Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Aku janji, Raras. Aku... Jihan, bersumpah.”
Badai yang bergolak di hati Raras perlahan mereda. Kata-kata Jihan yang tegas dan tulus menjadi jangkar yang menenangkan gejolak di dadanya. Raras pun perlahan melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang masih menggantung di kelopak matanya, mencoba tersenyum di tengah haru yang belum sepenuhnya mereda.
Suara berat Kakek Danu memecah keheningan tak lama setelahnya. Pria tua itu telah bersiap, dan itu adalah isyarat bahwa perjalanan mereka akan segera dimulai.
“Nona, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera kembali. Jika tidak, Raden pasti akan cemas dan akan mengutus pendekar-pendekar kuat ke hutan Jura untuk mencari. Itu hanya akan mendatangkan masalah besar bagi hutan jura, dan desa-desa sekitarnya.”
Jelas Danu. Ia tahu persis bahwa hutan Jura merupakan tempat persembunyian para pemberontak Kerajaan Muria, itulah alasan utama mereka datang ke wilayah ini. Jika sesuatu terjadi pada Raras, apalagi sampai ia menghilang, tudingan pasti langsung mengarah pada kelompok pemberontak. Dan itu... hanya akan memicu perang, menggagalkan seluruh upaya Raden dalam membangun diplomasi damai.
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Raras mengeras. Ada keraguan yang belum sepenuhnya reda. Namun Jihan, dengan tatapan tenang dan sorot mata yang dalam, mengangguk pelan. Ia menatap lurus ke matanya, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Raras menarik napas panjang, menelan keengganan yang menggelayuti dadanya. Kedua tangannya mencubit kedua bajunya dengan erat, hingga pada akhirnya ia mengangguk, tanda bahwa Raras mulai menerima keputusan yang tak mudah itu.
“Baiklah… tapi sebelum kita berpisah, aku punya sesuatu untukmu.”
Ia merogoh saku jubahnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sudah lama ia simpan, sebuah kalung tua dengan liontin batu giok merah menyala, berkilau seperti bara api yang tertahan. Artefak itu tampak sederhana, namun menyimpan kesan kuno dan mendalam
“Terimalah ini. Aku tidak tahu apa fungsinya, tapi entah kenapa, aku merasa benda ini lebih cocok untukmu daripada untukku.”
“Ini…”
Tanpa memberi Jihan waktu untuk menolak, ia menggenggam tangan pemuda itu dan memaksakan kalung itu ke dalam telapaknya. Jihan menatapnya, tercengang, tak tahu harus berkata apa. Ada kehangatan yang samar menyelinap dari kalung itu, tapi lebih dari itu, yang membuatnya terpaku adalah tatapan tulus di mata Raras.
Dari belakang, Kakek Danu memandang dengan mata membelalak.
“Nona, apa kamu yakin? Itu pemberian langsung dari Ayahanda. Benda itu tak ternilai…”
“Kakek,” Potong Raras
“Tidak perlu khawatir. Kalung ini... tidak pernah terlalu menarik perhatianku. Lagipula, aku jarang memakainya. Anggap saja ini hadiah kecil.”
Sebelum Jihan sempat berkata apa-apa, Raras membalikkan badan. Ia tak ingin didesak, apalagi ditolak. Ia tahu, jika ia tetap memandang wajah Jihan lebih lama lagi, air matanya akan kembali jatuh.
‘Gadis ini… bukan hanya ceroboh,’ pikir Jihan sambil menatap punggungnya yang menjauh. ‘Tapi juga benar-benar tak terduga.’
Raras melangkah menuju Kakek Danu yang telah siap pergi. Langkahnya terlihat mantap, namun ada keraguan yang tersembunyi dalam gerak kakinya. Ia seperti sedang menahan sesuatu, menekan berat di dada yang tak sempat diucapkan. Kakek Danu menyambutnya dengan helaan napas panjang. Ia menggenggam tangan Raras, lalu mengucapkan salam perpisahan kepada Jihan sebelum akhirnya melangkah pergi.
Jihan hanya bisa berdiri membisu, menatap kepergian mereka. Raras sempat menoleh beberapa kali, melambaikan tangan kecilnya dengan senyum tipis yang dipaksakan, senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, namun penuh makna. Sorot matanya memancarkan keengganan untuk pergi, namun juga keyakinan bahwa jalan mereka, suatu hari nanti, akan bersilangan kembali.
Saat siluet mereka semakin mengecil, Jihan merasa dadanya kosong, seolah ada sesuatu yang baru saja terlepas. Pertemuannya dengan gadis itu, meskipun singkat, terasa begitu berharga. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya ia merasa begitu dekat dengan anak seusianya.
Namun, kesadaran tentang ibunya perlahan menggenggam hatinya kembali, mengisi kembali dada yang tadinya kosong. Bayangan wajah sang ibu muncul di benaknya, wajah yang pucat namun penuh kasih, dengan mata yang selalu memandang ke arah pintu, menanti anaknya pulang. Kecemasan itu seolah nyata, menyelimuti pikirannya dan menariknya kembali menuju kenyataan.
Dengan napas berat namun penuh tekad, Jihan memungut kembali keranjang kayunya yang tergeletak di bawah pohon, lalu membalikkan badan. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah ke arah yang berlawanan.
