NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Antwerp, Belgia.

Dua Minggu Kemudian

Trem kota berdenting lewat di luar jendela apartemen saat Elena menerima email yang membuatnya terdiam selama hampir satu menit penuh.

Subjek: Selamat datang di ThorneNet Secure – Penawaran Posisi

Kami dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda diterima sebagai Executive Assistant to the CEO.

Tugas dimulai tanggal 4 bulan depan.

Detail kontrak dan benefit terlampir.

Elena nyaris menjatuhkan ponselnya.

Sekretaris CEO?

Ia tidak pernah melamar untuk posisi itu, ia mendaftar di bagian terjemahan dokumen!

Matanya bergerak cepat membaca ulang. Tak ada kesalahan. Tak ada nama lain.

Leon, yang sedang mengaduk serealnya di dapur, menoleh. “Mama kenapa?”

Elena masih terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Mama... diterima kerja. Tapi bukan di posisi yang Mama lamar.”

Leon menaruh sendoknya. “Terus... posisi apa?”

“Executive assistant. Untuk CEO-nya langsung.”

Leon tersenyum kecil. Tapi ia tak mengatakan apa pun.

---

Dua minggu kemudian, Kantor ThorneNet Secure, lantai 28

Langkah Elena mantap namun tetap gugup. Ia mengenakan setelan kerja biru tua yang elegan dan sepatu hak pendek. Rambutnya diikat rapi. Tatapannya fokus, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Receptionist membawanya melewati lorong berkarpet tebal. “CEO kami baru kembali dari London. Beliau akan menyambut Anda langsung. Beliau sangat selektif soal siapa yang mendampingi kerjanya.”

Elena mengangguk sopan. Ia tidak tahu siapa CEO-nya. Ia belum pernah melihat fotonya.

Pintu lift pribadi terbuka. Di belakang pintu kaca buram di ujung koridor, terdapat ruangan eksekutif, luas, dingin, dan minimalis. Dinding kaca memberi pemandangan seluruh kota Antwerp dari ketinggian.

Seorang pria berdiri membelakangi jendela. Tinggi, dengan jas hitam sempurna, bahu tegap, dan sikap tubuh yang sangat dikenalnya.

Suara pria itu pelan namun tegas saat pintu ditutup.

“Elena Stratford.”

Saat pria itu berbalik, dunia Elena berhenti berputar.

Alexander Thorne.

Rambut gelapnya masih sama. Mata abu-abunya tajam dan dingin. Tapi wajah itu, wajah yang pernah ia lihat di berkas lima tahun lalu, kini berdiri di hadapannya. Hidup. Nyata.

Napas Elena tercekat. Kakinya kaku.

Alexander menatapnya lama. Wajahnya tetap datar, tapi matanya… menyimpan sesuatu yang asing.

“Selamat datang di kantor pusat saya,” ucapnya.

Elena tidak menjawab.

Dalam pikirannya hanya ada satu hal,

Kenapa dia…? Kenapa dunia begitu sempit?

Gedung tinggi itu terlalu sunyi untuk suara hati yang berisik. Elena berdiri tegak, tapi jari-jarinya sedikit bergetar ketika berhadapan langsung dengan pria yang lima tahun lalu hanya tertulis di lembar kontrak: Alexander Thorne.

Takdir menyajikan permainan yang aneh. Elena tidak pernah menyangka akan bekerja begitu dekat dengan pria itu, pria yang tak pernah tahu bahwa dari hasil donor ‘data-dingin’-nya, lahirlah seorang bocah kecil bernama Leon.

Dan sekarang, ia berdiri di sini. Di hadapan sumber darah anaknya. Tanpa Alexander tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin.

“Selamat datang di kantor saya,” ucap Alexander datar.

Elena hanya mengangguk sopan. “Terima kasih, Tuan Thorne.”

Ia berusaha menjaga napasnya tetap normal, tidak membiarkan mata Alexander yang tajam itu menangkap sesuatu dari wajahnya. Tapi pria itu tetap menatap seperti sedang menganalisis data, menilai pola, mencari celah.

“Kau dulu bekerja di Drexler,” katanya, santai. “Lima tahun lalu.”

Elena mengangguk. “Benar, di bagian riset medis.”

“Lalu menghilang dari dunia profesional,” lanjutnya tanpa jeda. “Mengapa?”

Pertanyaan itu tajam. Seperti pisau yang dikuliti perlahan.

Elena tersenyum kecil. “Alasan pribadi. Saya butuh waktu untuk memulai kembali dari awal.”

Alexander tidak menjawab. Tapi bola matanya menyempit sedikit. Dia ingat nama itu. Tapi waktu itu Dr. Reese mengatakan jika wanita yang berhasil hamil, mengalami keguguran akibat kecelakaan.

Ia memutar tubuh, berjalan ke arah jendela kaca tinggi di belakangnya. Tangannya di belakang punggung. Diam. Menganalisis.

Lalu, tiba-tiba, tanpa menoleh.

“Apakah kau sudah menikah?”

Elena membeku.

Itu bukan pertanyaan yang umum dilontarkan dalam sesi kerja pertama. Tapi Alexander bukan pria biasa. Ia tidak peduli norma sosial. Hanya fakta.

