cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUNCULNYA GURU PAWANG ULAR
BAB 22
Garis Tipis
Hujan belum sepenuhnya reda ketika radio keamanan berderak di pos IGD.
“Unit dua ke pusat. Motor tanpa plat kembali melintas. Dua orang. Helm gelap.”
Sandi meraih HT. “Jangan kejar. Rekam saja. Biarkan mereka tahu kita lihat.”
Petugas menjawab singkat, “Siap.”
Amelia menutup map pasien terakhir dan menoleh. “Mereka tidak akan berhenti hanya dengan mengintimidasi.”
“Tidak,” jawab Sandi. “Itu bahasa pembuka. Biasanya setelah ini—tekanan ekonomi, sabotase logistik, atau korban pesan.”
Amelia menghela napas. “Korban pesan… di rumah sakit?”
“Di mana saja,” Sandi berkata jujur. “Karena itu kita ubah pola.”
Ia memanggil Santi dan Sinta ke ruang rapat kecil.
“Kalian berdua dengarkan,” kata Sandi. “Mulai malam ini, jadwal kalian dipisah. Tidak ada rute pulang yang sama. Kalau ada yang mencurigakan—apa pun—telepon saya. Jangan heroik.”
Sinta mengangguk, wajahnya tegang. “Bagaimana dengan pasien?”
“Kita prioritaskan yang fase lanjut,” jawab Amelia. “KX-ANT–γ untuk mereka. Yang fase awal, observasi ketat.”
Santi menatap layar monitor. “Stok kita cukup?”
“Untuk dua hari,” kata Farhan dari layar video. “Kalau distribusi Dumai meluas, kita butuh suplai tambahan.”
Sandi mengernyit. “Dua hari itu jendela yang sempit.”
Farhan menatap kamera. “Aku sedang mendorong jalur akademik—izin darurat universitas mitra. Tapi itu pun rawan disusupi.”
“Nama universitas?” tanya Amelia.
“Belum aman untuk disebut,” jawab Farhan cepat. “Asumsikan semua kanal dipantau.”
Hening sejenak. Lalu Sandi berbicara pelan tapi tegas, “Kalau mereka ingin menghentikan obat, targetnya bukan lab. Targetnya manusia yang menggerakkan obat.”
Semua mata beralih ke Amelia.
“Aku siap,” katanya tanpa ragu. “Tapi kita tidak umpan manusia.”
“Kita umpan alur,” sahut Sandi. “Bukan orang.”
Malam merambat. Di ruang CCTV, Mang Dedi menunjuk layar.
“Ini aneh,” katanya. “Truk pendingin lewat jam dua pagi. Biasanya jam segini kosong.”
Sandi mendekat. “Pelat?”
“Palsu,” jawab Mang Dedi. “Formatnya salah.”
Sandi menekan tombol interkom. “Keamanan, siapkan penghadang lembut di gerbang timur. Jangan konfrontasi.”
Truk melambat. Sopir menurunkan kaca sedikit.
“Pengiriman farmasi,” katanya datar.
Petugas menjawab sesuai skenario. “Mohon putar balik. Jalur ini ditutup.”
Sopir tersenyum tipis. Terlalu tipis. Truk mundur perlahan… lalu berhenti. Mesin tetap hidup.
“Dia nunggu,” gumam Mang Dedi.
Sandi mengangguk. “Catat wajah. Biarkan.”
Beberapa menit kemudian, truk berbalik dan pergi.
Amelia menyaksikan dari balik kaca. “Mereka memastikan.”
“Ya,” kata Sandi. “Bahwa kita tidak lengah.”
Pagi berikutnya, IGD kembali penuh. Seorang pasien baru—pria paruh baya—ditandu masuk, napas pendek.
“Riwayat?” tanya Amelia cepat.
“Gudang transit,” jawab perawat. “Tiga minggu lalu.”
Amelia menoleh ke Sandi. “Rantai panjang.”
Sandi menekan rahang. “Artinya, Grenjeng bukan awal.”
Di lab, Farhan muncul lagi di layar. “Ada kabar buruk dan kabar lebih buruk.”
“Mulai dari yang pertama,” kata Amelia.
“Kabar buruk: α-KX17 ditemukan di sampel Dumai—konsentrasi rendah tapi konsisten.”
“Dan yang lebih buruk?”
“Variannya berubah,” jawab Farhan. “Ada modifikasi kecil. Mereka belajar.”
Sandi menepuk meja. “Mereka uji lapangan. Respon kita jadi data mereka.”
“Persis,” kata Farhan. “Kalau begitu, kita harus melompat satu langkah.”
