Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 4
"Yang Mulia!" seru Mu Lian. Ia berusaha menggerakkan kursi rodanya mendekat, namun Yuhan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia tetap diam di tempat.
Yuhan berjalan lurus menuju sebuah ranjang di bagian tengah. Di sana, Wu Sheng terbaring tak berdaya.
Napasnya pendek-pendek, dan wajahnya sudah membiru. Dua tabib terbaik istana, Tabib Li dan Tabib Zhang, sedang berkeringat dingin mencoba menghentikan pendarahan di perutnya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Yuhan, suaranya dingin seperti es.
Tabib Li segera berbalik dan bersujud. "Yang Mulia! Ampunkan hamba! Kondisi Jenderal Wu Sheng sangat kritis. Pedang lawan mengandung racun korosif yang merusak jaringan dalamnya. Hamba... hamba takut dia tidak akan bertahan melewati malam ini."
Yuhan tidak membuang waktu. Ia mendekat, mengabaikan protokol bahwa seorang Maharani tidak boleh menyentuh "rakyat rendah" yang berdarah. Ia meletakkan jarinya di denyut nadi Wu Sheng.
Lemah. Tak beraturan. Racunnya sudah mencapai hati, batin Yuhan.
Tanpa memedulikan tatapan kaget semua orang, Yuhan merogoh lengan bajunya yang lebar. Ia mengeluarkan dua botol keramik kecil berwarna putih porselen.
"Berikan cairan di botol pertama ini padanya, setiap dua dupa sekali. Hanya tiga tetes," perintah Yuhan sambil menyerahkan botol itu kepada Tabib Li. "Dan botol kedua ini... gunakan untuk mencuci bekas lukanya sebelum kalian membalutnya kembali."
Dayang Nya segera maju, membawakan sebuah wadah berisi air bersih. Yuhan menuangkan sedikit isi botol kedua ke dalamnya. Air itu seketika berbuih kecil dan mengeluarkan aroma segar yang menenangkan.
"Baik, Yang Mulia! Hamba akan segera melaksanakannya!" jawab Tabib Li dengan tangan gemetar, ia menyadari bahwa aroma obat ini jauh lebih murni dari apa pun yang pernah ia racik.
Yuhan kemudian mengeluarkan botol keramik ketiga yang ukurannya lebih besar. Ia menyerahkannya kepada Dayang Nya. "Berikan masing-masing satu pil dari botol ini kepada setiap pengawal yang terluka di ruangan ini. Pastikan mereka menelannya."
Perintah itu dijalankan dengan cepat. Para pengawal yang tadinya mengerang kesakitan, sesaat setelah menelan pil tersebut, mulai merasakan kehangatan yang menjalar di tubuh mereka. Pendarahan mereka mulai melambat secara ajaib.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Yuhan berbalik untuk pergi. Ia tidak suka berlama-lama di tempat yang penuh energi negatif seperti ini.
Kruuuk... sret... kruuuk...
"Yang Mulia! Tunggu!"
Suara Mu Lian terdengar putus asa. Ia menggerakkan kursi rodanya dengan susah payah, roda kayunya berderit berusaha mengejar langkah Yuhan yang cepat.
"Yang Mulia... tolong tunggu!"
Yuhan terus berjalan, namun di depan gerbang balai, kursi roda Mu Lian tersangkut pada celah lantai batu yang tidak rata. Tubuh Mu Lian condong ke depan, ia hampir terjatuh dengan wajah menghantam lantai.
HUP!
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Yuhan berbalik dan menangkap bahu Mu Lian. Tangannya yang kuat menahan pria itu agar tidak jatuh. Namun, dalam posisi yang sangat dekat itu, tangan Yuhan tak sengaja bersentuhan dengan pergelangan tangan Mu Lian.
Deg.
Mata Yuhan menyipit tajam. Melalui sentuhan singkat itu, ia merasakan sesuatu yang sangat familiar di denyut nadi Mu Lian. Getaran yang tidak beraturan, suhu tubuh yang tidak stabil, dan sedikit hambatan di aliran darahnya.
Dia juga diracun? gumam Yuhan dalam hati. Racun yang sama dengan yang ada di tubuh Yuhan asli, tapi dengan dosis yang lebih halus untuk menyebabkan kelumpuhan saraf permanen.
Kemarahan dingin menyelimuti hati Yuhan. Intrik di istana ini jauh lebih busuk dari yang ia bayangkan. Mereka tidak hanya mengincar nyawa Maharani, tapi juga melumpuhkan satu-satunya sekutu yang ia miliki.
"Ada apa?" tanya Yuhan, suaranya tetap dingin, menyembunyikan keterkejutannya.
Mu Lian menatap Yuhan, napasnya tersengal karena usaha mengejarnya. "Yang Mulia... hamba hanya ingin bertanya... apakah Anda benar-benar tidak apa-apa? Luka di tangan Anda tadi malam..."
"Saya baik-baik saja," potong Yuhan pendek.