Di bawah sinar matahari pagi yang perlahan menghangatkan bumi, dua jalan membentang ke arah yang berbeda. Pertemuan singkat itu mungkin telah usai, namun sebuah janji telah terucap, mengikat dua hati yang baru saja saling bersinggungan dalam waktu yang terlalu singkat untuk disebut takdir, namun terlalu dalam untuk dilupakan.
Langkah Jihan mantap saat menyusuri hutan. Sejak terbangun dari tidurnya, fisik dan staminanya meningkat pesat. Setiap akar pohon, semak berduri, dan tanjakan terjal tak lagi menghambat lajunya. Ia bahkan mampu berlari di medan yang sebelumnya memaksanya berjalan pelan. Dengan tubuh yang telah diperkuat oleh sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami, perjalanan pulang pun terasa jauh lebih singkat. Tak butuh waktu lama baginya untuk kembali menapakkan kaki di tanah desanya.
Di depannya, berdiri Desa Batu Sungai, tempat ia tinggal. Keheningan hutan kini bercampur dengan hiruk pikuk desa yang mulai terdengar, menambah harmoni yang menyelimuti tempat ia berdiri.
"Rasanya, meskipun baru sehari berlalu, aku sudah merindukan pemandangan ini,"
"Akhirnya, aku kembali!"
Jihan berhenti di batas hutan, menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan kekuatan sebelum melangkah masuk. Ia menyadari, kepergiannya yang tiba-tiba pasti telah menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi ibunya dan kepala desa. Ia harus memikirkan penjelasan yang masuk akal, cukup kuat untuk meredakan kecemasan, namun tidak menimbulkan kecurigaan.
Dengan tekad yang telah bulat, ia melangkah mantap melewati gapura bambu yang menandai pintu masuk desa. Suara burung dan gemericik sungai kecil mengiringinya, namun segera tergantikan oleh bisik-bisik warga yang mulai memperhatikannya dari kejauhan.
“Tunggu, bukankah itu Jihan, anak Bu Wulan?”
“Dia pulang? Kupikir sudah dimangsa binatang buas!”
“Haish! anak itu bikin ribut semalam. Kasihan ibunya, sampai pingsan katanya.”
Desas-desus semakin ramai, namun Jihan memilih diam. Tatapannya lurus ke depan, tidak sedikit pun menoleh ke kanan atau kiri. Wajahnya datar, tapi dalam dadanya, degup jantungnya tak beraturan.
Langkahnya membawanya ke halaman rumah kepala desa. Beberapa pelayan yang tengah menyapu dan membawa air langsung berhenti, memandangi Jihan seperti melihat hantu. Salah satu dari mereka buru-buru masuk ke rumah, suaranya terdengar panik saat melaporkan.
“Pak Arya! Jihan kembali! Dia… dia di luar!”
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka lebar. Sosok Arya Jaya muncul di ambang pintu. Wajahnya yang biasanya tenang tampak kusut dan lelah, namun matanya langsung membulat saat melihat Jihan berdiri di sana, hidup-hidup.
“JIHAN!!”
Seruan itu menggema di halaman. Arya Jaya menghampiri Jihan dengan cepat, dan tanpa memperdulikan siapa pun di sekitarnya, ia langsung memeluk pemuda itu erat-erat. Pelukannya kuat, penuh emosi yang tertahan semalaman.
Jihan terkejut. Ia membeku sesaat, lalu meronta pelan.
“Pak Arya… tolong… lepaskan… Jihan… nggak bisa bernapas…”
Tersadar, Arya Jaya buru-buru melepaskan pelukannya, lalu menatap Jihan tajam, matanya berkaca-kaca namun kini kembali tegas.
“Sekarang, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi padamu di dalam hutan?”
Jihan mengangguk pelan. Ia menarik napas dan mulai bercerita, sebagian dari kebenaran. Ia menceritakan tentang diserang binatang buas, dan bagaimana ia diselamatkan oleh seorang pendekar misterius. Namun, ia sengaja menyembunyikan bagian tentang Raras dan jati dirinya sebagai putri kerajaan
Di akhir ceritanya, Jihan menghela napas panjang, lalu menurunkan keranjang kosong dari punggungnya.
“Aku juga… gagal membawa pulang satu kayu pun,”
Arya Jaya memandangnya lama, tatapan tajam bercampur lega. Lalu, tanpa peringatan, ia menjitak kepala Jihan pelan.
“Haish… dasar bocah bodoh. Kayu? Masih saja mikirin kayu saat nyawamu hampir melayang!”
Ia menghela napas, nada suaranya melunak.
“Sudahlah… lagipula ini juga salahku. Yang penting kamu selamat. Jadi, terimalah kantung goni kecil ini. anggap saja sebagai permintaan maafku.”
“Pak Arya ini…”
“Gunakanlah untuk membeli pil obat yang lebih baik untuk Wulandari,”
“Penyakit spiritual seperti itu berada di luar jangkauan kita. Hanya para pendekar abadi dan perguruan besar yang tahu bagaimana cara menyembuhkannya.”
Ia kemudian menepuk bahu Jihan.
“Besok kamu tak perlu bekerja. Habiskan waktumu dengan ibumu. Semalam… dia sangat cemas mencarimu.”
Kata-kata itu membuat Jihan tertegun. Ia menoleh cepat, matanya membesar.
“Ibu… bagaimana kondisi Ibu?”
Wajah Arya Jaya berubah. Ekspresi lega yang tadi sempat terlukis kini sirna, tergantikan pucat yang merayap. Suaranya berat, nyaris berbisik, saat menjawab,
“Wulan… sejak semalam dia tak sadarkan diri.”