Amelia mencondongkan badan. “Maksudmu?”
“Publikasi terbatas,” jawab Farhan. “Bukan ke media—ke komunitas medis tertentu. Jika protokol KX-ANT–γ menyebar, mereka kehilangan monopoli ancaman.”
Sandi menggeleng. “Itu memancing reaksi.”
“Ya,” Farhan setuju. “Tapi reaksi itu bisa kita petakan.”
Hening. Amelia memecahnya. “Aku setuju.”
Sandi menatapnya lama. “Kamu tahu risikonya.”
“Aku tahu,” jawab Amelia. “Dan aku dokter.”
Sore itu, pesan masuk ke ponsel Sandi. Nomor tak dikenal.
Kalian cepat belajar. Tapi terlalu cepat juga bisa patah.
Sandi mengetik singkat.
Kalian salah alamat. Ini rumah sakit.
Balasan datang hampir instan.
Rumah sakit juga punya pintu belakang.
Sandi mengunci ponsel. “Mereka membaca.”
Amelia menatapnya. “Kita juga.”
Malam ketiga, listrik padam sesaat. Generator menyala—tapi dua detik itu cukup.
Alarm berbunyi.
“Gudang farmasi!” teriak petugas.
Sandi berlari. Di lorong, bayangan melintas. Pintu gudang terbuka setengah—tapi segel masih utuh.
“Cek semua,” perintah Sandi.
Di lantai, secarik kertas terjatuh.
KX-ANT–γ ≠ solusi.
Amelia mengepalkan tangan. “Mereka ingin kita ragu.”
Sandi menggeleng. “Tidak. Mereka ingin kita berhenti.”
Pagi berikutnya, kabar datang dari jauh.
Telepon satelit Sandi bergetar. Ia menjawab.
“Sand,” suara Bima terdengar, terpotong statis. “Aku dengar Dumai panas.”
Sandi menutup mata sesaat. “Kamu di mana?”
“Yerusalem Timur,” jawab Bima. “Tapi dengar ini—aku melihat dokumen logistik. Nama yang sama. Perusahaan cangkang. Tujuan: Jepang.”
Sandi berdiri. “Kamu bisa kirim?”
“Akan aku kirim lewat kanal aman,” kata Bima. “Dan satu lagi—ada nama lokal. Mang Zondol. Dia bukan pemain utama.”
“Aku tahu,” jawab Sandi. “Dia pion.”
“Benar,” kata Bima. “Rajanya… belum kelihatan.”
Panggilan terputus.
Amelia menatap wajah Sandi. “Kita semakin dekat.”
“Atau semakin terbuka,” jawab Sandi. “Tapi ini satu-satunya arah.”
Di RS Dumai, KX-ANT–γ terus bekerja. Pasien stabil bertambah. Protokol menyebar diam-diam—dokter ke dokter, tangan ke tangan.
Di luar, motor tanpa plat tak lagi mondar-mandir.
Itu yang paling membuat Sandi waspada.
“Diam sebelum badai,” gumamnya.
Amelia berdiri di sampingnya, menatap matahari yang turun perlahan. “Kalau badai datang?”
“Kita berdiri,” jawab Sandi. “Sampai bantuan tiba. Atau sampai jaringan itu runtuh.”
Amelia mengangguk. “Kalau harus memilih?”
“Nyawa dulu,” kata Sandi tanpa ragu. “Selalu.”
Di kejauhan, sirene kembali meraung—bukan panik, tapi teratur. Tanda kesiagaan, bukan ketakutan.
Dan di antara garis tipis antara obat dan racun, antara bisnis dan kejahatan, satu hal menjadi jelas:
Mereka tidak lagi sendirian.
Malam di Pinggir Sawah
Angin desa berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan padi muda. Rumah Mang Dedi berdiri sederhana di pinggiran sawah Desa Grenjeng—dinding papan, teras sempit, dan lampu kuning yang menggantung rendah. Dari dapur, asap tipis mengepul, membawa wangi sayur asem yang menenangkan.
“Silakan masuk, silakan…” Mang Dedi menyambut dengan senyum lebar. “Rumah kecil, tapi niatnya besar.”
Sandi tersenyum. “Justru ini yang kami cari, Mang. Tenang.”
Di dalam, tikar pandan sudah digelar. Di atasnya, piring-piring sederhana tersusun rapi: nasi hangat, sayur asem bening dengan jagung muda, ikan mas goreng garing, sambal terasi, dan lalapan segar.
Istri Mang Dedi, perutnya membuncit tujuh bulan, berjalan pelan sambil membawa teko air. “Maaf ya, Bu Dokter… Mas… seadanya.”