Mu Lian menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Syukurlah... syukurlah jika Anda selamat. Hamba merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa berada di samping Anda saat kejadian itu. Namun, Yang Mulia tidak perlu khawatir. Setelah ini, hamba akan menggunakan sisa kekuatan hamba untuk mengurus para menteri dan pangeran yang berani memberontak. Hamba tidak akan membiarkan mereka menyentuh Anda lagi."
Yuhan menatap pria di depannya. Mu Lian begitu tulus, namun begitu rapuh. Ia melepaskan pegangannya dan berdiri tegak.
"Urus saja dirimu sendiri, Mu Lian," ujar Yuhan tanpa ekspresi sebelum berbalik dan pergi meninggalkan balai pengobatan dengan langkah anggun.
Mu Lian terpaku di kursi rodanya, menatap punggung Yuhan yang semakin menjauh. Ia merasa ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dan istrinya sekarang. Yuhan tampak begitu kuat, begitu asing, namun entah mengapa... begitu mempesona.
Tak berselang lama, seorang Kasim kepercayaan Yuhan menghampiri Mu Lian yang masih termangu.
"Pangeran Mu Lian," bisik Kasim itu sambil membungkuk. "Yang Mulia Maharani menyampaikan pesan... Nanti malam, Anda ditunggu di Istana Chiangnang untuk perjamuan pribadi."
Mata Mu Lian melebar. Sebuah undangan pribadi ke kediaman Maharani? Hal ini nyaris tidak pernah terjadi selama bertahun-tahun pernikahan mereka. "Benarkah?"
"Benar, Pangeran."
Mu Lian mengangguk pelan, ia merogoh kantongnya dan memberikan beberapa keping koin emas kepada Kasim tersebut. "Terima kasih. Tolong, bantu aku kembali ke Istana Yuanshing."
Kasim itu tersenyum puas dan mulai mendorong kursi roda Mu Lian melewati lorong-lorong istana yang mulai diterangi lampu-lampu minyak.
Kediaman Perdana Menteri Han Tan
Sementara itu, di kediaman mewah Perdana Menteri Han Tan, suasana sangat mencekam. Di sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi di balik perpustakaan, Han Tan duduk bersama Shen Bo dan Shen Yue.
BRAKK!
Shen Bo menggebrak meja jati dengan keras, membuat cangkir teh di atasnya bergetar. "Bagaimana mungkin! Wanita bodoh itu seharusnya sudah menjadi santapan cacing sekarang! Aku melihatnya sendiri, dia sudah tidak bernapas!"
Shen Yue mondar-mandir dengan wajah merah padam karena marah. "Dia tidak hanya hidup, Kakak Bo! Dia berubah! Tatapannya... dia menatapku seolah-olah aku adalah serangga yang menjijikkan. Dan dia berani mengancam kita di depan semua orang!"
Han Tan mengelus janggutnya yang panjang, matanya menyipit penuh kelicikan. "Tenanglah, Pangeran Kedua, Putri Kedua. Ini memang di luar rencana kita. Racun 'Napas Hitam' yang aku berikan melalui tabibnya seharusnya tidak bisa gagal. Kecuali... ada seseorang yang memberinya penawar rahasia."
"Siapa? Pangeran Lumpuh itu? Seharusnya sejak awal tak aku biarkan dia masuk ke dalam istana. Benar-benar penghambat rencana." tanya Shen Bo sinis.
"Mungkin. Atau mungkin dia memang memiliki keberuntungan yang besar," sahut Han Tan. "Namun, keberuntungan tidak akan menyelamatkannya untuk kedua kalinya. Rencana pertama kita gagal karena terlalu mengandalkan racun yang lambat. Sekarang, kita harus bertindak lebih agresif."
Han Tan berdiri dan mengambil sebuah gulungan hitam dari laci rahasia. "Aku sudah mengumpulkan 'Pengawal Bayangan'. Mereka adalah pembunuh bayaran dari klan luar yang tidak memiliki identitas. Mereka akan menjadi pasukan rahasia, ketika sudah siap kita harus melakukan pemberontakan."
Shen Yue tersenyum jahat. "Dan kali ini, kita tidak hanya akan meracuninya. Kita akan memastikan kepalanya terpisah dari tubuhnya."
"Tunggu," sela Han Tan. "Kita harus tetap menggunakan racun sebagai pelapis. Aku memiliki jenis baru, 'Layu Sembilan Hari'. Tidak berasa, tidak berbau. Jika pengawal bayaranku gagal, racun ini akan bekerja perlahan. Dia akan mati dalam penderitaan yang luar biasa, dan semua orang akan mengira dia jatuh sakit karena kelelahan setelah 'kebangkitannya'."
Ketiganya tertawa rendah, sebuah tawa yang dipenuhi dengan nafsu kekuasaan dan kebencian. Di bawah cahaya lilin yang temaram, bayangan mereka di dinding tampak seperti monster yang siap menerkam mangsanya.
yang bisa nolong si Maharani hanya mu Lian