“…Tidak,” jawab Elena pendek.

Alexander tetap menatap ke luar jendela. “Pasangan?”

“Tidak.”

“Anak?”

Elena menahan napas.

Sesaat itu terasa seperti seabad.

“Tidak,” jawabnya pelan tapi tegas.

Alexander diam. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak mengangguk, tidak menolak.

---

Sementara itu…

Leon duduk tenang di sekolahnya, memandang layar tablet kecil yang disembunyikan di dalam buku latihan. Ia menerima log data ringan dari sistem keamanan gedung ThorneNet yang ia tembus diam-diam pagi tadi.

“CEO Office – Audio Scrubbed – Keyword ‘anak’ terdeteksi – Response: denial.”

Leon membaca, lalu tersenyum kecil.

Mama tidak bilang apa-apa. Persis seperti rencananya.

Waktunya langkah berikutnya, muncul di dunia Papa.

***

Selama dua minggu berikutnya, Elena bekerja sebagai sekretaris pribadi CEO tanpa cacat. Ia mencatat setiap jadwal rapat, menyusun ulang dokumen strategi, dan mengatur komunikasi internal perusahaan dengan kecepatan dan ketelitian nyaris sempurna.

Dan Alexander?

Tetap seperti bayangan yang tak bisa dipahami.

Dingin. Tenang. Rasional. Tidak pernah marah, tidak pernah tertawa, dan, terutama, tidak pernah bertanya apa-apa lagi soal masa lalu Elena.

Bagi Elena, itu melegakan sekaligus menakutkan.

Alexander bukan tipe orang yang lupa. Dia adalah tipe yang menyimpan dan menunggu saat yang tepat.

“Buatkan ringkasan untuk rapat Zurich minggu depan. Dua halaman maksimal. Fokus pada data permintaan pasar dan tren keamanan rumah pintar,” ucap Alexander suatu pagi, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya.

“Baik, Tuan Thorne.”

“Dan tolong jadwalkan ulang presentasi vendor Munich ke hari Kamis. Saya ingin evaluasi internal dulu.”

“Siap.”

Elena mencatat cepat. Tangannya cekatan, mulutnya terlatih untuk menjawab singkat. Ia bekerja dengan sempurna, seperti robot, seperti Alexander.

Tapi setiap kali pria itu berdiri terlalu dekat…

Setiap kali suaranya terlalu pelan…

Setiap kali mata abu-abu tajam itu menatapnya terlalu lama…

Dada Elena berdebar.

Apakah dia tahu? Apakah dia menebak? Apakah dia sedang menunggu Elena mengaku?

Tapi tidak. Alexander tidak pernah menanyakan lagi soal anak. Tidak pernah menyebut nama Drexler. Tidak pernah mengungkit sesuatu yang pribadi.

Bagi dunia luar, mereka adalah bos dan sekretaris.

Bagi Elena, mereka adalah kebetulan yang tak boleh pecah.

Dan bagi Alexander… mungkin hanya eksperimen manusia yang kembali lewat.

---

Apartemen Elena

Leon sedang duduk di balik meja kecil, menyalin ulang rancangan sirkuit baru dengan tangan mungilnya yang stabil.

Di sebelahnya, tergeletak alat versi terbaru dari prototipe “SORA”: perangkat mini pengintai berlapis enkripsi, dengan fitur otomatisasi rumah pintar.

Ia sudah tahu ke mana alat itu akan dikirim. Ia bahkan sudah mengatur email pengantar dan alamat perusahaan tujuan.

Penerima: ThorneNet Secure

Nama pengirim: Leo Arden

Leon menatap layar sesaat, lalu menekan tombol kirim.

“Sekarang, kita lihat... apakah Papa tahu apa yang dia pegang,” gumamnya pelan.

---

Keesokan harinya – Kantor Pusat ThorneNet Secure

“Sir,” kata Ava, kepala staf Alexander, sambil meletakkan satu paket kecil dan dokumen di meja kerja pria itu. “Prototipe dari inventor muda, dikirim lewat jalur R&D. Tapi... divisi teknologi merasa ini terlalu canggih untuk remaja umur tujuh belas.”

Alexander menatap prototipe itu. Perangkat kecil berbentuk bulat dengan lampu indikator biru lembut. Desainnya bersih. Efisien. Terlalu... presisi.

Ia membuka file ringkasan. Di bagian bawah, hanya tertulis:

Nama Penemu: Leo S. Arden

Usia: 17

Alamat: Disamarkan

Motivasi: “Ingin membantu ibuku agar tidak kelelahan menjaga rumah sendirian.”

Alexander membaca ulang kalimat itu.

Ingin membantu ibuku…

Tanpa alasan logis.

Ia hanya menutup berkas itu perlahan, dan berkata,

“Hubungi anak ini. Atur panggilan video minggu depan.”

Ava mengangguk, lalu keluar dari ruangan.

Alexander menatap kembali prototipe kecil di mejanya.

Tangannya menyentuh casing halusnya pelan.

Dan dalam diam, ia bergumam dalam hati,

“Siapa sebenarnya kau, Leo Arden?”

***

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!