“Bu, ini luar biasa,” kata Amelia tulus. “Sudah lama saya tidak makan seperti ini.”
Di belakangnya, seorang gadis SMP berkerudung abu-abu tersenyum malu-malu. “Aku Halimah,” katanya pelan. “Kalau kurang sambalnya bilang ya.”
Sinta tertawa kecil. “Wah, siap jadi koki nih.”
Halimah tersipu dan kembali ke dapur.
Dari jendela samping, terlihat rumah lain—lebih tua, berdinding kayu gelap. Seorang lelaki sepuh duduk di bangku bambu, mengenakan ikat kepala hitam.
“Itu Mbah Klowor,” bisik Mang Dedi. “Orang tua saya. Sesepuh desa.”
Seolah mendengar namanya, Mbah Klowor bangkit dan melangkah masuk. Usianya sekitar enam puluh lima, tubuhnya kurus tapi tegap, matanya tajam dan tenang.
“Assalamu’alaikum,” suaranya berat, dalam.
“Wa’alaikumsalam, Mbah,” jawab mereka hampir bersamaan.
Mbah Klowor duduk perlahan. Pandangannya menyapu satu per satu.
“Kalian ini yang bikin desa saya rame,” katanya datar.
Nurdin tersedak nasi. “E-eh… rame yang baik, Mbah?”
Sudut bibir Mbah Klowor terangkat tipis. “Kalau niatnya baik, rame jadi berkah.”
Tawa kecil pecah. Ketegangan yang lama menempel, luruh perlahan.
Mereka mulai makan. Suara sendok bertemu piring, desis ikan goreng dipatahkan sambal.
“Ini ikan dari sawah belakang,” kata istri Mang Dedi. “Dedi yang mancing.”
“Pantes gurih,” ujar Dr. Farhan. “Protein alami begini justru yang bikin orang sehat.”
Mbah Klowor mengangguk. “Alam itu obat. Kalau manusia tidak serakah.”
Sandi meliriknya. “Mbah… Mang Dedi bilang Mbah pawang ular.”
Mbah Klowor tersenyum samar. “Orang menyebut begitu.”
“Bagaimana awalnya, Mbah?” tanya Santi penuh minat.
Mbah Klowor menaruh sendok, menatap sawah di luar yang disinari bulan.
“Dulu… saya anak hutan,” katanya pelan. “Umur sepuluh tahun, ikut kakek saya ke ladang. Suatu hari saya digigit kobra.”
Semua terdiam.
“Harusnya mati,” lanjutnya. “Tapi kakek saya tidak panik. Dia bicara pada ular itu… seperti bicara pada manusia.”
“Bicara?” Amelia mengernyit.
“Bukan dengan kata,” jawab Mbah Klowor. “Dengan sikap. Dengan niat.”
Nurdin menelan ludah. “Dan Mbah selamat?”
“Selamat,” katanya singkat. “Sejak itu, ular mengenali bau takut dan bau tamak. Kalau manusia datang dengan dua itu—ular menyerang.”
Mang Dedi mengangguk hormat. “Saya belajar dari beliau.”
Sandi melirik. “Termasuk Mang Zondol?”
Hening sekejap.
Mbah Klowor menghela napas panjang. “Zondol… murid saya juga.”
Amelia menegakkan badan. “Murid?”
“Iya,” kata Mbah Klowor lirih. “Dia anak dari adik saya. Mbah Ableh.”
Nama itu membuat Sandi dan Farhan saling pandang.
“Mbah Ableh dulu pawang juga?” tanya Farhan.
“Pawang,” jawab Mbah Klowor. “Tapi jalan kami berpisah. Saya percaya ular harus dijaga. Ableh percaya ular bisa dijual.”
Sunyi kembali turun.
“Zondol ikut ayahnya,” lanjut Mbah Klowor. “Belajar menangkap, memerah, menjual. Saya menegur. Berkali-kali.”
“Dan?” tanya Sandi.
“Manusia yang sudah mencium uang,” jawab Mbah Klowor pahit, “sulit mencium bahaya.”
Istri Mang Dedi menambah nasi ke piring Sandi, seolah menambal keheningan.
“Zondol sering ke sini dulu,” kata Halimah tiba-tiba dari ambang dapur. “Ngasih permen.”
Mang Dedi menoleh kaget. “Halimah…”
Gadis itu menunduk. “Sekarang… aku takut.”
Mbah Klowor memejamkan mata sejenak. “Takut itu wajar, Nak. Tapi jangan biarkan takut mengajari kita membenci.”
Sandi menatap Mbah Klowor. “Mbah… kalau racun dimodifikasi, ular dijadikan alat… apa yang Mbah rasakan?”
