Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Den Langgeng, apa yang kamu lakukan dengan berbaring di lantai? Apa kamu mau aku bantu berdiri?”
Nyai Ratih berbalik, melangkah menuju tempat tidur kayu jati yang megah dengan gaya anggun, lalu berbaring miring dengan malas namun tetap elegan. Kakinya yang kuning langsat dan jenjang terlipat indah, satu tangan bertumpu pada pinggul dan tangan lainnya menyangga kepala sambil menatap Langgeng Sakti dengan nada menggoda.
Langgeng Sakti merasa harga dirinya sedang diinjak-injak. Maka dengan penuh tekad, ia bangkit berdiri. Meskipun kepalanya masih berdenyut pusing, dengan kemauan keras ia akhirnya bisa tegak kembali.
Melihat hal itu, Nyai Ratih diam-diam mengakui: Pendekar muda ini memang punya nyali. Kalau pendekar tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam' biasa, pasti sudah pingsan atau mati karena sukmanya koyak.
Dengan satu kekuatan pikiran, Nyai Ratih memanggil buku harian itu. Buku Harian Jaka Utama. Dengan jemari halusnya, ia membuka halaman terbaru:
[Begitu melihat wanita siluman tua ini, Langgeng Sakti bakal langsung terpana dan jatuh cinta. Persis seperti pas dia lihat Ratna Menur.]
Nyai Ratih ingin memverifikasi kebenaran buku harian itu sekali lagi, lalu bertanya:
“Den Langgeng, menurutmu apa aku ini sudah tua?”
Langgeng terpaku. Tatapannya tak sengaja menyapu tubuh Nyai Ratih yang sedang berbaring, lekukan tubuh yang begitu padat hingga seolah tempat tidur itu akan patah, membuat siapa pun yang melihatnya menelan ludah.
Langgeng dengan susah payah mengalihkan pandangan, menatap mata Nyai Ratih yang indah, lalu menjawab serius:
“Anda sama sekali tidak tua. Sebaliknya, Anda muda, cantik, sangat mempesona. Anda adalah salah satu wanita tercantik yang pernah saya temui.”
“Begitukah? Senang sekali mendengarnya dari mulutmu, Den Langgeng.”
Nyai Ratih tersenyum tipis, lalu bertanya lagi, “Apa Den Langgeng menyukaiku?”
“Itu...”
Telinga Langgeng Sakti seketika memerah panas. Kenapa wanita ini bertanya begitu terang-terangan? Apa dia... juga suka padaku?
Langgeng menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia menatap mata Nyai Ratih dan menjawab jujur:
“Suka! Sejak pertama kali aku melihat Anda, aku tahu hatiku sudah tertambat. Bisa dibilang, ini cinta pada pandangan pertama!”
“Cinta pada pandangan pertama, ya?”
Nyai Ratih bergumam. Ia baru saja mengonfirmasi keaslian buku harian itu. Ia lanjut membaca:
[Nantinya, wanita siluman tua ini bakal pelan-pelan suka juga sama Langgeng. Tapi dia bodoh karena malah mengenalkan Langgeng ke keponakannya sendiri, Qu Nishang, mau menjodohkan mereka.]
[Belakangan dia baru sadar kalau Langgeng sebenarnya mengincarnya, dia lalu menghindar, tapi akhirnya malah dibantai bangsa siluman. Tragis banget.]
[Keponakannya juga jadi jahat dan akhirnya dibunuh sama Langgeng sendiri. Benar-benar drama konyol.]
Jadi setelah kematianku, Nishang juga akan dibunuh oleh Langgeng?
Tragedi...
Melihat akhir hidupnya dan keponakannya sendiri, hati Nyai Ratih dipenuhi kesedihan. Baru-baru ini ia memang mengumpulkan informasi tentang pemuda-pemuda berbakat dari sembilan padepokan besar di seluruh negeri. Tujuannya satu: mencari suami terbaik untuk keponakan tercintanya, Qu Nishang.
