terbatuk. Kuh! Ia nyaris tersedak potongan kue. Wajahnya memerah karena malu.
Irina menatapnya tajam. “Joshua, kau tunangan Selene. Hargai posisimu.”
Selene menunduk, berusaha menutupi amarah dan rasa malunya.
Irina lalu mengubah arah pembicaraan dengan nada lega. “Aku juga dengar gosip aneh di luar. Mereka bilang Dion gila, bahkan membunuh seseorang. Omong kosong mana yang benar?”
Anita menatapnya sambil tersenyum tipis. “Kalau dia benar-benar membunuh orang, Nek, dia pasti sudah diadili. Dunia ini tidak sebodoh itu.”
Irina terkekeh pelan, “Haha... iya juga. Aku terlalu sering percaya gosip.”
Suzanne menyesap tehnya perlahan. Slrp! dan memandang sekeliling ruangan besar itu. Semuanya memancarkan kemewahan yang halus tapi jelas. Lukisan mahal, lampu kristal, vas bunga antik... semua tampak mengintimidasi dalam kesempurnaannya.
Selene menatap ruangan itu dengan mata berkilat iri. Semakin lama ia melihat, semakin sulit menahan diri. Ia tahu rumah keluarga Leach ini bahkan lebih besar dari seluruh vila keluarga Lewis milik ibunya.
Dan Anita, si wanita “biasa” yang dulu sering diremehkan, kini tinggal di istana megah ini.
Duh...! Rasanya panas di dada Selene semakin membakar.
Lalu, dengan senyum manis yang dibuat-buat, Selene berkata, “Nenek Irina jarang datang ke sini. Mungkin Anita bisa mengajaknya berkeliling, agar beliau lebih tenang.”
Anita memutar tatapan padanya, membaca niat tersembunyi di balik ucapan itu. Tapi karena Irina memang tampak tertarik, ia hanya mengangguk.
“Baik, Nek. Mari, aku tunjukkan taman belakang. Udara sore ini lumayan segar.”
Irina tersenyum lembut, berdiri dengan bantuan pelayan.
“Terima kasih, sayang. Aku ingin lihat bunga-bungamu,” katanya.
Selene berjalan di belakang mereka dengan langkah ringan, tapi senyum licik melengkung di bibirnya. Tap... tap... tap... suara sepatu hak tingginya menggema lembut di lantai marmer, sementara pandangannya sesekali melirik ke arah Anita dengan tajam, penuh rasa iri dan rencana tersembunyi.
Joshua hanya bisa menghela napas di belakang mereka.
Huff! Ia sadar bahwa di antara senyum sopan itu, ada sesuatu yang lebih gelap dan beracun sedang tumbuh perlahan.
Sore itu, di taman keluarga Leach yang dipenuhi aroma mawar, suasana tampak tenang di permukaan. Tapi di balik setiap langkah lembut dan senyum halus, api iri dan dendam mulai menyala perlahan...
Bersambung.....