Mbah Klowor membuka mata. Tatapannya tajam seperti malam.
“Itu bukan lagi ilmu,” katanya. “Itu penghinaan pada alam.”
Farhan mengangguk pelan. “Dan pada manusia.”
Mbah Klowor menoleh ke Sandi. “Kalian datang ke desa ini bukan kebetulan.”
Sandi terdiam.
“Ular-ular itu gelisah,” lanjut Mbah Klowor. “Mereka terusir dari jalurnya. Dipaksa. Kalau kalian tidak berhenti… bukan hanya manusia yang jatuh.”
Amelia bertanya lirih, “Mbah… bisa bantu kami?”
Mbah Klowor tersenyum, kali ini hangat. “Saya sudah membantu.”
“Bagaimana?”
“Dengan bercerita,” katanya. “Supaya kalian tahu… musuh kalian bukan ular. Tapi manusia yang lupa dirinya bagian dari alam.”
Mang Dedi menatap ayahnya penuh hormat. “Aku ikut kalian, Sand.”
Sandi mengangguk. “Kami butuh orang yang mengerti tanah ini.”
Mbah Klowor berdiri perlahan. “Makanlah sampai kenyang. Perang tidak dimenangkan dengan perut kosong.”
Malam itu, di rumah sederhana pinggir sawah, tidak ada strategi perang. Tidak ada peta dan senjata.
Hanya nasi hangat, cerita lama, dan kesadaran baru—bahwa akar masalah kadang lebih tua dari konflik itu sendiri.
Dan bahwa darah dan racun sering berawal dari satu pilihan yang salah, bertahun-tahun lalu.
Cerita di Bawah Lampu Minyak
Makan malam berakhir pelan. Piring-piring kosong disusun rapi, sambal tinggal jejak, dan angin sawah menyelinap lewat celah dinding. Istri Mang Dedi menyuguhkan teh panas, sementara Halimah membagikan pisang rebus di piring kecil.
“Terima kasih, Bu,” kata Sandi tulus. “Rasanya… pulang.”
“Alhamdulillah,” jawab sang istri sambil mengusap perutnya. “Rumah kecil, rezekinya ikut kecil. Tapi niatnya jangan.”
Mbah Klowor duduk bersila di sudut, menyalakan lampu minyak tua. Nyala apinya bergetar, menciptakan bayangan yang menari di dinding.
“Kalian ingin tahu,” katanya pelan, “kenapa ular di Grenjeng tidak pernah benar-benar pergi.”
Santi mencondongkan badan. “Karena sawahnya, Mbah?”
“Bukan cuma itu,” jawab Mbah Klowor. “Karena manusia di sini dulu… menghormati batas.”
Ia menyesap teh, lalu mulai bercerita.
“Sekitar dua puluh lima tahun lalu,” katanya, “datang seorang asing. Orang Jepang. Namanya Tuan Nakata.”
Farhan mengangkat alis. “Nakata?”
“Iya,” lanjut Mbah Klowor. “Datangnya baik. Sopan. Istrinya sakit—penyakit aneh. Bukan panas, bukan racun. Tubuhnya melemah perlahan.”
Amelia langsung tertarik. “Gejalanya?”
“Capek terus, tangan dingin, tidur tidak nyenyak. Dokter kota angkat tangan,” jawab Mbah Klowor. “Akhirnya dia dibawa ke desa ini. Katanya, mencari udara.”
“Dan ular?” tanya Nurdin.
Mbah Klowor tersenyum tipis. “Ular yang datang lebih dulu.”
Ia bercerita bagaimana suatu malam, di rumah kontrakan Nakata, seekor ular sawah masuk dan melingkar di bawah ranjang sang istri.
“Orang-orang panik,” katanya. “Saya dipanggil.”
“Apa yang Mbah lakukan?” tanya Sinta.
“Saya duduk,” jawabnya sederhana. “Saya bicara. Saya tanya kenapa.”
Semua terdiam.
“Ular itu menjawab,” lanjut Mbah Klowor, “bahwa tubuh perempuan itu rusak bukan oleh penyakit… tapi oleh zat yang menumpuk. Obat-obatan.”
Farhan mengangguk pelan. “Keracunan kronis.”
“Setelah itu,” kata Mbah Klowor, “saya sarankan Nakata menghentikan semua obat kimia. Diganti ramuan sederhana. Dan anehnya—istrinya membaik.”
Sandi menyela, “Lalu?”
“Nakata berterima kasih,” ujar Mbah Klowor. “Terlalu berterima kasih. Ia ingin belajar. Ingin membawa ‘pengetahuan’ ini ke negerinya.”