Jika Langgeng Sakti memang sehebat itu, ia pasti akan menjodohkannya dengan Nishang. Baginya, kebahagiaan keponakannya adalah segalanya. Tapi sekarang, buku harian itu bilang ini akan berakhir dengan maut.
Kalau aku ingin mengubah nasib, pertama, aku tidak boleh suka pada Langgeng.
Kedua, aku tidak boleh mengenalkannya pada Nishang.
Atau... haruskah aku bunuh saja Langgeng Sakti si pemeran utama ini sekarang?
Pikiran itu melintas. Tatapan lembut Nyai Ratih perlahan memancarkan niat membunuh yang pekat. Aura tenaganya membuat kain-kain di ruangan itu berkibar hebat.
Langgeng Sakti mundur dua langkah dengan waspada. Entah kenapa, ia merasa tekanan yang luar biasa berat. Seolah di depannya bukan lagi wanita cantik, melainkan harimau lapar yang siap menerkam!
Namun, Nyai Ratih segera menarik kembali auranya dan menggelengkan kepala. Ia membuang ide membunuh sang protagonis. Karena ini dunia fiksi, ceritanya bisa jadi kacau kalau karakter utamanya mati. Bisa-bisa buku harian Jaka Utama menghilang dan aku tidak bisa tahu masa depan lagi.
Jadi, biarkan dia hidup untuk sementara.
Setelah pertimbangan matang, Nyai Ratih memutuskan untuk menjauhkan diri dari Langgeng.
“Siti!” panggilnya. Pintu terbuka, dan Siti masuk dengan sopan. “Hiburlah Den Langgeng, antarkan dia keluar.”
“Baik, Nyai.”
Siti tersenyum malu-malu ke arah Langgeng. “Den... Den Langgeng, mari ikuti saya.”
Langgeng Sakti bingung. Cuma begini saja? Terus kenapa tadi repot-repot memanggilku ke atas?
“Nyai, kenapa Anda memanggilku tadi?” tanya Langgeng penasaran.
Nyai Ratih menjawab lembut, “Aku dengar semalam Den Langgeng berani membatalkan pertunangan Nona Ratna meski harus berhadapan dengan Gusti Jaka. Keberanianmu membuatku penasaran. Ternyata Den memang berbakat. Siti, antar tamu kita keluar.”
Langgeng Sakti merasa bangga, namun ia terpaksa mengikuti Siti keluar dengan perasaan sedikit kecewa.
Nyai Ratih bangkit dan berdiri di jendela, menatap kesibukan Kota Merapi dari ketinggian. Sinar matahari menghangatkan wajahnya.
“Mau dunia ini fiksi atau bukan, aku adalah aku. Selama aku hidup, aku harus menjaganya dengan baik.”
“Aku tidak akan membiarkan tragedi itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Nishang dalam bahaya.”
Ia membolak-balik buku harian Jaka Utama dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.
“Buku ini cuma aku yang bisa lihat. Ini pasti kehendak langit.”
Apakah Jaka Utama adalah orang pilihan langit?
Seperti apa sosok aslinya? Apa dia sebenarnya lebih baik daripada Langgeng Sakti?
Griya Seruling.
“Sialan, kenapa gadis-gadis itu tiba-tiba pulang kampung?!”
“Padahal aku sudah lepas baju semua, ahh!”
Di kamar nomor delapan, Jaka Utama yang hanya memakai celana panjang sedang berbaring telungkup di tempat tidur besar, melakukan gerakan olahraga 'kayang' dengan perasaan dongkol.
Tadi muncikari tiba-tiba masuk dan bilang kalau 'Empat Kembang Emas' mendadak minta cuti buat pulang kampung.
“Payah banget tempat ini, bangkrut saja lah!” maki Jaka kesal.
Saat Jaka sedang asyik mengumpat, pintu kamar perlahan terbuka. Sesosok figur menyeramkan mengenakan topeng kepala babi menyelinap masuk dengan diam-diam.