Mang Dedi menghela napas. “Dan dari situlah…”
“Pintu terbuka,” potong Mbah Klowor. “Yang seharusnya hanya celah.”
Ia menatap nyala lampu minyak. “Beberapa tahun kemudian, datang lagi orang asing. Kali ini Korea. Namanya Tuan Kim Jong Un.”
Nurdin tersedak teh. “Serius namanya itu, Mbah?”
Mbah Klowor terkekeh pendek. “Namanya mirip. Orangnya beda.”
Amelia tersenyum tipis.
“Dia bukan datang karena sakit,” lanjut Mbah Klowor. “Dia datang karena ingin memiliki.”
“Memiliki apa?” tanya Sandi.
“Seseorang,” jawabnya lirih.
Halimah menunduk. Istri Mang Dedi meliriknya, lalu kembali fokus ke teko.
“Dia ingin menikahi Sari,” kata Mbah Klowor. “Anak mantan kepala desa. Cantik, cerdas, dan… peka.”
“Peka?” ulang Santi.
“Bisa merasakan perubahan alam,” jelas Mbah Klowor. “Seperti saya. Seperti Dedi.”
Mang Dedi menunduk, malu.
“Orang tuanya menolak,” lanjut Mbah Klowor. “Bukan soal bangsa. Tapi niat. Kim Jong Un itu… melihat manusia seperti melihat tanah. Bisa dibeli.”
Sandi mengepalkan tangan pelan. “Dan reaksinya?”
Mbah Klowor menghela napas panjang. “Ia pergi dengan senyum. Tapi sejak itu… ular-ular mulai ditangkap lebih banyak. Orang-orang tertentu jadi kaya mendadak.”
Farhan bergumam, “Investasi awal.”
“Dan Sari?” tanya Amelia.
“Pergi,” jawab Mbah Klowor. “Tidak ada yang tahu ke mana.”
Sunyi menelan ruangan.
Setelah cerita itu, Mbah Klowor berdiri. “Mari,” katanya. “Kalian sudah kenyang. Sekarang… lihat sendiri.”
Mereka keluar rumah. Udara malam dingin dan segar. Bulan menggantung separuh, memantul di air sawah yang tenang.
Mbah Klowor berjalan ke pematang. Ia menanggalkan sandal, berdiri di lumpur tanpa ragu.
“Jangan takut,” katanya. “Ular tidak menyerang orang yang tidak membawa niat buruk.”
Sandi dan Amelia saling pandang, lalu mengikuti dari jarak aman. Mang Dedi berdiri di samping ayahnya.
Mbah Klowor menutup mata. Tangannya terangkat sedikit. Bibirnya bergerak—bukan mantra keras, hanya bisikan pelan, seperti orang memanggil anak ayam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu air sawah beriak.
Sinta menahan napas. “Itu…”
Dari sela tanaman padi, satu ular sawah muncul, lalu dua, lalu tiga. Tidak agresif. Mereka melingkar di tepi pematang, kepala terangkat rendah.
Amelia terpesona. “Ini luar biasa…”
Farhan berbisik, “Respons perilaku… bukan hipnosis.”
Mbah Klowor membuka mata. “Mereka hanya mendengar.”
Ia berjongkok, berbicara pelan. “Kenapa kalian resah?”
Ular-ular itu diam. Lalu satu bergerak mendekat, berhenti beberapa jengkal dari kakinya.
“Mereka bilang,” ujar Mbah Klowor tanpa menoleh, “jalur mereka dipotong. Sarang dirusak. Saudara mereka dibawa pergi… tidak kembali.”
Sandi menelan ludah. “Ke pabrik. Ke pelabuhan.”
Mbah Klowor mengangguk. “Mereka tidak paham bisnis. Mereka paham kehilangan.”
Ia berdiri kembali. “Selama manusia terus serakah, ular akan terus datang. Bukan untuk menyerang—tapi mencari tempat pulang.”
Amelia memejamkan mata sejenak. “Dan kita… berada di tengahnya.”
Mbah Klowor menoleh dan tersenyum lembut. “Kalian bukan di tengah.”
“Lalu di mana, Mbah?” tanya Sandi.
“Di persimpangan,” jawabnya. “Antara mengulang kesalahan lama… atau menutup pintu yang pernah dibuka.”
Ular-ular itu perlahan masuk kembali ke sawah. Air kembali tenang.
Malam pun sunyi.
Dan di bawah bulan Grenjeng, Sandi menyadari satu hal:
perang ini tidak selalu dimulai dengan senjata—kadang dimulai dengan cerita yang terlalu lama diabaikan.